Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

PARIWISATA

Pemberlakuan Retribusi, DR. Ketut Mardjana: Berdampak Psikologis Wisatawan Batal Ke Kintamani

BALIILU Tayang

:

d
General Manager Toya Devasya DR. Ketut Mardjana. (Foto:dok)

Kintamani, baliilu.com – Geliat pariwisata Kintamani mulai berdetak seiring dihentikannya retribusi wisata masuk Kintamani. Pelaku-pelaku usaha pariwisata mulai tumbuh meski dalam masa pandemi Covid, dan begitu dirasakan puncaknya pada libur Natal dan Tahun Baru 2021. Namun, mulai 1 Januari 2021 retribusi itu kembali diberlakukan dan ini dirasakan bakal kembali ‘’memukul’’ pariwisata Kintamani yang mulai ada tanda-tanda berdenyut.

Seperti yang diutarakan General Manager Toya Devasya Water Park DR. Ketut Mardjana ketika meresmikan spot Toya Harbour atau Dermaga Toya Devasya, saat jelang detik-detik menyambut Tahun Baru 2021, Kamis malam (31/12-2020) di Toya Bungkah Kintamani Bangli, bahwa di tengah menggeliatnya pariwisata di daerah Kintamani masih ada beberapa hambatan seperti yang sering dikemukakan kepada pemerintah kabupaten bahwa masalah infrastruktur seperti aksesibilitas jalan. Dicontohkan Trunyan yang tempatnya luar biasa namun karena aksesibilitasnya tidak ada maka daerah tersebut tidak bisa berkembang. Demikian pula masalah teknologi informasi yang akan sangat memudahkan destinasi pariwisata dengan cepat dikenal.

Toya Harbour atau Dermaga Toya Devasya ini dibuka secara resmi dengan ditandai pemotongan pita secara bersama-sama oleh Forkopimda Bangli di antaranya Kapolres Bangli AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, SIK, MIK, Dandim 1626/Bangli Letkol Inf I Gde Putu Suwardana, SIP, Kepala Kejaksaan Negeri Bangli Eny Syarifah, SH, MH, wakil dari Pemerintah Kabupaten Bangli, General Manager Toya Devasya DR. Ketut Mardjana, Direktur Utama Toya Devasya Ayu Astiti Saraswati, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti Toya Harbour yang juga dihadiri Direktur Shabara Polda Bali Kombes Pol Drs.  I Wayan Pinatih, MM, dll.

Hal penting yang juga disampaikan DR. Ketut Mardjana di sela peresmian Toya Harbour, adalah adanya dampak psikologis daripada pemberlakuan retribusi atau pungutuan-pungutan lainnya bagi wisatawan untuk menunda atau membatalkan kunjungannya. Imbas yang kemudian terjadi adalah pengusaha kecil yang sedianya menikmati kue pariwisata menjadi sirna. ‘’Saya sering mengusulkan kepada pemerintah agar diadakan pungutan di belakang dalam bentuk PHR. Dengan pungutan dalam bentuk PHR maka akan tumbuh pengusaha muda yang berpotensi menjadi penyumbang pendapatan daerah.

Baca Juga  Unud Hadiri Penyerahan DIPA dan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah TA 2023 Provinsi Bali

Ia menyarankan daripada melakukan pungutan di depan seperti retribusi, pungutan, sumbangan atau yang lain-lain, yang secara psikologis akan menghambat niat wisatawan untuk berpariwisata ke Kintamani, ia menyarankan agar mendorong justru usaha-usaha pariwisata ke depan yang kelak bisa dikenai pungutan PHR 10 persen. ‘’Jadi hilangkan pungutan di depan dan dorong pungutan di belakang dengan PHR. Dengan jalan ini tentu akan menumbuhkembangkan pariwisata, akan saling menopang dan menunjang tumbuhnya sektor lain seperti pertanian, industry, perdagangan,’’ ucapnya yang pada gilirannya akan memakmurkan rakyat Bangli.

Saat peresmian Toya Harbour oleh Forkopimda Bangli

‘’Saya prihatin, ketika seluruh Bali menerima tunjangan hibah pariwisata, justru Bangli memperoleh sangat kecil bahkan kalah dengan Karangasem begitu juga Jembrana. Barangkali hanya 10 persen dari Denpasar. Kenapa? Karena PHR Bangli kecil ini menyebabkan,’’ ujarnya.

Oleh karena itu, mudah-mudahan dengan pergantian pemerintahan yang baru ini semangat daripada bupati baru dalam menjaga, mengembangkan pariwisata notabene yang berdampak pada sektor lainnya bisa lebih bagus lagi.

Sesuai dengan antusiasme bupati terpilih yang diungkapkan dalam masa kampanye yang akan menjadikan pariwisata sebagai leading sector di samping juga masalah sektor lainnya baik pertanian, perikanan, industri sebagai penunjang pariwisata. ‘’Dengan komitmennya itu saya optimis pembangunan pariwisata ke depannya akan semakin marak. Selama ini potensi pariwisata yang ada di Bangli belum dimanfaatkan sebagai sumber PAD yang baik,’’ tutur Ketua PHRI Kabupaten Bangli ini seraya menegaskan komitmen yang disampaikan dalam masa kampanye, saya yakin pariwisata Bangli akan tumbuh dan notabene akan mensejahterakan masyarakat Bangli.

Terkait dengan pembangunan pariwisata di Bangli, DR. Ketut Mardjana selaku Ketua PHRI, Ketua Badan Promosi Pariwisata Bangli dan sebagai pelaku pariwisata sangat mengharapkan Bupati Bangli yang baru benar-benar melakukan suatu upaya untuk mengurangi beban daya pariwisata. Jangan sampai berpariwisata ke Bangli terkesan high cost tourism. Jadi, menurutnya, pungutan yang ada hendaknya sedapat mungkin dihapuskan, setidak-tidaknya dengan beban yang sangat murah. Termasuk retribusi di jalan raya, yang selaku ketua PHRI mengharapkan untuk dihapuskan karena menurutnya menjadi kurang legal.

Baca Juga  Pemprov Bali Sabet Tiga Penghargaan dari Kementerian Hukum dan HAM

‘’Mudah-mudahan harapan saya kepada pihak penegak hukum hendaknya betul-betul mengkaji, apakah pungutan di jalan raya ini sesuai atau berlandaskan pada hukum yang kuat. Jika melanggar hukum saya harapkan untuk menghentikan pungutan itu. karena bukan saja membebani masyarakat yang ingin berpariwisata ke Kintamani, dan juga akan mengurangi kesempatan masyarakat kecil untuk ikut menikmati kue pariwisata,’’ ungkapnya.

Sementara itu ketika media ini mencoba menanyakan harapan pelaku pariwisata agar retribusi di jalan raya dihapus melalui whatsapp, salah seorang pejabat penting di Bangli enggan mengomentari terlebih dahulu yang juga dijawab melalui whatsapp. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWISATA

Hadiri BBTF Ke-12, Gubernur Koster Dorong Penguatan Pariwisata Indonesia di Tengah Tantangan Global

Published

on

By

buka bbtf
BUKA BBTF: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri sekaligus turut membuka secara resmi gelaran Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 yang berlangsung di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, pada Kamis (28/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri sekaligus turut membuka secara resmi gelaran Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 yang berlangsung di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, pada Kamis (28/5). Kegiatan ini turut dihadiri Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, perwakilan Menteri Luar Negeri RI yang diwakili Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ketua BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa BBTF tahun ini mengusung tema Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage. Ia menegaskan BBTF bukan sekadar ajang business matching antara buyer dan seller, melainkan platform strategis untuk membangun kepercayaan pasar, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan membuka peluang bisnis nyata bagi industri pariwisata Indonesia.

Tahun ini, BBTF diikuti 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers, yang menjadi bukti tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap Bali dan Indonesia sebagai destinasi unggulan di tengah dinamika global.

Sementara itu, Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan BBTF sebagai salah satu travel fair terbesar dan paling strategis di Indonesia. Menurutnya, penyelenggaraan BBTF merupakan bagian dari upaya nyata pemerintah bersama seluruh pelaku industri pariwisata untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara di tengah tantangan krisis global, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan tren perjalanan dunia.

Ia menegaskan, ajang ini menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi pariwisata Indonesia, memperluas jejaring pasar internasional, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional. (gs/bi)

Baca Juga  Jumat Curhat, Polsek Blahbatuh Pantau Aktivitas Pasar Tradisional

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

PARIWISATA

Dorong Bali Jadi Pusat MICE Dunia, Gubernur Koster Tekankan Standar Berbasis Budaya dan UMKM Lokal

Published

on

By

gubernur koster
AUDIENSI: Gubernur Bali Wayan Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Bali telah memiliki posisi kuat sebagai pusat pertemuan internasional dunia atau meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Untuk itu, ia mendorong pelaku industri pariwisata dan pemangku kepentingan MICE di Bali membangun standar penyelenggaraan yang berkarakter, berbasis budaya Bali, sekaligus memberi dampak nyata bagi pelaku ekonomi lokal.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5).

“Bali sudah secara de facto menjadi pusat meeting internasional. Selama ini begitu banyak pertemuan dunia diselenggarakan di Bali karena fasilitas kita kuat, SDM siap, keamanan dan kenyamanan VVIP terjaga,” ujar Koster.

Menurutnya, kekuatan utama Bali bukan hanya pada fasilitas ballroom, convention center, dan hotel berstandar internasional, melainkan budaya Bali yang unik dan tidak dapat ditiru daerah lain secara instan.

Ia mencontohkan keberhasilan Bali menjadi tuan rumah berbagai agenda dunia seperti G20 dan World Water Forum yang menghadirkan puluhan ribu delegasi dari ratusan negara. Dalam forum internasional tersebut, khususnya World Water Forum, Bali dinilai unggul karena mampu memadukan fasilitas modern dengan konsep budaya dan filosofi lokal seperti Sad Kerthi, Danu Kerthi, serta sistem subak.

“Kita jangan terlalu terbawa arus luar karena branding Bali sudah sangat kuat. Yang menjadi nilai jual utama adalah budaya Bali,” katanya.

Koster meminta BaliCEB merumuskan standar MICE khas Bali agar memiliki identitas dan karakter berbeda dibanding destinasi lain di dunia.

“Organisasi silakan rumuskan standar MICE di Bali yang unik supaya punya identitas. Kontennya harus orisinal, dipikirkan dan diurus dengan benar sehingga semua penyelenggara punya acuan,” ujarnya.

Baca Juga  Peringati HUT Ke-49 KORPRI, Sekda Dewa Indra Serahkan Bantuan Kursi Roda dan Paket Sembako

Selain memperkuat identitas budaya, Koster juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam setiap kegiatan MICE di Bali, mulai dari transportasi, dekorasi hingga souvenir.

“MICE harus mampu mendukung UMKM lokal Bali. Bangkitkan spirit kelokalan agar dampaknya lebih optimal terhadap pelaku ekonomi Bali,” tegasnya.

Ia juga memastikan persoalan sampah dan kemacetan yang selama ini menjadi sorotan wisatawan akan terus dibenahi secara bertahap guna memperkuat daya tarik Bali sebagai destinasi global.

Ratusan Pelaku Industri Gabung BaliCEB

Sementara itu, Ketua Umum Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) Ketut Jaman mengungkapkan minat pelaku industri pariwisata Bali untuk bergabung dalam organisasi tersebut sangat tinggi.

“Sudah ratusan yang ancang-ancang bergabung dengan MICE ini. Kita ingin Bali menjadi pusat MICE dunia,” ujarnya.

Menurut Ketut Jaman, Bali memiliki ratusan fasilitas MICE dengan sekitar 30 ballroom berkapasitas di atas 200 orang yang tersebar di berbagai kawasan pariwisata.

Pelantikan pengurus BaliCEB dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni mendatang di kawasan The Meru, Sanur. Organisasi tersebut menargetkan Bali menjadi destinasi utama penyelenggaraan meeting internasional yang jumlahnya mencapai ribuan agenda setiap tahun di berbagai negara.

Selain itu, BaliCEB juga menyatakan komitmennya mendukung program pungutan wisatawan asing melalui sosialisasi kepada peserta dan penyelenggara event MICE di Bali.

“MICE sangat membantu tingkat hunian hotel maupun kunjungan ke daya tarik wisata di Bali,” kata Ketut Jaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

PARIWISATA

Peringkat Satu Top Destinasi Pariwisata Dunia, Gubernur Koster: Bali Tetap Kuat Meski Digoyang Isu Sampah, Macet dan Sepi

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster mengalungkan bunga menyambut wisatawan yang datang ke Bali saat Tahun Baru 2026. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster gembira dan berterima kasih kepada semua stakeholders dan masyarakat yang terus aktif menjaga kualitas pariwisata Bali. Kerja keras semua pihak diapresiasi dunia. Bali Indonesia baru saja meraih peringkat 1 World’s Best Destination 2026, dalam ajang bergengsi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best oleh TripAdvisor. Bali di posisi teratas, melampaui sembilan destinasi kenamaan dunia lainnya seperti London, Roma, Hanoi, Paris, New York (NY) hingga Dubai. 

Penghargaan dunia ini diakui Koster bahwa Bali tetap kuat dengan pariwisata berbasis budaya, tradisi, seni dan alam meskipun sering digoyang dengan isu sampah, macet dan sepi.

“Bali di posisi nomor 1 dari 10 Top Destinasi Pariwisata Dunia. Bali menempati posisi tertinggi di dunia sepanjang sejarah. Digoyang dengan isu sampah, macet, sepi dan lain ternyata tak bisa menggoyahkan posisi Bali,” kata Gubernur Koster, Jumat, 16 Januari 2026.

Tak hanya dianugerahi peringkat satu Top Destinasi Pariwisata Dunia oleh TripAdvisor, Bali juga diakui global dalam berbagai kategori lainnya seperti diakui sebagai peringkat pertama Honeymoon Destination. kemudian masuk Top 10 Cultural Destination, Top 10 Solo Travel Destination, Top 20 Trending Cities. 

Berikut ini data dan fakta Top 10 World’s Best Destinations Travelers’ Choice Awards Trip Advisor dan Bali Indonesia berada di posisi pertama. Setelah itu disusul urutan kedua London, Britania Raya, dan ketiga Dubai, Uni Emirat Arab, keempat Hanoi, Vietnam, kelima Paris, Prancis, keenam Roma, Italia, ketujuh Marrakesh, Maroko, kedelapan Bangkok, Thailand, kesembilan Kreta, Yunani dan sepuluh New York, Amerika Serikat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Unud Hadiri Penyerahan DIPA dan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah TA 2023 Provinsi Bali
Lanjutkan Membaca