KARYA TENUN ARTHA DHARMA: Pemilik Pertenunan Artha Dharma Buleleng Ketut Rajin bersama Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki E Wimanda memperlihatkan karya ''hadmade'' tenun songket.
Buleleng, baliilu.com – Melestarikan keunikan produk berbahan dasar alam membuat Pertenunan Artha Dharma Buleleng mampu bertahan di tengah pandemi Covid yang meluluhlantakkan sektor perekonomian Bali. Bahkan 88 orang yang dipekerjakan di Pertenunan Artha Dharma tetap beraktivitas hingga kini. Cara pemasaran yang menggunakan dua jalur baik konvensional dan digital dirasakan cukup ampuh untuk mendekatkan produk handmade Artha Dharma kepada konsumen.
Ketika peserta Capacity Building Media 2021 Jumat, 8 Oktober 2021 mengunjungi dapur kerja Pertenunan Artha Dharma di Jalan Sinabun Singaraja ini, tampak para pekerja suntuk dengan perannya masing-masing. Ada yang memintal kokon sutra, memilah benang, membuat motif, pencelupan warna alam, hingga menenun dengan alat tradisional. Saat ini ada sekitar 50 penenun dengan 33 orang pekerja penunjang seperti tukang jumput, bagian pencelupan/pewarnaan.
‘’Kami masih bisa mempertahankan karyawan karena kami masih menerima order seragam baik dari pemerintah daerah maupun yang lain sehingga kami masih bisa mutar modal di tengah pandemi Covid ini,’’ terang pemilik Pertenunan Artha Dharma Ketut Rajin.
Ia tidak menampik di tengah pandemi, untuk pasar retail omzetnya turun hingga 60-70 persen. Namun pesanan seragam masih tetap jalan. Pertenunan Artha Dharma memproduksi tenun ikat berbahan alam (tenun songket) sekitar 40 persen, sedangkan tenun ikat biasa sekitar 60 persen. Saat ini omzet hanya Rp 100 juta sebulan. Masih tetap bertahannya pesanan tidak terlepas dari dampak Surat Edaran Gubernur (Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali / Kain Tenun Tradisional Bali, red). Lain dari itu, penjualan melalui online atau akses digital sangat membantu di tengah pandemi Covid. Selain penjualan menyasar warga masyarakat Singaraja dan Bali kini sudah menjelajahi wilayah kota-kota di Indonesia seperti Jakarta. Bahkan ada juga yang tembus sampai ke luar negeri.
Pekerja saat menenun kain tenun songket berbahan alam
‘’Kami belum ekspor tetapi barang kami sudah sampai ke Italia, Prancis dan banyak negara melalui diaspora atau butik-butik. Kami akan berusaha menembus akses digital karena prosedur ekspor lebih gampang dan simple. Saat ini kami sudah mencoba melalui jalur digital seperti lewat Instagram, Marketplace termasuk Shopee, dll,’’ ujarnya.
Menyambut dibukanya pintu penerbangan internasional 14 Oktober 2021, Ketut Rajin mengaku tentu bakal menggairahkan dan membuka pasar lagi dan membutuhkan modal. Namun modal diperlukan saat diversifikasi produk. Disain baru yang sudah diterima masyarakat perlu tambahan modal untuk produksi. ‘’Proses permodalan tidak sulit. Kami bisa meminjam modal ke LPD, Bank BPD, bank-bank umum lainnya,’’ ucapnya
Produksi tenun ikat biasa
Untuk menjaga kesinambungan pertenunan berbahan alami ini, Artha Dharma sebagai pusat pelatihan pertenunan menampung anak-anak putus sekolah, pengangguran untuk diberikan pelatihan pertenunan agar ke depan bisa membuka lapangan pekerjaan. Untuk pelatihan tenun ikat biasa dalam dua pekan sudah langsung bisa bekerja. Tetapi untuk tenun songket alam proses pelatihan membutuhkan waktu enam bulan sampai setahun karena perlu keterampilan khusus. Oleh karena itu, peluang pasar terbuka karena kain tenun ikat atau tenun songket produk handmade, produk kreatif buatan tangan.
Ketut Rajin mengaku motivasi awal melatih anak-anak muda, berbagi ilmu pertenunan bermula dari keprihatinannya melihat budaya menenun punah. ‘’Jadi kami berusaha meregenerasi agar kelak ada yang menggantikan dan menjaga tradisi pertenunan ini. Saat ini Pertenunan Artha Dharma terbuka buat anak sekolah magang. Kami bekerjasama dengan SMK Sukasada, SMK Bali Mandara dll. Juga ada kerjasama penelitian untuk meningkatkan kualitas yang sudah ada,’’ jelasnya.
Anak-anak sekolah yang magang sampai enam bulanan melakukan proses pemisahan benang
‘’Apa yang kami lakukan hari ini, kami banyak dibantu oleh Bank Indonesia baik dari peralatan, pelatihan, promosi dan bagaimana cara kami menembus pasar luar negeri. Seperti kemarin di KKI, kami ikut terlibat fashion show. Dengan fesyen ini produk terbaru kami bisa disosialisasikan dan dikenal masyarakat sehingga masyarakat tahu. Dengan adanya itu pasar mulai terbuka,’’ ucapnya.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki E Wimanda di sela kunjungannya ke Pertenunan Artha Dharma, Jumat (8/10) menyampaikan, untuk Artha Dharma sendiri kita Bank Indonesia mendukung berupa alat tenun bukan mesin 4 buah. Pelatihan-pelatihan di antaranya bagaimana mengelola limbah, bagaimana memasarkan produknya melalui E-Commerce atau on boarding. Itu kita latih agar pemasarannya tak hanya offline tetapi kini sudah menjangkau dunia maya.
Dikatakan, Arta Dharma sudah join dengan E-Commerce Global. Pembelinya langsung dari luar Indonesia, selain E-Commerce dalam negeri. Jadi pelatihan, pemasaran, pengelolaan limbah juga kita ikutkan ke pameran seperti di KKI, kemarin di Bali Jagadhita Culture Week 2021. Tujuannya untuk meningkatkan penjualan. ‘’Yang penting lagi, kualitas dan kuantitasnya harus konsisten. Dimana harus berkualitas bagus, tapi ketika ada permintaan pasar bisa dipenuhi relatif cepat,’’ ujar Wimanda.
Wimanda menjelaskan, untuk UMKM tenun ada 36 UMKM binaan dan mitra BI yang tersebar di wilayah Bali. Harapannya tentunya setiap penenun punya ciri khas. Ada pewarna alam, ada sintentis dan disainnya sendiri-sendiri, atau unik. ‘’Kalau di Bali Agung seperti ini, di Artha Dharma seperti ini. Harapan kami, UMKM-nya terus naik kelas, kalau bisa setelah menjadi UMKM digital terus menjadi UMKM ekspor. Jadi harus berkembang terus,’’ pungkasnya. (gs)
Infografis inflasi Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Juli 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,71% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Mei sebesar 0,42% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh permintaan barang/jasa akibat perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) non subsidi.
Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,99% (yoy) pada Mei 2026 menjadi 3,27% (yoy), masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% serta berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,92% (mtm) atau 3,43% (yoy).
Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,75% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,46% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,80% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Buleleng yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,46% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,26% (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Juni 2026 bersumber dari kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, wortel, dan buncis. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, angkutan udara, dan telur ayam ras. “Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%,” ujarnya.
Ke depan, kata Achris Sarwani, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino moderat yang memengaruhi produksi pertanian, serta potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.
Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkahlangkah implementasinya diantaranya melalui intensifikasi operasi pasar murah, pemantauan harga secara berkala, monitoring serta sidak distribusi LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada di level optimis sebesar 121,9 (nilai indeks > 100). Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya (124,09), IKK Bali masih lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 120,9. Optimisme konsumen pada Mei 2026 didorong oleh peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp 6-7 juta sebesar 21% (mtm), Rp 5-6 juta sebesar 11% (mtm), Rp 2-3 juta sebesar 9% (mtm), dan Rp 3-4 juta sebesar 8% (mtm). Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor informal (124,7) dan sektor formal (119,3), sebagaimana hasil Survei Konsumen Bank Indonesia.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa perlambatan IKK dibandingkan bulan sebelumnya terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 120,7 pada April 2026 menjadi 117,5 pada Mei 2026 atau menurun sebesar 2,7% (mtm).
Penurunan IKE bersumber dari seluruh komponen utama, yaitu konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (105,0), ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (125,0), serta penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (122,5).
Sementara, kata Achris Sarwani, komponen kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu relatif stabil pada level 100,0. Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan menjadi 126,3 atau turun 0,9% (mtm) dibandingkan IEK April 2026. Penurunan terutama terjadi pada komponen prakiraan penghasilan (125,5) dan kegiatan usaha (127,5).
Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang masih menunjukkan peningkatan sebesar 0,8% (mtm) atau menjadi 126,0. “Penurunan IKK pada periode awal hingga pertengahan Mei 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan domestik, antara lain meningkatnya kekhawatiran kenaikan harga pangan global dan perlambatan kunjungan wisatawan, akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah,“ ujar Achris Sarwani.
Selain itu, inflasi Provinsi Bali pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,42% (mtm) dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas seperti beras, cabai rawit, cabai merah yang memengaruhi persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Sebagai respons, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar, pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)
Infografis indeks penjualaan riil. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada April 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 125,3 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,8% (mtm), terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada kategori suku cadang dan aksesori sebesar 5,0% (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor 2,2% (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,8% (mtm). Peningkatan tersebut sejalan dengan menguatnya aktivitas mobilitas masyarakat pada periode libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung serta meningkatnya aktivitas ekonomi daerah seiring dengan rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Momentum tersebut turut mendorong permintaan pada sejumlah kelompok barang, khususnya yang berkaitan dengan mobilitas, rekreasi, dan aktivitas konsumsi masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani melalui siaran pers mengatakan bahwa kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan tetap kuat. IPR Mei 2026 diprakirakan sebesar 126,0, atau meningkat 0,6% (mtm) ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau. Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat di tengah periode HBKN Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, lanjut Achris Sarwani bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026 dan Oktober 2026, diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 dan Oktober 2026 sebesar 200, meningkat signifikan dibandingkan IEH pada Juni 2026 dan September 2026 sebesar 192,0. “Peningkatan ekspektasi harga tersebut perlu terus dicermati ditengah tekanan inflasi tahunan yang masih terkendali,” ujar Achris Sarwani.
Pada Mei 2026, katanya, inflasi Bali tercatat sebesar 2,99% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga April 2026 tercatatat tumbuh sebesar 1,99% (yoy).
Optimisme penjualan ritel ke depan juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP tiga bulan mendatang yaitu Juli 2026 sebesar 172,0, meningkat dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0.
Sementara itu, sebut Achris Sarwani bahwa IEP enam bulan mendatang, yaitu Oktober 2026 tercatat sebesar 190,0, lebih tinggi dibandingkan IEP September 2026 sebesar 184,0. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100) yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek penjualan ritel Bali tetap terjaga.
Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth).
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapa inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)