Denpasar, baliilu.com – Walaupun sulit untuk benar-benar menghilangkan kemungkinan terkena Covid-19, setiap keluarga dapat meminimalisir resiko penularan dengan memperhatikan faktor VDJ (ventilasi, durasi dan jarak) di rumah dan keluarga. Hal itu dikatakan Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster saat menjadi narasumber dengan tema ‘’Sosialisasi Tatanan Kehidupan Bali Era Baru’’ dalam dialog interaktif ‘Perempuan Bali Bicara’ di sebuah stasiun tv swasta, Sabtu (12/9-2020).
Ny. Putri Koster memaparkan ventilasi yakni membuka jendela atau pintu pagar agar udara segar mengalir dan menghindari berada di ruangan tertutup khususnya dengan anggota keluarga yang rentan dan keluarga yang sering keluar rumah.
Durasi, menyediakan kamar terpisah jika ada anggota keluarga yang harus bekerja di luar rumah dan kurangi interaksi dengan anggota yang rentan.
Jarak, jika memungkinkan, anggota keluarga yang bekerja di luar diharapkan menjaga social distancing dan menggunakan masker di sekitar keluarga lainnya, khususnya lansia dan balita. Selain itu perlu diingatkan untuk menjadi perhatian kita bersama bahwa pada saat ini transmisi Covid-19 telah bermunculan berbagai klaster (klaster pasar, kampus, perkantoran dan lain-lain), begitu juga mulai mengancam unit sosial terkecil yaitu klaster keluarga. Klaster keluarga terjadi saat salah satu anggota keluarga terinfeksi virus, lalu menularkan ke anggota keluarga lainnya sehingga satu rumah tangga tertular Covid-19 saat berada di rumah sendiri.
Ny. Putri Koster yang akrab disapa Bunda Putri ini mengatakan untuk mencegah transmisi klaster keluarga agar tidak semakin masif dapat dilakukan dengan memperbanyak tes sweb massal ke level kelurahan dan RT oleh pemprov, pemda dan dinkes. Perbanyak atau konsisten melakukan edukasi dan sosialisasi komunikasi risiko ke warga, menggandeng tokoh warga atau pemuka agama untuk edukasi, membuat kebijakan untuk membatasi mobilitas warga dan melarang keramaian publik melalui sistem contact tracing diperkuat, serta tetap mematuhi protokol kesehatan di manapun dan kapan pun baik secara individu atau pun berkelompok.
Ny. Putri Koster mengingatkan agar kader PKK selalu membawa masker lebih di tasnya, sehingga saat menemukan seseorang yang tidak menggunakan masker di jalan, langsung bisa diedukasi sekaligus diberikan masker. Hal ini sebagai upaya meminimalisir penularan Covid-19 dan memutus mata rantai penyebaran virus Corona.
Sementara itu, narasumber Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Made Rentin juga mengakui klaster keluarga menjadi sangat berbahaya karena telah masuk ke satuan unit terkecil yaitu keluarga. Artinya segala kebijakan, protokol & sistem monitoring yang diterapkan oleh pemerintah, tempat publik & perusahaan tidak bisa menahan transmisi virus ke lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dalam lingkup mengutamakan silahturahmi, tranmisi satu keluarga ke keluarga lainnya akan mempercepat penularan.
Dikatakan, hal ini diperburuk jika warga yang bergejala enggan melakukan test swab, karena takut stigma, (takut dikucilkan oleh masyarakat namun akhirnya berperan sebagai spreoder). Aktifitas warga yang menyebabkan klaster keluarga semakin masif terjadi pada lingkungan kompleks atau perumahan tanpa protokol kesehatan dan protokol ventilasi, durasi dan jarak (VDJ) yang kuat. Anak-anak bisa berperan sebagai carrier virus.
Pemahaman protokol kesehatan anak-anak tidak sekuat orang dewasa. Anak-anak juga 3X lipat menyentuh barang dari pada dewasa bahkan anak-anak bermain bersama di lingkungan luar rumah. Sehingga disarankan agar kegiatan berkumpul warga, seperti: saling mengunjungi rumah sesama warga, arisan, acara silahturahmi warga, rapat warga, perayaan hari besar negara/agama, kegiatan musik, kegiatan olahraga bersama, kegiatan penyuluhan, dan lain-lain. Melakukan liburan, piknik atau jalan-jalan ke tempat publik yang ramai juga memiliki potensi membawa virus saat kembali ke lingkungan rumah atau warga. Sebaiknya kegiatan keluarga tetap dilakukan di rumah, yang lebih aman dan sehat.
“Kita hanya memiliki dua (2) pilihan yakni tidak nyaman menggunakan masker atau tidak nyaman menggunakan ventilator,” ujar Made Rentin, menegaskan. (gs)