Tuesday, 5 July 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SASTRA

Poppi Pertiwi, Novelis Bali yang Karya-karyanya Best Seller

BALIILU Tayang

:

de
Poppi Pertiwi

TAK mudah untuk melahirkan sebuah karya sastra yang begitu membius pembaca di tengah hingar-bingar hiburan di dunia digital. Namun Poppi Pertiwi mampu menghipnotis melalui buah karya novelnya. Bahkan Galaksi dan Mozachiko yang ditulis perdana tidak saja menjadi best seller, novel yang paling laris di Indonesia, juga dilirik produser untuk diangkat ke layar lebar.

Poppi Pertiwi tak menduga bahwa hobi yang ditekuninya sejak duduk di bangku SD kemudian berbuah ketika mencoba menorehkan isi hatinya setelah melihat fenomena anak remaja saat-saat menikmati masa sekolahan. Duduk di bangku SMK Teknologi Informatika tahun 2015, Poppi mulai menulis dan dalam waktu dua tahun lebih novel karya perdana berjudul Galaksi rampung dicetak.

Tak terduga, Galaksi mendapat respons luar biasa dari pembaca hingga sempat jadi best seller, novel terlaris di Gramedia. Sudah masuk cetakan kedelapan dengan terjual 26.500 eksemplar, Poppi Pertiwi pun semakin dikenal di media social dengan follower di antaranya 574.000 wattpad poppi pertiwi, 118.000 istagram poppi pertiwi, dan 89.246 istagram wattpadpi. Akhir 2018 Galaksi mendapat kontrak dari Rafi Film, namun kemudian tertunda karena pandemi Covid-19.

Di saat merampungkan Galaksi, Poppi Pertiwi yang lahir di Denpasar, 15 April 2000 silam juga menuntaskan novel Mozachiko.  Berkisah tentang anak sekolahan, Mozachiko juga mengikuti jejak Galaksi menjadi novel best seller. Kini sudah memasuki cetakan keempat dan kali ini Mozachiko dilirik produser Md Picture.

Poppi Pertiwi bersama I Wayan Sudia,SH, konsultan hukumnya

‘’Dari karya-karya novelnya yang begitu dikagumi pembaca, Poppi Pertiwi memang anak berbakat. Ia punya potensi dan talenta yang luar biasa dalam dunia menulis novel yang belum diketahui oleh banyak generasi muda Bali,’’ ujar I Wayan Sudia,SH, konsultan hukum Poppi Pertiwi kepada awak media di Garden Groove Jl. Tukad Balian Denpasar, Kamis (26/11).

Wayan Sudia lalu tak ingin bakat dan talenta dari seorang Poppi Pertiwi hanya untuk seorang diri. Poppi Pertiwi yang didukung Wayan Sudia ingin berbagi kepada generasi muda atau kaum millenial. Karena ia tahu banyak anak yang punya potensi sebagai penulis karya ilmiah, puisi dan ada juga wartawan.

‘’Saya kira apa yang dilakukan Poppi Pertiwi sebagai seorang penulis yang begitu ditunggu-tunggu karyanya bisa menjadi spirit bagi penulis atau calon penulis di Bali. Oleh karena itu, Poppi Pertiwi siap menjadi mentor jika ada pelatihan penulisan novel atau sejenisnya,’’ terang Wayan Sudia yang merasa terpanggil untuk mendorong Poppi Pertiwi berbagi ilmu kepada generasi muda Bali.

Wayan Sudia yang berkantor di Jalan Tukad Badung 20G ini melihat ada potensi baru bagi generasi muda Bali yang mau mengikuti jejak Poppi Pertiwi, selain mengasah bakat juga ada peluang menghasilkan sesuatu.

Sebagai seorang selegram sejuta follower, dengan karya novel-novelnya yang dikagumi pembaca, Poppi Pertiwi juga ingin menghimpun komunitas, mendorong anak muda sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri. Komunitas ini juga bisa sebagai marketing development seperti karya-karya lain atau merchandise.

Poppi Pertiwi ditemani ibunda dan I Wayan Sudia, SH

Galaksi, Mozachiko yang sudah beredar ke seluruh negeri, dan novel ketiga Septihan yang sudah dibaca jutaan kali begitu dikagumi tak terlepas dari tema-tema yang diangkat begitu dekat dengan persoalan anak remaja. Kisah sederhana soal persahabatan, teen fiction, tidak boleh ego sendiri, seseorang harus bekerja sama dan bisa kumpul dengan teman.

Poppi Pertiwi mengatakan di novel Septihan selain bercerita tentang masa putih abu-abu dan persahabatan, juga tentang perjuangan dan doa yang mampu meluluhkan hati.

Sedangkan di Mozachiko, Poppi sempat menamai My Prince Charming/A&A sebagai judul awal lalu mengubah menjadi Mozachiko yang mengisahkan seorang Moza yang tampil culun. Perjuangan Moza untuk mendapatkan Chiko sia-sia. Moza pergi mencampakkan Chiko, namun Chiko sadar kalau Moza sangat berarti dalam hidupnya. Tiba-tiba Moza muncul dengan penampilan yang jauh berbeda. Justru Chiko meminta Moza kembali dan berubah menjadi cewek yang dikenal dulu. ‘’Semoga cerita Moza dan Chiko membekas di hati pembaca, memberi pesan yang positif untuk kita semua,’’ tutur Poppi Pertiwi yang kini siap-siap menyelesaikan dua novel berikutnya. (gs)

Advertisements
iklan galungan pemkot

iklan galungan pemprov
Advertisements
iklan galungan dprd bali
Advertisements
iklan galungan dprd badung
Advertisements
de
Advertisements
iklan stikom terbaru
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SASTRA

Lomba Baca Puisi Se-Bali dan Nusra

Perebutkan Piala Bergilir “Umbu Landu Paranggi”

Published

on

By

puisi
Desain brosur. (Foto: Ist)

JATIJAGAT Kehidupan Puisi (JKP) bekerja sama dengan Dedari Art Institute menggelar Lomba Baca Puisi se-Bali dan Nusra. Lomba ini akan memperebutkan hadiah total Rp 5 juta dan Piala Bergilir “Umbu Landu Paranggi”.

Piala bergilir tersebut berbentuk patung berbahan kayu cendana dari Kupang, NTT, yang secara khusus disumbangkan oleh Dewa Putu Sahadewa selaku pencetus kegiatan ini. Lomba ini diselenggarakan berkaitan dengan program roadshow dan perayaan buku puisi Siwanggama (Pustaka Ekspresi, 2022) karya Dewa Putu Sahadewa.

Lomba terbuka untuk umum tanpa batasan umur. Pendaftaran dimulai dari tanggal 20 Juni 2022 dan ditutup tanggal 8 Juli 2022 di Sekretariat JKP, Jl. Cok Agung Tresna No. 109 Renon, Denpasar. Pertemuan teknis akan diadakan secara luring dan daring (melalui Zoom) pada hari Jumat, 8 Juli 2022, pukul 14.00 Wita di sekretariat JKP.

Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran, membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000, dan mengambil nomor undian penampilan peserta. Pendaftaran bisa juga melalui kontak person 081558151586 (Wini Arthini). Setiap peserta akan mendapatkan buku puisi Siwanggama.

Lomba akan digelar secara langsung pada hari Minggu, 10 Juli 2022 di sekretariat JKP. Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada tanggal yang sama setelah lomba usai digelar.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh komunitas Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP) bekerja sama dengan Dedari Art Institute dan didukung oleh Pustaka Ekspresi, Villa Umah Putih, dan Dewanta Mental Healthcare (DMH). (gs/bi)

Advertisements
iklan galungan pemkot

iklan galungan pemprov
Advertisements
iklan galungan dprd bali
Advertisements
iklan galungan dprd badung
Advertisements
de
Advertisements
iklan stikom terbaru
Lanjutkan Membaca

SASTRA

Dokter Sahadewa Launching ‘’Siwanggama’’ di Puri Langon Ubud

Antologi Puisi Tunggal Keempat yang Ditulis Sejak 1980

Published

on

By

antologi
dr. Dewa Putu Sahadewa bersama Cokorda Ngurah Suyadnya. (Foto: Ist)

Gianyar, baliilu.com – Berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan, ternyata tidak menyurutkan ide dr. Dewa Putu Sahadewa, SopOG K untuk terus berkarya mengguratkan untaian kata syair-syair puisi.

Launching buku ‘’Siwanggama’’ di Puri Langon Ubud, Minggu (29/5) sore menjadi bukti keistimewaan seorang dokter Putu Sahadewa. Tak saja suntuk menjadi pelayan kesehatan di RSIA Dedari di Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ia juga mampu merampungkan antologi puisi tunggal keempatnya bertajuk Siwanggama. Kumpulan puisi yang ditulisnya sejak tahun 1980 silam ini begitu menarik, karena menyangkut dokter yang berkesenian dan sangat aktif dalam setiap event seni kontemporer.

Kesehariannya, dr. Dewa Putu Sahadewa memang bertugas di pelayanan kesehatan RSIA Dedari di Kupang NTT. Namun setiap saat berada di Bali hanya demi kesenian. Ratusan puisi yang dirangkum dalam buku ini dibedah oleh Prof. Dr. Nyoman Darma Putra. Menurut Prof. Darma Putra, seorang dokter menjadi sastrawan itu bukanlah hal baru. Namun, dokter sebagai penyair tetap memiliki keistimewaan. Siwanggama, berdasarkan prediksinya adalah sebuah persandian.

“Sandi kode rahasia. Sandi juga pertemuan dua vokal yang berubah bunyi. Ketika itu persandian, kita bisa melihat simbol tempat Sahadewa menyampaikan gagasan. Bagaimana teknik persandian jadi suatu ciri dalam puisi,” terang Prof. Darma Putra.

dr. Sahadewa bersama Prof. Dibia. (Foto: Ist)

Namun dalam puisi ini, lanjut Darma Putra, bukan pertemuan dua kata yang ditemukan, melainkan pertemuan laki-laki dan perempuan. “Dan demikian memang isi puisi ini. Ada banyak puisi yang temanya searah. Bagaimana perempuan dan laki-laki bertemu lahir buah hati jadi dewasa, bertemu kembali. Saya lihat sebagai siklus kelahiran, percintaan,” ujar Prof. Darma Putra.

Dari gaya bahasa, menurut Prof. Darma Putra, dr. Sahadewa mengekplorasi istilah-istilah kedokteran khususnya dokter ahli kandungan sebagaimana profesinya. “Ada istilah yang tidak bisa menyembunyikan profesi. Misal, muncul angka 23. Ternyata setelah saya cari itu kaitannya dengan kromosom, saya baca merupakan unsur informasi genetik manusia. Mulanya 23 saya kira rahasia aksara Bali, ternyata bukan. Ini mengantarkan kita mencari makna bahasa metafora seorang dokter,” jelasnya.

Sementara dr. Sahadewa mengungkapkan Buku Siwanggama merupakan antologi puisi yang keempat, karya tunggalnya. “Berisi kumpulan puisi yang meretrospeksi dari awal tiyang menulis puisi dari tahun 1980-an, ada terkumpul beberapa puisi sampai puisi yang terakhir saya gabung dan kita pilih untuk bisa berbicara khususnya adalah bagaimana konsep-konsep penyatuan,” jelas dokter ahli kandungan kelahiran Denpasar, 23 Februari 1969 ini.

Penyatuan yang dimaksud antara lain penyatuan purusa-pradana, kawisesan dan kawiwekan pertemuan kecerdasan dan kesaktian, penyatuan bibit-bibit semesta dan alam. “Penyatuan diri kita dengan alam dan sang pencipta. Walaupun cara bicaranya sangat banyak berbagai macam sudut kita ambil bahkan ada bicara secara bahasa kedokteran kesehatan juga masuk dan pemujaan,” terang Sahadewa yang sejak remaja aktif bermain teater ini. Dalam Siwanggama ini, dr. Sahadewa mengaku banyak mengungkapkan isi hati dalam pencarian diri dan ingin menemukan dan pada akhirnya mengharmonisasikan diri dengan alam semesta dan sang pencipta. Puri Langon dipilih sebagai panggung pertunjukan karena menurutnya tempat ini sangat artistik indah dan unsur mistis.

“Saya ingin memaksimalkan efek puisi yang ada di buku. Memang bukan tempat biasa, kita setting panggung memanfaatkan keindahan Puri. Tidak ada panggung khusus, tidak ada kursi, tidak ada meja, membaur saja semuanya menyatu. Di sanalah penyatuan kita, menyatu dengan tempat ini,” terang Sahadewa.

Beberapa penyair hingga pelukis dilibatkan dalam peluncuran buku ini. Sebut saja Gitaris Wayan Balawan, Made Sumadiasa, Sunylokha, Sahabhiseka, April Artison, Jengki Sunarta, Mira MM Astra, Harsharani. Spesial performance Cokorda Ngurah Suyadnya, Prof. Dr. I Wayan Dibia, Paras Paros Seni Bali. “Banyak teman sih yang ingin performance, cuman lihat durasi waktu akhirnya yang komunikasi intensif sejak penciptaan puisi sampai penerbitan itu yang saya prioritaskan ikut memeriahkan,” jelas Sahadewa.

Buku setebal 133 halaman ini tidak diperjualbelikan. Sahadewa mempersembahkan sebagai bentuk tanggung jawabnya setelah mendapat Anugerah Bali Jani Nugraha Tahun 2021. “Terima kasih ibu Putri Suastini, Pemprov Bali melalui Disbud sehingga kita dimotivasi, support untuk berkarya dan menerbitkan karya,” ujarnya.

Selaku tuan rumah, Cokorda Ngurah Suyadnya yang akrab disapa Cok Wah mengapresiasi peluncuran buku ini. Cok Wah mengaku bertemu dua bulan lalu dengan dr. Sahadewa yang datang menyampaikan ide ini. “Ke depannya atas seizin keluarga besar, kami buka pintu selebar-lebarnya tempat ini. Seandainya ada even seni, jangan sungkan ewuh pakewuh. Seni itulah sebenarnya kekayaan kita. Jadikan Puri Langon base tonjolkan kepentingan seni,” ujarnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan galungan pemkot

iklan galungan pemprov
Advertisements
iklan galungan dprd bali
Advertisements
iklan galungan dprd badung
Advertisements
de
Advertisements
iklan stikom terbaru
Lanjutkan Membaca

SASTRA

Timbang Renung Buku IB Sindhu, Sebuah Spiritualitas Modern

Published

on

By

de
TIMBANG RENUNG: Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, Sp.OGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Renon, Minggu (19/12). Hadir dari kiri ke kanan, kritikus sastra Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., Yuda Triguna, Wayan Mustika, Wayan Jengki Sunarta, dan budayawan Wayan Westa. (Foto: Ist)

SEBUAH buku bertajuk “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, Sp.OGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Warung Mina, Renon, Minggu (19/12). Selain menghadirkan kritikus sastra Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., tampil pula pembahas budayawan Wayan Westa, sastrawan Wayan Jengki Sunarta, penekun spiritual Wayan Mustika, serta mantan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama.

Pada acara Timbang Renung yang dimoderatori oleh penyair dr. Dewa Putu Sahadewa, mengemuka pandangan bahwa sains, seni dan agama pada hakikatnya saling melengkapi pandangan perihal bagaimana kehidupan di bumi dan jagat raya ini tercipta.

Buku yang diterbitkan Pustaka Ekspresi (2021) ini berisi 24 tulisan percik-percik renungan. “Semisal pada Bab I bukunya, IB Sindhu mengupas tentang anatomi pikiran yang terdiri dari Buddi, Mannas, Ego dan Citta, berikut cara-cara kita untuk mengelola atau menyeimbangkannya. Atau, pada Bab VII, diulas perihal Dunia Imajiner, yang mengajak kita merenung bahwa dunia “nyata” ini sesungguhnya hanyalah dunia imajiner. Kebenaran hanyalah sekumpulan pembenaran yang disepakati untuk dianut bersama sebagai sebuah kebenaran kolektif,“ ujar Wayan Mustika.

Menyinggung tajuk buku dari IB Sindhu, yakni Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari, Prof. Dr. IBG Yudha Triguna memaparkan bahwa dalam keyakinan agama Hindu matahari disebut sebagai Dewa Surya, atau yang memiliki nama lain ‘Sawitri’. “Sawitri mengandung makna pemberi energi atau tenaga. Dengan judul buku tersebut, Pak Ida Bagus Sindhu menguraikan hal yang memang menjadi kenyataan alami, bahwa kehidupan kita tidak bisa dipisahkan dari keberadaan matahari sebagai sumber energi,” ungkap mantan Rektor Unhi Denpasar periode 2006-2012.

Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, Sp.OGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Warung Mina, Renon, Minggu (19/12). (Foto: Ist)

Terkait hubungan sains, agama, dan seni, Prof. Yudha menambahkan, “Veda sebagai sumber ajaran Hindu yang menampung segala gagasan ilmu pengetahuan meliputi pengetahuan paravidya (spiritual) dan pengetahuan aparavidya (sains dan teknologi). Melalui pendekatan interdisipliner yang menyinergikan antara kajian agama dan sains keduanya dapat saling mencerahkan. Buku-buku seperti ini layak ditulis dan diterbitkan, serta kajiannya diperdalam secara berkelanjutan.”

Budayawan Wayan Westa menimbang kehadiran buku ini sebagai upaya merenungi kehidupan dan menemukan nilai-nilai kewaskitaan. Sudah lama sains seakan-akan terpisahkan dari seni, budaya serta filosofi atau dinamika pemikiran. Melalui Timbang Renung ini, ia mengandaikan bahwa kewaskitaan atau kebijaksanaan hidup yang tersuratkan di dalam buku ini ibarat proses penemuan air oleh para tetua penekun spiritual tempo dulu. “Membaca tulisan-tulisan ini kita tidak akan menyangka bahwa ini lahir dari seorang dokter yang boleh dikata saintik. Fenomena penemuan kearifan pemikiran ini sesungguhnya bukan hal baru bila kita menyimak kisah-kisah para tetua tempo dulu, bagaimana mereka menemukan sumber air dengan satu ketajaman batin atau gabungan antara kedalaman spiritual serta pemahaman mendasar ilmu pengetahuan,” tukas Wayan Westa yang juga penulis ini.

Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” terdiri dari 24 bab, dieditori oleh Wayan Jengki Sunarta dan Dewa Putu Sahadewa. Sebagai editor, Wayan Jengki Sunarta menemukan banyak hal yang mengandung kedalaman renungan dan pemikiran dari IB Sindhu. “Tentu saja dalam proses editing saya mencoba merangkai pilahan-pilahan tulisan itu dengan frame tematik tertentu sehingga menjadi satu buku yang utuh. Membaca tulisan-tulisan IB Sindhu, saya banyak belajar menyelami kewaskitaan atau pengetahuan luhur tentang tubuh dalam pandangan sains dan spiritual atau ajaran agama,“ ujar Jengki yang aktif bergiat di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP).

Sementara itu, bagi Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., kurang tepatlah kiranya ungkapan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’. Sebab menurutnya, justru kita harus menilai kehadiran buku ‘Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari’ ini pertama-tama melalui sampulnya. “Bila melihat sampul buku ini, kita sesungguhnya melihat sebuah dekonstruksi atas konstruksi (gambar pohon) yang lazim selama ini. Jadi, sampulnya mencerminkan keseluruhan isi buku ini, di mana kita dihadapkan pada pikiran-pikiran yang didekonstruksi atau dibalik. Ibarat sebuah ajakan bagi kita untuk merenung atau menoleh kembali ke belakang,” ungkap Guru Besar Bidang Sastra di FIB Universitas Udayana ini. Adapun lukisan sampul buku merupakan karya perupa Nyoman Sujana Kenyem.

Dari sisi kebahasaan, Prof. Darma Putra menyebutkan, buku ini secara lincah menyampaikan berbagai gagasan pikiran dalam aneka bahasa yang hadir dalam hetereglossia atau polifoni, sebuah konsep yang dikemukakan oleh filsuf Rusia Michael Bakthin. Menurut Darma Putra, IB Sindhu menyampaikan tulisan-tulisannya dalam 2 level bahasa, yang pertama meliputi bahasa sains, agama, komputer, kesehatan, filsafat, dan lain-lain.  Pada level kedua yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, konsep-konsep Hindu, Budha dan konsep bahasa sains.

Buku IB Sindhu ini, menurut Wayan Mustika, merefleksikan penulisnya adalah seorang praktisi medis yang dibesarkan bersama-sama dengan vibrasi agama dan sains. IB Sindhu telah tiba pada titik yang disebut “spiritualitas modern”; sebuah momentum pencerahan yang lahir dari irisan antara agama dan sains tersebut. 

Acara peluncuran dan diskusi buku yang diselenggarakan oleh Dedari Institute for Art ini diikuti pula 77 peserta dari berbagai kota di tanah air secara daring melalui zoom meeting. Terdiri dari kalangan mahasiswa, sastrawan, seniman, dokter, praktisi, dan lintas bidang lainnya. (*/gs)

Advertisements
iklan galungan pemkot

iklan galungan pemprov
Advertisements
iklan galungan dprd bali
Advertisements
iklan galungan dprd badung
Advertisements
de
Advertisements
iklan stikom terbaru
Lanjutkan Membaca