Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Penurunan Harga BBM, Kenaikan UMK, dan Momentum Tahun Ajaran Baru Dorong Kinerja Sektor Ritel Bali

BALIILU Tayang

:

IPR Bali
Infografis Indek Penjualan Riil di Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan Januari 2026 diprakirakan meningkat secara moderat. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 124,2 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). Secara bulanan, IPR Bali meningkat sebesar 0,9% (mtm) diiringi oleh optimisme pelaku usaha seiring penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) tipe Pertamax per 1 Januari 2026 dari Rp 12.750 per liter menjadi Rp 12.350 per liter.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui keterangan tertulisnya mengatakan bahwa pelaku usaha meyakini adanya dorongan berbelanja sejalan dengan kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sebesar 7% (yoy) di seluruh wilayah Bali. Lebih lanjut, pelaku usaha di bidang penjualan obat-obatan menuturkan bahwa penjualan obat-obatan dan vitamin mengalami kenaikan permintaan yang disebabkan oleh peralihan cuaca, sehingga harga obat-obatan dan vitamin turut meningkat. “Pelaku usaha peralatan sekolah turut menunjukkan optimisme penjualan, dengan adanya momentum peralihan tahun ajaran baru,“ ujarnya.

Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali, lanjut Erwin,  merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponen pembentuknya, terdapat enam sub-sektor pembentuk IPR dengan pertumbuhan bulanan tertinggi pada kategori Barang Lainnya (Farmasi, Kosmetik, Elpiji untuk Rumah Tangga, dan Barang Kimia untuk Rumah Tangga) dengan peningkatan sebesar 3,2% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 3,2% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Peralatan Informasi dan Komunikasi dengan peningkatan sebesar 2,3% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi (mencakup alat tulis dan alat olahraga) dengan peningkatan sebesar 2,3% (mtm); serta Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm).

Dikatakan, optimisme turut tercermin dari data Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan per Desember 2025 dengan pertumbuhan sebesar 1,44% (yoy), lebih tinggi dari November 2025 sebesar 0,95% (yoy). Kinerja IPR di Bali yang bertumbuh menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif.

Baca Juga  Keyakinan Konsumen Bali Meningkat, Seiring Geliat Pariwisata Bali

Meskipun demikian, sebut Erwin, prospek penjualan ritel di Bali yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) diperkirakan sempat mengalami perlambatan sebelum akhirnya meningkat. IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memperkirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Maret 2026 sebesar 126, lebih rendah dari IEP Februari 2026 sebesar 164. Di sisi lain, prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada Juni 2026 sebesar 184, lebih tinggi dari IEP Mei 2026 sebesar 176. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP>100).

Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan nasional, IEP mencerminkan perekonomian Bali yang tetap terjaga. Untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan Januari 2026.

Lebih lanjut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang libur Imlek, Ramadan, dan Nyepi untuk komoditas strategis. Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya

untuk menjaga kestabilan harga, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Optimisme Konsumen di Bali Terjaga di Tengah Normalisasi Kunjungan Wisata Pasca-Nataru

Published

on

By

ikk bali 2026
Infografis Indek Keyakinan Konsumen. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Keyakinan konsumen di Bali terhadap kondisi ekonomi terjaga yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang tetap berada pada level optimis (nilai indeks > 100). Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode Januari 2026 menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (KK) sebesar 135,5 (turun -2,8%; mtm) namun masih berada pada level optimis. Optimisme IKK utamanya didorong oleh kelompok pendapatan Rp 5-6 juta (146,7), kelompok pendapatan >Rp 8jt (139,9), kelompok pendapatan Rp 7-8 juta (139,6), serta kelompok pendapatan Rp 1-2 juta (139,4).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (143,9) dan informal (123,4). Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang.

Erwin lanjut menyampaikan laju komponen IKK tertahan oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 147,8 menjadi 142,7 (turun 3,5%; mtm). Faktor penahan pertumbuhan IKK berasal dari indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -4,9% (mtm) atau sebesar 145,0, indeks penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -3,1% (mtm) atau sebesar 142,0, serta indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -2,4% (mtm) atau sebesar 142,0.

“Responden menilai penurunan tersebut turut dipengaruhi oleh turunnya kunjungan wisatawan seiring dengan normalisasi pasca-libur Natal dan Tahun Baru 2025,“ ujarnya.

Hal tersebut didukung oleh data Angkasapura yang menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menurun sebesar 12,4% (mtm), dengan total jumlah kunjungan sebanyak 917 ribu orang. Penurunan jumlah wisatawan diyakini memiliki dampak rambatan yaitu terbatasnya lapangan kerja bagi tenaga kerja harian, serta menurunnya pendapatan tambahan dari wisatawan yang memberikan bonus bagi pekerja di sektor akomodasi dan transportasi.

Baca Juga  Gubernur Koster dan BI Bali Buka Sinergi Edukasi dan Penukaran Uang Masyarakat Jelang HBKN di Bali

Sejalan dengan IEK, Erwin menyebut Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (KE) turut mengalami penurunan dari sebelumnya 131,0 menjadi 128,3 (turun 2,0%; mtm). Perlambatan IKE utamanya disebabkan oleh menurunnya indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -2,9% (mtm) atau sebesar 135,5. Lebih lanjut, indeks kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu terlihat stagnan, dengan indeks sebesar 100,0. Di sisi lain, indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu meningkat sebesar 1,3% (mtm) atau sebesar 118,5.

Meski IKE dan IEK masih berada pada level optimis (> 100,0) yang menunjukkan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi masih terjaga, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus bersinergi untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menyongsong rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Imlek dan Ramadan pada Februari 2026, TPID terus memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga, termasuk vaksinasi ternak sapi untuk mengantisipasi penyebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD).

Demi menjaga keselarasan kebijakan pertumbuhan ekonomi dengan Pemerintah Indonesia di tengah tensi geopolitik global, Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia pada 20-21 Januari 2026 mempertahankan Bl-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

Lebih lanjut, untuk menjaga citra pariwisata Bali, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen mengelola sampah melalui sosialisasi pemanfaatan Teba Modern sebagai pengelolaan kompos untuk sampah organik di lingkungan kantor dan rumah tangga, serta Gerakan Bali Bersih Sampah oleh kalangan pelajar hingga masyarakat umum. Berbagai upaya tersebut akan mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Survei Konsumen Bali Mei 2024, Optimisme Konsumen Tetap Kuat

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Pasar Properti Komersial Provinsi Bali TW IV 2025: Harga Terkoreksi di Tengah Dinamika Akomodasi

Published

on

By

harga properti Bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Perkembangan Properti Komersial (PPKom) Bank Indonesia Bali menunjukkan bahwa harga properti komersial di Bali mengalami pelambatan. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan V 2025 yang tumbuh sebesar 0,68% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,56% (yoy). Perkembangan harga properti tahunan didorong oleh pertumbuhan perkantoran sewa, ritel sewa, serta hotel, masing-masing sebesar 5,93% (yoy), 0,51% (yoy), dan 0,68% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa secara kuartalan, harga properti komersial di Bali melemah pada triwulan IV 2025 dengan pertumbuhan yang terkontraksi sebesar -3,16% (qtq). “Penurunan harga beriringan dengan koreksi harga oleh pelaku usaha perhotelan agar tetap kompetitif di tengah melandainya permintaan,” ujarnya.

Melandainya permintaan ditunjukkan oleh Indeks Permintaan Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan V 2025 yang mengalami penurunan sebesar -4,80% (yoy), didorong oleh penurunan pada segmen perkantoran sewa sebesar -5,98% (yoy) dan hotel sebesar -6,71% (yoy). “Pada segmen perkantoran sewa, responden menuturkan bahwa penurunan disebabkan oleh adanya pergeseran preferensi masyarakat untuk bekerja dari perkantoran ke co-working space,” katanya.

Erwin lanjut mengungkapkan, bahwa adapun pada segmen hotel, penurunan permintaan didominasi oleh wisatawan asing, didorong oleh tersedianya banyak pilihan akomodasi lainnya (vila, apartemen, dan properti sewa). Hal ini selaras dengan data dari BPS Provinsi Bali yang menyatakan terdapat penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada hotel bintang dan non-bintang pada bulan November dan Desember 2025.

Di sisi lain, pasokan properti komersial Bali pada triwulan IV 2025 tetap solid. Hal ini tercermin dari Indeks Pasokan Properti Komersial triwulan N2025 tumbuh sebesar 0,69% (yoy) didorong oleh peningkatan pada segmen apartemen sewa sebesar 13,07% (yoy) dan hotel sebesar 0,77% (yoy). Kondisi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -0,07% (yoy).

Baca Juga  Hadiri Talkshow Digital Currency, Wagub Cok Ace Tekankan Teknologi bukan Sebuah Ancaman Melainkan Tantangan

Sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan properti yang berkualitas, Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia senantiasa mendorong pembiayaan perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Dengan demikian, pasokan dan permintaan properti dapat terjaga sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Capaian Indikator Makro Tahun 2025, Tunjukkan Kinerja Sangat Baik

Published

on

By

indikator makro bali
Infografis capaian indikator Makro tahun 2025 di Bali. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diumumkan oleh pada tanggal 5 Februari 2026, pencapaian indikator makro hasil pembangunan Bali tahun 2025 menunjukkan kinerja yang sangat baik, melampaui target yang direncanakan dalam pembangunan sebagai implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan melalui keterangan tertulisnya pada Minggu (Redite Umanis, Menail), 8 Februari 2026 bahwa pencapaian kinerja tersebut diukur dengan 7 indikator, yaitu:

  1. Sesuai yang diperkirakan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 secara kumulatif sebesar 5,82%, meningkat sebesar 0,34% dibanding tahun 2024 yang sebesar 5,48%, merupakan peringkat ke-5 tertinggi secara nasional. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,82% juga merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 7 tahun terakhir.
  2. Pendapatan per kapita masyarakat Bali tahun 2025 mencapai Rp72,66 juta, meningkat sebesar Rp 5,34 juta dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp 67,32 juta.
  3. Tingkat kesenjangan ekonomi masyarakat Bali yang diukur dengan Indeks Gini Rasio Tahun 2025 sebesar 0,333, menurun dibanding tahun 2024 sebesar 0,348, yang artinya pendapatan masyarakat di Bali semakin merata dan semakin baik.
  4. Tingkat kemiskinan di Bali tahun 2025 adalah sebesar 3,42%, menurun sebesar 0,38%, dibanding tahun 2024 yang sebesar 3,80%. Tingkat kemiskinan di Bali terendah secara nasional.
  5. Tingkat pengangguran di Bali tahun 2025 adalah sebesar 1,45%, menurun sebesar 0,34%, dibanding tahun 2024 sebesar 1,79%. Tingkat pengangguran di Bali terendah secara nasional.
  6. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025 adalah sebesar 79,37, meningkat dibanding tahun 2024 sebesar 78,63. Pencapaian angka IPM Bali merupakan peringkat ke-5 tertinggi secara nasional.
  7. Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Bali tahun 2025 adalah sebesar 75,46 tahun, meningkat dibanding tahun 2024 sebesar 75,10 tahun. Pencapaian kinerja ini juga menunjukkan bahwa pembangunan Bali pada tahun 2025 telah berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan program sebagaimana yang direncanakan meliputi 6 Bidang Prioritas.
Baca Juga  Bali Jagadhita 2025, BI Ajak Investor Global Berinvestasi di Bali

Gubernur Koster menegaskan bahwa adapun 6 Bidang Prioritas tersebut yaitu: Bidang 1, Adat, Tradisi, Seni dan Budaya serta Kearifan Lokal; Bidang 2, Kesehatan, Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Jaminan Sosial dan Ketenagakerjaan; Bidang 3, Transformasi perekonomian dengan Ekonomi Kerthi Bali; Bidang 4, Infrastruktur Darat, Laut, dan Udara serta Transportasi; Bidang 5, Lingkungan, Kehutanan, dan Energi; dan Bidang 6, Bali Pulau Digital dan Keamanan Bali.

“Pencapaian kinerja yang sangat baik ini merupakan hasil kerja keras secara kolektif yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kota/Kabupaten, pelaku usaha, serta masyarakat Bali,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca