Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Ny. Putri Koster Ajak Hiski Bali Bergeliat Kawal Pengembangan Sastra Modern

BALIILU Tayang

:

de
ANTOLOGI PUISI: Tiga antologi puisi buah pena Ni Putu Putri Suastini yakni BUNGA MERAH dan RUMAH MERAH, serta MERAH PUTIH yang akan segera terbit.

Denpasar, baliilu.com  – Ny. Putri Suastini Koster memberi dukungan penuh dalam pengembangan dan pelestarian kesusastraan Indonesia di tengah gempuran era globalisasi yang hampir memusnahkan tradisi adat apabila masyarakat yang ada di daerah Bali tidak kuat menjaganya.

Semakin banyak arus budaya barat yang masuk menjadi ancaman yang tidak terlihat, namun telah menggerogoti warisan tradisi secara nyata. ‘’Mengingat itu, semua pihak wajib untuk ikut berperan serta melestarikan dan mengembangkan tradisi seni baik tradisional ataupun seni modern,’’ kata Ny. Putri Koster saat menghadiri pelantikan pengurus Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) Bali 2020-2024, di Jayasabha Denpasar, Jumat (7/8-2020).

Wanita yang merupakan penyair kawakan itu menyampaikan, perhatian pemerintah yang besar terhadap kesenian tradisional Bali sudah terlihat nyata melalui wadah gelar seni, yang antara lain berupa Pesta Kesenian Bali (PKB) yang mendominasi pelestarian seni-seni tradisi. Itu sungguh sangat baik. “Pesta seni ini setiap tahun dilaksanakan, juga harus diberikan dukungan oleh kita semua,” ujarnya, menandaskan.

Tetapi yang berada di ranah seni modern, sastra ada di dalamnya merasakan masih berteriak membaca puisi di pojok-pojok seni, menulis sendiri kemudian menjual sendiri bukunya. Untuk itu, pendamping orang nomor satu di Bali itu mengajak Hiski Bali untuk terus aktif mengawal perkembangan seni modern yang selama ini masih berkutat di antara penggiat dan penikmat seninya.

“Pesta Kesenian Bali mendominir kesenian tradisi Bali, dan kita yang berada dalam seni modern (sastra) masih berusaha sendiri dalam melestarikan kesusastraan modern di wilayah Bali. Dengan kata lain, masih berputar-putar di sana, yakni para penggiat dan penikmat karyanya menjadi satu. Ya.. yang itu-itu saja orangnya,” kata Ny. Putri Koster, mengungkapkan.

Baca Juga  KPPG dan Satgas Covid-19 Partai Golkar Bantu Sembako Warga Pasek-Bali

Terlepas dari itu, ujar seniman yang akrab dipanggil Bunda Putri, masyarakat seni harus bersyukur karena Gubernur Bali sudah membuka satu ruang seni lagi yang benar-benar dapat mewadahi dan memberikan wahana, ruang dan waktu untuk seni-seni modern. Jadi Bali sekarang punya dua ajang pergelaran seni yang besar yang mewadahi seni tradisi yakni Pesta Kesenian Bali dan berikutnya memiliki Festival Seni Bali Jani (FSBJ).

Pesta Kesenian Bali yang mewadahi kesenian tradisi dengan segala inovasi, kreasi dan kreativitas senimannya, sementara Festival Seni Bali Jani merupakan wadah berkiprahnya seni modern, mulai dari musik hingga gendrenya, serta karya sastra yang meliputi puisi, cerpen dan teater.

Tidak hanya itu, FSBJ juga memberi ruang dan penghargaan kepada anak-anak yang senang menulis, sehingga mereka nantinya diharapkan mampu bersaing dengan penulis-penulis buku-buku dari luar.

Pemerintah Provinsi Bali setiap tahun melalui ajang FSBJ memilih 10 penulis untuk diberikan penghargaan dengan nilai nominal 50 juta per orang dan ini sungguh cukup untuk membuat karya buku.

‘’Di Festival Seni Bali Jani juga akan memberikan kesempatan bagi penulis untuk memamerkan karya tulisannya, sehingga mampu menjadi embrio dalam rangka membangkitkan kemauan generasi muda untuk mencintai karya tulisan, sekaligus menjadi penulis muda,’’ kata Bunda Putri, menjelaskan.

Bunda Putri berharap Hiski hadir bukan hanya dalam bentuk seremonial, namun bersama-sama menguatkan seni kesusastraan di setiap perhelatan atau ajang seni yang terkait dengan acara literasi, yang nantinya mampu menggawangi dan memberikan arah positif terhadap perkembangan sastra khususnya yang ada di Bali terutama di bidang sastra modern, mengingat seni tradisi sudah kuat dalam pelestarian budaya dan tradisi yang memang sudah besar mendapat perhatian dari pemerintah.

Baca Juga  Gugus Tugas Covid-19 Bali: Stok APD dan Logistik Pangan masih Aman

Terkait zaman digitalisasi, Bunda Putri tadinya takut dari tradisi buku akan dikalahkan oleh zaman visual, malas membaca lebih baik menonton. Tetapi tradisi keaksaraan menyatakan bahwa ketika membaca akan mampu menulis dengan baik, begitu juga ketika ingin berbicara dengan baik mesti sering mendengar dengan baik juga. Dan Bunda Putri berpesan, apa pun yang terjadi ke depan ada hal-hal yang diikuti sesuai perkembangan zaman, tetapi membaca itu tetap harus ditanamkan dalam diri anak-anak kita.

Pada kesempatan itu, Bunda Putri yang duduk sebagai Penasihat Hiski Bali tampil membacakan puisi yang berjudul ‘Sayap’, salah satu buah pena Ni Putu Putri Suastini yang dituangkan dalam antologi puisi ketiga MERAH PUTIH yang akan segera terbit dari dua antologi puisi sebelumnya yakni BUNGA MERAH dan RUMAH MERAH.

Sayap

Tiap kata yang kau ucapkan

bertumbuh sayap, berterbangan

di angkasa makna

Banyak orang menanti kata-katamu

berjatuhan di tanah, mengupas artinya

barangkali ada di antaranya

bernujum harapan

Engkau terus melahirkan kata-kata

makin bersayap-sayap, sampai

tiba kerinduan orang-orang

melihatmu bekerja

(gs)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Jaga Taksu Bali, Gubernur Koster Komit Perkokoh Adat, Budaya dan Kearifan Lokal Bali
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Ni Putu Putri Suastini Koster Mengucapkan Dirgahayu Indonesia

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Wakil Walikota Jaya Negara Mendem Pedagingan di Candi Gelung Pura Luhur Uluwatu

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  KPPG dan Satgas Covid-19 Partai Golkar Bantu Sembako Warga Pasek-Bali

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca