Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Polda Bali Amankan Kebijakan Larangan Mudik, Tak Sesuai Ketentuan Dikembalikan

BALIILU Tayang

:

de
Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, S.H., M.Si. bersama Direktur Ditlantas Kombes Pol Indra, SIK sesaat konferensi pers di lobi Mako Polda Bali, Selasa (4/5).

Denpasar, baliilu.com – Terkait kebijakan pemerintah tentang pelarangan mudik pada perayaan Idul Fitri 1442 Hijriah, Polda Bali bersinergi dengan segenap unsur di wilayah Provinsi Bali konsen mengamankan dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya untuk kesehatan dan keselamatan khususnya di Pulau Bali melalui Operasi Ketupat yang dimulai 6 Mei hingga 17 Mei 2021.

‘’Kami dari segenap unsur akan bersinergi untuk melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya sampai batas waktu yang ditentukan. Pelaksanaan operasi khususnya operasi ketupat ini dimulai tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2021,’’ terang Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, S.H., M.Si. saat konferensi pers di lobi Mako Polda Bali, Selasa (4/5).

Kapolda Danu Putra menyampaikan untuk kelancaran dan pengamanan kegiatan ini terutamanya kebijakan pemerintah adanya larangan mudik, Polda Bali telah mengadakan posko-posko atau pos-pos penyekatan. Di Bali dibangun 7 pos penyekatan dari Denpasar sampai dengan perbatasan di Gilimanuk dan di Padangbai juga termasuk di Bandara Ngurah Rai. Keseluruhan personil yang terlibat sebanyak 1.750 gabungan antarunsur Polri, instansi terkait yang ada di seluruh Provinsi Bali.

Ia menegaskan sesuai dengan ketentuan bagi yang melakukan perjalanaan harus melengkapi dengan surat-surat yang menjadi ketentuan sesuai dengan Surat Edaran Gubernur.  ‘’Kita akan verifikasi apakah betul surat ini berkaitan dengan tujuan melakukan perjalanan dinas atau keperluan lain. Selain tujuan itu, tentunya kita kembalikan, tidak melakukan perjalanan dalam rangka mudik,’’ tegas Kapolda.

Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, S.H., M.Si. saat konferensi pers di lobi Mako Polda Bali, Selasa (4/5).

Demikian juga dengan wisatawan, ungkap Kapolda, prosedur terkait Surat Edaran Gubernur masuk ke wilayah Bali harus melakukan rapid antigen, PCR tetap berlaku. Jadi mekanisme masuk-keluar Pulau Bali sesuai SE Gubernur tetap berlaku.

Untuk masyarakat yang memanfaatkan jalur tikus, Polda Bali menyerahkan kepada para kapolres yang tahu wilayahnya masing-masing. Yang jelas, dari 7 pos penyekatan dianggap titik-titik yang paling sentral utama yang biasa dilakukan masyarakat berlalu-lalang menuju tempat di mana keluar dan masuk Pulau Bali. Diperkirakan dari 7 pos penyekatan tersebut sudah cukup untuk bisa dikembalikan kalau yang bersangkutan tak sesuai aturan berlaku terkait larangan mudik. Begitu juga dari otoritas Bandara Ngurah Rai sudah menyampaikan kesiapannya baik terkait masalah protokol kesehatan juga tentang pemeriksaan yang dilakukan secara terpadu.

Terkait kemungkinan adanya travel gelap, Kapolda menegaskan melalui Ditlantas sudah melakukan antisipasi, sudah mengecek andaikata ada perjalanan melalui armada travel jika tidak dilengkapi dengan surat-surat tentu akan dikembalikan. ‘’Kita larang yang bersangkutan untuk melintas di Pulau Bali. Tadi Dinas Perhubungan menyampaikan yang diizinkan travel yang ada stiker dan ada scan barcodenya yang dinyatakan sah yang bisa mengangkut penumpang. Apabila tak ada stiker berarti yang bersangkutan adalah travel gelap dan tidak diizinkan untuk beroperasi dan kami tindak untuk kembali,’’ tegasnya seraya menyampaikan jika tertangkap pihak kepoliisan akan melakukan penilangan sesuai UU Lalulintas. Jika ada pasalnya bahkan juga bisa ditahan. Tetapi, kalau mengangkut barang tak ada larangan karena memang dikecualikan terkait angkutan logistik.

Bagi yang mencuri start, Kapolda menandaskan sebelum tanggal operasi ketupat Polda Bali telah melaksanakan pengetatan, imbauan juga operasi rutin dalam rangka mencegah keluar masuknya warga dalam rangka kegiatan hari raya Idul Fitri.

Selain itu, Polda Bali juga membentuk satgas preventif untuk melakukan patroli fokus pengamanan di wilayah terkait rumah-rumah yang mungkin ditinggalkan. Para bhabinkamtibmas juga mendata rumah-rumah kosong di wilayahnya masing-masing.

Sementara Direktur Ditlantas Poda Bali Kombes Pol. Indra, SIK menambahkan terkait kebijakan pelarangan mudik, bahwa bus tidak boleh ada operasi kecuali yang ada stiker. Dan itu pun penumpangnya dilengkapi surat bebas Covid dan surat izin keluar masuk. ‘’Tanpa itu penumpang tidak boleh bepergian, walaupun bus itu ada stikernya,’’ ucap Kombes Indra.

Dikatakan, hal ini sudah dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan dan Polda Bali sudah memasang anggota di terminal dan di pol-pol bus di luar terminal. Sehingga tak ada bus walaupun punya stiker boleh beroperasi kalau penumpangnya tak dilengkapi surat-surat.

Diimbuhkan lagi, penyekatan dilakukan di 7 titik yakni mulai dari Umaanyar menyekat yang dari Denpasar. Di Megati menyekat dari Denpasar, Badung dan Tabanan dan terakhir di Gilimanuk. Sedangkan ada tiga di wilayah timur yakni di simpang Masceti Gianyar, di Yeh Malet perbatasan Klungkung Karangasem dan sebelum masuk Pelabuhan Padangbai. Satu lagi di Bali Utara di daerah Pejarakan untuk antisipasi Bali Utara dan mereka ada sip-sipan.

‘’Sekarang sudah mulai melakukan pengetatan. Bagi masyarakat yang memang tak memiliki surat keterangan negatif tak boleh berangkat dan tentunya ada sanksi,’’ ujarnya seraya menutup bahwa Operasi Ketupat dari 6-7 Mei 2021 dan tanggal 18 sampai 25 Mei 2021 akan ada lagi operasi pengetatan. (gs)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Bupati Sanjaya Hadiri Pemelaspasan Padmasana RSUD Singasana

Tekankan Makna Yadnya dan Pelayanan Preventif

Loading

Published

on

By

karya RSUD Singasana
HADIRI KARYA: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menghadiri Karya Pemelaspasan Agung lan Ngenteg Linggih Ring Padmasana RSUD Singasana, Jumat (1/5). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menghadiri Karya Pemelaspasan Agung lan Ngenteg Linggih ring Padmasana RSUD Singasana, Jumat (1/5). Turut hadir dalam kesempatan tersebut Sekda Tabanan, Asisten II, para kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkab Tabanan, serta Direktur Utama RSUD Singasana berserta staf.

Dalam arahannya, Bupati Sanjaya menekankan pentingnya pelaksanaan yadnya sebagai bagian dari warisan leluhur yang sarat makna filosofis. Ia menyampaikan bahwa prosesi ngupasaksi yadnya yang dilaksanakan telah berjalan dengan baik, dipuput oleh Ida Sang Sulinggih, serta disaksikan oleh unsur pemerintah dan masyarakat.

Menurutnya, yadnya bukan sekadar ritual, tetapi memiliki esensi spiritual yang mendalam dan menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan hidup. Ia menilai karya yang dilaksanakan oleh manajemen RSUD Singasana telah mencerminkan yadnya yang satwika, utama, dan dilandasi ketulusan.

“Hari ini kita datang berkumpul bersama melaksanakan ngupasaksi yadnya yang sudah berjalan dengan baik. Dipuput oleh sang sulinggih, disaksikan oleh pemerintah dan masyarakat, artinya karya ini sudah dilaksanakan dengan tulus ikhlas dan memenuhi unsur tri upa saksi, sehingga berjalan baik secara sekala dan niskala,” ujar Sanjaya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pemahaman terhadap esensi yadnya perlu terus ditingkatkan oleh umat. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam yadnya merupakan pedoman penting dalam kehidupan, termasuk dalam menjalankan tugas pelayanan publik.

Selain itu, orang nomor satu di Tabanan itu juga berpesan kepada manajemen RSUD Singasana agar mampu mengedepankan pelayanan preventif dalam melayani masyarakat. Ia menekankan pentingnya sosialisasi kesehatan sebagai langkah awal untuk mencegah penyakit sejak dari hulu.

“Kepada manajemen rumah sakit, saya berpesan agar pelayanan preventif lebih dikedepankan. Bagaimana cara agar masyarakat tetap sehat perlu terus disampaikan, sehingga pencegahan bisa dilakukan sejak dini, termasuk dalam penanganan kasus seperti stunting,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika masyarakat pada akhirnya membutuhkan layanan rumah sakit, maka pelayanan yang diberikan harus tetap maksimal dan profesional sesuai dengan kebutuhan pasien.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Singasana, I Wayan Doddy Setiawan menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Bupati Tabanan terhadap pembangunan fasilitas spiritual di lingkungan rumah sakit. “Berdirinya Padmasana ini merupakan bentuk support dan komitmen Bapak Bupati. Kami sangat berterima kasih karena beliau selalu memperhatikan keseimbangan pembangunan infrastruktur kesehatan dengan penguatan nilai spiritual,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan Padmasana telah rampung pada akhir tahun 2025 dan diharapkan mampu mendukung keseimbangan sekala dan niskala dalam pelayanan kesehatan. “Kami berharap sinergi ini dapat mempercepat kesembuhan pasien serta memberikan ketenangan bagi seluruh staf,” tambahnya. Pada kesempatan tersebut, pembangunan Padmasana di RSUD Singasana juga diresmikan langsung oleh Bupati Sanjaya yang ditandai dengan penandatanganan prasasti sebagai simbol peresmian. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Pangdam IX/Udayana Pimpin Sertijab Pejabat Utama: Tekankan Inovasi, Profesionalisme

Sejumlah Pejabat Kodam IX/Udayana Diserahterimakan Termasuk Kapendam

Loading

Published

on

By

pangdam udayana
SERTIJAB: Panglima Kodam (Pangdam) IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto memimpin langsung upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan tradisi laporan korps sejumlah pejabat strategis di lingkungan Kodam IX/Udayana di Aula Supardi Makodam IX/Udayana, Denpasar, pada Jumat (1/5/2026). (Foto: Pendam IX)

Denpasar, baliilu.com – Panglima Kodam (Pangdam) IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto memimpin langsung upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan tradisi laporan korps sejumlah pejabat strategis di lingkungan Kodam IX/Udayana. Prosesi yang berlangsung khidmat ini digelar di Aula Supardi Makodam IX/Udayana, Denpasar, pada Jumat (1/5/2026).

Rotasi kepemimpinan ini mencakup sejumlah posisi penting, termasuk jabatan Kapendam IX/Udayana. Pangdam menegaskan bahwa regenerasi ini merupakan bagian esensial dari pembinaan organisasi untuk memastikan satuan tetap adaptif, segar, dan profesional dalam menghadapi dinamika wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

“Rotasi jabatan adalah upaya mendorong peningkatan kualitas kepemimpinan dan kinerja satuan. Saya berharap seluruh pejabat baru mampu terus berinovasi serta meningkatkan profesionalisme guna kemajuan Kodam IX/Udayana,” tegas Mayjen TNI Piek Budyakto.

Dalam kesempatan tersebut, Pangdam memberikan apresiasi tinggi kepada para pejabat lama atas dedikasi luar biasa yang telah diberikan. Beberapa jabatan yang diserahterimakan antara lain:

1). Aslog Kasdam IX/Udayana: Dari Kolonel Inf Ardi Sukatri, S.Sos., M.H. kepada Kolonel Inf Is Abul Rasi, S.E. 2). Kaifolahtadam IX/Udayana: Dari Kolonel Inf Komang Agus M.P., S.Sos. kepada Kolonel Inf Kadek Abriawan, S.I.P., M.H.I. 3). Kapendam IX/Udayana: Dari Kolonel Inf Widi Rahman, S.H., M.Si. kepada Kolonel Inf Amrizal Nasution. 4). Dankikav KKA: Dari Kapten Kav Fredy Anggriawan, S.T.Han. kepada Kapten Kav Muhammad Azhar, S.Tr (Han).

Selanjutnya Pangdam juga menyampaikan selamat datang dan selamat bertugas kepada pejabat baru lainnya, yaitu Kolonel Inf Albertus Yostina David A. sebagai Kasrem 161/Wira Sakti, Kolonel Inf I Made Alit Yudana sebagai Kasrem 162/Wira Bhakti, Kolonel Inf Ismulyono Triwidodo sebagai Kasipers Kasrem 161/Wira Sakti, Letkol Inf Jenris Yulmal Vinas sebagai Kasiintel Kasrem 163/Wira Satya, Letkol Inf Suratman, S.I.P. sebagai Kasiops Kasrem 163/Wira Satya, serta Letkol Inf Sutikno sebagai Kasipers Kasrem 162/Wira Bhakti.

Kegiatan Sertijab dan tradisi laporan korps ini diharapkan semakin memperkuat soliditas organisasi serta kesiapan Kodam IX/Udayana dalam menjawab berbagai tantangan tugas ke depan, khususnya dalam menjaga stabilitas wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Menutup sambutannya, Pangdam IX/Udayana meneruskan arahan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya dukungan seluruh elemen TNI terhadap program strategis nasional. Fokus utama adalah pembangunan sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan cerdas demi mewujudkan visi Generasi Emas 2045.

Terkait isu ketahanan nasional, Pangdam juga menyampaikan pesan penyejuk kepada masyarakat. “Masyarakat tidak perlu cemas terkait kebutuhan pokok, khususnya sektor energi. Saat ini kondisi dipastikan aman dan terkendali,” pungkasnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya Kasdam IX/Udayana, Irdam IX/Udayana, Kapok Sahli Pangdam IX/Udayana, Danrindam IX/Udayana, Asrendam IX/Udayana, Para Asisten Kasdam IX/Udayana, LO TNI A, LO TNI AU, Kasrem 163/WSA, Para Dan/Kabalakdam IX/Udayana, Ketua dan Wakil Ketua serta Pengurus Persit KCK PD IX/Udayana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Restorasi Suci Pura Agung Besakih Dimulai, Gubernur Koster Kembalikan Keagungan Parahyangan

Published

on

By

restorasi pura besakih
PELAKSANAAN NGERUAK: Gubernur Bali Wayan Koster menandai pelaksanaan upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama (groundbreaking) Tahap II Paket Pekerjaan Penataan Area Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Rendang, Karangasem, Jumat (1/5), bertepatan dengan Rahina Purnama di kawasan Pura Banua Besakih, Rendang. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster resmi memulai langkah besar yang telah lama dirancangnya: Restorasi Kawasan Parahyangan di Pura Agung Besakih, pusat spiritual umat Hindu Bali sekaligus titik kosmologi Pulau Dewata.

Momentum sakral itu ditandai dengan pelaksanaan upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama (groundbreaking) Tahap II Paket Pekerjaan Penataan Area Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Rendang, Karangasem, Jumat (1/5), bertepatan dengan Rahina Purnama di kawasan Pura Banua Besakih, Rendang.

Di hadapan para undangan di Wantilan Kesari Warmadewa Besakih, Gubernur Wayan Koster menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan restorasi menyeluruh kawasan suci untuk mengembalikan bentuk, struktur, dan nilai asli Parahyangan sesuai pakem arsitektur Bali.

“Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian,” tegasnya.

Dari Ketidakteraturan Menuju Harmoni Suci

Restorasi ini berangkat dari realitas lapangan yang selama puluhan tahun menunjukkan ketidakteraturan. Mulai dari Kori Candi Bentar, penyengker, hingga palinggih, ditemukan perbedaan mencolok dalam material, warna, motif, hingga ukuran.

Material bangunan bervariasi, mulai batu padas, bata merah, hingga beton campuran semen dan pasir, dengan kualitas yang tidak seragam. Sebagian bangunan bahkan mengalami kerusakan, berlumut, dan tidak terawat.

“Secara keseluruhan tidak harmonis dan tidak mencerminkan keagungan kawasan suci dengan latar Gunung Agung,” ungkap Koster.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena sebelumnya tidak ada standar baku. Penataan bergantung pada kemampuan masing-masing daerah kabupaten/ kota maupun partisipasi umat, sehingga menghasilkan tampilan kawasan yang timpang.

Melalui restorasi ini, sebanyak total 30 titik suci (pelinggih) dimana 26 diantaranya merupakan areal unsur utama Pura Agung Besakih dan 4 lainnya pura pasemetonan, akan ditata ulang dengan prinsip utama: Mengembalikan ke arsitektur pakem Bali aslinya; Menggunakan material seragam dan berkualitas; Menyeragamkan ornamen sesuai karakter asli. Tujuannya bukan hanya estetika, tetapi juga mengembalikan harmoni sekala dan niskala.

Proyek Rp 1 Triliun Lebih: Dari Parkir hingga Parahyangan

Restorasi Parahyangan merupakan tahap kedua dari penataan besar kawasan Besakih. Sebelumnya, pada tahap pertama, pemerintah telah menata palemahan melalui pembangunan gedung parkir, fasilitas umat, hingga kios pedagang.

Total anggaran yang digelontorkan untuk keseluruhan penataan mencapai lebih dari Rp 1 triliun, dengan rincian penataan tahap pertama total sekitar Rp 911 miliar yang asalnya dari APBN sekitar 430 miliar dan sekitar Rp 480 miliar dari APBD Pemerintah Provinsi Bali. Menariknya, pembangunan tahap awal tetap berjalan di tengah tekanan pandemi Covid-19. Kemudian pembangunan tahap II yang sudah juga dilaksanakan tahun 2025 dengan biaya 66 miliar, akan dituntaskan tahun 2026 dengan anggaran 203 miliar yang merupakan sharing anggaran bersama Pemkab Badung.

Namun bagi Koster, perubahan paling nyata justru dirasakan pada aspek akses dan parkir yang sebelumnya menjadi sumber persoalan klasik.

“Dulu krodit sekali. Kendaraan menumpuk, umat tidak bisa masuk, bahkan ada yang sembahyang dari jalan lalu pulang,” kenangnya.

Kini, dengan sistem parkir terpusat dan pengaturan berbasis kebijakan gubernur, kemacetan yang dulu kerap terjadi saat upacara besar nyaris tidak lagi ditemukan.

Restorasi Bukan Sekadar Proyek, Tapi Laku Spiritual

Lebih jauh, Koster menegaskan bahwa proyek ini tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan konstruksi biasa. “Ini linggih stana Ida Bhatara. Harus dikerjakan dengan rasa, dengan doa, tidak bisa asal bangun,” ujarnya.

Ia bahkan meminta seluruh kontraktor bekerja dengan kesadaran spiritual, mengawali dan mengakhiri pekerjaan dengan doa. “Jangan hanya mikir untung. Kalau kualitas dikurangi, hasilnya tidak baik. Ini tempat suci, bukan proyek biasa,” tegasnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan keras agar tidak ada kompromi terhadap kualitas dalam proyek yang menyangkut kawasan suci.

Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Bali

Di balik proyek besar ini, tersimpan refleksi mendalam tentang Bali sebagai ruang sakral yang diwariskan para leluhur.

Koster mengingatkan bahwa Besakih bukan sekadar kawasan religius, melainkan bagian dari sistem kosmologi Bali, Madya Ning Bhuwana, yang terhubung dengan tatanan Padma Bhuwana, Catur Loka Pala, hingga Kahyangan Jagat.

“Bali ini bukan tanah biasa. Ini tanah yang disucikan oleh para leluhur. Kita hanya melanjutkan apa yang telah mereka rintis,” ujarnya.

Ia menegaskan, generasi saat ini memikul tanggung jawab untuk menjaga dan menyempurnakan warisan tersebut, sebelum nantinya diwariskan kembali ke generasi berikutnya. “Bali harus tetap ada sepanjang zaman, dengan kualitas yang semakin baik,” katanya.

Tahap Lanjutan: Akses Besar, Integrasi Infrastruktur Jalan

Tak berhenti pada Parahyangan, pemerintah juga telah menyiapkan tahap ketiga, yakni penataan akses menuju Besakih dari arah Bangli, Singaraja, Karangasem, dan Klungkung. Rencana ini mencakup: 2027: Perencanaan dan DED, 2028: Pembangunan, 2029: Penyelesaian.

Dengan sistem ini, perjalanan umat dari rumah hingga ke pura diharapkan menjadi satu pengalaman spiritual yang utuh, tertata, aman, dan nyaman.

Untuk Bali, Indonesia, dan Dunia

Koster menutup dengan penegasan bahwa restorasi Besakih bukan hanya untuk Bali semata. “Ini bukan hanya untuk Bali, tetapi untuk Indonesia dan dunia,” tegasnya.

Dengan target penyelesaian tahap kedua pada November 2026, proyek ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengembalikan keagungan Pura Agung Besakih sebagai jantung spiritual yang hidup, secara fisik maupun niskala.

Sebuah kerja besar yang bukan hanya membangun, tetapi menghidupkan kembali ruh suci warisan peradaban Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca