Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Saksikan Pagelaran Topeng-Topeng, Wagub Cok Ace Puji Sosok Sukmawati Soekarno Putri

BALIILU Tayang

:

wagub
Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (kiri) foto bersama Menparekraf Sandiaga Uno (tengah) dan Sukmawati Sukarno Putri (kanan) saat menyaksikan Pagelaran Topeng-Topeng di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Jumat (18/11/2022) petang. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyaksikan Pagelaran Topeng-Topeng di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Jumat (18/11/2022) petang. Pagelaran yang digagas dan disutradarai oleh Sukmawati Soekarno Putri itu juga disaksikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam sambutan singkatnya, Wagub Cok Ace memuji sosok Sukmawati Soekarno Putri yang menggagas pagelaran ini. Menurutnya, kegigihan Sukmawati dalam merealisasikan pertunjukan merupakan bukti dedikasi dan pengabdiannya dalam pelestarian seni dan budaya, khususnya dalam hal ini topeng. “Saya mengikuti, bagaimana pagelaran ini mulai digagas dan disiapkan sejak dua tahun lalu dan akhirnya bisa dipentaskan. Ini momen yang luar biasa,” ucapnya.

Untuk itu, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Sukmawati dan seluruh seniman pendukung Pagelaran Topeng-Topeng.

wagub
Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. (Foto: ist)

Masih dalam sambutannya, Guru Besar ISI Denpasar ini menyinggung tentang keberadaan topeng sebagai salah satu hasil budaya manusia yang ada di setiap daerah. Bahkan menurutnya, seni topeng ditemukan hampir di setiap negara. Wagub Cok Ace menyebut, topeng tak hanya mencerminkan karakter penarinya. Lebih daripada itu, topeng juga mencerminkan nilai etika, logika dan estetika. “Lengkap sekali nilai yang tercermin dari tari topeng. Menonton tarian topeng ibarat menyaksikan perilaku masyarakat yang terwakili pada setiap era,” cetusnya. Wagub Cok Ace berharap, pagelaran kali ini mampu memberikan nuansa dan cakrawala baru terhadap perkembangan seni topeng.

Pujian senada juga disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno. Pria yang akrab disapa Mas Menteri itu menyebut Sukmawati sebagai sosok seniman yang mampu berinovasi, beradaptasi dan berkolaborasi dalam menciptakan sebuah karya. Ia juga menyampaikan rasa salut terhadap Sukmawati yang konsisten dalam melestarikan seni topeng.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Upacara Peringatan 20 Tahun Bom Bali

Ditambahkan olehnya, pagelaran topeng ini merupakan bagian dari upaya menggali potensi serta menunjukkan kepada dunia kepedulian terhadap pelestarian adat dan budaya nusantara. “Ini adalah sebuah pagelaran warisan budaya yang dikemas menjadi produk wisata budaya. Ini kita sebut sebagai produk wisata budaya yang berkelanjutan,” bebernya.

Pada prinsipnya, ujar Mas Menteri, warisan budaya dapat dilestarikan dengan cara memberi perlindungan dan dimanfaatkan tanpa kurangi nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Ia berharap, ke depannya pola-pola seperti ini terus dikembangkan sehingga upaya pelestarian budaya bisa sejalan dengan penguatan ekonomi. Mengakhiri sambutannya, Sandiaga Uno mengingatkan kembali jurus 3G yang mesti diterapkan dalam upaya pemulihan sektor pariwisata. 3G yang dimaksudnya adalah Gercep (Gerak Cepat), Geber (Gerak Bersama) dan Gaspol (Garap Semua Potensi).

Pembukaan Pagelaran Topeng-Topeng ditandai pemukulan gong secara bergantian oleh Menteri Sandiaga Uno, Wagub Cok Ace dan Sukmawati Soekarno Putri. Pagelaran Topeng-Topeng berdurasi 2 jam ini mengangkat tema Tri Hita Karana. Melibatkan beberapa grup tari, pagelaran juga dimaksudkan mengenang Maestro I Wayan Kakul dan semua kreativitas leluhur Topeng Bali. Pagelaran yang digarap apik dengan nuansa kontemporer modern dan tradisional itu mampu memukau penonton yang memadati panggung terbuka Ardha Candra. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Parade Baleganjur Bebarongan, Tampilkan Seni Sarat Makna Spiritual dan Nilai Budaya

Published

on

By

Parade Baleganjur gianyar
BALEGANJUR BEBARONGAN: Salah satu penampilan parade baleganjur bebarongan pada Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar Parade Baleganjur Bebarongan Kecamatan se-Kabupaten Gianyar sebagai rangkaian Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. Kegiatan ini menampilkan kekayaan seni tradisional Bali yang sarat akan makna spiritual dan nilai-nilai budaya.

Dalam parade, masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas dan ciri khasnya dalam mengemas seni baleganjur babarongan yang berpadu dengan unsur tradisi serta kearifan lokal.

Penampilan diawali oleh Sekaa Gong Satya Jnana dari Kecamatan Gianyar yang mempersembahkan garapan berjudul “Nyapuh”. Dilanjutkan dengan penampilan Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara, dari Kecamatan Ubud, yang membawakan garapan “Gerinsing”, Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana dari Kecamatan Tegallalang melalui garapan “Bwah Rong”, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari dari Kecamatan Blahbatuh dengan sajian berjudul “Swara Raksa”.

Penampilan berikutnya Pesraman Satya Kumara Shanti, Kecamatan Payangan, yang menghadirkan garapan “Ruwat Mala”, kemudian dilanjutkan oleh Sekeha Gong Sila Pertipa dari Kecamatan Sukawati dengan garapan “Sida Arsa”. Penampilan ditutup oleh Sekaa Balaganjur Gandara Shanti dari Kecamatan Tampaksiring melalui garapan berjudul “Lawat Liwat”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menyampaikan bahwa perhelatan Pekan Budaya Gianyar, salah satunya menampilkan parade baleganjur bebarongan, merupakan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang hidup di desa adat.

Lebih lanjut, Adi Parbawa menegaskan bahwa estetika baleganjur bebarongan harus tetap ajeg dan lestari sebagai bagian dari kearifan lokal di masing-masing kecamatan.

Tak hanya itu, dirinya juga menambahkan bahwa baleganjur bebarongan telah menjadi salah satu identitas masyarakat Gianyar yang hadir hampir dalam setiap kegiatan keagamaan. “Kita ingin lebih menunjukkan cita karya kearifan lokal masing-masing, sehingga esensinya tetap terjaga, tradisinya tetap, dan spiritnya tetap,” tambahnya.

Baca Juga  Terima Baleg DPR RI, Wagub Cok Ace Titip RUU Provinsi Bali Masuk Prioritas 2022

Sementara itu, tokoh seniman, Dr. I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., mengapresiasi pelaksanaan Pekan Budaya Gianyar yang dinilai mampu memberikan ruang bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas. Ia berharap parade baleganjur bebarongan tidak hanya berlangsung tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Saya ingin kegiatan ini tidak hanya tahun ini, melainkan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ungkapnya.

Terlebih, baleganjur bebarongan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan tradisi ngunya atau Ngiring Ida Bhatara, yakni prosesi mengarak Sesuhunan berupa Barong dan Rangda mengelilingi desa sebagai bagian dari ritual keagamaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

AA Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari dari Generasi ke Generasi

Published

on

By

Rai Setyawati
KASANGA FESTIVAL: Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST (kebaya biru) tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan, perempuan berusia 73 tahun itu membimbing gerak demi gerak, memastikan setiap anak menari dengan percaya diri.

Usia boleh menua, namun semangat berkesenian dalam dirinya tetap menyala. Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar ini telah menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan seni di Kokar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah jauh dari dunia tari Bali.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga napas kehidupan yang terus ia rawat hingga kini. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi seniman tari yang tumbuh bersama maestro tari Bali, I Nyoman Suarsa, yang akrab disapa Pak Yang Pung.

Kini, sebagian besar rekan seangkatannya telah berpulang. Namun bagi Rai Setyawati, perjalanan pengabdian pada seni belum pernah benar-benar selesai.

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujarnya dengan senyum hangat.

Di tempat itulah ia menanamkan kecintaan pada seni kepada generasi paling muda. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia membimbing anak-anak usia dini mempelajari dasar-dasar gerak tari Bali—mulai dari gerakan tangan, sorot mata, hingga langkah kaki yang diajarkan perlahan.

Selain mengajar di PAUD Saraswati 3 Denpasar, Rai Setyawati juga rutin membimbing anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang-ruang latihan sederhana itu, lahir keberanian anak-anak untuk tampil dalam berbagai agenda budaya dan pertunjukan seni di Kota Denpasar.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Ikuti Prosesi Peletakan Batu Pertama Candi Bentar Kawasan TMI

Bagi Rai Setyawati, melihat anak-anak menari dengan penuh semangat merupakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, itu adalah tanda bahwa tradisi terus menemukan ruang hidupnya di tengah generasi baru.

Di balik ketekunannya sebagai seniman, Rai Setyawati juga merupakan ibu dari empat anak, tiga putra dan satu putri. Nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan sejak lama turut membentuk perjalanan hidup anak-anaknya.

Salah satu putranya, Dedy Sutrisna Agung, SE, M.Ec.Dev., kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Kota Denpasar serta aktif dalam kepengurusan adat di Desa Adat Penatih Puri. Menurut Dedy, kecintaan ibunya pada seni menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidup keluarga mereka.

“Saya dibesarkan dari perjuangan ibu saat berkesenian. Beliau tidak hanya berkarya, tetapi juga mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga dari dunia seni,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa berkesenian seolah menjadi obat bagi sang ibu.

“Jika ibu diberi waktu dan kesempatan untuk terus berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan sebagai orang tua terasa berkurang ketika beliau bisa mengajarkan anak-anak menari,” katanya.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar aktivitas. Ia adalah ruang pengabdian, tempat menyalurkan cinta pada budaya sekaligus sumber semangat untuk tetap berkarya.

Di usia yang semakin senja, ia masih setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, baginya seni tari Bali harus terus hidup dan berkembang.

Dari tangan seorang guru seni seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu terus dijaga agar tetap menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Pecah! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

Published

on

By

Jegog Suar Agung
TUR BUDAYA: Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Dentuman instrumen bambu raksasa khas Jembrana akhirnya kembali mengguncang publik Negeri Sakura.

Setelah “puasa” selama 10 tahun, Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam.

Ribuan pasang mata dibuat tak berkedip oleh resonansi nada rendah dan ritme eksplosif dari Bumi Makepung.

Kehadiran delegasi seni ini seolah menjadi obat rindu sekaligus bukti nyata bahwa Jegog tetap memiliki tempat istimewa di kancah internasional meski sempat absen selama satu dekade.

Penampilan sekaa Jegog Suar Agung dipimpin oleh I Gede Oka Artha Negara, sosok pimpinan Jegog Suar Agung yang dikenal sebagai konseptor dan pencipta komposisi musikal bambu berkarakter kuat dan dinamis.

Ia merupakan putra maestro almarhum I Ketut Suwentra, sosok legendaris yang dijuluki “Pekak Jegog” dan berjasa besar membawa Jegog ke panggung internasional. Pada pementasan kali ini, Gede Oka juga mengajak putra-putrinya Okky Junior Sadewa dan Ikko Suar Agung Dewi sebagai penari Jegog Suar Agung untuk regenerasi kesenian Jegog Suar Agung.

“Antusiasme penonton di Toyota City luar biasa. Ini membuktikan bahwa resonansi bambu Jembrana memiliki tempat spesial di hati warga Jepang,” ujar pimpinan Suar Agung, I Gede Oka Artha Negara.

Disisi lain, bagi Ikko Suar Agung Dewi, pementasan di Jepang kali ini memiliki tantangan tersendiri mengingat untuk pertama kalinya ia ikut mendampingi dan turun langsung dalam pertunjukan besar Jegog Suar Agung.

“Tur ini bukan sekadar agenda pementasan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk melestarikan dan mengembangkan Jegog Suar Agung,” ungkap Ikko Suar Agung Dewi.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Apresiasi 9 Ball Tournament Billiard Generasi Muda FKPPI

Ia menegaskan pentingnya regenerasi, pembinaan generasi muda, serta penguatan jejaring internasional agar musikal bambu khas Jembrana tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Melalui Jegog Suar Agung ini, Ikko Dewi bertekad menjaga warisan leluhur agar tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi terus bertumbuh sebagai kebanggaan budaya yang mendunia terlebih Kakek merupakan Sang Maestro Jegog.

Rombongan yang sebelumnya dilepas oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan ini, dijadwalkan akan berkeliling ke sejumlah kota besar di Jepang selama 12 hari ke depan. Misi ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang lewat jalur kebudayaan.

Dentuman bambu dari Desa Sangkar Agung akan kembali menggema di Negeri Sakura—menegaskan bahwa Jegog Suar Agung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan duta budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Jepang dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca