Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Ny. Putri Koster Saksikan Penayangan Perdana Film “Tatu”

Ny. Putri Koster Apresiasi atas Kreativitas dan Kesadaran para Generasi Muda Bangkitkan Dunia Perfilman Bali

Loading

BALIILU Tayang

:

ny. putri koster
Ny. Putri Koster foto bersama usai menyaksikan penayangan perdana Film "Tatu" bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Koster berkesempatan menyaksikan penayangan perdana Film “Tatu” yang merupakan film karya putra-putri terbaik Bali, bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar, Sabtu (3/9).

Mengawali arahan singkatnya, Ny. Putri Koster menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kreativitas serta kesadaran dari para generasi muda untuk membangkitkan dunia perfilman khususnya di Bali dengan mengangkat tema-tema kehidupan di tengah masyarakat. Untuk itu, pendamping orang nomor satu di Bali ini mengajak semua pihak baik itu pemerintah, para seniman bersinergi untuk bersatu padu membangkitkan kembali dunia perfilman. Kita mulai dari anak muda Bali, pemainnya orang Bali, ditonton masyarakat Bali sehingga dunia sinema semakin bergeliat.

Wanita yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga berharap agar para seniman tidak berhenti berkarya untuk  menghasilkan Garapan-garapan film berkualitas dengan mengangkat hal-hal kecil yang terjadi di masyarakat sekitar. Dari Bali kita mulai angkat tema film yang mengandung kearifan lokal, dari Bali kita akan mengimbas ke nusantara sehingga perfilman bangkit. Kita jadikan Bali sebagai pusat industri perfilman Nusantara.

Film Tatu merupakan film yang sangat spesial mengingat film ini selain bernuansa Bali dan mengambil lokasi syuting di Desa Tenganan, Karangasem yang asri dan indah, film ini juga  disutradarai oleh putra Bali Puja Astawa dan diperankan sekitar 40 orang pemain yang juga asli dari Bali. Film yang mengangkat tema perjuangan seorang perempuan mempertahankan hidup dengan caranya namun terhalang oleh kerasnya orang tua ini menghadirkan seniman diantaranya De Gajah, Jun Bintang, Made Adnyana, Dewi Pradewi dan IB Purwa Sidemen yang bermain peran dengan sangat apik dan natural. (gs/bi)

Baca Juga  Ny. Putri Koster Hadiri Pasar Rakyat "Berbelanja dan Berbagi" di Buleleng

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Hadiri Pasar Rakyat "Berbelanja dan Berbagi" di Tabanan

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Jaga Tradisi Budaya dan Adat, Manggala Utama PAKIS Bali Ny. Putri Koster Buka Bantas Festival

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Hadiri Pasar Rakyat "Berbelanja dan Berbagi" di Tabanan

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Ny. Putri Koster Saksikan “Sura-Atma”, Pergelaran Puisi-Musik Sarat Makna Spiritual di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pergelaran puisi-musik Sura-Atma dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Atmosfer magis dan reflektif menyelimuti Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, saat pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dipentaskan dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung sajian artistik persembahan Dermaga Seni Buleleng tersebut.

Memasuki hari ketujuh pelaksanaannya, FSBJ VIII terus menghadirkan pertunjukan seni modern, kontemporer, dan inovatif yang menggugah rasa sekaligus pemikiran. “Sura-Atma” menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian melalui perpaduan puisi, musik, dan visual yang sarat makna filosofis.

Karya ini mengisahkan perjalanan jiwa (Atma) setelah terlepas dari belenggu duniawi. Terlempar ke dalam keheningan Alam Surya, Atma terbangun tanpa ingatan, hanya ditemani cahaya misterius yang menuntunnya menuju Sang Suratma—penjaga batas sekaligus pencatat takdir.

Dalam perjumpaan tersebut, terbukalah Catatan Atma, sebuah representasi perjalanan hidup yang memantulkan kembali setiap niat, ucapan, hingga tindakan manusia. Dari kebaikan yang nyaris tak terlihat hingga kesalahan yang membekas, semuanya hadir sebagai cermin yang tak terbantahkan.

Setiap lembar catatan yang terbuka memengaruhi lanskap dunia roh di sekitarnya. Kebaikan menjelma menjadi jembatan emas yang menenangkan, sementara dosa menghadirkan badai api dan makhluk-makhluk astral sebagai simbol konsekuensi karma yang tak terelakkan.

Pergelaran ini tidak hanya menjadi tontonan artistik, tetapi juga tuntunan reflektif tentang makna kehidupan, tanggung jawab moral, dan perjalanan spiritual manusia setelah kehidupan di dunia. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Teater Mini Dinilai Strategis Bangun Karakter Anak Lewat Seni, Ibu Putri Koster Sampaikan Apresiasi
Lanjutkan Membaca