Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Rangkaian Prosesi Nyepi di Kota Denpasar Disepakati dengan Pembatasan dan Disiplin Protokol Kesehatan

BALIILU Tayang

:

eka
PIMPIN RAPAT: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat memimpin rapat di Ruang Rapat Praja Utama Kantor Wali Kota Denpasar, Senin (21/2).

Denpasar, baliilu.com – Pelaksanaan prosesi rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1944 di Kota Denpasar mulai dari pelaksanaan Melasti, Tawur Agung Kesanga dan Prosesi Pengerupukan yang biasanya diisi dengan Nyomya Ogoh-ogoh dilaksanakan dengan pembatasan dan disiplin prokes.

Hal tersebut diungkapkan dalam rapat penegasan pelaksanaan prosesi Hari Suci Nyepi, yang dipimpin Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara di Ruang Rapat Praja Utama Kantor Wali Kota Denpasar, Senin (21/2).

Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana, Dandim 1611 Badung Kolonel Inf. Dody Trio Hadi, Wakapolresta Denpasar, AKBP Wayan Jiartana, Ketua MDA Denpasar AA. Ketut Sudiana, seluruh  Bandesa Adat, Pasikian Pecalang, dan Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar.

Walikota Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan Hari Suci Nyepi dapat berjalan dengan baik dan dilaksanakan dalam pembatasan perserta serta disiplin prokes. Hal ini juga sesuai  dengan Intruksi Menteri Dalam Negeri No. 10 tahun 2022 tentang PPKM yang intinya tidak adanya pelarangan terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan, adat, budaya, dan olahraga. Namun pelaksanaan ini dapat dilakukan dengan pembatasan keterlibatan peserta 50 persen dan dengan prokes yang ketat. “Dalam Instruksi Mendagri tidak ada pelarangan dalam pelaksanaan kegiatan adat, agama, dan budaya di masyarakat, namun agar dilakukan dengan pembatasan peserta dan disiplin prokes,” ujar Jaya Negara.

Lebih lanjut dikatakan, perkembangan pandemi Covid-19 di Kota Denpasar dalam sepekan ini menunjukkan trend penurunan, sementara tingkat kesembuhan sudah mulai meningkat dan cakupan vaksinasi juga sudah melebihi target sasaran. Perkembangan kasus ini dapat tetap kita antisipasi bersama dalam pelaksanaan upacara adat, agama, dan kebudayaan Hari Suci Nyepi  dengan pelaksanaan yang aman dan nyaman.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri Kegiatan Pembinaan APIP

Di Kota Denpasar terdapat 35 desa adat dengan pelaksanaan prosesi Hari Suci Nyepi yakni Melasti dilaksanakan di enam lokasi wilayah tempat Pemelastian. Hal ini hendaknya dapat diatur dengan baik seperti pembatasan peserta dan waktu pelaksanaan dengan pengaturan waktu sehingga tidak terjadi kerumunan yang padat.  Begitu juga dengan pelaksanaan prosesi Nyomya Ogoh-ogoh yang dapat diatur di masing-masing desa adat dengan pembatasan peserta dan disiplin prokes.

Disampaikan pula dengan sinergitas bersama aparat TNI, Polri, pecalang desa adat, Satgas desa/kelurahan dan Sabha Upadesa dapat  menjaga keamanan dan ketertiban serta disiplin prokes. “Tidak ada pelarangan namun kami tekankan pada Desa Mawecara  sesuai dengan Dresta Desa Adat masing masing. Bagaimana pelaksanaan yang sudah menjadi tradisi di masing-msing desa dalam pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi, dapat diatur dalam pembatasan peserta dan disiplin prokes,” ujar Jaya Negara, sembari mengajak semua yang terkait untuk  mendukung upaya pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 dengan selalu taat dan disiplin pada prokes.

Sementara Ketua MDA Denpasar, A.A Ketut Sudiana menyampaikan, pelaksanana rangkaian Hari Suci Nyepi di Kota Denpasar telah disepakati dan diputuskan dalam rapat bersama yang melibatkan Bandesa Adat, Pasikian Yowana, dan Forkopimda Denpasar bahwa  pelaksanaan prosesi Nyepi mulai dari Melasti, pelaksanan Tawur Kesanga dan Nyomya Ogoh-ogoh dilaksanakan dengan pembatasan dan dilakukan pengaturan di masing-masing desa adat. Teknis dilapangan dalam pembatasan tersebut  juga telah diatur sesuai dengan Dresta masing masing  serta pemantauan dalam pelaksanaan nya melibatkan satgas Covid-19 tingkat banjar, desa/kelurahan dan bersinergi dengan TNI dan Polri.

“Pelaksanaan Melasti ada beberapa desa adat yang Ngubeng tetapi ada  juga tetap melaksanakan Melasti tetapi dengan pembatasan dan prokes yang ketat.

Baca Juga  Cegah Stunting, Desa Pemogan Salurkan Paket Bantuan bagi Warga

Sementara pelaksanana Nyomya Ogoh-ogoh juga diatur oleh masing-masing desa adat dan dilakukan di wewidangan banjar yang bersangkutan. Saat ini sedang dilakukan pendataan Ogoh-ogoh di masing-masing kecamatan untuk memudahkan  kontrol dalam pelaksanaan prosesi Nyomya Ogoh-ogoh yang telah disepakati bersama Pasikian Yowana Denpasar.

“Pelaksanaan prosesi Nyepi di wilayah Denpasar telah disepakati bersama dalam pelaksanaan secara terbatas dan disiplin prokes sesuai dengan Instruksi Mendagri dan hasil Audiensi Pasikian Yowana dengan Gubernur Bali,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak “Karya Wrespati Kalpa Agung” Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan

Published

on

By

Wawali Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung di Pura Gunung Sari, Desa Adat Peraupan, Denpasar.
HADIRI KARYA: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8).

Wawali Arya Wibawa usai melaksanakan persembahyangan bersama mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Pihaknya juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan ini seluruh umat terutama warga Banjar Adat Jurang Asri dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal-hal negatif di lingkungan banjar setempat,” katanya.

Sementara Ketua Panitia Karya, I Made Sueca mengatakan Karya Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan dilaksanakan karena rampungnya semua palinggih pura yang diperbaharui.

Pada hari ini kata Made Sueca, dilaksanakan upacara Puncak Karya Ngeteg Linggih, Mahingkup, Bangun Ayu, Padyus-dyusan. Adapun Pujawali ini yang dipuput oleh Ida Peranda Mpu Nabe Yoga Daksa Paramitha dari Griya Peraupan.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Wakil Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan Puncak Karya upacara Ngenteg Linggih. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Cegah Stunting, Desa Pemogan Salurkan Paket Bantuan bagi Warga
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Badung Hadiri “Karya Mamungkah” dan “Padudusan Alit” di Dadia Penitangan Jimbaran

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Mamungkah dan Padudusan Alit di Dadia Penitangan, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan.
HADIRI KARYA: Bupati Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Mamungkah, Padudusan Alit di Dadia Penitangan, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Rabu (5/8). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Mamungkah, Padudusan Alit, Ngunggahang Dewa Pitara dan Ngikup Dewa di Dadia Penitangan, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Rabu (5/8). Karya tersebut dipuput oleh Ida Pedanda dari Griya Sanur bersama pemangku setempat, serta dihadiri anggota DPRD Badung I Made Sudira, Camat Kuta Selatan, Bendesa Adat Jimbaran, Kelihan Adat dan Dinas Banjar Perarudan, dan krama pengempon.

Dalam sambrama wacananya, Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi atas semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Perarudan dalam menyelenggarakan karya suci tersebut. Menurutnya, pelaksanaan yadnya merupakan sebagai bentuk wujud pelestarian nilai-nilai agama, adat, dan budaya Bali yang harus terus dijaga.

“Saya bersyukur dapat hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menyaksikan langsung pelaksanaan karya suci ini. Semoga melalui pelaksanaan karya ini, kita semua senantiasa diberikan kerahayuan, kesehatan, serta keseimbangan alam semesta,” ujarnya.

Bupati juga mengajak seluruh krama untuk terus menjaga persatuan dan semangat menyama braya untuk menjaga keharmonisan di tengah masyarakat seperti yang sudah diwariskan. Selain itu, mengingat Kabupaten Badung, khususnya wilayah Kuta Selatan, merupakan destinasi pariwisata, Bupati mengimbau masyarakat agar bersama-sama menjaga keamanan, kebersihan lingkungan, dan mendukung berbagai program pembangunan Pemerintah Kabupaten Badung.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menjelaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam mendukung keberlanjutan sektor pariwisata. Selain menjaga kelestarian adat, budaya, dan warisan leluhur, pemerintah juga terus membangun infrastruktur, termasuk membuka sejumlah ruas jalan baru di beberapa titik strategis sebagai upaya mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan masyarakat maupun wisatawan.

Sementara itu, Manggala Karya I Wayan Warta menyampaikan terima kasih kepada Bupati Badung yang telah berkenan hadir serta memberikan doa dan dukungan terhadap pelaksanaan karya suci tersebut. Ia menjelaskan bahwa rangkaian karya telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan, diawali dengan berbagai tahapan upacara, di antaranya matur piuning karya, melaspas tetaring lan uparengga, nunas tirta, hingga pelaksanaan upacara-upacara lainnya.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri Peringatan Trisuci Waisak 2567 BE di Vihara Buddha Sakyamuni

Lebih lanjut disampaikan bahwa Dadia Penitangan Jimbaran saat ini diempon oleh sebanyak 104 Kepala Keluarga (KK) yang secara bersama-sama bergotong-royong dalam melaksanakan seluruh rangkaian karya hingga puncak pelaksanaan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Padudusan Agung” di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Pemelaspasan Agung rangkaian Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman.
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Pemelaspasan Agung, rangkaian dari pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Melaspas, Mendem Pedagingan, dan Caru Manca Kelud di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Selasa (4/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Pemelaspasan Agung rangkaian dari Karya Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Melaspas, Mendem Pedagingan, dan Caru Manca Kelud di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Selasa (4/8). Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Penglingsir Puri Agung Kesiman Anak Agung Ngurah Kusuma Wardhana, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, serta sejumlah tokoh adat dan undangan lainnya.

Di sela-sela pelaksanaan upacara, Walikota Jaya Negara menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas semangat ngayah yang ditunjukkan krama Desa Adat Kesiman. Menurutnya, pelaksanaan karya ini menjadi bukti nyata kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur. Pada kesempatan tersebut, Walikota juga menyerahkan punia serta mengikuti prosesi Mendem Pedagingan di Palinggih Ratu Agung.

Jaya Negara mengatakan, Karya Padudusan Agung tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan yadnya, tetapi juga memperkuat semangat menyama braya di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Kebersamaan yang terjalin dalam setiap proses persiapan menjadi cerminan bahwa warisan leluhur akan tetap lestari apabila dijaga dengan rasa tulus, gotong-royong, dan pengabdian yang berkelanjutan,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Bendesa Adat Kesiman, Ketut Wisna menjelaskan, rangkaian karya telah dipersiapkan secara bertahap oleh Krama Pemaksan Bumi Kebonkuri yang terdiri atas empat banjar. Rangkaian tersebut meliputi Karya Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Pemelaspasan Agung, Manca Kelud, Mendem Pedagingan, Muput Caru Manca Kelud, hingga Ngusaba Dalem yang akan mencapai puncaknya pada Anggara Kliwon Medangsia, 11 Agustus 2026.

“Pada Selasa, Anggara Pon Merakih tanggal 4 Agustus 2026 dilaksanakan Upacara Pemelaspasan Agung yang dipuput dua Sulinggih yakni Ida Pedanda Gde Putra Bajing, Grya Tegal Jingga Lebah, dan Ida Pedanda Darma Kerti, Grya Saraswati Batuan,” ujarnya.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri Peringatan Trisuci Waisak 2567 BE di Vihara Buddha Sakyamuni

Lebih lanjut ia menjelaskan, tahapan awal karya diawali dengan pelaksanaan Pemelaspasan Agung (Manca Kelud) yang dirangkaikan dengan Mendem Pedagingan (Pelinggih). Prosesi ini menjadi simbol penyucian seluruh pelinggih beserta sarana upacara yang telah selesai dibangun maupun direnovasi, sekaligus memohon keselamatan agar seluruh rangkaian karya berlangsung lancar sesuai sastra agama. Menurutnya, pelaksanaan karya juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarkrama melalui semangat ngayah yang melibatkan seluruh unsur masyarakat adat.

Lebih lanjut, Ketut Wisna menambahkan bahwa Karya Padudusan Agung memiliki makna mendalam sebagai upaya menyucikan bhuana alit dan bhuana agung, sekaligus memperkokoh sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya yang berstana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman.

“Seluruh tahapan karya telah disusun secara rinci dengan melibatkan sulinggih, pemangku, prajuru adat, sekaa, dan krama pengempon, sehingga pelaksanaannya diharapkan berlangsung tertib, khidmat, serta tetap berpedoman pada pakem adat dan dresta yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca