BERBINCANG: Kepala Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki E Wimanda (baju putih) saat berbincang dengan pemilik Pagi Motley Andika Putra (kiri) soal kualitas produksi ketika berkunjung, Jumat (8/10) di Pagi Motley Studio Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng.
Buleleng, baliilu.com – Ketika di masa pandemi Covid-19 pelaku usaha banyak yang tiarap bahkan sampai gulung tikar, justru berbeda dengan Pagi Motley Studio yang bergerak di bidang jasa pencelupan pewarna kain. Dari omzet seratus juta per bulan, malah manakala pandemi Covid omzet UMKM ini jadi berlipat-lipat hingga 200-250 juta sebulan. Penggunaan pewarna alami menjadi daya tarik tersendiri bagi customer luar negeri untuk memilih jasa Pagi Motley Studio, selain sentuhan Bank Indonesia yang suntuk mendampingi hingga menuju digitalisasi.
Pagi Motley Studio berdiri sejak 15 Agustus 2015 di wilayah jalan raya Air Sanih Desa Sembiran Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng. Adalah I Made Andika Putra, sang pengelola sekaligus pencetus pencelupan kain berbahan pewarna alami ini yang kini mampu menembus pasar dunia. Sukses ini tak lepas dari isu masyarakat global yang cenderung menggunakan bahan pangan, sandang dan papan yang sustainable, kembali ke bahan alami yang tidak merusak lingkungan.
‘’Jasa Pagi Motley begitu diminati pasar luar negeri karena kehidupan di luar negeri baik dari makanan, pakaian, hingga rumahnya cenderung semua sustainable. Karena itu kami garap sandangnya, juga interior rumahnya, seperti sarung bantal, taplak meja, bizmet, aporn dari warna alam,’’ terang Andika Putra Ketika awak media menyambangi rumahnya saat gelar Capacity Building Media 2021 yang dilaksanakan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali 7-9 Oktober 2021.
Berlatar belakang pendidikan di bidang teknis pewarnaan, Andika memanfaatkan bahan-bahan pewarna yang mudah didapatkan di sekeliling rumah tanpa merusak lingkungan alam. Di antaranya, Andika menyebutkan 5 jenis bahan warna utama seperti warna merah dari pohon Secang (Caesalpinia Sappan), warna kuning dari daun mangga, coklat dari sabut kelapa (Cocos Nucifera), hitam dari daun Ketapang (Terminalia Catappa), dengan proses ekstrak pemasakan. Sedangkan warna biru paling spesial dari pohon Indigo (Strobilanthes Cusia) yang hidup di 2000 MDPL seperti daerah Payangan Gianyar dan Kintamani Bangli. Proses pembuatannya melalui permentasi beberapa pekan. Dari bahan warna utama ini bisa diciptakan sampai 200 warna, misalnya warna kuning dicampur biru menjadi hijau, kuning dengan merah jadi orange dan seterusnya.
Proses pencelupan mulai dari cuci biasa, proses mordan dan terakhir pewarnaan
Proses pewarnaan/pencelupan melalui tiga tahap. Pertama-tama kain yang datang dari customer atau dari toko dicuci atau dibersihkan dengan sabun yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit, lanjut dibilas menuju proses mordan sekitar 30 menit. Proses mordan untuk membuka pori-pori kain dengan cara mencampuri soda abu. Kemudian baru masuk proses pewarnaan/pencelupan. ‘’Dengan melalui pencucian dan mordan biasanya empat kali celup, kini bisa dua sampai tiga kali celup sehingga irit bahan warna dan waktu,’’ ujar Andika yang telah mengikuti berbagai pelatihan teknis pewarnaan dan penghargaan di bidang pewarnaan.
Andika menyebut bahan kain yang digunakan jenis serat alam seperti katun, sutra, woll, linnen, yang dibawa atau diberi contoh oleh customer. Jika tidak dapat dibeli di Denpasar bisa dibawakan langsung dari luar negeri. Selain 80 persen jasa pencelupan, Pagi Motley juga memproduksi bahan interior dan tenun ikat.
Pagi Motley rata-rata dari jasa pencelupan meraup omzet 100 juta sebulan sebelum pandemi Covid. Namun ketika pandemi Covid melanda dunia termasuk Bali, omzetnya malah meningkat berlipat hingga 200 juta sebulan. ‘’Saat pandemi customer kami dari Jerman meminta kami memproduksi lebih banyak lagi karena mereka memasarkan dengan cara online,’’ ujar Andika yang keseharian juga aktif melakukan pelatihan pewarnaan. Saat ini order terbanyak datang dari Korea Selatan dan Amerika. Selain itu, ada sedikitnya 10 buyer baik dari New Zealand, Jepang, dan Pasar Eropa. Rata-rata pesanan per customer antara 1-200 pcs. Sedangkan produksi jasa celup 5 ribu meter per bulan.
Rizki E Wimanda didampingi Andika Putra dan Puspita Dewi
Andika yang didampingi istrinya Dewa Ayu Agung Puspita Dewi menyebutkan per meter rata-rata beaya jasa pencelupan antara 75-250 ribu yang sangat tergantung dari warna dan motifnya. Kalau per pcs, minimal order 25 pcs mendapat potongan 25 persen. Sedangkan bahan putihan dari customer 75 ribu per pcs. Jika dibuat dari bahan tenun alami dari harga 450 ribu sampai 10 juta per pcs. Harga bervariasi karena ada motif lukisan yang menggunakan warna alam yang melibatkan pelukis.
Ia menyebut karakter customer Eropa lebih cenderung menyukai motif yang simple dengan bahan tiga warna saja. Sedangkan Jepang menyukai warna biru dan hitam. Sebaliknya customer New York agak ‘’liar’’ sampai menggunakan enam warna dalam satu baju atau kain.
Ketika pemerintah merencanakan bakal membuka penerbangan internasional pada 14 Oktober ini, Andika mengaku banyak customer bakal datang ke Bali sekaligus melihat dapur kerja Pagi Motley Studio.
Banner Pagi Motley Studio di pinggir Jalan Air Sanih-Tejakula Buleleng.
‘’Apa yang kami rasakan hari ini tidak terlepas dari binaan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali yang selama ini terus mendukung peralatan, membimbing dengan pelatihan, mengajak kami ikut pameran dan mengenalkan pemasaran ke dunia digitalisasi,’’ ungkap Andika Putra yang diamini Puspita Dewi seraya mengaku saat ini mempekerjakan 15 karyawan yang Desember ini siap-siap menyelesaikan pesanan 2 ribu meter dari Kalifornia.
Kepala Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki E Wimanda saat berkunjung ke Pagi Motley menyampaikan Bank Indonesia concern men-support UMKM. Dukungan, pertama bisa dalam bentuk alat-alat produksi, kedua bisa diikutkan pameran terus ditambah on boarding agar pemasarannya tidak offline tetapi online dan BI akan terus memonitor perkembangannya.
‘’Intinya Bank Indonesia membina UMKM tidak selamanya. Rata rata 2-3 tahun, setelah bisa mandiri, sudah punya ilmunya baru kita lepas. Dan kita cari yang lain lagi agar bergulir. Saat ini ada 36 UMKM termasuk binaan dan mitra BI,’’ pungkasnya. (gs)
Infografis inflasi Provinsi Bali per September 2026. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Oktober 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Agustus yang mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya harga pakan, yang mendorong kenaikan harga ayam ras di tingkat Konsumen, serta kemarau berkepanjangan yang diiringi oleh El Nino dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mempengaruhi harga cabai dan beras. Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 3,45% (yoy) pada Agustus 2026 menjadi 3,79% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28% (yoy).
Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Bali mencatat inflasi bulanan pada September 2026. Kabupaten Badung mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,55% (mtm), diikuti Kabupaten Tabanan sebesar 0,46% (mtm), Kota Denpasar sebesar 0,21% (mtm), dan Singaraja sebesar 0,19% (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tabanan sebesar 4,54% (yoy), diikuti Kabupaten Badung sebesar 3,95% (yoy), Singaraja sebesar 3,87% (yoy), dan Kota Denpasar sebesar 3,42% (yoy).
Berdasarkan komoditas, lanjut Achris Sarwani, secara bulanan inflasi pada September 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, cabai rawit, air kemasan, biaya akademik/perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan beras. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga angkutan udara, canang sari, cabai merah, bawang putih, sawi hijau, ketimun, emas perhiasan, bawang merah, terong, dan kangkung.
Achris Sarwani menegaskan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali terus mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar agar capaian inflasi Provinsi Bali pada akhir tahun dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko inflasi yang perlu dicermati antara lain berlanjutnya fenomena El Niño dan mundurnya awal musim hujan yang berpotensi mengganggu produksi pangan, khususnya komoditas hortikultura. Selain itu, potensi gangguan distribusi pangan antardaerah termasuk melalui jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, serta masih tingginya biaya angkutan barang global juga perlu menjadi perhatian. Di sisi lain, meredanya aktivitas kunjungan wisatawan setelah periode puncak liburan diprakirakan dapat mengurangi tekanan inflasi dari sisi permintaan.
Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, kata Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Dengan dukungan sinergi yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui TPID se-Bali, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%, sehingga dapat mendukung stabilitas perekonomian dan daya beli masyarakat. (gs/bi)
Infografis indeks penjualan riil Provinsi Bali bulan Agustus 2026. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran Bali tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang berada pada level 128,6 dan meningkat 1,7% (mtm), sekaligus mempertahankan level optimis (indeks >100). Peningkatan kinerja tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pada kategori sandang sebesar 7,9% (mtm), kategori makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9% (mtm), serta kategori barang budaya dan rekreasi sebesar 3,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya permintaan ritel pada periode libur sekolah serta meningkatnya aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode peak season. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat. Di sisi lain, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kondisi ini mendorong terjaganya daya beli masyarakat. Selain itu, aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan pada Juli-September 2026 turut mendorong permintaan barang dan jasa serta menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengungkapkan bahwa kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Agustus 2026 yang diprakirakan berada pada level 129,2, atau meningkat 0,5% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori. Perkembangan tersebut terutama didukung oleh berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode peak season, meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Hari Kemerdekaan RI, serta tingginya kegiatan sosial dan adat yang mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.
Sementara itu, Achris Sarwani menegaskan bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 dan Januari 2027 masing-masing sebesar 198 dan 200. Meskipun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45% (yoy) masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Kondisi tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh.
Optimisme pelaku usaha tetap terjaga meskipun mengalami moderasi dibandingkan survei sebelumnya. Hal tersebut tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang masih berada pada level optimis (indeks >100), baik untuk tiga bulan maupun enam bulan mendatang. IEP enam bulan mendatang (Januari 2027) lebih rendah menjadi 188 dari 198 pada survei sebelumnya.
Sementara itu, Achris Sarwani menyampaikan bahwa IEP tiga bulan mendatang (Oktober 2026) tercatat sebesar 180, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 184. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86% (yoy).
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi daerah. (gs/bi)
Infografis indeks keyakinan konsumen di Provinsi Bali. (Foto; Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada Agustus 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada pada level optimis sebesar 123,1 (indeks >100), serta lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 118,5. Sejalan dengan proses normalisasi aktivitas ekonomi pasca periode libur sekolah dan tingginya basis keyakinan pada bulan sebelumnya, IKK Bali mengalami penyesuaian terbatas dari 126,3 pada Juli 2026 menjadi 123,8 pada Agustus 2026. Optimisme konsumen tetap terjaga terutama pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran lebih dari Rp 8 juta, Rp 6-7 juta, dan Rp 3-4 juta per bulan.
Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (128,3) dan sektor informal (116,8). Optimisme yang terjaga didukung oleh membaiknya kinerja pariwisata dan tetap kuatnya aktivitas sektor jasa.
Lebih detail, penurunan IKK pada periode Agustus 2026 turut dipengaruhi oleh penurunan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan dari 122,3 pada Juli 2026 menjadi 118,0 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 3,5% (mtm). Penurunan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (124,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (101,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan dari 130,3 pada Juli 2026 menjadi 128,2 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 1,7% (mtm). Penurunan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,0), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (129,5) dan perkiraan kegiatan usaha (128,0).
Kepala kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa meskipun mengalami penyesuaian, tingkat keyakinan konsumen Bali masih berada pada zona optimis. Perkembangan tersebut mencerminkan proses normalisasi pasca periode libur sekolah dan tingginya aktivitas konsumsi pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, masyarakat tetap menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan seiring dengan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa yang menjadi penggerak utama perekonomian Bali.
Tetap terjaganya optimisme konsumen juga sejalan dengan berbagai indikator ekonomi Bali yang masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas pariwisata yang memasuki periode peak season pada Juli-September 2026 turut mendorong peningkatan mobilitas wisatawan dan permintaan barang serta jasa di Bali. Di sisi lain, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,45% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadi faktor penopang keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian Bali ke depan.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, TP2ED, TPID, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perekonomian global, sinergi tersebut diharapkan dapat menjaga optimisme masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi Bali ke depan. (gs/bi)