Saturday, 3 December 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SULUH

Pahit Getir I Made Ardana, Tamat SMP Bangun Agro Wisata Alas Harum Sejahterakan Ratusan Karyawan

BALIILU Tayang

:

de
I MADE ARDANA: Owner Agro Wisata Alas Harum Tegallalang Gianyar.

BELAJAR tak selalu di bangku sekolah untuk mengantarkan seseorang bisa sukses menempuh jalan hidup. Ada beragam cara untuk mencapai satu tujuan, dan berpulang pada diri, sejauh mana keteguhan hati untuk mau berubah. Itulah yang ada pada sosok I Made Ardana, pria kelahiran 7 September 1982 yang hanya sanggup menempuh pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) karena kemiskinan yang mendera keluarganya, namun karena kerja keras dan totalitas kini ia telah berhasil membangun Agro Wisata Alas Harum di Tegallalang dengan mengajak ratusan karyawan.

Lahir dari keluarga buruh tani di Banjar Bresela Payangan Gianyar, I Made Ardana keseharian hidup di sawah bersama sang kakak perempuan. Tak sanggup orangtua menyekolahkan, Ardana hanya meraih ijazah SMP, bahkan sang kakak cukup mengenyam sekolah dasar.

Melihat orang tua sebagai buruh tani tanpa ada gunakaya, Ardana mencoba berubah. Ia memilih sebagai pedagang acung barang-barang handicraft, kerajinan souvenir yang tidak membutuhkan kepintaran dan juga modal besar.  Ia saban hari menjajakan barang di Monkey Forest Ubud, pasar seni Sukawati, Guwang, Kumbasari, Legian sampai ke pantai Kuta. Panas, dingin, hujan dan lelah pun tak terasa oleh keteguhannya ingin keluar dari zone miskin. ‘’Uber satpol PP sudah biasa, empat kali bangkrut, tapi tiyang tetep punya semangat untuk berubah,’’ kenang Ardana awal 2020-an silam.

de
NYERUPUT KOPI: Nikmati sensasi aroma cita rasa kopi luwak.

Ketika putra pertama lahir bersama Ni Made Suarmini yang mau menerimanya sebagai pasangan hidup,  Wayan Ongki Saputra tanpa belaian kasih kerabat. Tidak ada yang mau menyapa apalagi menggendong dengan penuh kasih.  Tapi Ardana bersyukur, pahit getir yang terus mendera semakin memantik bara api untuk terus menyala menapaki jalan berkerikil. ‘’Tiyang tidak berani punya anak karena takut tidak bisa merawat, menyekolahkan dan membesarkan dengan baik,’’ tutur Ardana sembari nyeruput secangkir kopi luwak.

Tercatat sebagai orang keempat yang bergerak di handicraft tempat sesajen, Ardana berkesempatan pameran di PKB 2011. Asyik bolak-balik Bresela-Denpasar, Suarmini ngidam. Kali ini ia yakin bisa merawat dan lahir anak kedua Kadek Fani Natasya. Beda dengan anak pertama yang lebih tua 10 tahun, Kadek Fani lahir mendapat pelukan hangat dari kerabat dan handai taulan.

Bertemu teman sepermainan sebagai driver freelance yang sudah membuka usaha kopi luwak, Ardana yang tekun bergelut sebagai supplier toko oleh-oleh di Bali, naluri bisnisnya terusik. Dari ide seorang kawan itu, kemudian membuka usaha kopi luwak dengan konsep usaha ngamah ibane. Pinjaman uang dari bank, selain dipakai membayar bunga juga penuh giat menghidupkan usahanya.

Mendapat kepercayaan dari pak Mangku Mudalara untuk mengelola lahan tidak produktif sebidang tebing di tepi jalan Tegallalang Gianyar,  Ardana kemudian membangun Agro Wisata Alas Harum yang kini namanya dikenal seantero dunia.  

Dari hanya didatangi 5-15 unit mobil per hari dengan luas parkir 1,5 are, Ardana tidak pernah berhenti berinovasi sampai akhirnya luas areal yang pertama hanya 1,5 Ha, sekarang sudah menjadi 5,5 Ha dengan luas parkir 1 Ha.

de
SWING: Salah satu atraksi yang memacu adrenalin wisatawan.

Kini rata-rata mobil yang singgah mencapai 800 unit per hari atau kira-kira pengunjung di angka kurang lebih 2.000 turis dengan mempekerjakan 300 lebih karyawan. ‘’Bahkan kalau high season tiyang bisa diusir tidak dikasi tempat duduk karena bokingan banyak. Terpaksa cari tempat sendiri, kadang beten punyan kopine sambil ngopi sama saudara,’’ kenang Ardana yang mulai berbagi tentang konsep bisnis bahwa berani dan totalitas adalah modal nomor satu, walaupun tidak menampik modal kepintaran dan pengalaman.

Ardana membandingkan pebisnis tak jauh beda dengan tubuh yang membutuhkan asupan agar bisa hidup, baik makanan, udara untuk pernafasan, sinar matahari agar tubuh tetap hangat dan bugar. Begitu juga pebisnis juga memerlukan energi agar usaha bisa berkembang.

Ia memandang ada satu ilmu yang tidak didapatkan di bangku sekolah atau kampus. Bahwa 1 tambah 1 sama dengan 9, atau 9 tambah 9 sama dengan 0. Cuma di bisnis dan dalam kehidupan sehari-hari penjumlahan itu ada. 1+1= 9 ketika kita bekerja dengan totalitas, ketika tidak mencari keuntungan dari orang lain, kita selalu berdoa kepada Tuhan, kita selalu memandang relasi sebagai teman, team work yang saling menguntungkan, maka 1+1 akan menjadi 9. Karena keberhasilan usaha membutuhkan banyak dukungan.

de
MADE ARDANA: Semua berinvestasi di Alas Harum.

Ia mencontoh bahwa karyawan, pinjaman uang dari bank, pemikiran kita, fisik, tanah, orang yang datang, teknologi, infrastuktur adalah asset. Jika semua itu bisa disinergikan maka untungnya sangat besar.

‘’Semua yang datang kesini investasi dengan kemampuan mereka, pikiran mereka, skill mereka, mungkin sebagai owner investasi tiyang paling besar karena modal pikiran dan materi. Semuanya investasi, dan sebuah departemen bisa besar, maju, kuat kalau ada niat saling menghargai satu sama lain,’’ ujar Ardana.

Bagaimana 9+9 sama dengan 0, jika modal cukup, kemampuan manajerial di atas rata-rata, tetapi untuk mencoba tidak berani maka hasilnya nol. ‘’Kalau egois, cang bos ne, cang manajer dini, kalau ada blok-blok di antara departemen, apalagi di sini banyak aktivitas, kopi, resto, jika sesama mereka ada kesombongan, maka usaha akan pincang dan tidak bisa berjalan sempurna,’’ ungkap Ardana seraya meyakini kebodohan adalah awal dari sebuah kesuksesan asal ada niat, mencoba dan totalitas.

Buta perihal dunia kopi tak membuat Ardana mundur. Ia terus menggali ilmu, mengasah diri dalam laku nyata. Belajar mendekati pemilik lahan untuk bisa diajak kerja sama, belajar meyakinkan bank, membuat disain bangunan, teknik memasarkan dan seterusnya yang tidak pernah putus untuk belajar. Seperti kata tetua, de suud-suud melajah – jangan pernah berhenti belajar – red, jika terus belajar pasti akan ada perubahan di setiap jenjang hidup ini. Belajar dari teman, sosial media dan IT, petuah nak lingsir, orang yang expert dalam dunia bisnis.

Agro Wisata Alas Harum menyuguhkan wisata perkebunan kopi luwak yang special. Karena bisa melihat proses produksi dengan cara-cara tradisional dari biji-biji kopi pilihan binatang luwak, sampai menghasilkan kopi bercita rasa tinggi. Tak hanya menikmati kopi luwak, Agro Wisata Alas Harum juga menawarkan atraksi swing (ayunan), sky bike, flying fox yang penuh sensasi memacu adrenalin. Banyak spot-spot foto yang eksotik. Di area tebing ini juga berdiri megah resto berlantai tiga berhadapan dengan sawah berundak-undak yang masih original. Pool bar yang sedang dikerjakan menanti beroperasi tahun ini.

de
IKONIK ALAS HARUM: Relief kepala kingkong yang mendunia.

Ketika Ardana mengukir sudut tebing berwajah kingkong yang sempat viral di media sosial, wisatawan yang datang ke Alas Harum berlipat 400 persen. Begitu juga di tebing lain mengukir wajah pekak brayut yang tiada lain kakeknya sendiri Ketut Mara, sang seniman idealis, respons wisatawan luar biasa. Kak brayut sosok kakek penuh bahagia bermain dengan cucu-cucunya, kisah Ketut Mara sebelum meninggal. Relief kingkong dan kak brayut yang begitu ikonik semakin melambungkan nama Agro Wisata Alas Harum di jagat traveller.

Ketut Mara tidak saja piawai memahat, juga melukis dan membuat barang kerajinan. Cuma karyanya tidak ada yang dijual. Ia lebih memilih memberikan kepada orang yang meminta daripada dijual. Salah satu karya bersama Cokorda Ubud dan Puri Kedisan Tegallalang adalah barong landung yang kini di-sungsung di Pura Tamansari Bresela.

Ardana kemudian sadar kenapa orangtuanya miskin, karena jiwa social Ketut Mara yang mendermakan karya-karyanya untuk membuat orang bahagia. Beliau lupa bahwa keluargaanya perlu dinafkahi. ‘’Untuk membuktikan bahwa ada darah seni yang mengalir, saya membuat handicraft yang aneh-aneh, relief muka Kingkong dan juga relief pekak brayut yang mendapat respons luar biasa dari wisatawan. Baru tiyang paham, sebagai cucunya, tinggal memetik karma baik dari pekak,’’ ujar Ardana.

de
RELIEF PEKAK BRAYUT: Ingatkan kisah hidup kakek Ketut Mara.

Kini ia menyadari betapa karma yang baik yang didermakan para tetuanya ternyata membawa berkah bagi sentana-nya. Kakek selalu wanti-wanti mengingatkan jangan pernah sombong, ego dengan pencapaian yang kita dapatkan,  karena ini titipan. Bila salah mengelola tentu akan diambil kembali, bila benar niscaya langgeng seterusnya. Banyak orang punya tanah hektaran, uang milyaran, tetapi jika dipetik sembarangan, misal hanya dipakai memunyah, menjudi, ngelue maka bisa saja habis.

Setiap usaha pasti ada tantangan. Geng yasa geng goda. Demikian pula ketika Alas Harum menjadi destinasi wisata favorit yang dikunjungi wisatawan jika ingin menikmati kopi luwak, swing, sky bike, flying fox dll dengan keindahan panorama alam tebing dan sawah berundak-undaknya,  virus corona menyesakkan pariwisata Bali termasuk Alas Harum. Tak kurang dari 50 persen kunjungan wisatawan menurun.

Namun tak membuat buru-buru manajemen Alas Harum merumahkan karyawan. Mungkin perusahaan lain ada yang kolaps dan meliburkan karyawan, namun Alas Harum masih kuat, utuh dalam satu kesatuan keluarga besar. ‘‘Pedalem anak-anak, kalau dirumahkan dimana mereka mencari pekerjaan. Mereka punya beban utang kredit motor, keluarga, rumah dan semuanya punya beban utang, kasihan mereka,’’ ujar pria yang punya kepedulian luar biasa pada lingkungan dan kemanusiaan.

Ia tidak saja latah pada konsep go green, karena jauh sebelumnya ia sudah melakoninya. Misalnya di Alas Harum steril sampah plastik  sejak awal. Begitu juga ketika berbicara ajeg Bali, Ardana juga membangun konsep usaha pade gelahang. Ia tidak membeli tanah tetapi pemiliknya diajak kerjasama. Dalam waktu lima tahun sang pemilik sudah untung seharga nilai tanah tanpa harus menjual.

Ia juga membangun yayasan Tungked Werda yang dilatarbelakangi banyak sekali lansia yang dinomorduakan. Banyak kini lansia yang hilang ingatan di jalanan. Bersama I Nyoman Parta (anggota DPRRI-red) sebagai penasehat dan Ardana sebagai pembina, Yayasan Tungked Werda siap berbagi buat para lansia. (Gede Sumida)

Advertisements
iklan pemprov

sumpah pemuda pemkot
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
ucapan hut mangupura
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SULUH

Ny. Putri Koster Apresiasi Pasar Rakyat Berbelanja dan Berbagi di Denpasar

Berharap Melalui Pasar Rakyat Dapat Memberikan Manfaat dan Menumbuhkan Perekonomian Masyarakat

Published

on

By

pasar rakyat
Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster berbincang akrab dengan seorang ibu saat menghadiri Pasar Rakyat Berbelanja dan Berbagi di Denpasar, Jumat (11/11) di area parkir Pura Agung Jagatnatha. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengapresiasi pelaksanaan Pasar Rakyat dengan mengusung tema “Berbelanja dan Berbagi‘‘ yang kali ini dilaksanakan TP PKK Provinsi Bali bersinergi dengan TP PKK Kota Denpasar. Ny. Putri Koster berharap, melalui Pasar Rakyat ini para pelaku usaha dapat berdaya ekonomi, dapat memberikan manfaat dan menumbuhkan perekonomian masyarakat.

“Melalui Pasar Rakyat ini, para pelaku usaha yang berjualan di sini kita harapkan dapat mempromosikan produknya. Ngiring warga Kota Denpasar yang hadir di sini, mari kita belanja untuk memberdayakan usaha lokal para pelaku UMKM ini,” ajak Ny. Putri Koster saat menghadiri Pasar Rakyat yang digelar di area parkir Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Jumat (11/11). Pasar Rakyat ini menghadirkan lebih dari 50 stand pameran yang menjajakan beragam produk unggulan dari Kelompok UP2K PKK Kota Denpasar, Kelompok KWT, UMKM, Bumdes, Pedagang Kuliner serta IKM binaan Dekranasda Kota Denpasar.

Pasar Rakyat ini dihadiri Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster beserta jajaran pengurus, beberapa OPD terkait di lingkungan Pemprov Bali dan Pemerintah Kota Denpasar, Ketua dan jajaran pengurus TP PKK Kabupaten/Kota se-Bali.

Ny. Putri Koster lanjut mengatakan, kegiatan Pasar Rakyat seperti ini akan terus berlanjut di tahun berikutnya sebagai aksi nyata program TP PKK Provinsi Bali yang akan bersinergi dengan TP PKK Kabupaten / Kota se-Bali. Pihaknya juga berharap kedepannya agar setiap waktu hadir di Kabupaten/Kota menyapa dan berbagi. “Kami ingin selalu aksi sosial itu dihiasi dengan berbagi. Jadi Kabupaten/Kota semua berbelanja, seluruh pengurus, ketua, sekretaris, semua berbelanja dan berbagi untuk masyarakat yang membutuhkan,” ucap Ny. Putri Suastini Koster.

Ny. Putri Koster yang akrab disapa Bunda Putri ini meminta, kegiatan yang sangat penting ini untuk terus digaungkan dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Karena ini merupakan kegiatan yang secara langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. PKK juga bisa langsung bersosialisasi dan melakukan aksi sosial. Selain itu, PKK juga diingatkan mempunyai tanggung jawab untuk menata halaman rumah termasuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui program Hatinya PKK.

Pada kesempatan pagi itu, TP PKK Provinsi Bali serta Kabupaten/Kota membagi 400 tas kepada 100 orang penerima, yang masing-masing penerima mendapatkan 3 tas dari TP PKK Provinsi Bali, TP PKK Kabupaten/Kota dan PAKIS Provinsi Bali berisi kebutuhan pokok, hasil pertanian serta olahan makanan.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Antari Jaya Negara mengucapkan terima kasih karena TP PKK Kota Denpasar telah diberikan kesempatan untuk menggelar Pasar Rakyat ini.

“Terima kasih kepada Ibu Putri Koster yang selama ini telah berkeliling ke seluruh Kabupaten di Bali, hingga saat ini giliran kami di Kota Denpasar. Aksi sosial yang selama ini dilakukan telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat di Bali,” kata Ny. Antari Jaya Negara.

Sedangkan Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan Ny. Rai Wahyuni Sanjaya yang juga hadir di tengah-tengah acara mengucap syukur bisa berbagi dengan masyarakat, khususnya masyarakat di Denpasar. Bunda Rai, juga menyatakan dukungannya karena kegiatan yang diinisiasi oleh TP PKK Provinsi Bali ini memberikan perhatian dan dampak langsung kepada masyarakat yang mengalami kendala perekonomian serta menitikberatkan pada kebersamaan dan gotong-royong. (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

sumpah pemuda pemkot
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
ucapan hut mangupura
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SULUH

Prof. Pitana Tempati Rangking 18 dalam Top 100 Ilmuwan Sosial Indonesia

Prof. Pitana Sebut Unud selalu Memberikan Atmosfer Positif bagi Akademisi

Published

on

By

pitana
Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh 2 (dua) dosen Universitas Udayana, yang berhasil masuk ke jajaran Top 100 Ilmuwan Sosial di Indonesia. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc., yang menempati peringkat 18, dan Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., yang menduduki peringkat 47.

Secara global maupun spesifik, perangkingan Top 100 ini meliputi negara-negara seperti Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, Oceania, Arab League, ECCA, BRICS, Amerika Latin dan COMESA, yang didasarkan pada total H-index tanpa merinci area subyeknya. Rangking Top 100 ini meliputi subjek Pertanian dan Kehutanan, Seni, Desain dan Arsitektur, Bisnis dan Manajemen, Ekonomi dan Ekonometrika, Pendidikan, Teknik dan Teknologi, Sejarah, Filosofi, Teologi, Hukum dan Ilmu Hukum, Kedokteran, IPA dan Ilmu Sosial. Yang menjadikan prestasi ini luar biasa adalah Top 100 mempunyai kriteria yang sangat layak, karena perangkingannya berdasarkan H-indeks dan Citation, dimana kriteria sangat sulit untuk dimanipulasi. 

pitana
Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc. (Foto: ist)

Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc., ketika dihubungi menyatakan bahwa capaian ini adalah karena Universitas Udayana memberikan atmosfer yang bagus untuk para dosen untuk berkarya. “Capaian ini sebenarnya bukan semata-mata saya sendiri, karena saya banyak menulis bersama dengan mahasiswa bimbingan saya. Jadi, kredit layak saya berikan kepada para mahasiswa, terutama bimbingan S3 saya,’’ papar pria kelahiran Tabanan ini.

Prof. Pitana saat ini tercatat sebagai salah satu dosen tetap pada Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana. Ia adalah salah satu profesor dengan pengalaman kerja yang luar biasa dan terkenal dengan produktif di tengah kesibukannya. Sejak 2001 dipercaya untuk berkarir di Kementerian Pariwisata, dimulai dengan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Direktur Promosi Pariwisata Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dan sejak tahun 2020 dipercaya sebagai Tenaga Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata dan Festival Thematik.

Di tengah beragam kesibukan, Prof. Pitana ternyata memiliki rahasia membagi waktu dengan baik. ”Saya banyak menulis di dalam perjalanan, terutama pada waktu menunggu pesawat di bandara, atau saat di dalam pesawat yang terbang berjam-jam. Itulah sebabnya, saya katakan tadi, saya selalu rajin mencatat data untuk bisa dituangkan menjadi tulisan. Kebetulan ilmu yang saya tekuni masih relatif muda (pariwisata), sehingga belum begitu banyak ada referensi.  Dengan demikian, apa pun yang saya tulis, akan banyak dibaca dan dikutip,” ungkap pria yang pernah menjadi Guest Lecturer di Wageningen University, Wageningen, Belanda.

Prof. Pitana menambahkan, seorang akademisi tentu saja dinilai dari capaian akademisnya, seperti tulisan atau sitasi. Salah satu hal yang ia lakukan adalah dengan melakukan bimbingan yang sungguh-sungguh, baik untuk penulisan skripsi, thesis, maupun disertasi. Sehingga dari karya mahasiswa tersebut, ia melakukan penulisan bersama sehingga menghasilkan karya ilmiah yang baik. Sumber: www.unud.ac.id (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

sumpah pemuda pemkot
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
ucapan hut mangupura
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SULUH

Martin Tokan, Pengacara Muda Flores Timur, Bersinar di Jawa Timur

Published

on

By

martin
Martin Tokan di depan kantornya. (Foto: Ist)

UMUMNYA anak muda NTT punya cita-cita menjadi pegawai negeri. Paradigma ini berbeda dengan Martin Tokan, asal Kampung Pukaone, Desa Neleblolong, Kecamatan Ile Bolong, Adonara, Flores Timur, NTT. Di usia sangat muda Martin sukses menjadi pengacara beken di Surabaya, Jawa Timur. Berikut sekilas kisah hidupnya. (*)

Martin Tokan lahir di rumah sakit Bukit, Lewoleba, Lembata pada 30 Januari 1985. Martin merupakan anak kedua dari Cristianus Asan Leki dan Helena Kewae Bolen. Masa kecilnya sampai dengan usia 18 tahun, Martin dan keluarga tinggal di Kalimantan karena ayahnya bekerja di perusahaan kayu, PT. Ratah Timber Company.

Sayangnya, saat Martin berusia 14 tahun, ibunda tercinta meninggal dunia karena sakit. Di masa kecilnya, Martin menunjukkan kecerdasan dan semangat juang yang tinggi. Dia lebih aktif dibandingkan dengan ketiga saudaranya, Imanuel Tokan, Damianus Geroda Bayon, dan Maria Paulina Kewae Bolen. Setelah beberapa tahun kemudian, Martin mempunyai ibu sambung yang bernama Bulu Sadu yang memberinya seorang adik tiri, Brigita Ina Tokan. 

Memasuki masa remaja, Martin justru sering menunjukkan perilaku nakalnya yang sangat membuat ayahnya cemas. Martin pun putus sekolah di bangku SMA. Tahun 2002, sang ayah memutuskan untuk memindahkan Martin ke Surabaya dalam pengasuhan adik dari ayahnya, Thomas Raya Tokan.

Di kota Surabaya, Martin merasa lebih tertantang. Apalagi, dia pernah berjanji pada almarumah ibunya bahwa dia harus sukses untuk bisa membahagiakan keluarga. Tidak lama dalam asuhan bapak Thomas Raya Tokan, Martin ingin hidup mandiri dan memutuskan tinggal di Margasiswa Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Surabaya, mengikuti Ancys Uba Ama, seorang keluarganya dari kampung yang lebih dulu tinggal di asrama PMKRI tersebut.

Sekitar sembilan bulan di situ, hidup Martin dan si kakak ini sangat memprihatinkan. Lebih sering makan sekali sehari. “Tapi itulah yang membentuk kami jadi manusia berguna di kemudian hari,” ujarnya.

Suatu ketika, Martin menerima tawaran untuk menguji talenta di dunia akting. Dengan penuh semangat, dia mengikuti test akting tersebut dan lolos. Martin pun ke Jakarta untuk mengikuti shooting. Pada hari pertama mengikuti shooting, dia mendapatkan pengalaman baru. Ternyata tidak mudah untuk menjadi artis karena harus standby di lokasi shooting seharian penuh. Merasa tidak cocok, Martin memutuskan kembali ke Surabaya.

Pada suatu hari, Martin bertemu dengan seseorang yang akhirnya mengubah jalan hidupnya hingga kini. Sosok itu bernama Arnold Nope Nitbani, asal So’E, Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Arnold Nope Nitbani adalah seorang Katolik yang taat. Dia menghabiskan hari-harinya sebagai Pelayan Tuhan (Pendoa). Selain menyekolahkan Martin hingga selesai di bangku SMA, Arnold Nope juga mendidik Martin menjadi pribadi yang lebih baik dan takut akan Tuhan. Martin sering diajak beliau memberikan pelayanan doa dari rumah ke rumah, maupun di kantor – kantor.

Suatu ketika, dia memeluk Martin dan berkata, “Anakku Martin, suatu saat jika bapak sudah tiada, kamulah yang melanjutkan estafet untuk melayani Tuhan menggantikan saya dan kamu pasti bisa”. Martin sangat terpukul karena pada tahun 2014, ayah angkat yang baik hati ini tutup usia akibat kanker usus. Seiring berjalannya waktu, Martin pun mengikuti jejak beliau yaitu memberikan pelayanan di perusahaan-perusahaan di Surabaya. Dia mendapat berkat dan akhirnya bisa membiayai kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra, Surabaya, dan juga kedua adiknya sampai menyandang gelar sarjana.

Dalam perjalanan memberikan pelayanan di gereja dan perusahaan-perusahaan, ada beberapa teman atau kolega yang sharing tentang permasalahan hukum yang mereka alami. Berawal dari situlah, dia merasa tertarik untuk lebih dalam mempelajari ilmu hukum dan menjadi pengacara.

Mimpinya pun terwujud. Pada tahun 2019, Martin dilantik menjadi pengacara setelah menjalani pendidikan profesi advokad di Universitas Airlangga, Surabaya. Kasus pertama yang ditangani adalah mendampingi sebuah perusahaan besar dan menang.  Saat itu, Martin masih bergabung dengan Law Office POTU & Partners Brothers Lawyer. Dalam waktu setahun, Martin dapat menyelesaikan kasus itu dengan baik. Fee miliaran rupiah pun mengalir ke koceknya. Seketika, nama Martin Tokan, pengacara muda asal Flores Timur itu menjadi buah bibir masyarakat Jawa Timur.

Saat masih bersama POTU & PARTERERS, MartinTokan mendapatkan penghargaan Platinum Lawyer Indonesia Award 2021 dari Yayasan Penghargaan Prestasi Indonesia (YPPI) karena dalam kurun waktu 6 bulan menang di atas rate 90 persen yang teregister website dan tercatat di MA tidak pernah kalah dalam perkara perdata. Martin dan rekan juga pernah mengalahkan tim pengacara Kopi Jhony yang ketuanya adalah Hotman Paris Hutapea dalam kasus Agung Raharjo.

Seiring berjalannya waktu, atas dukungan luar biasa dari sobat karibnya, Rolland Elias Potu, Martin sukses membuka kantor pengacara sendiri. Kantor yang berlokasi di perumahan elit Citraland ini diberi nama MT Law Office berdiri pada 24 April 2022 dan pemberkatan kantor oleh Romo Dami.

Kini, Martin sedang menangani beberapa kasus pidana seperti pencemaran nama baik, penipuan dan penggelapan serta tindak pidana cyber crime dan perkara perdata yaitu perceraian, gugatan harta bersama, gugat waris, gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum baik di Surabaya, Sidoarjo dan Malang.

Martin juga menjadi Corporate Lawyer / Pengacara Perusahaan baik di Jakarta, Surabaya, Semarang, Australia, Spanyol antara lain : PT. Stoddart Asia Pacific, PT. CFM – Spanyol, PT. Caterindo – Surabaya, PT. Jerindo Sari Utama – Surabaya, Jakarta, Semarang dan Australia, PT. Indo Perkasa Abadi – Pandaan, Jawa Timur.

Di luar kesibukannya sebagai pengacara, saat ini  Martin sedang menjalani pendidikan Magister Ilmu Hukum di Universitas Bhayangkara, Surabaya. Impian terbesarnya adalah menjadi pengacara sukses dan sumber berkat bagi orang lain. Dia berpesan dan memotivasi orang-orang muda dengan mengutip ayat Alkitab: “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31). Ayat AlKitab tersebut di ataslah ilham dari Tuhan Yesus sehingga berdirilah MT Law Office dengan simbol sayap rajawali. (*/Rahman Sabon Nama, Denpasar)

Advertisements
iklan pemprov

sumpah pemuda pemkot
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
ucapan hut mangupura
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca