Connect with us

SULUH

Pahit Getir I Made Ardana, Tamat SMP Bangun Agro Wisata Alas Harum Sejahterakan Ratusan Karyawan

BALIILU Tayang

:

de
I MADE ARDANA: Owner Agro Wisata Alas Harum Tegallalang Gianyar.

BELAJAR tak selalu di bangku sekolah untuk mengantarkan seseorang bisa sukses menempuh jalan hidup. Ada beragam cara untuk mencapai satu tujuan, dan berpulang pada diri, sejauh mana keteguhan hati untuk mau berubah. Itulah yang ada pada sosok I Made Ardana, pria kelahiran 7 September 1982 yang hanya sanggup menempuh pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) karena kemiskinan yang mendera keluarganya, namun karena kerja keras dan totalitas kini ia telah berhasil membangun Agro Wisata Alas Harum di Tegallalang dengan mengajak ratusan karyawan.

Lahir dari keluarga buruh tani di Banjar Bresela Payangan Gianyar, I Made Ardana keseharian hidup di sawah bersama sang kakak perempuan. Tak sanggup orangtua menyekolahkan, Ardana hanya meraih ijazah SMP, bahkan sang kakak cukup mengenyam sekolah dasar.

Melihat orang tua sebagai buruh tani tanpa ada gunakaya, Ardana mencoba berubah. Ia memilih sebagai pedagang acung barang-barang handicraft, kerajinan souvenir yang tidak membutuhkan kepintaran dan juga modal besar.  Ia saban hari menjajakan barang di Monkey Forest Ubud, pasar seni Sukawati, Guwang, Kumbasari, Legian sampai ke pantai Kuta. Panas, dingin, hujan dan lelah pun tak terasa oleh keteguhannya ingin keluar dari zone miskin. ‘’Uber satpol PP sudah biasa, empat kali bangkrut, tapi tiyang tetep punya semangat untuk berubah,’’ kenang Ardana awal 2020-an silam.

de
NYERUPUT KOPI: Nikmati sensasi aroma cita rasa kopi luwak.

Ketika putra pertama lahir bersama Ni Made Suarmini yang mau menerimanya sebagai pasangan hidup,  Wayan Ongki Saputra tanpa belaian kasih kerabat. Tidak ada yang mau menyapa apalagi menggendong dengan penuh kasih.  Tapi Ardana bersyukur, pahit getir yang terus mendera semakin memantik bara api untuk terus menyala menapaki jalan berkerikil. ‘’Tiyang tidak berani punya anak karena takut tidak bisa merawat, menyekolahkan dan membesarkan dengan baik,’’ tutur Ardana sembari nyeruput secangkir kopi luwak.

Tercatat sebagai orang keempat yang bergerak di handicraft tempat sesajen, Ardana berkesempatan pameran di PKB 2011. Asyik bolak-balik Bresela-Denpasar, Suarmini ngidam. Kali ini ia yakin bisa merawat dan lahir anak kedua Kadek Fani Natasya. Beda dengan anak pertama yang lebih tua 10 tahun, Kadek Fani lahir mendapat pelukan hangat dari kerabat dan handai taulan.

Bertemu teman sepermainan sebagai driver freelance yang sudah membuka usaha kopi luwak, Ardana yang tekun bergelut sebagai supplier toko oleh-oleh di Bali, naluri bisnisnya terusik. Dari ide seorang kawan itu, kemudian membuka usaha kopi luwak dengan konsep usaha ngamah ibane. Pinjaman uang dari bank, selain dipakai membayar bunga juga penuh giat menghidupkan usahanya.

Mendapat kepercayaan dari pak Mangku Mudalara untuk mengelola lahan tidak produktif sebidang tebing di tepi jalan Tegallalang Gianyar,  Ardana kemudian membangun Agro Wisata Alas Harum yang kini namanya dikenal seantero dunia.  

Dari hanya didatangi 5-15 unit mobil per hari dengan luas parkir 1,5 are, Ardana tidak pernah berhenti berinovasi sampai akhirnya luas areal yang pertama hanya 1,5 Ha, sekarang sudah menjadi 5,5 Ha dengan luas parkir 1 Ha.

de
SWING: Salah satu atraksi yang memacu adrenalin wisatawan.

Kini rata-rata mobil yang singgah mencapai 800 unit per hari atau kira-kira pengunjung di angka kurang lebih 2.000 turis dengan mempekerjakan 300 lebih karyawan. ‘’Bahkan kalau high season tiyang bisa diusir tidak dikasi tempat duduk karena bokingan banyak. Terpaksa cari tempat sendiri, kadang beten punyan kopine sambil ngopi sama saudara,’’ kenang Ardana yang mulai berbagi tentang konsep bisnis bahwa berani dan totalitas adalah modal nomor satu, walaupun tidak menampik modal kepintaran dan pengalaman.

Ardana membandingkan pebisnis tak jauh beda dengan tubuh yang membutuhkan asupan agar bisa hidup, baik makanan, udara untuk pernafasan, sinar matahari agar tubuh tetap hangat dan bugar. Begitu juga pebisnis juga memerlukan energi agar usaha bisa berkembang.

Ia memandang ada satu ilmu yang tidak didapatkan di bangku sekolah atau kampus. Bahwa 1 tambah 1 sama dengan 9, atau 9 tambah 9 sama dengan 0. Cuma di bisnis dan dalam kehidupan sehari-hari penjumlahan itu ada. 1+1= 9 ketika kita bekerja dengan totalitas, ketika tidak mencari keuntungan dari orang lain, kita selalu berdoa kepada Tuhan, kita selalu memandang relasi sebagai teman, team work yang saling menguntungkan, maka 1+1 akan menjadi 9. Karena keberhasilan usaha membutuhkan banyak dukungan.

de
MADE ARDANA: Semua berinvestasi di Alas Harum.

Ia mencontoh bahwa karyawan, pinjaman uang dari bank, pemikiran kita, fisik, tanah, orang yang datang, teknologi, infrastuktur adalah asset. Jika semua itu bisa disinergikan maka untungnya sangat besar.

‘’Semua yang datang kesini investasi dengan kemampuan mereka, pikiran mereka, skill mereka, mungkin sebagai owner investasi tiyang paling besar karena modal pikiran dan materi. Semuanya investasi, dan sebuah departemen bisa besar, maju, kuat kalau ada niat saling menghargai satu sama lain,’’ ujar Ardana.

Bagaimana 9+9 sama dengan 0, jika modal cukup, kemampuan manajerial di atas rata-rata, tetapi untuk mencoba tidak berani maka hasilnya nol. ‘’Kalau egois, cang bos ne, cang manajer dini, kalau ada blok-blok di antara departemen, apalagi di sini banyak aktivitas, kopi, resto, jika sesama mereka ada kesombongan, maka usaha akan pincang dan tidak bisa berjalan sempurna,’’ ungkap Ardana seraya meyakini kebodohan adalah awal dari sebuah kesuksesan asal ada niat, mencoba dan totalitas.

Buta perihal dunia kopi tak membuat Ardana mundur. Ia terus menggali ilmu, mengasah diri dalam laku nyata. Belajar mendekati pemilik lahan untuk bisa diajak kerja sama, belajar meyakinkan bank, membuat disain bangunan, teknik memasarkan dan seterusnya yang tidak pernah putus untuk belajar. Seperti kata tetua, de suud-suud melajah – jangan pernah berhenti belajar – red, jika terus belajar pasti akan ada perubahan di setiap jenjang hidup ini. Belajar dari teman, sosial media dan IT, petuah nak lingsir, orang yang expert dalam dunia bisnis.

Agro Wisata Alas Harum menyuguhkan wisata perkebunan kopi luwak yang special. Karena bisa melihat proses produksi dengan cara-cara tradisional dari biji-biji kopi pilihan binatang luwak, sampai menghasilkan kopi bercita rasa tinggi. Tak hanya menikmati kopi luwak, Agro Wisata Alas Harum juga menawarkan atraksi swing (ayunan), sky bike, flying fox yang penuh sensasi memacu adrenalin. Banyak spot-spot foto yang eksotik. Di area tebing ini juga berdiri megah resto berlantai tiga berhadapan dengan sawah berundak-undak yang masih original. Pool bar yang sedang dikerjakan menanti beroperasi tahun ini.

de
IKONIK ALAS HARUM: Relief kepala kingkong yang mendunia.

Ketika Ardana mengukir sudut tebing berwajah kingkong yang sempat viral di media sosial, wisatawan yang datang ke Alas Harum berlipat 400 persen. Begitu juga di tebing lain mengukir wajah pekak brayut yang tiada lain kakeknya sendiri Ketut Mara, sang seniman idealis, respons wisatawan luar biasa. Kak brayut sosok kakek penuh bahagia bermain dengan cucu-cucunya, kisah Ketut Mara sebelum meninggal. Relief kingkong dan kak brayut yang begitu ikonik semakin melambungkan nama Agro Wisata Alas Harum di jagat traveller.

Ketut Mara tidak saja piawai memahat, juga melukis dan membuat barang kerajinan. Cuma karyanya tidak ada yang dijual. Ia lebih memilih memberikan kepada orang yang meminta daripada dijual. Salah satu karya bersama Cokorda Ubud dan Puri Kedisan Tegallalang adalah barong landung yang kini di-sungsung di Pura Tamansari Bresela.

Ardana kemudian sadar kenapa orangtuanya miskin, karena jiwa social Ketut Mara yang mendermakan karya-karyanya untuk membuat orang bahagia. Beliau lupa bahwa keluargaanya perlu dinafkahi. ‘’Untuk membuktikan bahwa ada darah seni yang mengalir, saya membuat handicraft yang aneh-aneh, relief muka Kingkong dan juga relief pekak brayut yang mendapat respons luar biasa dari wisatawan. Baru tiyang paham, sebagai cucunya, tinggal memetik karma baik dari pekak,’’ ujar Ardana.

de
RELIEF PEKAK BRAYUT: Ingatkan kisah hidup kakek Ketut Mara.

Kini ia menyadari betapa karma yang baik yang didermakan para tetuanya ternyata membawa berkah bagi sentana-nya. Kakek selalu wanti-wanti mengingatkan jangan pernah sombong, ego dengan pencapaian yang kita dapatkan,  karena ini titipan. Bila salah mengelola tentu akan diambil kembali, bila benar niscaya langgeng seterusnya. Banyak orang punya tanah hektaran, uang milyaran, tetapi jika dipetik sembarangan, misal hanya dipakai memunyah, menjudi, ngelue maka bisa saja habis.

Setiap usaha pasti ada tantangan. Geng yasa geng goda. Demikian pula ketika Alas Harum menjadi destinasi wisata favorit yang dikunjungi wisatawan jika ingin menikmati kopi luwak, swing, sky bike, flying fox dll dengan keindahan panorama alam tebing dan sawah berundak-undaknya,  virus corona menyesakkan pariwisata Bali termasuk Alas Harum. Tak kurang dari 50 persen kunjungan wisatawan menurun.

Namun tak membuat buru-buru manajemen Alas Harum merumahkan karyawan. Mungkin perusahaan lain ada yang kolaps dan meliburkan karyawan, namun Alas Harum masih kuat, utuh dalam satu kesatuan keluarga besar. ‘‘Pedalem anak-anak, kalau dirumahkan dimana mereka mencari pekerjaan. Mereka punya beban utang kredit motor, keluarga, rumah dan semuanya punya beban utang, kasihan mereka,’’ ujar pria yang punya kepedulian luar biasa pada lingkungan dan kemanusiaan.

Ia tidak saja latah pada konsep go green, karena jauh sebelumnya ia sudah melakoninya. Misalnya di Alas Harum steril sampah plastik  sejak awal. Begitu juga ketika berbicara ajeg Bali, Ardana juga membangun konsep usaha pade gelahang. Ia tidak membeli tanah tetapi pemiliknya diajak kerjasama. Dalam waktu lima tahun sang pemilik sudah untung seharga nilai tanah tanpa harus menjual.

Ia juga membangun yayasan Tungked Werda yang dilatarbelakangi banyak sekali lansia yang dinomorduakan. Banyak kini lansia yang hilang ingatan di jalanan. Bersama I Nyoman Parta (anggota DPRRI-red) sebagai penasehat dan Ardana sebagai pembina, Yayasan Tungked Werda siap berbagi buat para lansia. (Gede Sumida)

Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *