Denpasar, baliilu.com – Di tengah pandemi Covid-19, perayaan peringatan Puputan Badung Ke-114 digelar amat sederhana di Puri Agung Gerenceng Denpasar, Minggu (20/9-2020). Hanya melantunkan bait-bait geguritan Puputan Badung buah karya AA Alit Konta oleh para kawi puri. Tetapi terasa istimewa karena di pengujung kisah Puputan Badung, Gede Ngurah Ambara Putra hadir menyimak spirit Puputan Badung dimana para pejuang menjaga harkat martabat dengan mengorbankan jiwa, dengan ikut ngayahmewirama menukil kisah Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa.
Ambara Putra yang kini menjadi bakal calon walikota Denpasar yang berpasangan dengan Made Bagus Kerthanegara (Amerta-red) kemudian menerjemahkan bait pertama wirama Carddhula Wikridhita dari Kakawin Arjuna Wiwaha bahwa Raja Erlangga ketika memerintah tidak memikirkan duniawi atau tidak terikat oleh panca indria. Tujuannya hanya ingin mensejahterakan masyarakat.
‘’Apa yang menjadi harapan kami dari visi misi paket Amerta ini adalah dasarnya dari bait pertama Arjuna Wiwaha ini, dimana Amerta hadir tujuannya ingin mensejahterakan masyarakat,’’ tutur Ambara Putra yang fasih melantunkan wirama Carddhula Wikridhita.
Begitu pula ia sebagai anak veteran, diilhami spirit Puputan Badung. Bagaimana para pejuang menjaga harkat martabat dengan mengorbankan jiwa raga. Dalam konteks kekinian, tak perlu korban jiwa, tetapi bagaimana spirit puputan ditrasformasikan menjadi semangat juang dan bekerja keras sehingga bisa memberi paling tidak menghidupi keluarga yang lebih baik, masyarakat dan lingkungannya.
Ambara Putra memaparkan program Amerta Berseri, tentu Smart City Berbudaya dan Berdaya Saing. Berseri bersih, ia mengharapkan Denpasar sebagai ibukota Bali secara estetika mempunyai kemajuan dan nilai lebih tinggi dari kota yang lain. Berseri sejahtera, dimana untuk mewujudkan masyarakat sejahtera adalah dengan meringankan beban-beban budaya seperti 5P yakni puri, pura, para, purana dan purohita. ‘’Kelima inilah yang membentuk budaya yang harus dijaga,’’ terangnya.
Puri, pura, para, purana dan purohita yang membentuk budaya dengan konteks kekinian selain menjaga situs dan ritus juga etika, budi pekertinya. ‘’Kita mesti segilik seguluk atau gotong-royong bersama-sama membangun Denpasar,’’ ajak Ambara.
Menjaga puri identik dengan menjaga rumah, menjaga pura identik dengan menjaga tempat ibadah, menjaga para identik dengan menjaga rakyat, menjaga purana identik dengan menjaga silsilah krama pendatang yang ada di Denpasar serta menjaga purohita identik dengan menjaga pendeta atau pemimpin umat. Menjaga puri, pura, para, purana dan purohita ini diikuti kegiatan ekonomi yang berdaya saing, birokrasi, masyarakat dan pendidikannya yang berdaya saing, sehingga bisa membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Ambara Putra menerima kenang-kenangan kaos bergambar saksi bisu Puputan Badung 1906 dari Anak Agung Ngurah Agung, tokoh Puri Agung Gerenceng
Sementara Ambara mengakui smart city melanjutkan yang sudah ada namun bagaimana sesuai dengan zamannya. Seperti HP, mungkin hanya bisa dipakai dua-lima tahun saja atau casingnya enam bulan sudah baru. Begitu juga Denpasar harus mempunyai daya saing smart city, dan berharap mampu digitalisasi dan terintegrasi.
Ambara juga memberi perhatian besar pada bidang pendidikan karena Denpasar tergantung pada sector jasa. Bagaimana pendidikan mampu mempunyai daya saing, bahwa pendidikan tidak boleh mendikotomi antara negeri dan swasta. Khusus Denpasar, SMP negeri hanya bisa menampung 3 ribu siswa, sedangkan keluaran SD ada 7 ribu. Berarti 4 ribu tak mendapat perlakuan yang sama. Harapannya 4 ribu siswa ini mendapat pendidikan yang mampu seperti yang diharapkan.
‘’Itulah pentingnya pendidikan yang berdaya saing, birokrasi juga harus mampu bergerak cepat. Sekarang ini assasement sangat dibutuhkan. Secara transparan, kalau saya terpilih 100 hari apa sih targetnya, 1 tahun apa sih yang sudah dikerjakan,’’ ujarnya.
Menyinggung ASN, Ambara menginginkan tidak ada pegawai kontrak yang nilai gajinya di bawah UMR. Seharusnya ASN menjaga netralitas dan berpihak pada perfoma masing-masing paslon, mana yang kira-kira mampu membawa Denpasar ke arah lebih baik. ‘’Harapan saya bagaimana kesejahteraan itu, bila perlu lebih jauh lagi. Kalau sekarang 3 juta ke depan bisa 4 juta,’’ ungkap Ambara seraya mengharapkan dalam progran Amerta yang saya kejar adalah pertumbuhan ekonomi, selain tinggi tetapi juga merata.
Terkait masalah pandemi Covid-19, Ambara mengatakan tentu ada jalan keluar yang lebih baik. Kalau mengandalkan Bali hampir sama dengan Denpasar, dimana sekitar 70 persen pertumbuhan ekonomi bertumpu pada sector pariwisata. Tentu harus bisa menjaga, menjamin tenaga kerja yang ada di Denpasar kalau terjadi seperti pandemi ini bagaimana jaminannya misalnya setahun ini.
Di tengah pandemi Covid, kita sangat menjunjung bagaimana menjaga kesehatan. Karena Covid ini sangat mematikan, tentu kita menjaga protokol kesehatan dengan sangat ketat. ‘’Kami juga dengan relawan memanfaatkan virtual atau media online. Tak ada untungnya mengumpulkan masyarakat banyak-banyak jika terbentuk klaster baru, bisa repot kita malah tak dapat simpati masyarakat,’’ pungkasnya.
Tokoh Puri Agung Gerenceng Anak Agung Ngurah Agung menegaskan dalam Pilkada 2020 ini bahwa Puri Agung Gerenceng tetap mengambil posisi netral. Namun secara pribadi ia mengakui dukungannya kepada pasangan Amerta.
Ngurah Agung menegaskan politik ini pesta demokrasi. Denpasar ada dua kandidat dimana semuanya baik. ‘’Sekarang cari putra yang terbaik dan mudah-mudahan saudara saya ini bisa menjaga puri, pura, para dan purana dengan baik,’’ ujar Ngurah Agung usai perayaan Puputan Badung ke-114 yang mengingatkan kompyang dan kakeknya pejuang Puputan Badung. Kebetulan salah satu anak raja umur 3 bulan diselamatkan sampai umur 22 tahun diajak di Puri Gerenceng setelah dewasa dibangunkan istana langsung didudukkan sebagai Raja Pemecutan ke-10.
‘’Mudah-mudahan sebagai penyelenggara seandainya berhasil puri jangan dilupakan. Puri identik dengan rumah, pura identik dengan tempat ibadah. Jangan melupakan tempat ibadah bagian dari kita, baik pura, masjid, wihara dll. Bagaimana menjaga tempat ibadah bagian daripada wisata ke depan. Para, bagaimana menjaga rakyatnya, dalam keadaan Covid -19 seperti ini apalagi mungkin bisa tiga tahun sampai ketemu vaksin. Purana identik dengan silsilah. Denpasar yang penduduknya heterogin yang terdiri dari penduduk setempat dan pendatang dari berbagai daerah patut juga dijaga,’’ ujar Ngurah Agung mengingatkan seraya memberikan kenang-kenangan kaos Puputan Badung kepada Ambara.
Ngurah Agung juga mengharapkan peringatan Puputan Badung bisa menjadi spirit puputan bagi penyelenggara pemerintahan ke depan. Bahwa nilai-nilai keutamaan dari spirit Puputan Badung adalah nilai kejujuran dan ketulusan, kebenaran dan keadilan, kehormatan, harga diri dan martabat, kesetiaan, keberanian, kesusilaan dan kesopanan, kemurahan hati, serta ketekunan dan keuletan. (gs)
PERINGKAT PERTAMA: Kabupaten Jembrana sukses meraih peringkat pertama (Terbaik I) dalam ajang Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tingkat Kabupaten/Kota se-Provinsi Bali Tahun 2026. (Foto: Hms Jembrana)
Jembrana, baliilu.com – Kabupaten Jembrana sukses meraih peringkat pertama (Terbaik I) dalam ajang Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tingkat Kabupaten/Kota se-Provinsi Bali Tahun 2026. Prestasi gemilang ini diumumkan secara resmi di sela-sela acara Rapat Koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) se-Bali.
Tahun ini, Rapat Koordinasi Bappeda mengusung tema strategis, “Sinergi dan Keselarasan Pembangunan Pusat-Daerah: Mewujudkan Asta Cita RPJMN 2025-2029 Berbasis Nangun Sat Kerthi Loka Bali“.
Keberhasilan Kabupaten Jembrana dalam menyabet penghargaan tertinggi ini didasarkan pada penilaian komprehensif terhadap konsistensi dan kualitas dokumen perencanaan daerah. Indikator utama penilaian mencakup: pertama, keselarasan sinkronisasi antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kedua, keterpaduan program antara Rencana Kerja Pemerintah (RKP) pusat dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Piagam penghargaan Terbaik I diserahkan langsung sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam menjaga ritme pembangunan yang terarah, terintegrasi, dan sejalan dengan visi pembangunan nasional serta visi daerah Bali.
Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh jajaran OPD di Lingkungan Pemkab Jembrana untuk terus meningkatkan performa perencanaan dan eksekusi program demi kesejahteraan masyarakat. (gs/bi)
RAPAT PARIPURNA: Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Gianyar dengan agenda Penyampaian Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Ranperda APBD Tahun Anggaran 2027, Senin (12/10) di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Gianyar. (Foto: Hms Gianyar)
Gianyar, baliilu.com – Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Gianyar dengan agenda Penyampaian Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Ranperda APBD Tahun Anggaran 2027, Senin (12/10) di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Gianyar. Dalam rapat yang dipimpin Ketua DPRD I Ketut Sudarsana tersebut, empat fraksi DPRD menyoroti sejumlah isu strategis, mulai dari optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemerataan infrastruktur, penanganan kemiskinan, dan pengurangan.
Pandangan umum Fraksi-fraksi DPRD Gianyar dibacakan langsung oleh Wakil Ketua DPRD Gianyar I Made Suteja. DPRD mengapresiasi pengajuan Ranperda APBD 2027 oleh Bupati Gianyar serta menekankan pentingnya pembahasan anggaran secara kritis, transparan, dan akuntabel agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“APBD bukan hanya persoalan angka, tetapi mencerminkan arah kebijakan pembangunan daerah, instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat, penyediaan pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, serta penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Suteja membacakan PU Fraksi.
Dalam rencana tersebut, pendapatan daerah direncanakan lebih dari Rp 3.751 triliun, terdiri atas PAD sebesar Rp 2.478 triliun lebih dan pendapatan transfer Rp 1.272 triliun lebih. Sementara itu, belanja daerah direncanakan mencapai Rp 3.690 triliun lebih.
Empat fraksi, yakni PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, dan Demokrat Bersatu, menyampaikan sejumlah catatan strategi terhadap rencana anggaran tersebut.
Fraksi PDI Perjuangan mengapresiasi perbaikan infrastruktur jalan yang telah dilaksanakan pemerintah daerah. Fraksi ini juga mendorong agar kebijakan anggaran tetap berpihak kepada masyarakat, khususnya dalam menyediakan kebutuhan dasar, peningkatan kesejahteraan, dan pemerataan pembangunan.
Fraksi Golkar menyoroti proyeksi SiLPA sebesar Rp 158,9 miliar lebih dan meminta penjelasan mengenai besaran yang bersumber dari efisiensi anggaran maupun kegiatan yang tidak terealisasi. Fraksi ini juga menyerap optimalisasi penerimaan opsen pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor, serta alokasi anggaran untuk mengatasi kemiskinan, kemiskinan, dan masalah pendidikan serta kesehatan.
Selain itu, pembangunan jalan di pedesaan dinilai perlu mendapat perhatian agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata.
Fraksi Gerindra menekankan pentingnya perbaikan jaringan irigasi, rehabilitasi sekolah rusak, serta kepastian penyelesaian pembangunan dan peningkatan jalan pada tahun 2027. Fraksi ini juga meminta evaluasi terhadap pengelolaan usaha air minum dalam kemasan (AMDK) yang dinilai belum optimal dalam meningkatkan pendapatan daerah.
Persyaratan personalia administrasi penyaluran hibah juga menjadi perhatian agar anggaran yang telah ditetapkan dapat terserap tepat waktu dan tepat sasaran.
Sementara itu, Fraksi Demokrat Bersatu meminta penjelasan mengenai prioritas pembangunan, strategi peningkatan PAD dari sektor pariwisata, retribusi dan pengelolaan aset daerah, serta komitmen pemerintah dalam menjaga efisiensi belanja dan mencegah kebocoran anggaran.
Secara umum, keempat fraksi menegaskan bahwa APBD harus disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat, memiliki target yang terukur, serta dikelola secara transparan dan akuntabel.
Meski memberikan sejumlah catatan dan pertanyaan, keempat fraksi pada prinsipnya menerima Ranperda APBD Kabupaten Gianyar Tahun Anggaran 2027 untuk dilanjutkan ke tahapan pembahasan berikutnya sesuai mekanisme dan ketentuan peraturan-undangan.
Pembahasan selanjutnya diharapkan menghasilkan kebijakan anggaran yang efektif, efisien, tepat sasaran, serta mampu mendukung percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Gianyar. (gs/bi)
SOSIALISASI: Kegiatan sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak serta pengenalan inovasi BESTIE Buleleng dari Dinsos P3A Kabupaten Buleleng yang diselenggarakan di Gedung PLUT Singaraja, Senin (12/10). (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Buleleng terus memperkuat peran keluarga dalam melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan. Upaya tersebut diwujudkan melalui sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak serta pengenalan inovasi BESTIE Buleleng (Bersama Edukasi Sebaya, Tumbuhkan Inspirasi dan Empati) dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Buleleng dalam pertemuan rutin DWP Buleleng yang terselenggara di Gedung PLUT Singaraja, Senin (12/10).
Ketua DWP Kabupaten Buleleng, Ny. Dewi Suyasa, menyampaikan bahwa sosialisasi ini memberikan manfaat penting bagi para anggota, khususnya dalam meningkatkan pemahaman orang tua untuk melindungi anak di lingkungan keluarga.
Menurutnya, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, mengenali berbagai bentuk kekerasan, serta memberikan pemahaman agar anak mampu melindungi diri dari situasi yang membahayakan.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap ibu-ibu anggota DWP semakin mampu mendampingi dan mengawasi anak-anaknya, sekaligus membangun komunikasi yang baik agar anak memahami bentuk-bentuk kekerasan dan dapat mengantisipasinya,” ujarnya.
Dewi Suyasa juga berharap sosialisasi serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di masing-masing instansi, sekolah, serta unsur DWP perangkat daerah. Dengan demikian, informasi mengenai pencegahan kekerasan pada anak dan inovasi BESTIE Buleleng dapat tersebar lebih luas, tidak hanya di kalangan anggota DWP, tetapi juga masyarakat umum.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinsos P3A Kabupaten Buleleng, Putu Agustini, selaku narasumber, memaparkan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, meliputi kekerasan fisik, emosional, seksual, penelantaran, dan eksploitasi. Ia juga menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui edukasi sejak dini, komunikasi antara anak dan orang tua, serta keterlibatan satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan inovasi BESTIE Buleleng, sebuah upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dengan menginspirasi remaja untuk memiliki empati dan menjadi tutor bagi teman sebaya. Program ini dijalankan melalui tiga langkah, yakni tutor sebaya, layanan WhatsApp, serta sinergi dengan lembaga terkait.
Masyarakat yang membutuhkan informasi atau layanan terkait pencegahan kekerasan pada anak dapat menghubungi layanan WhatsApp BESTIE Buleleng di nomor 0821-312-5468.
Melalui kegiatan ini, DWP Kabupaten Buleleng diharapkan semakin berperan aktif dalam membangun keluarga yang peduli, meningkatkan kewaspadaan terhadap kekerasan, serta mewujudkan lingkungan yang aman dan ramah bagi tumbuh kembang anak. (gs/bi)