Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Nyepi dan Tumpek Wariga Bersamaan, Refleksi Keharmonisan untuk Kesejahteraan Kehidupan

BALIILU Tayang

:

Nyepi
Penghormatan dan pelestarian kepada sarwa tumuwuh pada saat Tumpek Wariga dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (Foto Ilustrasi: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Konteks Nyepi tahun 2025 ini, pesan nyata adalah bahwa refleksi diri dengan melihat kembali fikiran, perkataan dan perbuatan kita sebagai sthana Tri Murti dalam diri, untuk memperoleh kesejahteraan hidup (wariga) dan ujungnya adalah kemenangan Dharma sesungguhnya (menyambut 25 hari menuju Galungan). Lalu apakah ujung tombak dari kemenangan itu? Tidak ada lain adalah keseimbangan dan keharmonisan. Dengan harmonislah kemenangan diperoleh dan akan sejahtera. Dengan kemenangan pula kesempurnaan rohani akan tergapai dan moksa (bebas). Jadi hari Suci Nyepi (sunya, kosong) untuk sejahtera (wariga) merupakan spirit Nyepi di tahun 2025.

“Hari suci yang bersamaan ini maka bisa kita ambil landasan pemikiran yaitu Tumpek Wariga sebagai pemujaan untuk kebaikan tumbuhan untuk menyambut hari suci Galungan dan Nyepi sebagai pemujaan tiga kekuatan alam untuk melakukan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Konteks Tri Murti ini adalah refleksi, reinkarnasi dan penguatan kesadaran kesemestaan hidup,” ucap I Kadek Satria selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Kamis (27/3).

Menurut Kadek Satria ada beberapa hari Suci Hindu yang berlangsung bersamaan, hal ini karena perhituangan hari suci didasarkan oleh perhitungan satu tahun wuku yang lamanya 210 hari dan perhitungan sasih yang datangnya setahun sekali (tahun kabisat 366 hari dan tahun biasa 365 hari). Tentu saja dalam kurun waktu tertentu, hari suci dengan kedua perhitungan dewasa ini akan bertemu (subadewasya). Dan pertemuannyapun bisa disebut langka.

Dikatakan bahwa setiap hari suci memiliki makna filosofis tersendiri, ada yang memang untuk alam, untuk kita sebagai manusia dan bisa saja untuk keduanya. Jadi, memadukan kebermaknaan itulah bisa jadi merupakan pesan untuk kita, dalam melakukannya. Nyepi Tahun Baru Caka 1947 jatuh pada tanggal 29 Maret 2025 yang bertepatan dengan perhitungan tahun wuku, Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga ini adalah hari besar yang digunakan untuk memuja Dewa Sangkara, yaitu manifestasi Tuhan sebagai penganugerah kebaikan terhadap sarwaning tumuwuh (tumbuh-tumbuhan).

Baca Juga  Prosesi Tawur Agung Kesanga di Kabupaten Gianyar

Nyepi sebagai perayaan tahun baru saka, bukan sekedar pelaksanaan Tahun Baru, tetapi juga sebagai awal yang maha hebat dari pemikiran leluhur kita untuk memaknai anugerah dengan cara bersyukur tanpa batas. Ada hal unik yang bisa kita lihat pada Nyepi tahun ini, Sunya dan kemurnian dalam Nyepi, ditambah dengan pemuliaan akan tumbuh-tumbuhan berlangsung dalam sehari, ini artinya keharmonisan itu sangat diwujudnyatakan oleh hari suci. Hal ini mesti diikuti oleh pola laku kita sebagai umat agar melakukan dan juga mewujudnyatakan hari suci ini kedalam aksi nyata, ujungnya adalah untuk keharmonisan itu setidaknya terencana, terlakukan dan hasilnya bisa kita nikmati.

Lebih lanjut ketika Nyepi, amati geni, juga tidak dibenarkan mengambil semua kerja, seperti misalnya menyalakan api, di setiap tempat tinggalnya, seharusnya yang dilakukan adalah mempelajari tattwa cerita atau ilmu pengetahuan suci, melakukan semadhi dan melakukan yoga semadi. Dalam petikan secara bebas lontar di atas, maka ada pesan yang sangat dalam yang bisa kita petik, bahwa pada saat Nyepi adalah pemujaan kepada Sang Tiga Wisesa atau Sang Hyang Tri Murti. Sebagai manifestasi beliau sebagai penguasa tiga alam untuk keselamatan akan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan segala yang ada.

Dengan berpedoman pada kedua sumber tentang hari suci yang bersamaan ini maka bisa kita ambil landasan pemikiran yaitu Tumpek Wariga sebagai pemujaan untuk kebaikan tumbuhan untuk menyambut hari suci Galungan dan Nyepi sebagai pemujaan tiga kekuatan alam untuk melakukan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Konteks Tri Murti ini adalah refleksi, reinkarnasi dan penguatan kesadaran kesemestaan hidup. Bahwa yang terlahirkan akan terpelihara hidupnya dan akan kembali setelah selesai kewajibannya. Diawali dengan pemelastian, dimana Ida Bhatara bersuci ke sumber air, dalam hal ini sumber dari segala sumber air adalah laut, maka bersuci ke laut menjadi pedoman. Bahwa boleh melakukan pemelastian ke sumber air terdekat, itu adalah kesepakatan yang ada di masing-masing desa adat, dan tidak ada unsur kesalahan karena sumber air yang ada di laut berproses menuju gunung dan kembali lagi ke laut sebagaimana yang kita pahami dalam siklus air atau siklus hidrologi.

Baca Juga  Dishub Denpasar Siagakan Petugas LPJU saat Nyepi

“Bukan tidak ada alasan kenapa kemudian kita mesti memaknai dalam bertemunya Hari Suci Nyepi dengan Tumpek Wariga. Sebab dalam kaidah hidup tidak ada istilah kebetulan, namun semua seolah sudah tergariskan sebagai hukum tetap (rta) yang tanpa bisa ditentang oleh apapun dan siapapun. Segala sesuatu dipertemukan oleh waktu dan berpesan luas agar kita lebih meyakini dan mengaplikasikan ajaran agama dengan baik. Melakukan dengan cara beritual sebagai wahana ketulusan dan keikhlasan, dan aplikasi nyatanya adalah bagaimana kita merawat, memelihara, mengembangkan untuk hasil yang lebih baik,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Bupati “Nodya Karya” di Pura Dugul Subak Sulangai dan Pura Pucak Mangu

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Nodya Karya di Pura Dugul Sulangai dan Pucak Mangu
HADIRI RANGKAIAN UPACARA: Bupati Wayan Adi Arnawa menghadiri rangkaian upacara di Pura Dugul Subak Sulangai, Desa Sulangai dan Pura Sad Kahyangan Pucak Mangu, Desa Pelaga, Petang, Minggu (25/10). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bertepatan dengan Hari Suci Purnama Kelima, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mendampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri (Nodya) rangkaian upacara keagamaan di Kecamatan Petang, Minggu (25/10). Kehadiran ini menjadi wujud nyata perhatian pemerintah terhadap pelestarian adat, tradisi, dan kehidupan spiritual masyarakat Bali.

Kegiatan pertama berlangsung di Pura Dugul Subak Sulangai, Desa Sulangai, Petang, dalam rangkaian upacara Pujawali, Melaspas, Mendem Pedagingan, Ngenteg Linggih, dan Tawur Rsi Gana. Pada kesempatan ini, Bupati Adi Arnawa menyerahkan secara simbolis Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Fisik senilai Rp1,4 Miliar kepada Pekaseh Subak Sulangai, I Wayan Yudana, disaksikan seluruh undangan.

Selanjutnya, rombongan bertolak menuju Pura Sad Kahyangan Pucak Mangu, Desa Pelaga, Petang. Di situs sakral ini, Bupati Badung mendampingi Wagub Bali nodya upacara Piodalan Nyatur Rebah Mejaba Jero, Mepadudusan Alit berdasar Caru Manca Mustika.

Dalam sembrama wacananya, Wagub Nyoman Giri Prasta menyampaikan Purnama Kelima ini menjadi momentum krusial untuk memohon kerahayuan dan kesejahteraan masyarakat. Terlebih, Pura Sad Kahyangan Pucak Mangu dan Pura Dugul memiliki peran besar dalam kosmologi spiritual serta sistem pertanian tradisional subak.

“Upacara ini merupakan bagian penting dari pelaksanaan yadnya sekaligus momentum bagi krama untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Marilah bersama-sama menjaga kelestarian alam kita untuk anak cucu kita nanti,” katanya.

Sementara itu, Bupati Wayan Adi Arnawa menegaskan komitmen berkelanjutan Pemkab Badung dalam membentengi keberlangsungan adat, agama, dan budaya lokal sebagai pilar identitas daerah.

“Nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Ida Hyang Widhi Wasa diharapkan terus menjadi landasan kehidupan masyarakat, sejalan dengan upaya menjaga warisan leluhur agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” jelas Bupati Adi Arnawa.

Baca Juga  Perayaan Tumpek Wariga di Denpasar, Jaya Negara Haturkan Sesaji Bubur Sumsum dan Tanam Pohon Kelapa Upakara

Agenda keagamaan ini turut dihadiri anggota DPRD Badung I Gusti Lanang Umbara, Kepala OPD terkait di lingkungan Pemkab Badung, Camat Petang AA Ngurah Darma Putra beserta unsur tripika kecamatan, Penglingsir Puri Ageng Mengwi Ida Cokorda Mengwi XIII, Perbekel Sulangai I Nyoman Sunarta, Perbekel Desa Pelaga I Made Ordin, Bendesa Desa Adat Sulangai I Wayan Lastra beserta Bendesa Desa Adat lainnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Jajaran Pemkot Denpasar Laksanakan Persembahyangan Serangkaian “Pujawali Padudusan Alit” Pura Agung Jagatnatha

Published

on

By

Jajaran Pemkot Denpasar Laksanakan Bhakti Pujawali di Pura Agung Jagatnatha
BHAKTI PUJAWALI: Jajaran Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan Bhakti Pujawali pada puncak “Karya Padudusan Alit” di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar bertepatan dengan Rahina Purnama Sasih Kalima, Redite Kliwon Watugunung, Minggu (25/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Jajaran Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan Bhakti Pujawali pada puncak Karya Padudusan Alit di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar bertepatan dengan Rahina Purnama Sasih Kalima, Minggu (25/10).

Pelaksanaan Bhakti Pujawali tersebut dihadiri langsung Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, dan Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.

Tampak hadir Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Swandewi Eddy Mulya, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, pimpinan OPD serta pemedek yang tangkil di Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar.

Diiringi suara kidung, rangkaian Pujawali diawali dengan prosesi Melis, Mereresik, dan dilanjutkan dengan persembahan tari-tarian. Seluruh rangkaian kemudian diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipuput Ida Pedanda Taman Dwija Putra dari Griya Taman Pahang Penatih.

Usai persembahyangan, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, Pujawali di Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar ini, secara rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Hal ini merupakan wujud sradha dan bhakti jajaran Pemerintah dan masyarakat Kota Denpasar kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Jaya Negara menyampaikan, pihaknya berharap momentum ini dapat dijadikan untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai implementasi dari Tri Hita Karana.

“Dengan pelaksanaan pujawali ini mari kita tingkatkan sradha bhakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai implementasi Tri Hita Karana, dengan harapan seluruh program dan persoalan yang dihadapi dapat diatasi dengan optimal,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesra Sekretariat Daerah Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi menjelaskan, sebelum puncak Karya hari digelar, berbagai prosesi  rangkaian Karya Padudusan Alit di Pura Agung Jagatnatha ini telah dilaksanakan sejak tanggal 20 Oktober lalu. Antara lain prosesi Penuwuran, Nunas Tirta, Ngias, dan sebagainya.

Baca Juga  Prosesi Tawur Agung Kesanga di Kabupaten Gianyar

“Seluruh rangkaian Karya Padudusan Alit di Pura Agung Jagatnatha akan dilanjutkan dengan Bhakti Penganyar dan diakhiri prosesi Penyineban pada Senin, 26 Oktober besok. Untuk itu, bagi para pemedek atau masyarakat dapat memanfaatkan momentum untuk tangkil dan ngaturang bhakti,” katanya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” dalam Rangkaian Karya di Jero Abian Timbul

Published

on

By

Walikota Jaya Negara ngayah nyangging di Jero Abian Timbul
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat “ngayah nyangging” dalam rangkaian “Karya Ngenteg Linggih, Mapedudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Wraspati Kalpa, lan Nyurud Ayu” di Jero Abian Timbul, Kelurahan Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat, Sabtu (24/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, ngayah nyangging dalam rangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mapedudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Wraspati Kalpa, dan Nyurud Ayu di Jero Abian Timbul, Kelurahan Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat, Sabtu (24/10).

Dalam kesempatan tersebut, Jaya Negara menyampaikan bahwa upacara metatah atau mepandes merupakan salah satu upacara Manusa Yadnya bagi umat Hindu yang sarat akan makna spiritual. Upacara ini menjadi bagian penting dalam menyambut kedewasaan sekaligus sebagai simbol pengendalian diri terhadap Sad Ripu atau enam sifat musuh dalam diri manusia.

“Pelaksanaan metatah ini merupakan salah satu implementasi visi Vasudhaiva Kutumbakam, yakni semangat gotong-royong dalam mewujudkan bhakti kepada Sang Pencipta. Melalui pelaksanaan upacara ini, kita berharap tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan, sehingga kehidupan dapat berjalan selaras dan harmonis,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Ketua Panitia, I Gusti Ketut Wijaya, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran serta dukungan Pemerintah Kota Denpasar. Ia juga mengapresiasi kesediaan Walikota Jaya Negara untuk turut ngayah sebagai sangging dalam prosesi metatah tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kota Denpasar, khususnya kehadiran Bapak Walikota yang turut ngayah sebagai sangging dalam prosesi metatah. Kami berharap seluruh rangkaian upacara dapat berjalan lancar hingga selesai,” ungkap Gusti Ketut Wijaya.

Lebih lanjut, Gusti Ketut Wijaya menjelaskan bahwa rangkaian karya telah dimulai pada 18 Oktober 2026, yang diawali dengan upacara matur piuning, nanceb pampang, dan nuasen karya. Selanjutnya, pada Sabtu (24/10), dilaksanakan prosesi metatah, sedangkan puncak upacara Wraspati Kalpa, Nyurud Ayu, dan Mejaya-jaya dijadwalkan berlangsung pada Minggu (25/10).

Baca Juga  Momentum Nyepi, Menkeu Ajak Refleksi untuk Perkuat Tugas Pengelolaan Keuangan Negara

Pihaknya berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta menjadi wujud bhakti dan kebersamaan krama dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat dan beragama. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca