Connect with us

SULUH

Pahit Getir I Made Ardana, Tamat SMP Bangun Agro Wisata Alas Harum Sejahterakan Ratusan Karyawan

BALIILU Tayang

:

de
I MADE ARDANA: Owner Agro Wisata Alas Harum Tegallalang Gianyar.

BELAJAR tak selalu di bangku sekolah untuk mengantarkan seseorang bisa sukses menempuh jalan hidup. Ada beragam cara untuk mencapai satu tujuan, dan berpulang pada diri, sejauh mana keteguhan hati untuk mau berubah. Itulah yang ada pada sosok I Made Ardana, pria kelahiran 7 September 1982 yang hanya sanggup menempuh pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) karena kemiskinan yang mendera keluarganya, namun karena kerja keras dan totalitas kini ia telah berhasil membangun Agro Wisata Alas Harum di Tegallalang dengan mengajak ratusan karyawan.

Lahir dari keluarga buruh tani di Banjar Bresela Payangan Gianyar, I Made Ardana keseharian hidup di sawah bersama sang kakak perempuan. Tak sanggup orangtua menyekolahkan, Ardana hanya meraih ijazah SMP, bahkan sang kakak cukup mengenyam sekolah dasar.

Melihat orang tua sebagai buruh tani tanpa ada gunakaya, Ardana mencoba berubah. Ia memilih sebagai pedagang acung barang-barang handicraft, kerajinan souvenir yang tidak membutuhkan kepintaran dan juga modal besar.  Ia saban hari menjajakan barang di Monkey Forest Ubud, pasar seni Sukawati, Guwang, Kumbasari, Legian sampai ke pantai Kuta. Panas, dingin, hujan dan lelah pun tak terasa oleh keteguhannya ingin keluar dari zone miskin. ‘’Uber satpol PP sudah biasa, empat kali bangkrut, tapi tiyang tetep punya semangat untuk berubah,’’ kenang Ardana awal 2020-an silam.

de
NYERUPUT KOPI: Nikmati sensasi aroma cita rasa kopi luwak.

Ketika putra pertama lahir bersama Ni Made Suarmini yang mau menerimanya sebagai pasangan hidup,  Wayan Ongki Saputra tanpa belaian kasih kerabat. Tidak ada yang mau menyapa apalagi menggendong dengan penuh kasih.  Tapi Ardana bersyukur, pahit getir yang terus mendera semakin memantik bara api untuk terus menyala menapaki jalan berkerikil. ‘’Tiyang tidak berani punya anak karena takut tidak bisa merawat, menyekolahkan dan membesarkan dengan baik,’’ tutur Ardana sembari nyeruput secangkir kopi luwak.

Tercatat sebagai orang keempat yang bergerak di handicraft tempat sesajen, Ardana berkesempatan pameran di PKB 2011. Asyik bolak-balik Bresela-Denpasar, Suarmini ngidam. Kali ini ia yakin bisa merawat dan lahir anak kedua Kadek Fani Natasya. Beda dengan anak pertama yang lebih tua 10 tahun, Kadek Fani lahir mendapat pelukan hangat dari kerabat dan handai taulan.

Bertemu teman sepermainan sebagai driver freelance yang sudah membuka usaha kopi luwak, Ardana yang tekun bergelut sebagai supplier toko oleh-oleh di Bali, naluri bisnisnya terusik. Dari ide seorang kawan itu, kemudian membuka usaha kopi luwak dengan konsep usaha ngamah ibane. Pinjaman uang dari bank, selain dipakai membayar bunga juga penuh giat menghidupkan usahanya.

Mendapat kepercayaan dari pak Mangku Mudalara untuk mengelola lahan tidak produktif sebidang tebing di tepi jalan Tegallalang Gianyar,  Ardana kemudian membangun Agro Wisata Alas Harum yang kini namanya dikenal seantero dunia.  

Dari hanya didatangi 5-15 unit mobil per hari dengan luas parkir 1,5 are, Ardana tidak pernah berhenti berinovasi sampai akhirnya luas areal yang pertama hanya 1,5 Ha, sekarang sudah menjadi 5,5 Ha dengan luas parkir 1 Ha.

de
SWING: Salah satu atraksi yang memacu adrenalin wisatawan.

Kini rata-rata mobil yang singgah mencapai 800 unit per hari atau kira-kira pengunjung di angka kurang lebih 2.000 turis dengan mempekerjakan 300 lebih karyawan. ‘’Bahkan kalau high season tiyang bisa diusir tidak dikasi tempat duduk karena bokingan banyak. Terpaksa cari tempat sendiri, kadang beten punyan kopine sambil ngopi sama saudara,’’ kenang Ardana yang mulai berbagi tentang konsep bisnis bahwa berani dan totalitas adalah modal nomor satu, walaupun tidak menampik modal kepintaran dan pengalaman.

Ardana membandingkan pebisnis tak jauh beda dengan tubuh yang membutuhkan asupan agar bisa hidup, baik makanan, udara untuk pernafasan, sinar matahari agar tubuh tetap hangat dan bugar. Begitu juga pebisnis juga memerlukan energi agar usaha bisa berkembang.

Ia memandang ada satu ilmu yang tidak didapatkan di bangku sekolah atau kampus. Bahwa 1 tambah 1 sama dengan 9, atau 9 tambah 9 sama dengan 0. Cuma di bisnis dan dalam kehidupan sehari-hari penjumlahan itu ada. 1+1= 9 ketika kita bekerja dengan totalitas, ketika tidak mencari keuntungan dari orang lain, kita selalu berdoa kepada Tuhan, kita selalu memandang relasi sebagai teman, team work yang saling menguntungkan, maka 1+1 akan menjadi 9. Karena keberhasilan usaha membutuhkan banyak dukungan.

de
MADE ARDANA: Semua berinvestasi di Alas Harum.

Ia mencontoh bahwa karyawan, pinjaman uang dari bank, pemikiran kita, fisik, tanah, orang yang datang, teknologi, infrastuktur adalah asset. Jika semua itu bisa disinergikan maka untungnya sangat besar.

‘’Semua yang datang kesini investasi dengan kemampuan mereka, pikiran mereka, skill mereka, mungkin sebagai owner investasi tiyang paling besar karena modal pikiran dan materi. Semuanya investasi, dan sebuah departemen bisa besar, maju, kuat kalau ada niat saling menghargai satu sama lain,’’ ujar Ardana.

Bagaimana 9+9 sama dengan 0, jika modal cukup, kemampuan manajerial di atas rata-rata, tetapi untuk mencoba tidak berani maka hasilnya nol. ‘’Kalau egois, cang bos ne, cang manajer dini, kalau ada blok-blok di antara departemen, apalagi di sini banyak aktivitas, kopi, resto, jika sesama mereka ada kesombongan, maka usaha akan pincang dan tidak bisa berjalan sempurna,’’ ungkap Ardana seraya meyakini kebodohan adalah awal dari sebuah kesuksesan asal ada niat, mencoba dan totalitas.

Buta perihal dunia kopi tak membuat Ardana mundur. Ia terus menggali ilmu, mengasah diri dalam laku nyata. Belajar mendekati pemilik lahan untuk bisa diajak kerja sama, belajar meyakinkan bank, membuat disain bangunan, teknik memasarkan dan seterusnya yang tidak pernah putus untuk belajar. Seperti kata tetua, de suud-suud melajah – jangan pernah berhenti belajar – red, jika terus belajar pasti akan ada perubahan di setiap jenjang hidup ini. Belajar dari teman, sosial media dan IT, petuah nak lingsir, orang yang expert dalam dunia bisnis.

Agro Wisata Alas Harum menyuguhkan wisata perkebunan kopi luwak yang special. Karena bisa melihat proses produksi dengan cara-cara tradisional dari biji-biji kopi pilihan binatang luwak, sampai menghasilkan kopi bercita rasa tinggi. Tak hanya menikmati kopi luwak, Agro Wisata Alas Harum juga menawarkan atraksi swing (ayunan), sky bike, flying fox yang penuh sensasi memacu adrenalin. Banyak spot-spot foto yang eksotik. Di area tebing ini juga berdiri megah resto berlantai tiga berhadapan dengan sawah berundak-undak yang masih original. Pool bar yang sedang dikerjakan menanti beroperasi tahun ini.

de
IKONIK ALAS HARUM: Relief kepala kingkong yang mendunia.

Ketika Ardana mengukir sudut tebing berwajah kingkong yang sempat viral di media sosial, wisatawan yang datang ke Alas Harum berlipat 400 persen. Begitu juga di tebing lain mengukir wajah pekak brayut yang tiada lain kakeknya sendiri Ketut Mara, sang seniman idealis, respons wisatawan luar biasa. Kak brayut sosok kakek penuh bahagia bermain dengan cucu-cucunya, kisah Ketut Mara sebelum meninggal. Relief kingkong dan kak brayut yang begitu ikonik semakin melambungkan nama Agro Wisata Alas Harum di jagat traveller.

Ketut Mara tidak saja piawai memahat, juga melukis dan membuat barang kerajinan. Cuma karyanya tidak ada yang dijual. Ia lebih memilih memberikan kepada orang yang meminta daripada dijual. Salah satu karya bersama Cokorda Ubud dan Puri Kedisan Tegallalang adalah barong landung yang kini di-sungsung di Pura Tamansari Bresela.

Ardana kemudian sadar kenapa orangtuanya miskin, karena jiwa social Ketut Mara yang mendermakan karya-karyanya untuk membuat orang bahagia. Beliau lupa bahwa keluargaanya perlu dinafkahi. ‘’Untuk membuktikan bahwa ada darah seni yang mengalir, saya membuat handicraft yang aneh-aneh, relief muka Kingkong dan juga relief pekak brayut yang mendapat respons luar biasa dari wisatawan. Baru tiyang paham, sebagai cucunya, tinggal memetik karma baik dari pekak,’’ ujar Ardana.

de
RELIEF PEKAK BRAYUT: Ingatkan kisah hidup kakek Ketut Mara.

Kini ia menyadari betapa karma yang baik yang didermakan para tetuanya ternyata membawa berkah bagi sentana-nya. Kakek selalu wanti-wanti mengingatkan jangan pernah sombong, ego dengan pencapaian yang kita dapatkan,  karena ini titipan. Bila salah mengelola tentu akan diambil kembali, bila benar niscaya langgeng seterusnya. Banyak orang punya tanah hektaran, uang milyaran, tetapi jika dipetik sembarangan, misal hanya dipakai memunyah, menjudi, ngelue maka bisa saja habis.

Setiap usaha pasti ada tantangan. Geng yasa geng goda. Demikian pula ketika Alas Harum menjadi destinasi wisata favorit yang dikunjungi wisatawan jika ingin menikmati kopi luwak, swing, sky bike, flying fox dll dengan keindahan panorama alam tebing dan sawah berundak-undaknya,  virus corona menyesakkan pariwisata Bali termasuk Alas Harum. Tak kurang dari 50 persen kunjungan wisatawan menurun.

Namun tak membuat buru-buru manajemen Alas Harum merumahkan karyawan. Mungkin perusahaan lain ada yang kolaps dan meliburkan karyawan, namun Alas Harum masih kuat, utuh dalam satu kesatuan keluarga besar. ‘‘Pedalem anak-anak, kalau dirumahkan dimana mereka mencari pekerjaan. Mereka punya beban utang kredit motor, keluarga, rumah dan semuanya punya beban utang, kasihan mereka,’’ ujar pria yang punya kepedulian luar biasa pada lingkungan dan kemanusiaan.

Ia tidak saja latah pada konsep go green, karena jauh sebelumnya ia sudah melakoninya. Misalnya di Alas Harum steril sampah plastik  sejak awal. Begitu juga ketika berbicara ajeg Bali, Ardana juga membangun konsep usaha pade gelahang. Ia tidak membeli tanah tetapi pemiliknya diajak kerjasama. Dalam waktu lima tahun sang pemilik sudah untung seharga nilai tanah tanpa harus menjual.

Ia juga membangun yayasan Tungked Werda yang dilatarbelakangi banyak sekali lansia yang dinomorduakan. Banyak kini lansia yang hilang ingatan di jalanan. Bersama I Nyoman Parta (anggota DPRRI-red) sebagai penasehat dan Ardana sebagai pembina, Yayasan Tungked Werda siap berbagi buat para lansia. (Gede Sumida)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SULUH

Putri Suastini Koster, dari Penggagas FSBJ hingga Jaga Perajin Bali

Published

on

By

de
Ni Putu Putri Suastini Koster

BAGI penikmat serial drama klasik era 80-an di layar kaca TVRI Bali, tentu tidak akan pernah lupa dengan sosok wanita yang begitu fenomenal, Ni Putu Putri Suastini. Drama klasik yang banyak menukil kisah-kisah Mahabaratha itu telah membius pemirsa hampir satu dekade. Namun Sabtu malam itu (7/11) di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar saat penutupan Festival Seni Bali Jani II, Ni Putu Putri Suastini tidak lagi menjadi pemeran utama pementasan drama. Tetapi, pendamping Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster, MM ini membius penonton dan pemirsa lewat puisi ‘’Agustus’’ buah karya Yudhistira ANM Massardi.

Di depan penonton yang digelar secara daring itu, Ni Putu Putri Suastini yang diiringi petikan gitar I Wayan Balawan, Dip.Mus. lewat kata yang sarat makna itu sungguh sedang membangkitkan semangat bahwa mestinya setelah kita dimerdekakan dimana kemerdekaan NKRI itu adalah kita, sudah seharusnya sebagai anak bangsa melakukan hal yang terbaik untuk Tanah Air Indonesia.

Itulah kenapa, ketika Putri Suastini Koster menjadi pendamping orang nomor satu di Bali, ia melihat sedikitnya ruang yang didapatkan buat seni modern baik itu teater, sastra modern, musik dengan segala genre-nya. Jika itu dibiarkan, kelak akan terjadi ketimpangan dengan seni tradisi yang sangat disentuh dan diperhatikan.

Putri Suastini memahami betul bahwa Bali kuat akan seni tradisi. Tetapi jangan lupa, talenta anak-anak kita di semua ranah seni sangat kuat. Ide dan gagasan untuk memberikan wahana buat apresiasi seni modern yang disampaikan kepada Gubernur bersama jajarannya pun disambut positif sehingga lahirlah Festival Seni Bali Jani yang kini sudah memasuki tahun kedua.

Jika Pesta Kesenian Bali melestarikan seni tradisi dengan segala inovasi kreativitas senimannya, penulis Trilogi Puisi Merah ini menuturkan Festival Seni Bali Jani adalah sebagai wahana apresiasi seni modern yang dapat memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif yang makin menghidupkan kebudayaan Bali di mata dunia menjadi satu peradaban yang dikagumi. Penggagas Festival Seni Bali Jani ini pun kemudian menitipkan dua ajang yang besar ini untuk tetap dijaga dan dirawat lewat kreativitas dari para senimannya.

Ni Putu Putri Suastini Koster berkolaborasi dengan I Wayan Balawan

Lahir dari orangtua yang bekerja di Bank Pembangunan Daerah Bali, Ni Putu Putri Suastini tinggal di sebuah mes di wilayah Panjer Denpasar. Umur 5 tahun, Putri sudah memasuki bangku sekolah dasar Negeri 1 Panjer. Usia belia masuk SD membuat putri cilik yang lahir di Desa Padangsambian, Denpasar, 27 Januari 1966 ini begitu istimewa.

Melalui guru les tari yang dihadirkan orangtuanya, Putri cilik terus menempa diri hingga bakat menarinya semakin terasah dan bersinar ketika duduk di bangku SMP. Tak cukup mengasah diri di dunia tari Bali, Putri bergabung ke dunia seni drama bersama Teater Kukuruyuk yang menjadi cikal bakal Teater Mini di tahun 1978.

Kesuntukannya memanggung di dunia teater semakin mengakar hingga mendapat kesempatan mengisi acara di layar kaca TVRI Bali.  Beberapa saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Denpasar, bersama sahabat yang masih di SMP membangun Teater Angin. Pementasan dalam acara drama remaja teater inilah yang kemudian ditunggu-tunggu anak-anak sekolahan di layar kaca TVRI Bali yang tayang satu bulan sekali.

Dua tahun di SMA, Putri mulai memberanikan diri mengisi drama klasik di TVRI Bali. Serial drama klasik ini pun kemudian menjadi acara favorit bagi semua kalangan baik anak-anak, remaja dan para orangtua hingga tahun 1990. Menukil kisah Mahabaratha, membuat pemirsa merasa dekat. Pesan-pesan moral yang disampaikannya pun begitu cepat melekat.

Ketenaran Putri Suastini di dunia panggung dan layar kaca mengantarkannya mulai banyak mengisi panggung-panggung besar hingga pentas di Gedung Kesenian Jakarta di bawah binaan Sanggar Putih. Dasar tari Bali yang terus diasah didukung olah vokal dan kemampuan membaca puisi membuat Putri Suastini berlabuh ke dunia MC (Master of Ceremony).

Keseriusan dan focus seorang Putri dalam menekuni dunia seni menuai segudang prestasi. Ketika kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Putri menyandang gelar juara 1 Tari Tenun se-Universitas Udayana (Unud), hingga dipercaya mewakili Unud untuk Festival Seni Antar-Wilayah di tingkat Kopertis di Banjarmasin dengan membawakan Tari Tarunajaya dan Tari Oleg Tamulilingan dengan memboyong juara.

Di bidang teater ia juga sering mewakili Depdikbud di tingkat Provinsi Bali dan wilayah regional sehingga sering dinobatkan sebagai Pemeran Pemain Putri Terbaik. Putri juga tercatat mengikuti dua kali Lomba Drama Modern di Fakultas Sastra Unud dengan meraih Pemeran Pembantu Terbaik dan Pemeran Wanita Terbaik. Prestasi juara pun tak lepas ketika ikut lomba baca puisi melalui Sanggar Minum Kopi mewakili Depdikbub.

Sederet prestasi yang dicapai juga tak lepas dari dorongan seorang tetangga Ketut Sukanata yang sudah dianggap sebagai kakaknya. Dorongan yang diberikan memicu Putri Suastini bersemangat ikut di berbagai ajang lomba. Di antaranya berhasil menjadi juara pertama Lomba Pidato KNPI Bali serta merebut juara 3 di tingkat nasional. Tahun 1994 ayahandanya pensiun, dan kehidupan Bunda Putri kembali berlanjut di Desa Padangsambian, Denpasar.

Di balik seni yang mengalir di denyut nadinya, Putri ternyata suka berorganisasi. Sejak di bangku SMA ia sudah bergabung di GMNI dan ketika tahun 1983 diterima di Fakultas Ekonomi Unud, ia langsung jadi pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Kiprahnya di organisasi terus berlanjut. Tahun 1987 masuk menjadi pengurus KNPI Provinsi Bali, pengurus Pemuda Pancasila hingga akhirnya tahun 1999 mengantongi kartu tanda anggota (KTA) PDI Perjuangan Kota Denpasar.

Kesibukan di organisasi tidak membuat Putri melupakan dunia panggung. Ia bergabung di Sanggar Suar Agung yang sering tampil hingga 5 kali dalam seminggu di berbagai hotel. Hingga, dalam sebuah acara politik di hotel dimana Putri diminta sebagai MC. Bermula dari secarik kartu nama agar memiliki banyak sahabat dan relasi, justru berujung seorang Wayan Koster yang hadir di acara politik itu jatuh hati.

Hubungan asmara jarak jauh pun berlangsung hingga anggota Komisi X DPRRI Dr. Ir. Wayan Koster, MM meminang Ni Putu Putri Suastini pada 24 Desember 1999 di saat usia 33 tahun. Putri pun diboyong ke ibukota Jakarta yang akhirnya menguburkan angan-angannya menjadi anggota dewan di Denpasar dan juga mulai meredupkan kariernya di dunia seni di Bali.

‘’Bunda tidak menjadi anggota dewan, tetapi Bunda mendapatkan anggota dewan,’’ tutur Putu Putri Suastini Koster yang akrab disapa Bunda Putri.

Suntuk berada di ranah seni sejak usia belia baik menari, berteater, bersastra, menyanyi, menulis puisi hingga berorganisasi telah mengantarkan sebagai seniman yang multi talenta. Putri menyebut semua itu adalah Karmany eva dhikaraste maphalesu kadacana. Bekerja terlebih dahulu sesuai dengan kewajiban tanpa mempertimbangkan hasilnya. ‘’Apa yang kamu lakukan focus pada itu, berikan kebahagiaan ketika kamu bekerja. Tujuan setelah itu hasilnya semestalah yang menentukan,’’ ungkap Bunda Putri dalam satu kesempatan.

Itulah, ketika sang suami menjadi orang nomor satu di Bali, Bunda Putri lebih memilih menjadi pendamping, menjadi ketua TP PKK, walau jika terjun di ranah politik sangatlah terbuka lebar. 

Bagi Bunda Putri jabatan sebagai seorang politisi itu berat. ‘’Biar Bapak saja gubernur karena beliau mampu melakukan itu. Bunda bertugas menyeimbangkan dan selalu berdoa untuk suami. Bunda ingin berada di dunia seni, karena seni yang membuat Bunda bahagia, karena apa pun didasari seni akan berhasil,’’ ungkap ibu dua putri Ni Luh Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani, seraya menekankan apa yang dilakukan selalu dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai pendamping dan anak dari dua putrinya, Bunda Putri menjaga sang suami sebagai Gubernur Bali yang selalu memikirkan tentang kemajuan Bali melalui visinya Nangun Sat Kerti Loka Bali. Dalam dua tahun bertugas, Gubernur sudah melahirkan puluhan perda dan pergub yang bagus yang akan bisa mengawal Bali menuju era baru.

Namun di tengah semangat membangun Bali, dunia diterpa wabah Covid-19. Tidak terkecuali Bali yang menopang hidupnya didominasi dari sektor pariwisata. Pemerintah Provinsi Bali melalui Gubernur dan jajaran serta seluruh komponen yang ada bersatu padu menanggulangi penyebaran Covid-19.

Sebagai orang Bali, memang sudah sepatutnya melakukan swadarma yang terbaik buat tanah Bali. Seperti sering Bunda Putri sampaikan lewat pesan puisi berjudul Kumbakarna. Sudah menjadi kewajiban kita untuk nindihan (membela) tanah kelahiran. Menggagas Festival Seni Bali Jani adalah salah satu keberpihakannya kepada masyarakat Bali.

Penutupan Festival Seni Bali Jani II 2020, Sabtu (7/11) di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar

Maka, ketika berperan menjadi pendamping seorang Gubernur Bali yang kemudian melekat dengan jabatan sebagai ketua TP PKK dan ketua Dekranasda, Bunda Putri tak pernah surut ikut memikirkan Bali. Ia selalu serius, focus dan tulus dalam melakukan sesuatu. Satu setengah tahun yang lalu, Bunda Putri meluncurkan program HATINYA PKK di antaranya memanfaatkan pekarangan rumah yang ternyata ketika pandemi Covid-19 begitu terasa manfaatnya. Bagaimana Bunda Putri mengawal para anak-anak masa depan Bali, anak usia emas, melindungi lansia lewat 10 pragram pokok PKK-nya.

Tak diragukan pula perhatiannya akan persoalan sampah. Di setiap kesempatan, Bunda Putri selalu menyisihkan waktunya untuk mensosialisasikan tentang pengelolaan sampah bernilai ekonomis yang mesti dimulai dari sumbernya yakni keluarga.

Menjadi ketua Dekranasda, perhatian terhadap kerajinan Bali seperti tenun ikat yang begitu kesohor seantero dunia akan kualitas bahan, motif, dan warna yang dikerjakan secara manual tak diragukan lagi. Bunda Putri tak pernah surut memberi semangat para perajin Bali dan memperjuangkan agar karya-karyanya mendapatkan hak cipta. Begitulah Bunda Putri terus mengawal UMKM supaya menjadi tuan di rumahnya sendiri. ‘’UMKM kita perlu dilindungi karena potensi seni kerajinan dan lain-lain masyarakat Bali sangat luar biasa,’’ tuturnya.

Begitu juga ketika wabah Corona mendera Bali, Bunda Putri dengan sabar dan tenang mendampingi sang suami yang kerja siang malam merumuskan skema-skema penanganan Covid-19 dengan cermat, teliti dan disiplin. Terlebih ketika ribuan putra-putra Bali yang dikenal sebagai sang pahlawan devisa pulang dari perantauan, sang suami jarang meninggalkan meja di belakang ruang tamu jabatan.  ‘’Bapak selalu memikirkan anak-anaknya yang baru pulang itu agar mereka sehat-walafiat ketika bertemu keluarganya,’’ ungkap Bunda Koster. 

Di tengah Covid-19, Bunda Koster pun terus berupaya untuk meringankan beban warga yang terdampak. Melalui penyisiran anggaran, TP PKK dan Dekranasda, membagikan kepada yang berhak membutuhkan sekitar 410 ton beras, 90 ribu masker dll ke seluruh Bali. TP PKK Bali juga bersafari menggelar program Penggak PKK dari kantong sendiri dimana barang yang diambil seluruhnya gratis. Juga mendorong hadirnya pasar rakyat untuk mewadahi petani bisa bertemu langsung dengan pembeli.

Bak sebuah pohon, semakin menjulang tinggi maka akan semakin kencang angin menerpa. Namun Bunda Putri meyakini bahwa dengan ketulusan bekerja, bekerja dan bekerja baik secara sekala dan niskala, maka Alam Semesta akan melindungi. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca