Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Sanggar Rumah Wayang Sinar Pande di Kamasan: Tanpa Pungut Biaya Sebarkan Ilmu, Lestarikan Warisan Budaya

BALIILU Tayang

:

de
I WAYAN PANDE SUMANTRA: Bangun Sanggar Sinar Pande, Retaskan Pelukis-pelukis Cilik Wayang Kamasan

LAHIR dari tempaan Yayasan Sanggar Seni Lukis Tradisional Wayang Kamasan I Nyoman Mandra yang berdiri awal tahun 1970-an, I Wayan Pande Sumantra punya kewajiban moral untuk menebarkan kembali benih ilmu yang sudah diraihnya ketika sang pendiri yayasan menuju alam surgawi.

Ketika Yayasan Sanggar Seni Lukis Tradisional Wayang Kamasan Nyoman Mandra dilanjutkan oleh salah satu putrinya, I Wayan Pande Sumantra yang tinggal di Banjar Pande juga ikut membuka sanggar yang diberi nama Sanggar Rumah Wayang Sinar Pande.

de
WARNA ALAMI: Pande Sumantra Selain Menggunakan Warna Alami juga Memakai Warna Acrylic Untuk Memenuhi Permintaan yang Cepat

Sanggar Rumah Wayang Sinar Pande didirikan 9 Februari 2019 tepat hari suci Tumpek Klurut. Ayah dua putra ini memberanikan diri membuka sanggar walaupun kemampuannya di bidang melukis belumlah memadai. ‘’Masih banyak belajar, masih melihat karya-karya terdahulu,’’ ujarnya merendah.

de
WARNA ALAMI: Berbahan Pere, Kincu, Prada Mas, Hancur yang Sekarang Sulit Didapatkan.

Sebagai putra Kamasan, ia merasa punya tanggung jawab moral untuk meneruskan warisan budaya seni lukis klasik wayang Kamasan. Tanpa memiliki modal yang cukup, Sumantra membuka sanggar lukis tanpa memungut beaya sepeser pun. Semua kebutuhan belajar seperti warna, kertas, kuas, pensil disiapkan oleh sanggar. Tidak saja Sumantra sendiri yang mengajar tetapi semua keluarga ikut terlibat. Maka ketika salah satu yang berhalangan, proses belajar mengajar di sanggar tetap jalan tiap Sabtu dan Minggu sore. ‘’Selain belajar di sanggar tidak menganggu pelajaran di sekolah juga mengalihkan perhatian anak-anak  agar mengurangi bermain hp,’’ ujar Sumantra memberi alasan.

de
HASIL KARYA: Setelah Enam Bulan Belajar Pewarnaan dan Sket, Maka Diuji untuk Mengetahui Kemampuannya

Sebagai jebolan sanggar lukis Nyoman Mandra, yang juga sekaligus pamannya, I Wayan Pande Sumantra telah menorehkan banyak prestasi sejak anak-anak hingga remaja. Pada tahun 1979, Sumantra meraih juara 2 lomba lukis di Jepang, juara 2 tahun 1982 lomba lukis di India, dan dua kali berurut-turut sebagai juara pertama gambar wayang tingkat Provinsi Bali tahun 1991-1992.

de
PEWARNAAN: Sket yang Disiapkan Siap Untuk Diwaranai Anak-anak

Di usia 9 bulan, sanggar Sinar Pande sudah menampung 19 murid yang berasal dari Kamasan, Gelgel dan Kota Semarapura, baik dari anak TK, SD dan SMP. Mereka diberi materi dari mengenal warna dan pewarnaan, pakem blok-bloknya di mana warna merah, kuning, dll. Kemudian membuat sket dan setelah belajar enam bulan maka anak-anak sudah dibiarkan membuat sket dan langsung mewarnai sendiri.

de
PIAGAM PENGHARGAAN: Ketika Sumantra Mengikuti Lomba Saat Masih ANak-anak

Di sela mengajar anak-anak, Sanggar Sinar Pande juga seringkali kedatangan tamu yang melakukan les privat. Seperti mahasiswa Singapura sebanyak 25 orang yang belajar melukis selama satu hari. Ada juga wisatawan yang belajar sambil menikmati masakan ala Bali. Begitu juga mahasiswa ISI Denpasar yang sering melakukan survey perihal melukis wayang Kamasan. Pada Oktober kemarin bertepatan dengan hari Musium Nasional, Dinas Kebudayaan menunjuk Sumantra mengajar membuat wayang Kamasan yang dihadiri siswa SD, SMP dan SMA.

de
DI ISTANA NEGARA: Karena Prestasinya, Sumantra Sempat Jalan-Jalan Ke Istana Negara Jakarta

Namun kesehariannya, Sumantra bersama keluarga terus berkarya. Melukis di atas kanvas, ada juga di atas topi, kipas, dan juga keben. ‘’Tidak cukup hanya mengandalkan dari lukisan di kanvas, kami juga berinovasi berkarya di atas kipas, keben dan juga topi yang pesanannya cukup melimpah,’’ ujar Sumantra.

de
NILAI TAMBAH: Karya-karyanya Dituangkan di Keben, Topi atau Kipas Memberi Nilai Tambah Bagi Keluarga dan Warga Sekitar

Bahkan, untuk membuat kipas, keben dan topi yang bermotif lukisan kamasan, sanggar Sinar Pande bekerja sama dengan warga sekitar, khususnya kaum ibu-ibu. Setelah disket, biasanya mewarnai dilanjutkan oleh ibu-ibu. ‘’Biar sama-sama menikmati walau sedikit,’’ imbuh Sumantra.

de
KREATIF: Sumantra Juga Melukis di Atas Keben, Kipas dan Topi

Begitu juga dalam pewarnaan lukisan di kanvas, Sumantra menggunakan dua jenis warna. Acrylic dan warna alam dari pere yang kini sulit didapatkan karena sumber pere yang bagus di Serangan Denpasar sudah direklamasi. Warna acrylic jauh lebih cepat proses pengerjaannya dan dampak ekonominya cepat. Dibandingkan menggunakan pere yang akan memakan waktu lama. Kalau memang ada permintaan warna pere, Sumantra bisa menyanggupinya. ‘’Yang penting sebagai pelukis jujur, warna apa yang dipakai,’’ ungkap Sumantra.

Sanggar Sinar Pande memang baru berumur 9 bulan dengan 19 murid yang selalu datang setiap Sabtu dan Minggu. Namun denyutnya terus berdetak seiring kerinduan anak-anak dan orangtuanya yang ingin melestarikan warisan budaya yang adi luhung. Di tempat yang sederhana itu Sumantra membiarkan berjalan apa adanya, apa yang dimiliki itulah yang ditebar seperti lukisan wayang Kamasan yang terus menyebar dari rumah ke rumah, pura ke pura, museum ke museum, kolektor ke kolektor, kantor ke kantor, hotel ke hotel hingga ke seantero dunia.

Tidak saja karya lukisan wayang Kamanan yang begitu memikat penikmat seni tetapi di balik itu ada pesan-pesan moral yang selalu hadir di antara kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. *balu01

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri “Karya Pedudusan Alit” Pura Desa lan Bale Agung Desa Adat Penyaringan Sanur

Published

on

By

Wawali Arya Wibawa
NGINGSAH: Wakil Walikota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri dan melaksanakan prosesi “ngingsah” serangkaian “Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa Agung” Pura Desa Lan Bale Agung, Desa Adat Penyaringan Sanur, Minggu (8/3). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri dan melaksanakan prosesi ngingsah serangkaian Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa Agung Pura Desa lan Bale Agung, Desa Adat Penyaringan Sanur, Minggu (8/3).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar, Wayan Mariana Wandira, OPD terkait serta Bendesa dan tokoh adat setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Arya Wibawa memberikan apresiasi atas antusiasme dan kekompakan krama Desa Adat Penyaringan dalam melaksanakan karya agung ini. Menurutnya, karya tersebut merupakan wujud sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran Hindu.

Karya ini tidak hanya sebagai bentuk persembahan suci, tetapi juga sebagai upaya memohon anugerah dan tuntunan agar diberikan keselamatan, kesejahteraan, serta kerahayuan jagat, khususnya bagi Desa Adat Penyaringan Sanur,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pelaksanaan karya ini juga sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Sementara itu, Bendesa Adat Penyaringan, I Wayan Sudiartha menyampaikan terima kasih atas bantuan hibah dari Pemerintah Kota Denpasar.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat untuk mendukung jalannya upacara, terlebih karya ini dilaksanakan setelah rampungnya berbagai palinggih dan bale yang ada di pura,” ujarnya.

Pihaknya mengatakan selain bantuan dana dari Pemerintah Kota Denpasar, pembiayaan karya juga bersumber dari swadaya masyarakat serta dukungan berbagai elemen dan tokoh sebagai wujud bhakti umat.

Karya telah dimulai sejak 17 Februari lalu dengan rangkaian matur piuning, pada hari ini dilaksanakan prosesi ngingsah. Sementara puncak karya akan dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) 14 Maret 2026 mendatang. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Sanjaya Hadiri Perayaan Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh di Tabanan

Published

on

By

Bupati Sanjaya
HADIRI CAP GO MEH: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri undangan Perayaan Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh di Vihara Dharma Cattra/Kong Co Bio, Jl. Melati No. 18, Tabanan, Selasa (3/3). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Menutup rangkaian perayaan Imlek 2026 dengan suasana penuh kebersamaan dan keharmonisan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menghadiri undangan Perayaan Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh di Vihara Dharma Cattra/Kong Co Bio, Jl. Melati No. 18, Tabanan, Selasa (3/3). Kegiatan ini turut dihadiri Anggota DPD RI, Anggota DPRD Provinsi Bali, beberapa Anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Jajaran Forkopimda Tabanan atau yang mewakili, Sekda dan Kepala Perangkat Daerah terkait serta umat dan masyarakat yang memadati area vihara.

Kehadiran Bupati Sanjaya disambut meriah dengan penampilan Barongsai Pusaka Cattra yang menambah semarak suasana. Kegiatan diawali dengan persembahyangan di altar vihara yang dipandu oleh Biokong sebagai wujud bhakti dan ungkapan syukur atas limpahan berkah serta doa bagi kedamaian bersama. Nuansa merah dan gemerlap lampion yang menghiasi kawasan vihara menjadi simbol harapan, keberuntungan, dan optimisme menyongsong tahun yang baru.

Dalam sambutannya, Sanjaya menegaskan bahwa Kabupaten Tabanan yang telah dianugerahi Harmony Award memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga kerukunan di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya. “Baik Pemerintah maupun Forkopimda selalu menekankan pentingnya menjaga kerukunan. Sehebat apa pun sebuah bangsa, tanpa kerukunan tidak akan pernah bisa menciptakan keberhasilan. Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani tidak akan bisa kita capai jika kita tidak rukun dan tidak harmonis,” ucapnya.

Perayaan Cap Go Meh yang sarat makna sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Langit dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa juga membawa nostalgia tersendiri bagi Sanjaya. Ia mengenang masa kecilnya di Kota Tabanan yang kerap menyaksikan kemeriahan Cap Go Meh dalam suasana akrab, lengkap dengan ragam kuliner khas yang mempererat silaturahmi. “Ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum silaturahmi dan rasa syukur yang harus terus kita jaga,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Sanjaya menyampaikan perayaan Imlek di Tabanan yang kini memasuki tahun ketiga dengan penyelenggaraan yang semakin terbuka dan semarak, menjadi bukti nyata kemajuan pembauran budaya. Ornamen lampion yang menghiasi sudut-sudut kota merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah dalam memfasilitasi ekspresi budaya masyarakat Tionghoa. “Dulu saya katakan, ayo tampilkan budayanya. Kita pasang lampion, kita fasilitasi agar menjadi semarak. Pembauran ini penting supaya kita benar-benar menjadi satu keluarga besar. Harmony Award bukan hanya ditempel di dinding, tetapi harus diimplementasikan dalam pembauran yang nyata,” tegasnya.

Sanjaya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga Tionghoa di Kabupaten Tabanan atas kontribusi dan komitmen dalam menjaga kebersamaan lintas agama. Menurutnya, harmoni antara umat Hindu, Tionghoa, Kristen, dan Muslim di Tabanan merupakan implementasi nyata visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam menjaga keharmonisan jagat Bali secara sekala dan niskala. Dengan terpeliharanya harmoni secara sekala dan niskala, Tabanan diharapkan terus menjadi contoh nyata kerukunan dan persaudaraan bagi daerah lain di Bali maupun Indonesia.

Di kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kertayasa Tabanan, Liem Surya Adinata, menyampaikan apresiasi kepada Bupati Tabanan beserta jajaran atas dukungan yang senantiasa diberikan. Ia juga menyampaikan harapan agar di Tahun Kuda ini, Bupati Sanjaya senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memimpin Tabanan sebagai kabupaten yang harmonis, toleran, serta mampu mewujudkan Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani.

Menutup rangkaian acara dalam suasana penuh kekeluargaan, Bupati Sanjaya bersama jajaran dan para umat menikmati sajian lontong Cap Go Meh yang menjadi ciri khas perayaan, sembari menyaksikan hiburan musik angklung dan berbagai penampilan seni lainnya. Sajian tersebut bukan sekadar kuliner, tetapi juga mengandung simbol doa dan harapan agar tahun ini menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, selaras dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga di Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Tutup Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster: Tahun Depan Harus Lebih Kaya Materi, Kreatif dan Inovatif

Published

on

By

bulan bahasa
TUTUP: Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup pelaksanaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VIII, Sabtu (28/2/2026) di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Setelah berlangsung sejak tanggal 1 Februari 2026, Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup pelaksanaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VIII, Sabtu (28/2/2026) di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali. Gubernur Koster menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara dan seluruh peserta yang berpartisipasi dalam beragam kegiatan pada bulan bahasa tahun ini. Ia berharap, pelaksanaan BBB IX Tahun 2027 lebih kaya materi, kreatif dan inovatif.

Untuk itu, ia menugaskan Kepala Dinas Provinsi Bali mengundang para pakar untuk merumuskan kegiatan BBB agar tahun depan bisa lebih baik lagi. “Ikuti perkembangan jaman dan selera anak muda. Karena merekalah yang akan menjadi pewaris,” ucapnya. Ia pun mengusulkan agar panitia mempertimbangkan untuk memasukkan materi memadik (lamaran versi Bali, red) pada pelaksanaan BBB IX Tahun 2027.

Masih dalam sambutannya, Gubernur kelahiran Desa Sembiran ini memuji BBB VIII yang menurutnya sudah terselenggara dengan sangat baik.

“Dilaksanakan sebulan penuh dari tanggal 1 sampai dengan 28 Februari, beberapa kali saya menyaksikan kegiatan dan lomba,” ujarnya. Salah satu yang sempat ia saksikan adalah kegiatan anak-anak SMA mengoperasikan keyboard aksara Bali.

Ia patut berbangga karena hanya Bali yang punya keyboard aksara daerah. Oleh sebab itu, ia ingin keyboard Aksara Bali dibagikan kepada seluruh lembaga pendidikan mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK. “Supaya paten. Ini keren dan top sekali,” cetusnya.

Selain pemanfaatan keyboard Aksara Bali, Gubernur Koster menyebut BBB sebagai wahana regenerasi dalam kemampuan nyurat Aksara Bali.

“Kegiatan nyurat Aksara Bali diikuti anak-anak kita mulai SD hingga Perguruan Tinggi. Saya lihat, mereka mahir nulis aksara menggunakan berbagai media mulai dari lontar, tembaga dan lainnya,” ungkapnya.

Masih dalam sambutannya, Gubernur yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Bali ini menyentil sejumlah desa/kelurahan dan desa adat yang tahun ini tak melaksanakan BBB. Mengacu laporan Kepala Dinas Kebudayaan Ida Bagus Alit Suryana, dari 1.500 desa adat, 12 diantaranya absen melaksanakan BBB tahun ini.

Tercatat pula 45 desa/kelurahan dan 3 SMA/SMK yang tahun ini tak menggelar BBB. Sedangkan 16 SLB, seluruhnya tercatat menyelenggarakan kegiatan BBB. “Nanti akan saya undang, ajak ngobrol, maunya apa. Saya salut dengan SLB, mestinya begitu. Tahun depan, kita harus guyub, jalankan pola seperti yang lain,” tegasnya.

Pada bagian lain, Gubernur Koster kembali menegaskan komitmennya dalam pelestarian Bahasa Bali yang terimplementasi pada Pergub Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Disampaikan olehnya, regulasi ini merupakan penjabaran dari Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang telah dituangkan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.

Salah satu unsur budaya yang menjadi perhatiannya adalah bahasa dan aksara Bali. “Ini diwariskan leluhur kita sejak ribuan tahun, sebagai generasi penerus kita harus punya komitmen untuk melestarikan. Selama dunia ini ada, bahasa Bali harus tetap ada,” katanya.

Menurut dia, Bali bisa berbangga karena menjadi satu-satunya provinsi yang punya kegiatan khusus dalam memuliakan bahasa daerah.

Penutupan BBB VIII Tahun 2026 juga diisi dengan penyerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama kategori perorangan kepada I Wayan Turun. Sementara Bali Nugraha Mahottama kategori lembaga diterima Kelompok Media Bali Post. Gubernur Koster juga menyerahkan penghargaan untuk pemenang berbagai lomba yang dilaksanakan serangkaian memeriahkan BBB VIII.

Selanjutnya, diserahkan pula sertifikat Warisan Budaya Takbenda kepada Pemprov dan Kabupaten/Kota se-Bali. Penutupan BBB VIII Tahun 2026 yang dihadiri Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra dan Pimpinan OPD di Lingkungan Pemprov Bali diwarnai peluncuran Tema BBB IX Tahun 2027 yaitu Wana Kerthi Gemuh Landuh Sarwa Tumuwuh. Peluncuran ditandai dengan penaburan benih secara simbolis oleh Gubernur Koster yang diikuti visualisasi LED. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca