Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Sambut Tahun 2023, BPR Kanti Meredifined Strategi Pemasaran Palugada Jadi KBB dan KBK

BALIILU Tayang

:

amitaba
Direktur Utama Bank BPR Kanti Made Arya Amitaba (tengah) saat bertemu media akhir tahun, Sabtu, 31 Desember 2022 di salah satu rumah makan di bilangan Renon Denpasar.  (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Di pengujung tahun 2022, BPR Kanti melaunching Kanti Bersama BPR (KBB) dan Kanti Bersama Koperasi (KBK), yang nantinya menjadi wadah dari insan BPR dan Koperasi di Bali, untuk menjalin kerja sama antar-BPR dan Koperasi, dan sebagai salah satu sarana untuk menjalin komunikasi antar-sesama pengurus BPR dan Koperasi baik di Bali maupun di luar Bali.

‘’KBB maupun KBK ini merupakan strategi pemasaran baru BPR Kanti untuk mengoptimalkan strategi pemasaran Palugada (aPa LU mau Gua aDA), untuk pemasaran Pemberian Modal Kerja kepada BPR maupun koperasi, mengatasi kesulitan likuiditasnya, membuatkan produk bersama dan juga memberikan bantuan untuk peningkatan capacity building,’’ terang Direktur Utama Bank BPR Kanti Made Arya Amitaba saat bertemu media akhir tahun, Sabtu, 31 Desember 2022 di salah satu rumah makan di bilangan Renon Denpasar.  

Arya Amitaba menyampaikan tujuan BPR Kanti membentuk KBB dan KBK ingin membangun komunikasi, kerja sama, rasa kebersamaan dan saling support antar-komunitas BPR dan Koperasi di Bali maupun di luar Bali. Juga untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan BPR dan koperasi, serta bersama-sama ikut membangun ekonomi daerah dimulai dari kebersamaan BPR dan koperasi.

‘’Saat ini momentum yang sangat tepat bagi lembaga keuangan daerah baik BPR dan koperasi berkolaborasi untuk memajukan ekonomi daerah, dengan mensupport pembiayaan pada sektor lembaga keuangannya baik BPR maupun koperasi serta sektor pariwisata dan UMKM sebagai andalan utama sumber pendapatan masyarakat Bali,’’ ujar Amitaba.

Salah satu sarana yang paling efektif yang akan dilakukan untuk mempererat hubungan dengan seluruh insan BPR dan Koperasi di Bali, ungkap Amitaba adalah dengan mengoptimalkan produk bersama antara BPR Kanti dengan BPR maupun koperasi, yaitu Produk Tabungan Arisanku Bersama BPR dan Tabungan Arisanku bersama Koperasi, dan Produk Tabungan Kanti bersama BPR maupun Tabungan Kanti Bersama Koperasi yang nantinya BPR Kanti berperan sebagai pengelola account produk tersebut.

Baca Juga  Tetap Optimis di Tengah Pandemi, BPR Kanti Gelar Diklat SDM BPR Se-Bali melalui Micro Business Game

‘’Dengan terbentuknya KBB dan KBK diyakini akan dapat mengakomodir kebutuhan BPR dan koperasi, dan selain produk tabungan bersama BPR Kanti juga akan mensupport anggota KBB dan KBK pada program lainnya yang antara lain mengatasi kesulitan likuiditas, pemberian Bantuan Kredit Modal Kerja berupa Linkage Program, dan menyiapkan Capacity Building untuk meningkatkan kualitas pengetahuan SDM BPR dan koperasi di Bali,’’ ujarnya seraya menambahkan produk-produk tersebut merupakan implementasi dari pelaksanaan fungsi Apex Bank BPR.

amitaba
Direktur Utama Bank BPR Kanti Made Arya Amitaba didampingi para pimpinan Bidang BPR Kanti saat bertemu media akhir tahun, Sabtu, 31 Desember 2022 di salah satu rumah makan di bilangan Renon Denpasar.  (Foto: gs)

Made Arya Amitaba yang merupakan salah satu konseptor Apex Bank BPR mengatakan dengan terbentuknya KBB dan KBK, kedepannya diharapkan tidak ada lagi terdengar BPR dan koperasi yang kesulitan likuiditas dan termasuk masalah lainnya, karena KBB & KBK akan sepenuhnya memberikan support dan berharap akan membawa dampak yang positif bagi masyarakat Bali, terutama dalam hal kepercayaan masyarakat akan keberadaan BPR & koperasi di Bali.

Arya Amitaba pun memaparkan pencapaian kinerja BPR Kanti sampai akhir tahun 2022, dimana Asset secara YoY bertumbuh sebesar 40,18%, Kredit Yang Diberikan (KYD) bertumbuh sebesar 47,69%, DPK bertumbuh sebesar 25,62, dan perolehan laba bertumbuh sebesar 69,50 %. Sampai akhir 2022, BPR Kanti sudah bekerja sama dengan BPR dan Koperasi dalam pembiayaan Kredit Modal Kerja berupa Linkage Program dengan rincian BPR sebanyak 24 BPR dengan Plafond Rp. 66.900.000.000, Koperasi: 37 Koperasi dengan Plafond Rp. 56.111.000.000, Produk Tabungan Bersama dan Deposito BPR dan Koperasi sebagai berikut: Tabungan bersama BPR 1.052  dengan nominal Rp. 48.479.000.000, Deposito BPR  97 dengan nominal Rp. 65.585.000.000, Produk Tabungan bersama Koperasi 465 NOA dengan nominal Rp. 12.922.000.000, Deposito Koperasi 69 NOA dengan nominal Rp. 26.013.000.000.

Baca Juga  Temu Wirasa Stakeholder Gathering Bank BPR Kanti 2024

BPR Kanti juga sudah bekerja sama dengan beberapa BPR dalam bentuk pembiayaan bersama yaitu Kredit Sindikasi, dimana sampai akhir 2022 kredit sindikasi yang sudah dikerjasamakan sebanyak 15 NOA dan Plafond sebesar Rp. 38.012.000.000.

Atas kinerjanya, BPR Kanti di tahun 2022 memperoleh 4 penghargaan antara lain BPR Kanti sebagai Bank Sabahat Koperasi, penghargaan dari Ketua Dekopin Pusat Ibu Sri Untari; Info Bank Award dengan predikat BPR Sangat Bagus; Sebagai BPR Innovation Excellent Award 2022 dari Indonesia Best; LPS Banking Award 2002 untuk kategori BPR di Indonesia, dengan kategori Bank terbaik dalam menyampaikan informasi mengenai Program Penjaminan Simpanan di LPS.

‘’Atas pencapaian kinerja BPR Kanti di tahun 2022, manajemen BPR Kanti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada stakeholder, pengurus, karyawan dan semua pihak yang sudah memberikan support atas raihan kinerja di tahun 2022,’’ ucap Amitaba.

Dan menyongsong tahun 2023, BPR Kanti siap melakukan transformasi digitalisasi perbankan dimana BPR Kanti telah memiliki mobile banking yang dapat dilakukan untuk transaksi cek saldo rekening dan mutasi rekening, melakukan pembelian pulsa token PLN maupun membayar tagihan dan pembelian pulsa voucher, transfer ke rekening bank lain dan pemindahbukuan ke sesama rekening BPR Kanti. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  BPR Kanti Raih LPS Banking Award 2022

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Baca Juga  Diskusi Hukum Nasional BPR Kanti, Perkuat Legitimasi Hukum BPR

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Tetap Optimis di Tengah Pandemi, BPR Kanti Gelar Diklat SDM BPR Se-Bali melalui Micro Business Game

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada Triwulan I 2026

Published

on

By

harga properti bali
Infografis Harga Properti Residensial Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy). Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 ), dan besar (luas bangunan > 70 m2 ) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah.

“Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah. Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non-bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%.

Baca Juga  Temu Wirasa Stakeholder Gathering Bank BPR Kanti 2024

Dari sisi konsumen, sebut Achris Sarwani, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca