Sunday, 2 October 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Purwa Carita Campuhan, Kompetisi Ide Cerita Film Pendek tentang Pelestarian Lingkungan dari Cerita Rakyat Bali

BALIILU Tayang

:

campuhan
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana (angkat tangan) didampingi Sutradara Garin Nngroho (kiri) saat konferensi pers di Ubud Gianyar, Senin (29/8/2022). (Foto: Ist)

Gianyar, baliilu.com – Yayasan Puri Kauhan Ubud bekerja sama dengan Minikino (Organisasi Festival Film Pendek) mengadakan kompetisi film pendek yang mengambil inspirasi dari cerita rakyat Bali dengan tema pemuliaan air dan pelestarian alam-lingkungan di Bali.  Kompetisi yang masih dalam rangkaian acara Sastra Saraswati Sewana tersebut akan memberikan apresiasi berupa dana produksi masing-masing 25 juta rupiah bagi 5 ide film pendek terbaik. Tujuan kompetisi ini, yaitu memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

“Mengapa cerita rakyat? Ini penting sekali untuk saya sampaikan bahwa masyarakat Bali ketika berbicara tentang budayanya atau berbicara tentang sistem keyakinannya, itu tidak hanya merujuk pada teks atau lontar, tetapi biasanya merujuk pada mitologi, cerita-cerita yang berkembang dan tumbuh di dalam masyarakat. Dan itu ada terjadi di berbagai tempat di Bali. Kepercayaan atau pengetahuan yang muncul bukan karena membaca teks saja, namun juga karena banyak mendengar cerita atau mitologi,” ujar Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana saat konferensi pers di Ubud, Gianyar, Senin (29/8/2022).

Ari menilai, cerita-cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Bali banyak mengandung pesan yang luar biasa, terutama tentang konservasi lingkungan serta konservasi budaya. Misalnya, cerita tentang hutan larangan/alas kekeran,  suatu kawasan hutan yang dilindungi secara adat. Ada aturan tidak tertulis dengan wahana cerita rakyat, seperti tumbuhannya tidak boleh dipetik dan  jika dipetik dapat membuat pemetiknya tersesat  dan banyak  cerita lainnya. Pesannya jelas,  manusia harus menjaga alam dan tidak boleh merusaknya.

Sementara itu, sutradara Garin Nugroho yang menjadi ketua dewan juri dalam kompetisi tersebut mengatakan, isu seni budaya dan lingkungan menjadi isu utama dunia saat ini. Dunia memberikan perhatian lebih terhadap perpaduan isu tersebut, khususnya pascapandemi Covid-19 yang menggoncang dunia. Lebih lanjut Garin bercerita, bahwa sebagian besar film animasi khususnya yang bertemakan keluarga yang diproduksi Hollywood bersumber dari cerita rakyat masyarakat Timur Tengah.

Baca Juga  Desa Dauh Puri Kaja dan OPD Pemkot Denpasar Giatkan Pelestarian Lingkungan di Aliran Sungai Tag Tag

“Kalau kita lihat hampir 60% film yang diproduksi Hollywood khususnya yang animasi dan keluarga temanya itu diambil dari cerita rakyat masyarakat timur tengah, ada Simba, Aladin, dan sebagainya. Artinya, cerita rakyat itu menjadi sumber produksi film yang pesannya disebarkan ke seluruh dunia,” tutur Garin.

Lebih lanjut, Garin menilai, saat ini komposisi masyarakat Indonesia 60%-nya penduduk usia muda, yang sebagian besar hidup dan dihidupi oleh handphone atau dunia digital. Dengan demikian, langkah Yayasan Puri Kauhan Ubud melakukan kompetisi film pendek yang dapat terakses dengan mudah dalam dunia digital adalah langkah yang tepat guna memperkenalkan kembali cerita rakyat yang memiliki pesan terkait konservasi alam dan lingkungan.

Rangkaian acara kompetisi film pendek tersebut akan berlangsung dari September – Desember 2022. Adapun tahap pertama kompetisi ini, yaitu pendaftaran proposal ide cerita yang dibuka dari tanggal 1 – 15 September 2022. Ide proposal dari semua peserta yang mendaftar akan dinilai dan diseleksi oleh para dewan juri yang kompeten.  Ketua dewan juri  Garin Nugroho (sutradara dan produser) dan Happy Salma (artis dan produser),  Tjokorda Raka Kerthyasa (Bendesa Desa  Adat dan tokoh budaya),  Robby Navicula (musisi yang peduli terhadap isu lingkungan), Anak Agung Gde Ariawan (Yayasan Puri Kauhan Ubud dan pemerhati seni), dan I Wayan Suarmaja (Koordinator penyuluh Bahasa Bali).

Sastra Saraswati Sewana 2022 mengangkat tema ‘’Toya Uriphing Bhuwana, Usadhaning Sangaskara, Air Sumber Kehidupan Penyembuh Peradaban’’. Kegiatan ini fokus di tiga tempat yaitu, Hulu, Tengah (campuhan) dan pesisir. Kegiatan di tengah diselenggarakan di sepanjang DAS OOS yang diselenggarakan sejak bulan Juni 2022 dan diisi dengan berbagai kegiatan, seperti penanaman pohon, bersih-bersih petirtan dan sumber mata air, inventarisasi peninggalan arkeologi di sepanjang DAS Oos, revitalisasi desa wisata melalui pelatihan desa wisata dan pelatihan pengelolaan sampah, pelatihan pemanfaatan tanaman obat untuk kesehatan keluarga, upacara bendera di campuhan dan parade seni HUT Ke-77 Kemerdekaan RI, pameran Seni Rupa Toya-Agra-Rupa yang dirangkai kegiatan art-talk dan lomba seni lukis anak-anak SD dengan tema lingkungan,  pentas seni Nyapuh Tirah Campuhan, hingga kompetisi film pendek yang diinspirasi cerita-cerita rakyat masyarakat Bali. (*/bi)

Baca Juga  Desa Dauh Puri Kaja dan OPD Pemkot Denpasar Giatkan Pelestarian Lingkungan di Aliran Sungai Tag Tag

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Jadi Aset Daerah Kota Denpasar, Tradisi “Meburu” Dibuatkan Film Dokumenter

Published

on

By

Meburu
Sekda Alit Wiradana bersama Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan sejumlah tokoh masyarakat Desa Adat Panjer. saat saat film dokumenter berjudul "Meburu", Rabu (28/9). (Foto : Ist)

Denpasar, baliilu.com – Film Dokumenter berjudul “Meburu”, yang merupakan hasil karya Karang Taruna Pramartha Jaya Sabha Yowana Desa Adat Panjer, berkolaborasi dengan Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali, diserahkan secara simbolis kepada Sekda Kota Denpasar, IB Alit Wiradana, sebagai aset Daerah Kota Denpasar pada Rabu, (28/09).

Sebelum penyerahan secara simbolis berupa piringan hitam, film ini disaksikan langsung di ruang audio visual Gedung Dhrama Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar, oleh Sekda Alit Wiradana, bersama Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan sejumlah tokoh masyarakat Desa Adat Panjer.

Adapun anggota Karang Taruna Pramartha Jaya Sabha Yowana, yang juga selaku tim pembuatan film, A.A Ngurah Eka Pratama mengatakan, film dokumenter yang bercerita tentang tradisi Desa Adat Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, yakni “Meburu” (berburu), adalah sebuah tradisi turun temurun yang dilaksanakan sebelum pengarakan Ogoh-ogoh, di mana pemangku yang kerasukan Bhuta Kala (Roh-roh) akan berlari dengan cepat berburu sesajen yang telah disiapkan, dan kemudian diminta kembali ke alam mereka agar tidak menggangu kehidupan warga pada saat perayaan Hari Suci Nyepi

Di sela acara, Sekda Alit Wiradana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya pembuatan film dokumenter ini sebagai wujud pelestarian dan memperkenalkan kepada publik, akan adat, budaya, dan tradisi asli Desa Adat Panjer.

“Selaku Pemerintah Kota Denpasar, kami mendukung dan selalu berusaha memberikan wadah atas segala bentuk kreativitas generasi muda di Kota Denpasar, dan jadikan ini selaras dengan visi Kota Kreatif Berbasis Budaya,” tandasnya. (gita/eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Baca Juga  Desa Dauh Puri Kaja dan OPD Pemkot Denpasar Giatkan Pelestarian Lingkungan di Aliran Sungai Tag Tag
Lanjutkan Membaca

SENI

Ny. Putri Koster Saksikan Penayangan Perdana Film “Tatu”

Ny. Putri Koster Apresiasi atas Kreativitas dan Kesadaran para Generasi Muda Bangkitkan Dunia Perfilman Bali

Published

on

By

ny. putri koster
Ny. Putri Koster foto bersama usai menyaksikan penayangan perdana Film "Tatu" bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Koster berkesempatan menyaksikan penayangan perdana Film “Tatu” yang merupakan film karya putra-putri terbaik Bali, bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar, Sabtu (3/9).

Mengawali arahan singkatnya, Ny. Putri Koster menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kreativitas serta kesadaran dari para generasi muda untuk membangkitkan dunia perfilman khususnya di Bali dengan mengangkat tema-tema kehidupan di tengah masyarakat. Untuk itu, pendamping orang nomor satu di Bali ini mengajak semua pihak baik itu pemerintah, para seniman bersinergi untuk bersatu padu membangkitkan kembali dunia perfilman. Kita mulai dari anak muda Bali, pemainnya orang Bali, ditonton masyarakat Bali sehingga dunia sinema semakin bergeliat.

Wanita yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga berharap agar para seniman tidak berhenti berkarya untuk  menghasilkan Garapan-garapan film berkualitas dengan mengangkat hal-hal kecil yang terjadi di masyarakat sekitar. Dari Bali kita mulai angkat tema film yang mengandung kearifan lokal, dari Bali kita akan mengimbas ke nusantara sehingga perfilman bangkit. Kita jadikan Bali sebagai pusat industri perfilman Nusantara.

Film Tatu merupakan film yang sangat spesial mengingat film ini selain bernuansa Bali dan mengambil lokasi syuting di Desa Tenganan, Karangasem yang asri dan indah, film ini juga  disutradarai oleh putra Bali Puja Astawa dan diperankan sekitar 40 orang pemain yang juga asli dari Bali. Film yang mengangkat tema perjuangan seorang perempuan mempertahankan hidup dengan caranya namun terhalang oleh kerasnya orang tua ini menghadirkan seniman diantaranya De Gajah, Jun Bintang, Made Adnyana, Dewi Pradewi dan IB Purwa Sidemen yang bermain peran dengan sangat apik dan natural. (gs/bi)

Baca Juga  Desa Dauh Puri Kaja dan OPD Pemkot Denpasar Giatkan Pelestarian Lingkungan di Aliran Sungai Tag Tag

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Wawali Arya Wibawa Apresiasi Film “Tatu” Garapan Puja Astawa

Published

on

By

cok ace
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Wakil Gubernur Bali Cok Ace berkesempatan menyaksikan penayangan film "Tatu" yang disutradarai Puja Astawa di Ruang Audio Visual (Mini Theatre) Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa berkesempatan menyaksikan penayangan film “Tatu” yang disutradarai Puja Astawa di Ruang Audio Visual (Mini Theatre) Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar, Sabtu (3/9).

Film yang diperankan oleh insan-insan kreatif Bali ini juga tampak disaksikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. Tampak juga hadir Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

“Kami mengapresiasi karya film “Tatu” yang disutradarai Puja Astawa, dengan karya film yang apik menampilkan keaslian kehidupan masyarakat Bali,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut Arya Wibawa menyampaikan karya film yang melibatkan insan kreatif Bali mampu menunjukkan keindahan alam Bali, dengan ramah tamah masyarakatnya serta sisi sosial dari masyarakat Bali. Film ini menurutnya juga memberikan pembelajaran bagi kita semua bagaimana dalam mengambil keputusan jangan cepat menyimpulkan, namun harus mampu melihat dari berbagai sudut pandang. “Selamat dan sukses atas penayangan Film Tatu di ruang Audio Visual DNA Denpasar, sebagai gedung yang memiliki ruang kreativitas yang dapat dimanfaatkan oleh anak muda maupun komunitas untuk menuangkan ide tanpa batas,” ujar Agus Arya Wibawa.

Sementara Puja Astawa menyampaikan film “Tatu” dengan gendre film drama keluarga dengan menghadirkan nuansa Bali. “Kami mencoba menuangkan ide dalam sebuah garapan film yang dibuat oleh orang Bali dan dibuat di Bali,” ujarnya. Puja Astawa mengaku mencoba berusaha maksimal dengan menghadirkan budaya Bali, serta pembuatan film ini benar-benar alami salah satunya tempat syuting sedikit pun tidak ada yang diseting. Hal ini kami ingin menunjukkan kepada masyarakat luas inilah situasi kondisi kehidupan masyarakat Bali.

Baca Juga  Desa Dauh Puri Kaja dan OPD Pemkot Denpasar Giatkan Pelestarian Lingkungan di Aliran Sungai Tag Tag

“Mari mendukung produk lokal, karya lokal, anak lokal untuk perkembangan film lokal di Bali,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan penggalan cerita film “Tatu” yakni sosok perempuan yang bernama I Luh  merupakan anak tunggal dari seorang ayah tanpa istri. I Luh menjalin kasih dengan Kadek seorang pria yang juga seorang dukun sakti dan merupakan salah satu keluarga dari musuh bebuyutan ayahnya. I Luh tidak pernah bermaksud mengecewakan ayahnya namun ia tengah berjuang melawan penyakitnya sendiri tanpa diketahui ayahnya.

“Pesan dari film ini bahwa hitam tak selalu pahit, putih pun belum tentu manis. Jangan terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu yang belum tentu benar. Karena yang baik belum tentu benar, dan begitu juga sebaliknya,” tutupnya. (eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca