Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Koster yang dikenal sebagai seniman multitalenta menghadiri kegiatan ramah tamah serangkaian peringatan HUT ke-42 Sanggar Teater Agustus (STA) di Halaman Belakang Gedung Jayasabha Denpasar, Kamis, 24 Agustus 2023. Kegiatan ramah tamah juga dihadiri penggiat seni yang tergabung dalam Teater Mini dan beberapa sanggar lainnya.
Mengawali sambutannya, Ny. Putri Koster menyampaikan rasa bahagia karena dalam kesempatan itu bisa bertemu Pendiri Sanggar Mini IB Anom Ranuara dan Pendiri Sanggar Kukuyuruk Made Taro. Ia kemudian teringat awal keterlibatan dalam pementasan sebuah drama yang merupakan kolaborasi Sanggar Kukuyuruk dan Teater Mini. “Ceritanya tentang burung yang menerbangkan kura-kura. Hingga sekarang masih terngiang dan ingat dengan lagunya,” ucapnya sembari menyampaikan bahwa itu adalah momen pertama ia mencoba seni peran.
Ny. Putri Suastini Koster. (Foto: ist)
Seingatnya saat itu tahun 1978 dan ia baru menjadi siswi SMP. “Sebelumnya, sejak usia 4 tahun hanya fokus belajar tari. Terima kasih, banyak pelajaran yang saya timba dari beliau berdua,” ujarnya. Ia beruntung karena bertemu sosok Anom Ranuara lalu diajak bermain teater. Kemampuannya dalam menari Bali menjadi modal untuk mulai menekuni teater. “Karena gestur tubuh kita sudah terlatih, tinggal mengasah olah vokal,” tambahnya.
Selanjutnya, wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Bali ini menyampaikan selamat ulang tahun kepada STA yang telah menginjak usia ke-42. Ia mengapresiasi dan bangga dengan langkah jajaran perintis teater yang sudah mulai memikirkan regenerasi. “Yang perlu diingat, selain menghasilkan karya seni, sebuah sanggar atau teater juga harus melakukan proses regenerasi,” jelasnya mengingatkan. Sebab menurut pengamatannya, banyak penggiat seni modern yang terlalu asyik dalam berkarya hingga lupa melakukan proses regenerasi. “Setelah uzur, baru sadar bahwa tak memiliki penerus,” sebutnya.
Ia menilai, STA membaca dinamika ini sehingga terus berupaya melakukan regenerasi dengan merekrut seniman-seniman muda. Yang menarik, regenerasi di sanggar ini dilakukan di lingkup keluarga. “Sangat positif, bisa mengajak anak-anak untuk menggeluti bidang seni. Ini merupakan wadah yang tepat untuk menempa karakter anak,” cetusnya.
Berdasarkan pengalaman pribadi, ia menyampaikan bahwa menekuni dunia seni, khususnya teater mendatangkan sangat banyak manfaat. Melalui seni teater, kepribadian dan emosional seseorang terasah sejak dini. Bagi Putri Koster, pengalaman dalam seni peran menjadi bekal berharga ketika ia harus mendampingi Gubernur Bali Wayan Koster.
“Keberanian untuk berdiri dan berbicara di depan, itu adalah manfaat seni teater yang sangat saya rasakan saat ini,” ucapnya. Masih dalam sambutannya, ia minta Anom Ranuara sebagai sesepuh seni teater, bisa menuangkan buah pemikiran dalam sebuah buku. “Saya ingin ada buku tentang teori berteater agar bisa menjadi acuan generasi muda yang tertarik dengan bidang ini,” harapnya.
Pada bagian lain, Putri Koster juga menyinggung keberpihakan Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster pada upaya pengembangan seni modern melalui pelaksanaan Festival Seni Bali Jani. Selain itu, keberadaan Pusat Kebudayaan Bali yang saat ini tengah digarap juga akan memberi ruang bagi penggiat seni modern. “Kita beri perlakuan yang sama pada keberadaan seni tradisi dan seni modern,” pungkasnya.
Sementara itu, Ida Bagus Martinaya selaku pembina dan pendiri STA bercerita tentang awal mula berdirinya wadah seni yang tetap bertahan hingga usia 42 tahun ini.
Terbentuknya STA bermula dari tawaran untuk melakukan sebuah pementasan di Banjar Dangin Peken Sanur. Ia bersama KS Wendra dan Ketut Ariawan menyanggupinya dan mengumpulkan talenta muda hingga bisa mementaskan seni teater yang berjudul “Api Proklamasi”. Sejak itulah, sanggar ini terus berkegiatan hingga merambah dunia televisi. Pria yang akrab disapa Gus Martin ini menyampaikan terima kasih atas besarnya perhatian yang diberikan Ny. Putri Koster hingga perayaan HUT ke-42 Sanggar Teater bisa digelar di Jayasabha.
Peringatan HUT ke-42 STA ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Sanggar IB. Putra Celuk. Potongan tumpeng diberikan kepada Putri Koster, Gus Martin, KS Wendra dan Ketut Ariawan. Perayaan makin semarak dengan penampilan Ny. Putri Koster yang membawakan Puisi “Sumpah Kumbakarna”. Berikutnya ada monolog pendek oleh I Gede Gunada, pembacaan sebuah puisi karya Putri Koster oleh Ida Ayu Gita Phalasukma dan gerak olah tari oleh Ida Bagus Bayu yang berupakan anggota termuda di STA. (gs/bi)
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.
Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.
Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.
Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.
Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.
Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Atmosfer magis dan reflektif menyelimuti Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, saat pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dipentaskan dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore.
Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung sajian artistik persembahan Dermaga Seni Buleleng tersebut.
Memasuki hari ketujuh pelaksanaannya, FSBJ VIII terus menghadirkan pertunjukan seni modern, kontemporer, dan inovatif yang menggugah rasa sekaligus pemikiran. “Sura-Atma” menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian melalui perpaduan puisi, musik, dan visual yang sarat makna filosofis.
Karya ini mengisahkan perjalanan jiwa (Atma) setelah terlepas dari belenggu duniawi. Terlempar ke dalam keheningan Alam Surya, Atma terbangun tanpa ingatan, hanya ditemani cahaya misterius yang menuntunnya menuju Sang Suratma—penjaga batas sekaligus pencatat takdir.
Dalam perjumpaan tersebut, terbukalah Catatan Atma, sebuah representasi perjalanan hidup yang memantulkan kembali setiap niat, ucapan, hingga tindakan manusia. Dari kebaikan yang nyaris tak terlihat hingga kesalahan yang membekas, semuanya hadir sebagai cermin yang tak terbantahkan.
Setiap lembar catatan yang terbuka memengaruhi lanskap dunia roh di sekitarnya. Kebaikan menjelma menjadi jembatan emas yang menenangkan, sementara dosa menghadirkan badai api dan makhluk-makhluk astral sebagai simbol konsekuensi karma yang tak terelakkan.
Pergelaran ini tidak hanya menjadi tontonan artistik, tetapi juga tuntunan reflektif tentang makna kehidupan, tanggung jawab moral, dan perjalanan spiritual manusia setelah kehidupan di dunia. (gs/bi)
HADIRI PENUTUPAN PKB 2026: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri Penutupan PKB XLVIII Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Pembukaan Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre, Denpasar, Sabtu (11/7). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri Penutupan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre, Denpasar, Sabtu (11/7).
Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup PKB dan membuka FSBJ tahun ini ditandai dengan pemukulan Gong Beri dan peluncuran tema PKB XLIX Tahun 2027, Wana Kerthi : Byana Sandharana Loka.
Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman dan pelaku budaya yang telah menyukseskan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali. Menurutnya, PKB dan Festival Seni Bali Jani merupakan dua ruang penting yang saling melengkapi dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Bali.
“Melalui Pesta Kesenian Bali kita memperkuat pelestarian seni dan tradisi yang menjadi identitas masyarakat Bali. Di sisi lain, Festival Seni Bali Jani memberikan ruang bagi lahirnya kreativitas, inovasi, dan ekspresi seni baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Bali. Keduanya menjadi kekuatan untuk menjaga warisan budaya sekaligus menjawab perkembangan zaman. Budaya adalah roh pembangunan dan pariwisata Bali. Karena itu, kami di Kabupaten Badung berkomitmen untuk terus mendukung para seniman dan pelaku budaya agar mampu berkarya, berinovasi, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus,” ucapnya.
Dalam PKB tahun ini, duta Kabupaten Badung berhasil keluar sebagai Juara Umum dalam perlombaan olahraga tradisional (Jantra Tradisi Bali). Kontingen Badung sukses meraih prestasi tersebut setelah memborong 4 medali emas dari 5 cabang yang dipertandingkan. Selain itu, di bidang Seni Tradisi, Wimbakara Gender Wayang Anak-anak Sekaa Batel Giri Sunari Duta Badung berhasil meraih Juara I, Wimbakara Tari Barong Ket yang diwakili oleh Sekaa Gong Satya Winangun Budaya meraih Juara III, Wimbakara Baleganjur Remaja, Sekaa Gong Cakradhara meraih juara III dan Wimbakara Taman Penasar, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru meraih juara harapan 1.
Pada kesempatan ini, Pemprov Bali menyerahkan penghargaan Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026 yaitu anugerah tertinggi yang diberikan kepada 12 tokoh Seniman dan Budayawan Bali yang telah berdedikasi tinggi dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan Bali.
Sementara Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para seniman, sastrawan, budayawan yang telah menampilkan yang terbaik untuk PKB tahun ini. Selain itu, dirinya juga mengapresiasi antusiasme masyarakat yang telah menyaksikan pagelaran PKB.
“Seniman yang terlibat dalam PKB tahun ini mencapai 20.929 dan karya seni sebanyak 879 karya seni. Pengunjung yang hadir sampai siang tadi mencapai 1.822.857. Total omzet penjualan kuliner dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Rp. 16 miliar. Jadi selain menyaksikan seni, kita juga mendorong pertumbuhan IKM,” ujarnya.
Acara ini dihadiri Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya beserta jajaran Forkopimda Provinsi Bali, para Bupati/Wali Kota se-Bali, Pimpinan OPD, seniman, budayawan, serta masyarakat dari berbagai daerah di Bali. (gs/bi)