Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Pemkab Tabanan Peringati Tumpek Krulut Sebagai Implementasi Keharmonisan Alam

BALIILU Tayang

:

tabanan
Asisten I, Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si. bersama jajaran pemerintahan melakukan persembahyangan rahina Tumpek Krulut, Sabtu pagi (18/2). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com –  Pemerintah Kabupaten Tabanan, memperingati Perayaan Rahina Tumpek Krulut melalui Upacara Jana Kerthi, sebagai bagian dari pelaksanaan Tata-titi kehidupan masyarakat Bali yang berdasarkan kearifan lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era Baru. Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E.,M.M. dalam hal ini diwakili oleh Asisten I, Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si. memimpin jajaran pemerintahan untuk bersembahyang, Sabtu pagi (18/2).

Berlangsung di Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh Desa Denbatas, Kecamatan Tabanan, upacara dihadiri oleh para Kepala OPD di lingkungan Pemkab Tabanan. Sembahyang Tumpek Krulut, berlangsung secara serentak di seluruh Bali. 

Tumpek Krulut yang dimaknai sebagai hari Kasih Sayang, diharapkan mampu menjadi simbol bagi kita untuk dapat menyayangi seluruh alam semesta dan isinya.  Sesuai dengan instruksi Gubernur Bali, Nomor 2 tahun 2023 tentang perayaan rahina Tumpek Krulut dengan upacara Jana Kethi, perayaan Tumpek Krulut ini juga merupakan wujud pemujaan dan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara yang telah menciptakan suara-suara suci dalam bentuk tabuh atau gamelan. 

“Tumpek Krulut diambil dari kata lurut yang artinya senang atau cinta, yang juga bermakna sayang, cinta, welas asih,” ujar Agus Harthawiguna saat membacakan Pidato Bupati Sajaya. Selain itu, Tumpek Krulut juga wujud implementasi dari Tri Hita Karana, yaitu keselarasan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan alam semesta. Hal tersebut berkaitan erat dengan keselarasan dan cinta kasih terhadap kehidupan di dunia. 

“Pelaksanaan peringatan Tumpek Krulut sebagai langkah Pemkab Tabanan dalam memelihara kesucian, kelestarian, keseimbangan, keselarasan, keharmonisan alam secara sekala dan niskala,” tambahnya. Pihaknya juga menjelaskan, pelestarian adat, agama, tradisi, seni dan budaya yang tak surut, sebagai bentuk apresiasi dan implementasi visi Pemkab Tabanan, Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana, Menuju Tabanan yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). 

Baca Juga  ASN Pemkab Tabanan Harus Mampu Mewujudkan "Good Governance" dan "Clean Government"

Keseimbangan dan keharmonisan itu juga disampaikan oleh Kadis Kebudayaan, I Made Yudiana yang turut serta dalam persembahyangan perayaan Tumpek Krulut saat itu. “Pelaksanaan Tumpek Krulut ini dilaksanakan dalam 2 bentuk kegiatan, yaitu Sekala dan Niskala, Niskala melalui persembahyangan bersama dan Sekala melalui pementasan bondres oleh Yayasan Dadong Rerod Bali,” paparnya. Pihaknya juga menjelaskan, beberapa kegiatan telah dilakukan dalam rangkaian upacara ini termasuk kunjungan kepedulian sosial ke rumah singgah dan kegiatan pelaksanaan kesehatan di parkiran Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Pemkot Denpasar “Ngaturang Bhakti Penganyar” di Pura Tuluk Biyu dan Pura Hulundanu Batur

Published

on

By

Pemkot Denpasar Ngaturang Bhakti Penganyar di Songan
BHAKTI PENGANYAR: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, saat mengikuti rangkaian Bhakti Penganyar di Pura Tuluk Biyu Batur dan Pura Hulun Danu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, bertepatan dengan Rahina Buda Kliwon Wuku Ugu, Rabu (30/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melaksanakan Bhakti Penganyar serangkaian Karya Agung Medewasraya lan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur serta Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, bertepatan dengan Rahina Buda Kliwon Wuku Ugu, Rabu (30/9).

Pelaksanaan Bhakti Penganyar dipimpin langsung oleh Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa.

Hadir dalam kesempatan tersebut Panglingsir Puri Agung Jro Kuta I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Swandewi Eddy Mulya, pimpinan OPD, Perbekel/Lurah dan Bendesa se-Kota Denpasar serta para pemedek yang hadir untuk melaksanakan bhakti. Diiringi lantunan gamelan dan kidung, rangkaian Bhakti Penganyar diawali dengan pengilen tari dan topeng wali. Seluruh rangkaian berlangsung khidmat dan diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan Pura Tuluk Biyu Batur dan Pura Hulundanu Batur, Songan, merupakan bagian dari jaringan pura suci yang terikat secara historis, geografis, dan spiritual sebagai satu kesatuan pemujaan dengan Pura Ulun Danu Batur. Oleh karena itu, pelaksanaan karya agung di kedua pura tersebut menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Melalui momentum ini, kita bersama-sama meningkatkan sradha dan bhakti serta memohon asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, momentum ini menjadi ajang mulat sarira untuk menjaga keseimbangan alam semesta beserta seluruh isinya,” jelasnya.

Baca Juga  Hadiri Yadnya di Dua Desa, Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Selalu Kompak dan Bersatu

Jaya Negara menekankan, rangkaian karya di kedua pura tersebut menitikberatkan pada konsep Wana Kerthi dan Danu Kerthi. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya. Karenanya, pelaksanaan Bhakti Penganyar menjadi wujud rasa syukur Pemerintah Kota Denpasar atas kelancaran dalam menjalankan swadharma pembangunan daerah dan pelayanan bagi masyarakat.

“Semangat menyama braya diharapkan terus terjaga, sehingga yadnya sebagai wujud syukur dapat selaras dengan visi pembangunan Kota Denpasar dan spirit Vasudhaiva Kutumbakam,” ujarnya.

Ketua Panitia Karya Agung Medewasraya lan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur, I Wayan Gunawan, menjelaskan rangkaian Karya Agung Medewasraya diawali dengan ritual Bhakti Pakelem di Gunung Abang dan Danau Batur yang telah dilaksanakan pada Senin (21/9). Selanjutnya, pada Sabtu (26/9), digelar Bhakti Madewasraya yang didahului dengan ritual Mapepada Agung. Rangkaian upacara Medewasraya lan Pujawali Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur dijadwalkan masineb pada 6 Oktober mendatang melalui prosesi ngaturan bhakti mapepranian.

“Tujuan upacara Madewasraya ini tidak lain adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar jagat beserta seisinya diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kedamaian,” ujar Gunawan.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya Tawur Agung Manca Wali Krama Pura Hulundanu Batur, I Gede Darmawa, mengatakan berdasarkan Raja Purana Pura Hulundanu Batur, Karya Tawur Agung Manca Wali Krama dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Salah satu tahapan penting dalam rangkaian tersebut adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan Malasti, Mapekelem ring Danu, dan Pakelem ring Gunung pada 18 September. Tahapan inti dilaksanakan melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan.

Puncak karya berlangsung pada Sabtu (26/9), saat umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura, kemudian dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan, dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur. Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Bhakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober mendatang.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Hadiri Rapat "Nyanggra Pujawali" Pura Luhur Batukau Tabanan

“Semoga dengan pelaksanaan karya agung ini memberikan vibrasi positif, sehingga alam Bali beserta seluruh isinya senantiasa berada dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Apresiasi Upacara Adat Massal di Kesiman

Ringankan Beban Masyarakat, Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Upacara Metatah Massal

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Metatah Massal Kesiman
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.

Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.

Baca Juga  Dua Tahun Memimpin, Bupati Sanjaya Bangun Patung Wisnu Murti dan Perbaiki 93 Persen Jalan

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.

Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

Baca Juga  Kunjungan Menteri Kebudayaan RI di Kabupaten Tabanan

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca