Sunday, 2 October 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Ditinggal Dua Personelnya, Motifora Luncurkan Lagu “Ngambang”

BALIILU Tayang

:

motifora
Personil Motifora, Tunik pada vokal dan gitar serta Ery di posisi bass. (Foto: Ist)

PASCA – ditinggal 2 (dua) personelnya yakni Renno (gitar) dan Anna (drum), Motifora group band asal Desa Munduk, Buleleng kembali hadir dengan meluncurkan sebuah lagu anyar berjudul “Ngambang”. Kini band yang dikenal melalui lagu “Ngalahin Gumi” di album perdananya tersebut hanya digerakkan oleh Tunik pada vokal dan gitar serta Ery di posisi bass.

Kepada media, Tunik mengungkapkan makna dari lagu “Ngambang” yang resmi dirilis pada 2 Agustus 2022 melalui official youtube Motifora. Menurutnya, lagu yang digarap bersama Ben Taya ini bisa dikatakan sebagai jawaban atas kondisi yang selama ini terjadi di tubuh Motifora.

Seperti diketahui, aktivitas Motifora berhenti akibat terjadinya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan seluruh jadwal manggungnya batal. Tak hanya itu, beberapa personelnya juga memiliki kesibukan masing-masing. Lama tidak berkarya, Motifora akhirnya dengan berat hati harus mengumumkan mundurnya Renno dan Anna.

Pada kesempatan ini, Tunik menegaskan kembali bahwa hengkangnya 2 (dua) personelnya bukan karena ada masalah di internal Motifora melainkan masing-masing telah memiliki kesibukan.

“Setelah lama vakum akibat pandemi, ketika kita ingin memulai bangkit lagi, tapi mereka memiliki kesibukan masing-masing. Sehingga memilih untuk mundur agar tidak menggangu aktivitas Motifora,” tegasnya.

Ia juga mengatakan bahwa saat ini Motifora tengah merampungkan album keempatnya yang sebagian telah diselesaikan ketika personelnya masih lengkap. (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Jadi Aset Daerah Kota Denpasar, Tradisi “Meburu” Dibuatkan Film Dokumenter

Published

on

By

Meburu
Sekda Alit Wiradana bersama Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan sejumlah tokoh masyarakat Desa Adat Panjer. saat saat film dokumenter berjudul "Meburu", Rabu (28/9). (Foto : Ist)

Denpasar, baliilu.com – Film Dokumenter berjudul “Meburu”, yang merupakan hasil karya Karang Taruna Pramartha Jaya Sabha Yowana Desa Adat Panjer, berkolaborasi dengan Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali, diserahkan secara simbolis kepada Sekda Kota Denpasar, IB Alit Wiradana, sebagai aset Daerah Kota Denpasar pada Rabu, (28/09).

Sebelum penyerahan secara simbolis berupa piringan hitam, film ini disaksikan langsung di ruang audio visual Gedung Dhrama Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar, oleh Sekda Alit Wiradana, bersama Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan sejumlah tokoh masyarakat Desa Adat Panjer.

Adapun anggota Karang Taruna Pramartha Jaya Sabha Yowana, yang juga selaku tim pembuatan film, A.A Ngurah Eka Pratama mengatakan, film dokumenter yang bercerita tentang tradisi Desa Adat Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, yakni “Meburu” (berburu), adalah sebuah tradisi turun temurun yang dilaksanakan sebelum pengarakan Ogoh-ogoh, di mana pemangku yang kerasukan Bhuta Kala (Roh-roh) akan berlari dengan cepat berburu sesajen yang telah disiapkan, dan kemudian diminta kembali ke alam mereka agar tidak menggangu kehidupan warga pada saat perayaan Hari Suci Nyepi

Di sela acara, Sekda Alit Wiradana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya pembuatan film dokumenter ini sebagai wujud pelestarian dan memperkenalkan kepada publik, akan adat, budaya, dan tradisi asli Desa Adat Panjer.

“Selaku Pemerintah Kota Denpasar, kami mendukung dan selalu berusaha memberikan wadah atas segala bentuk kreativitas generasi muda di Kota Denpasar, dan jadikan ini selaras dengan visi Kota Kreatif Berbasis Budaya,” tandasnya. (gita/eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Ny. Putri Koster Saksikan Penayangan Perdana Film “Tatu”

Ny. Putri Koster Apresiasi atas Kreativitas dan Kesadaran para Generasi Muda Bangkitkan Dunia Perfilman Bali

Published

on

By

ny. putri koster
Ny. Putri Koster foto bersama usai menyaksikan penayangan perdana Film "Tatu" bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Koster berkesempatan menyaksikan penayangan perdana Film “Tatu” yang merupakan film karya putra-putri terbaik Bali, bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar, Sabtu (3/9).

Mengawali arahan singkatnya, Ny. Putri Koster menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kreativitas serta kesadaran dari para generasi muda untuk membangkitkan dunia perfilman khususnya di Bali dengan mengangkat tema-tema kehidupan di tengah masyarakat. Untuk itu, pendamping orang nomor satu di Bali ini mengajak semua pihak baik itu pemerintah, para seniman bersinergi untuk bersatu padu membangkitkan kembali dunia perfilman. Kita mulai dari anak muda Bali, pemainnya orang Bali, ditonton masyarakat Bali sehingga dunia sinema semakin bergeliat.

Wanita yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga berharap agar para seniman tidak berhenti berkarya untuk  menghasilkan Garapan-garapan film berkualitas dengan mengangkat hal-hal kecil yang terjadi di masyarakat sekitar. Dari Bali kita mulai angkat tema film yang mengandung kearifan lokal, dari Bali kita akan mengimbas ke nusantara sehingga perfilman bangkit. Kita jadikan Bali sebagai pusat industri perfilman Nusantara.

Film Tatu merupakan film yang sangat spesial mengingat film ini selain bernuansa Bali dan mengambil lokasi syuting di Desa Tenganan, Karangasem yang asri dan indah, film ini juga  disutradarai oleh putra Bali Puja Astawa dan diperankan sekitar 40 orang pemain yang juga asli dari Bali. Film yang mengangkat tema perjuangan seorang perempuan mempertahankan hidup dengan caranya namun terhalang oleh kerasnya orang tua ini menghadirkan seniman diantaranya De Gajah, Jun Bintang, Made Adnyana, Dewi Pradewi dan IB Purwa Sidemen yang bermain peran dengan sangat apik dan natural. (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Wawali Arya Wibawa Apresiasi Film “Tatu” Garapan Puja Astawa

Published

on

By

cok ace
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Wakil Gubernur Bali Cok Ace berkesempatan menyaksikan penayangan film "Tatu" yang disutradarai Puja Astawa di Ruang Audio Visual (Mini Theatre) Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa berkesempatan menyaksikan penayangan film “Tatu” yang disutradarai Puja Astawa di Ruang Audio Visual (Mini Theatre) Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar, Sabtu (3/9).

Film yang diperankan oleh insan-insan kreatif Bali ini juga tampak disaksikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. Tampak juga hadir Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

“Kami mengapresiasi karya film “Tatu” yang disutradarai Puja Astawa, dengan karya film yang apik menampilkan keaslian kehidupan masyarakat Bali,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut Arya Wibawa menyampaikan karya film yang melibatkan insan kreatif Bali mampu menunjukkan keindahan alam Bali, dengan ramah tamah masyarakatnya serta sisi sosial dari masyarakat Bali. Film ini menurutnya juga memberikan pembelajaran bagi kita semua bagaimana dalam mengambil keputusan jangan cepat menyimpulkan, namun harus mampu melihat dari berbagai sudut pandang. “Selamat dan sukses atas penayangan Film Tatu di ruang Audio Visual DNA Denpasar, sebagai gedung yang memiliki ruang kreativitas yang dapat dimanfaatkan oleh anak muda maupun komunitas untuk menuangkan ide tanpa batas,” ujar Agus Arya Wibawa.

Sementara Puja Astawa menyampaikan film “Tatu” dengan gendre film drama keluarga dengan menghadirkan nuansa Bali. “Kami mencoba menuangkan ide dalam sebuah garapan film yang dibuat oleh orang Bali dan dibuat di Bali,” ujarnya. Puja Astawa mengaku mencoba berusaha maksimal dengan menghadirkan budaya Bali, serta pembuatan film ini benar-benar alami salah satunya tempat syuting sedikit pun tidak ada yang diseting. Hal ini kami ingin menunjukkan kepada masyarakat luas inilah situasi kondisi kehidupan masyarakat Bali.

“Mari mendukung produk lokal, karya lokal, anak lokal untuk perkembangan film lokal di Bali,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan penggalan cerita film “Tatu” yakni sosok perempuan yang bernama I Luh  merupakan anak tunggal dari seorang ayah tanpa istri. I Luh menjalin kasih dengan Kadek seorang pria yang juga seorang dukun sakti dan merupakan salah satu keluarga dari musuh bebuyutan ayahnya. I Luh tidak pernah bermaksud mengecewakan ayahnya namun ia tengah berjuang melawan penyakitnya sendiri tanpa diketahui ayahnya.

“Pesan dari film ini bahwa hitam tak selalu pahit, putih pun belum tentu manis. Jangan terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu yang belum tentu benar. Karena yang baik belum tentu benar, dan begitu juga sebaliknya,” tutupnya. (eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca