Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Unggulkan Pewarna Alam, Pagi Motley Untung Berlipat hingga 200 Juta di Masa Pandemi

BALIILU Tayang

:

de
BERBINCANG: Kepala Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki E Wimanda (baju putih) saat berbincang dengan pemilik Pagi Motley Andika Putra (kiri) soal kualitas produksi ketika berkunjung, Jumat (8/10) di Pagi Motley Studio Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng.

Buleleng, baliilu.com – Ketika di masa pandemi Covid-19 pelaku usaha banyak yang tiarap bahkan sampai gulung tikar, justru berbeda dengan Pagi Motley Studio yang bergerak di bidang jasa pencelupan pewarna kain. Dari omzet seratus juta per bulan, malah manakala pandemi Covid omzet UMKM ini jadi berlipat-lipat hingga 200-250 juta sebulan. Penggunaan pewarna alami menjadi daya tarik tersendiri bagi customer luar negeri untuk memilih jasa Pagi Motley Studio, selain sentuhan Bank Indonesia yang suntuk mendampingi hingga menuju digitalisasi.

Pagi Motley Studio berdiri sejak 15 Agustus 2015 di wilayah jalan raya Air Sanih Desa Sembiran Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng. Adalah I Made Andika Putra, sang pengelola sekaligus pencetus pencelupan kain berbahan pewarna alami ini yang kini mampu menembus pasar dunia. Sukses ini tak lepas dari isu masyarakat global yang cenderung menggunakan bahan pangan, sandang dan papan yang sustainable, kembali ke bahan alami yang tidak merusak lingkungan.

‘’Jasa Pagi Motley begitu diminati pasar luar negeri karena kehidupan di luar negeri baik dari makanan, pakaian, hingga rumahnya cenderung semua sustainable. Karena itu kami garap sandangnya, juga interior rumahnya, seperti sarung bantal, taplak meja, bizmet, aporn dari warna alam,’’ terang Andika Putra Ketika awak media menyambangi rumahnya saat gelar Capacity Building Media 2021 yang dilaksanakan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali 7-9 Oktober 2021.

Berlatar belakang pendidikan di bidang teknis pewarnaan, Andika memanfaatkan bahan-bahan pewarna yang mudah didapatkan di sekeliling rumah tanpa merusak lingkungan alam. Di antaranya, Andika menyebutkan 5 jenis bahan warna utama seperti warna merah dari pohon Secang (Caesalpinia Sappan), warna kuning dari daun mangga, coklat dari sabut kelapa (Cocos Nucifera), hitam dari daun Ketapang (Terminalia Catappa), dengan proses ekstrak pemasakan. Sedangkan warna biru paling spesial dari pohon Indigo (Strobilanthes Cusia) yang hidup di 2000 MDPL seperti daerah Payangan Gianyar dan Kintamani Bangli. Proses pembuatannya melalui permentasi beberapa pekan. Dari bahan warna utama ini bisa diciptakan sampai 200 warna, misalnya warna kuning dicampur biru menjadi hijau, kuning dengan merah jadi orange dan seterusnya.

Proses pencelupan mulai dari cuci biasa, proses mordan dan terakhir pewarnaan

Proses pewarnaan/pencelupan melalui tiga tahap. Pertama-tama kain yang datang dari customer atau dari toko dicuci atau dibersihkan dengan sabun yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit, lanjut dibilas menuju proses mordan sekitar 30 menit. Proses mordan untuk membuka pori-pori kain dengan cara mencampuri soda abu. Kemudian baru masuk proses pewarnaan/pencelupan.  ‘’Dengan melalui pencucian dan mordan biasanya empat kali celup, kini bisa dua sampai tiga kali celup sehingga irit bahan warna dan waktu,’’ ujar Andika yang telah mengikuti berbagai pelatihan teknis pewarnaan dan penghargaan di bidang pewarnaan.

Andika menyebut bahan kain yang digunakan jenis serat alam seperti katun, sutra, woll, linnen, yang dibawa atau diberi contoh oleh customer. Jika tidak dapat dibeli di Denpasar bisa dibawakan langsung dari luar negeri. Selain 80 persen jasa pencelupan, Pagi Motley juga memproduksi bahan interior dan tenun ikat.

Pagi Motley rata-rata dari jasa pencelupan meraup omzet 100 juta sebulan sebelum pandemi Covid. Namun ketika pandemi Covid melanda dunia termasuk Bali, omzetnya malah meningkat berlipat hingga 200 juta sebulan. ‘’Saat pandemi customer kami dari Jerman meminta kami memproduksi lebih banyak lagi karena mereka memasarkan dengan cara online,’’ ujar Andika yang keseharian juga aktif melakukan pelatihan pewarnaan.  Saat ini order terbanyak datang dari Korea Selatan dan Amerika. Selain itu, ada sedikitnya 10 buyer baik dari New Zealand, Jepang, dan Pasar Eropa. Rata-rata pesanan per customer antara 1-200 pcs. Sedangkan produksi jasa celup 5 ribu meter per bulan.

Rizki E Wimanda didampingi Andika Putra dan Puspita Dewi

Andika yang didampingi istrinya Dewa Ayu Agung Puspita Dewi menyebutkan per meter rata-rata beaya jasa pencelupan antara 75-250 ribu yang sangat tergantung dari warna dan motifnya. Kalau per pcs, minimal order 25 pcs mendapat potongan 25 persen. Sedangkan bahan putihan dari customer 75 ribu per pcs. Jika dibuat dari bahan tenun alami dari harga 450 ribu sampai 10 juta per pcs. Harga bervariasi karena ada motif lukisan yang menggunakan warna alam yang melibatkan pelukis.

Ia menyebut karakter customer Eropa lebih cenderung menyukai motif yang simple dengan bahan tiga warna saja. Sedangkan Jepang menyukai warna biru dan hitam. Sebaliknya customer New York agak ‘’liar’’ sampai menggunakan enam warna dalam satu baju atau kain.

Ketika pemerintah merencanakan bakal membuka penerbangan internasional pada 14 Oktober ini, Andika mengaku banyak customer bakal datang ke Bali sekaligus melihat dapur kerja Pagi Motley Studio.

Banner Pagi Motley Studio di pinggir Jalan Air Sanih-Tejakula Buleleng.

‘’Apa yang kami rasakan hari ini tidak terlepas dari binaan Perwakilan Bank Indonesia  Provinsi Bali yang selama ini terus mendukung peralatan, membimbing dengan pelatihan, mengajak kami ikut pameran dan mengenalkan pemasaran ke dunia digitalisasi,’’ ungkap Andika Putra yang diamini Puspita Dewi seraya mengaku saat ini mempekerjakan 15 karyawan yang Desember ini siap-siap menyelesaikan pesanan 2 ribu meter dari Kalifornia.

Kepala Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki E Wimanda saat berkunjung ke Pagi Motley menyampaikan Bank Indonesia concern men-support UMKM. Dukungan, pertama bisa dalam bentuk alat-alat produksi, kedua bisa diikutkan pameran terus ditambah on boarding agar pemasarannya tidak offline tetapi online dan BI akan terus memonitor perkembangannya.

‘’Intinya Bank Indonesia membina UMKM tidak selamanya. Rata rata 2-3 tahun, setelah bisa mandiri, sudah punya ilmunya baru kita lepas. Dan kita cari yang lain lagi agar bergulir. Saat ini ada 36 UMKM termasuk binaan dan mitra BI,’’ pungkasnya. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada Triwulan I 2026

Published

on

By

harga properti bali
Infografis Harga Properti Residensial Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy). Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 ), dan besar (luas bangunan > 70 m2 ) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah.

“Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah. Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non-bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%.

Dari sisi konsumen, sebut Achris Sarwani, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca