Thursday, 22 February 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Seniman Lukis Klasik Wayang Kamasan Mangku Mura: Sang Pengabdi Seni yang Bersinar di Luar

BALIILU Tayang

:

de
MANGKU MURIATI, MANGKU NYOMAN KONDRA, KETUT DARMI: Tiga Putra Mangku Mura yang Meneruskan Jejak sang Seniman sebagai Pelukis Klasik Wayang Kamasan

Om swastyastu….Om swastyastu… begitulah sapaan terdengar lembut ketika baliilu menginjakkan kaki tepat memasuki angkul-angkul rumah Jro Mangku Mura setelah menyisir gang kecil berjarak 50 meteran. Sedikit melirik ke kanan kiri, kami pun spontan membalasnya. Sapaan itu kembali terulang dan kami menyadari suara itu terdengar dari seekor beo di dalam sangkar yang digantang di bawah plafon.

Ada sederet burung yang  menghiasi rumah seniman lukis klasik tradisional wayang Kamasan yang begitu terkenal di zamannya. Ada cucak rowo, jalak suren, jalak nusa penida, tuwu tuwu, gagak, nuri yang bergantian melantunkan irama alam yang dipadukan suara ketukan alat tenun perajin kain songket sutra yang suntuk merajut di bale delod.

de
MANGKU MURIATI: Yang Tetap Suntuk Berkarya dengan Guratan-guratannya yang Mulai Dikenal di Masyarakat

Baru ketika memalingkan perhatian ke bale dauh, ada selembar lukisan lusuh terpampang di dinding karya Mangku Mura dan selembar lagi dipasang sebagai plafon yang memastikan bahwa inilah rumah Jero Mangku Mura yang wafat pada Mei akhir 1999 silam.

Belum sempat pikiran liar muncul, di depan kami sudah berdiri Jero Mangku Muriati, putri almarhum yang kini meneruskan sebagai seniman lukis klasik tradisional wayang Kamasan. Dari Mangku Muriatilah baiilu mendapat informasi selengkapnya bagaimana Mangku Mura yang lahir di Banjar Siku Dusun Kacang Dawa Desa Kamasan Klungkung Bali ini mengabdikan dirinya sebagai seniman lukis klasik yang begitu dikenal luas sampai ke manca negara, namun begitu redup di tanah kelahirannya di bumi Suweca Pura.

de
DOKUMEN FOTO: Di Kamar Pribadi Mangku Mura, Terpajang Foto-fotonya yang Lusuh Berdebu

Didampingi Mangku Nyoman Kondra dan Ketut Darmi, yang juga meneruskan jejak orangtuanya sebagai seniman lukis klasik tradisional Kamasan, Jero Mangku Muriati menuturkan kisah Mangku Mura yang lahir tahun 1920.  Jebolan PSSRD Universitas Udayana yang kini berserah diri sebagai pemangku di Pura Paibon Tangkas Kori Agung ini mengisahkan bagaimana pahit getir seorang Mangku Mura yang sudah kasudi sebagai pemangku sejak usia belia sekitar awal zaman penjajahan Jepang.

Merasa tidak memiliki apa-apa, baik rumah maupun sepetak sawah, Mangku Mura memilih belajar berbagai bidang ilmu seperti olah wirama, undagi dan melukis. Saban hari Mangku Mura ke Banjar Sangging Kamasan yang dikenal memiliki segudang seniman lukis klasik. Ia belajar dari Kaki Ngales, Pekak Luwi, Nyoman Dagal, Kaki Kayun dan lain-lain. ‘’Mangku tidak mau belajar dari satu guru,’’ terang Mangku Muriati.

Baca Juga  Libatkan Seniman Bondres Bagikan 1.200 Masker, Rai Mantra dan Kemenparekraf RI Kampanye Gerakan Pakai Masker
de
PIAGAM: Hanya Dua Piagam yang Tampak Kumal Mengingatkan Ada Mahasiswa Yang Study Tour

Mangku Mura belajar dari banyak guru karena ingin menimba dari kelebihannya masing-masing. Dari Kaki Ngales banyak menempa ilmu membuat galuh, dari Kaki Kayun menyerap sket rupa raksasa. Dari perpaduan para seniman itulah kemudian Mangku Mura menciptakan sket yang lain dari yang lain. Mangku Mura berhasil melahirkan sebuah karakter yang kuat. Sampai kini goresan Mangku Mura dikenal tegas dan keras sesuai karakter Mangku Mura sendiri yang teguh pada prinsip, satya pada pikir, kata dan laku.

Sebagai seorang pemangku, almarhum banyak mengetahui epos cerita. Seperti kakawin Baratayuda gubahan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, syair Mahabarata karya Begawan Byasa yang terdiri dari 18 parwa , Ramayana karya Begawan Balmiki dan juga kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha gubahan Mpu Kanwa, Bhomantaka — kakawin Jawa Timur yang paling panjang, Gatotkacasraya, Sutasoma gubahan Mpu Tantular, Kidung Tantri dll yang seringkali dikumandangkan dalam bait wirama ketika ngayah di pura-pura.

de
MANGKU MURA: Berpulang Mei 1999, Namun Karyanya Dikenang Sepanjang Masa

Dari kemampuannya akan cerita epos-epos itulah karya-karya lukisnya begitu kuat memberikan pesan filosofi. Pesan hukum sebab akibat atau karma phala yang begitu benderang dalam guratan Bima Swarga di Kertagosa. Banyak karyanya dipajang di pura-pura sebagai parba, ider-ider, lontek, kober, langse atau ulon.

Pengalaman yang paling berkesan dari penuturan Mangku Muriati  ketika ikut mengerjakan proyek lukisan Kamasan di Kertagosa Klungkung. Mangku Mura yang maburuh dari Pan Semari yang ditunjuk sebagai pimpinan proyek akhirnya didaulat dan diangkat sebagai tukang sket. Pengangkatan sebagai tukang sket lantaran orang tua Pan Semari yang biasanya jadi tukang sket berhalangan sakit. Mangku Mura ditunjuk tidak terlepas dari kepiawaiannya akan kisah-kisah sastrawi seperti Bima Swarga.  Walau tidak tersurat sebagai bukti karya di akhir kisah cerita Bima Swarga, namun Mangku Mura sudah banyak bercerita akan keikutsertaannya kepada putra-putrinya.

de
KARYA MANGKU MURA: Satu Di Antara yang Masih Tersimpan Rapi di Kamar Pribadinya

Baru setelah kemerdekaan, karya Mangku Mura dijualbelikan. Belum bisa mencukupi kebutuhan putra-putrinya yang 12 orang, Mangku Mura tidak saja menjadi petani penggarap, tukang bade, arsitek bangunan juga berkeliling mengerjakan rumah-rumah. Hingga sempat berlabuh ke Nusa Penida beberapa bulan menyelesaikan rumah bertingkat.

Kepiawaian Mangku Mura dalam olah sket dan juga karakter lukisannya yang kuat, menarik hati sang seniman Made Kanta yang kala itu mengabdi di Listibya Klungkung. Sempat tahun 1972-an ditawari membuat sanggar seni lukis klasik wayang Kamasan sebagai guru lukis untuk mengajar anak-anak.  Sayang permintaan itu ditolak halus lantaran Mangku Mura tidak punya rumah dan merasa tidak bisa menjadi guru.

Baca Juga  HUT Ke-62 Provinsi Bali, Gubernur Koster Ajak Solid Bergerak Wujudkan Bali Era Baru

Sebagai pelukis yang karya-karyanya lain dari sket umum di Kamasan, menarik minat Prof. Antony Forge asal Australia tatkala melakukan riset setahun di Kamasan tahun 1973. Penulis buku Museum Sidney ini bolak-balik ke rumah Mangku Mura untuk melihat dari dekat perjalanan seniman yang serba bisa ini. Dari Prof. Antony inilah kemudian Mangku Mura dikenal luas di luar negeri dibandingkan di Klungkung tempat kelahirannya.

Banyak karyanya kemudian dijual ke artshop-artshop melalui perantara yang rajin menunggu di rumahnya yang sederhana. Hingga pada tahun 1980-an Mangku Mura ikut keliling Eropa bersama tim kesenian Bali dari Kokar yang terdiri dari seniman tabuh, tari dan lukis.

Pulang dari Eropa, Mangku Mura menghadap Gubernur Bali Prof Dr. Ida Bagus Mantra, sang pencetus mahakarya Pesta Kesenian Bali tahun 1979.  Sambil membawa hadiah selembar lukisan karyanya sendiri.  Apa yang tertanam dari pesan seorang Gubernur yang karya-karyanya begitu membumi, ‘’Jangan merendahkan seni lukis klasik tradisional wayang Kamasan. Tolong pertahankan di rumah jangan dijual ke artshop-artshop. Kalau datang ke rumah baru dijual.’’ Begitu pesan Gubernur yang dituturkan Mangku Muriati.

Sejak itulah karya-karya Mangku Mura hanya dipajang di dinding rumahnya yang sederhana. Tidak sedikit yang digulung. Hampir setiap hari ada saja tamu yang datang. Baik tamu mancanegara maupun mahasiswa yang melakukan riset. Di antaranya yang rajin hadir mahasiwa PSSRD Udayana, ISI Yogyakarta yang dipimpin I Nyoman Gunarsa, IKIP Malang. Mangku Mura pun rutin mengikuti Pesta Kesenian Bali sejak 1979.

de
DUPLIKAT LUKISAN PUPUTAN KLUNGKUNG: Dua Duplikat Karya Mangku Muriati Berjudul Puputan Klungkung yang Salah Satunya Tersimpan di Australia

Pernah pada 1986-1987 Bupati Klungkung dr. Cokoda Agung menyuruh membuat lukisan yang bertemakan Puputan Klungkung. Mangku Mura yang pernah mendengarkan langsung cerita pasukan kompeni Belanda menyerang Klungkung dari para kumpi-nya yang ikut terlibat saat Puputan Klungkung mencoba menuangkannya dalam kanvas.

Kanvas berukuran 1,5×1,5 meter itu akhirnya selesai dan mendapat upah Rp 600 .000 dan sebuah buku sejarah Klungkung. Dalam lukisan itu menceritakan kisah perjalanan kompeni Belanda dari Kusamba menuju Sampalan,Tukad Unda, Setra Pijig, Tangkas, Griya Jumpung, Gelgel, Tapean hingga ke Galiran sebelum menyerang Puri Klungkung yang dikenal dengan perang Puputan Klungkung pada 1908-an.

Baca Juga  Jejak sang Maestro Drama Gong AA Gede Rai Kalam, Pernah Dilempar Batu dan Diberhentikan di Panggung

Sayang lukisan itu sempat digeletakkan begitu saja yang akhirnya ditemukan dan kini dipajang di salah satu sudut kantor pemerintahan Klungkung. Atas permintaan seorang kawan dari Australia, karya Mangku Mura berjudul Puputan Klungkung diduplikat dua buah oleh Mangku Muriati. Salah satunya kini berada di Sidney.

de
MANGKU MURIATI: Aktif Berpameran Tunjukkan Hasil Karya-karyanya

Hari demi hari Mangku Mura terus berkarya, begitu juga berserah diri di Paibon Tangkas Kori Agung dan juga di Pura Prajapati Setra Pijig serta rajin ngayah mewirama di pura-pura dan juga sering diserahi mengerjakan bade. Hingga pada akhir Mei 1999 penyakit asmanya mengantarkan sang maestro pulang menuju alam surgawi, meninggalkan banyak pesan filosofi yang sangat menginspirasi para penikmat lukisan tradisi.

Hampir 13 tahun nama Mangku Mura tak terdengar, di balik karya-karyanya yang terus diburu para kolektor. Bahkan selembar piagam pun belum pernah diterima Mangku Mura dari pemerintah daerah. Hanya piagam penghargaan dari peserta study tour yang dipajang di kamar pribadinya. Hingga pada tahun 2012 surat pemberitahuan dan undangan datang dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan yang kala itu dijabat Jero Wacik. Saat itu juga menerima lencana emas dari wakil presiden Boediono.

Mangku Muriati pun sempat menuturkan seorang pejabat pemkab yang menyerahkan surat itu mempertanyakan kenapa bisa menerima penghargaan seni dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Muriati kala itu hanya bisa menghela nafas. Dalam hati kecilnya, Muriati tetap merasa bangga, pesan orangtuanya yang selalu diingat yakni tetap meneruskan seni lukis klasik tradisional wayang Kamasan, melanjutkan ngayah spiritual sebagai pemangku dan baik-baik menjaga keluarga agar tetap rukun sepanjang waktu. Piagam hanya selembar kertas, tetapi karya-karya Mangku Mura akan dikenang sepanjang masa. Begitu Muriati menghibur diri.

de
KELUARGA MANGKU MURA: Tak Pernah Putus LestarikanTradisi Seni Lukis Klasik Wayang Kamasan

Karena itu, tiga putra almarhum kini suntuk menekuni seni lukis baik Mangku Muriati, Mangku Nyoman Kondra dan Ketut Darmi yang tidak pernah meninggalkan warna-warna tradisi. Termasuk juga cucu-cucunya yang mulai tumbuh bakatnya melukis wayang Kamasan. Bahkan kini karya Mangku Muriati mulai dikenal luas di kalangan seniman lukis. Banyak karyanya dipamerkan. Seperti tahun 2016 di Sudamala Sanur, tahun 2017 di Titian Art Speace Ubud dll. Saat ini sedang berlangsung pameran megarupa di beberapa lokasi antara lain di Puri Lukisan, Arma, Museum Neka dan Bentara Budaya, di mana karya Muriati dipamerkan di Puri Lukisan. Sedangkan pada 20 November 2019 juga ikut berpameran bersama seniman wanita Bali.  

Tubuh boleh saja berpulang dan menyatu ke alam abadi, namun karya-karya Mangku Mura akan terus dikenang sepanjang masa oleh kita yang ingin bumi ini tetap harmonis. *Balu01

Advertisements
ucapan Natal dan Tahun Baru
Advertisements
imlek
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Lomba Ogoh-ogoh Tingkat PAUD di Kecamatan Abiansemal

Published

on

By

lomba ogoh-ogoh paud abiansemal
BUKA LOMBA: Bunda PAUD Kabupaten Badung Ny. Seniasih Giri Prasta saat membuka Lomba Ogoh-ogoh PAUD bertempat di Taman Mumbul Abiansemal, Senin (19/2). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946, Kecamatan Abiansemal mengadakan Lomba Ogoh-ogoh PAUD dengan Tema “Pengembangan Kreativitas dan Seni Budaya Mulai Usia Dini” bertempat di Taman Mumbul Abiansemal, Senin (19/2).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bunda PAUD Kabupaten Badung Ny. Seniasih Giri Prasta, Camat Abiansemal Ida Bagus Mas Arimbawa, Camat Petang Anak Agung Ngurah Raka Sukaeling, Perbekel se-Kecamatan Abiansemal serta tokoh masyarakat di Taman Mumbul.

Ny. Seniasih Giri Prasta selaku Bunda PAUD Kabupaten Badung mengucap rasa terimakasih dan mengapresiasi dengan adanya kegiatan Lomba Ogoh-ogoh PAUD se-Kecamatan Abiansemal. Dirinya berharap kegiatan ini dapat diikuti dan terlaksana di 6 kecamatan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi yang akan datang.

“Kegiatan-kegiatan ini juga diharapkan dapat mengajarkan budi pekerti sedari dini, dengan mengenalkan baleganjur dan ogoh-ogoh. Hal ini dapat mengenalkan bagaimana adat dan budaya kita, melatih mental dan kerja sama bagi anak-anak usia dini,” ujar Ny. Seniasih Giri Prasta di objek wisata Taman Mumbul Desa Sangeh.

Sementara itu Bunda PAUD Kecamatan Abiansemal Ida Ayu Paristyawati Manuaba selaku Panitia melaporkan untuk pelaksanaan Lomba Ogoh-ogoh PAUD yang diikuti 23 Peserta yang ada di Kecamatan Abiansemal.

“Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan mengenalkan budaya Bali menumbuhkan kreativitas, yang bisa membangkitkan cinta tanah air, rasa nasionalisme, dan mengenalkan ogoh-ogoh sejak dini  sebagai simbol keburukan sifat manusia dan hal-hal negatif alam semesta yang harus dinetralisir,” pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
ucapan Natal dan Tahun Baru
Advertisements
imlek
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Baca Juga  Ny. Putri Koster bersama Relawan dan Satgas Covid Gelar Aksi Sosial di Kusamba Klungkung
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Perkuat Sinergi dengan Masyarakat, Bupati Sanjaya Hadiri ‘’Karya’’ Dadia Pasek Gelgel Desa Tunjuk

Published

on

By

bupati sanjaya
NGUPESAKSI: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri uleman dan ngupasaksi upacara Pujawali Nyatur, Melaspas Prasasti dan Metatah Bersama yang bertempat di Dadia Pasek Gelgel, Banjar Tunjuk Tengah, Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, Senin (12/2). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Terus bersinergi dengan masyarakat dalam upaya pelestarian tradisi, seni, adat, agama dan budaya di daerah, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menghadiri uleman dan ngupasaksi upacara Pujawali Nyatur, Melaspas Prasasti dan Metatah Bersama yang bertempat di Dadia Pasek Gelgel, Banjar Tunjuk Tengah, Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, Senin (12/2).

Dalam kesempatan tersebut, Sanjaya turut didampingi oleh salah satu Anggota DPR RI dan Anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Asisten III, Jajaran Pimpinan Kepala OPD terkait, Camat dan unsur Forkopimcam Tabanan. Kehadiran Sanjaya beserta jajaran siang itu, juga mendapat sambutan positif dari Bendesa Adat, Perbekel dan Krama Adat setempat.

Upacara yang puncaknya pada Selasa, 13 Februari 2024 tersebut dipuput oleh Ida Sang Sulinggih yang merupakan rangkaian upacara Dewa Yadnya, yakni melaspas prasasti yang juga dirangkaikan dengan upacara Manusa Yadnya, yakni Metatah Bersama yang diikuti 14 peserta. Yadnya ini merupakan wujud semangat gotong-royong krama adat Banjar Tunjuk Tengah.

Usai persembahyangan bersama, melalui sambrama wacana selaku Murdaning Jagat Tabanan, Bupati Sanjaya menyampaikan doa restu, apresiasi serta rasa bangganya kepada masyarakat akan kesungguhan krama dalam melaksanakan yadnya. Dimana hal ini sejalan dengan kekompakan masyarakat dalam membangun Tabanan, sekaligus pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan tradisi, seni, adat, agama dan budaya.

“Sangat luar biasa semeton titiang disini, satu lihat titiang, semeton titiang disini sudah sangat bhakti, pertama bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, itu yang tiang lihat mangkin, tiang berikan apresiasi. Yang kedua, bhakti ring Ida Bhatara Kawitan yang berstana disini, ngewangun yadnya Pujawali lan Metatah. Yang ketiga, bhakti ring guru wisesa, bhakti ring pemerintah, ajak titiang kompak bersatu membangun Tabanan Era Baru ini ke depan,” ujar Sanjaya.

Baca Juga  Persiapan Pemulihan Pariwisata Lokal, Jaya Negara Serahkan Bantuan Baju kepada RYTB

Melalui momen sakral tersebut, Sanjaya berharap agar karya yang dibangun oleh keluarga besar Banjar Adat Tunjuk Tengah tersebut dapat berjalan dengan lancar, rahayu dan sida sidaning don. Dalam penutupnya, politisi asal Dauh Pala tersebut menekankan kembali komitmennya dalam mendukung dan mengawal pembangunan serta kehidupan masyarakat di Kabupaten Tabanan.

Di kesempatan yang sama, I Wayan Sugiartana selaku Bendahara Karya menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Bupati Sanjaya, atas kehadirannya dan dukungan yang diberikan kepada masyarakat untuk bersama-sama dalam membangun yadnya. Hal ini diharapkan terus dapat ditingkatkan guna membangun daerah dan masyarakat menuju Tabanan yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). (gs/bi)

Advertisements
ucapan Natal dan Tahun Baru
Advertisements
imlek
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Komit Lestarikan Seni Budaya, Sekda Adi Arnawa Support Lomba Gender Wayang

Published

on

By

adi arnawa
LOMBA GENDER: Sekda Wayan Adi Arnawa saat membuka Lomba Gender Wayang Berpasangan Kategori SD dan SMP yang digelar oleh Sanggar Sada Suara di Wantilan DPRD Badung, Puspem, Minggu (11/2). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Pemkab Badung selalu komit terhadap pelestarian seni budaya Bali. Hal itu ditunjukkan dengan memberikan support berupa dana, sekaligus membuka Lomba Kesenian Bali Gender Wayang Berpasangan Kategori SD dan SMP yang digelar oleh Sanggar Sada Suara, bertempat di Wantilan DPRD Badung, Puspem, Minggu (11/2).

Mewakili Bupati, Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa menyerahkan bantuan dana Pemkab Badung Rp 30 juta untuk Lomba Gender Wayang diterima Ketua Panitia Ida Bagus Gede Mahendra dan disaksikan langsung oleh seluruh peserta.

“Bupati Badung memang sangat konsisten dan komit dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni dan budaya warisan leluhur kita. Lomba ini sangat positif melestarikan seni adat dan budaya warisan leluhur sekaligus mengasah kemampuan seni anak-anak dari usia dini untuk mengenal dan ikut menjaga melestarikan seni dan budaya warisan leluhur kita,” ujar Adi Arnawa.

Ketua Panitia Penyelenggara Ida Bagus Gede Mahendra menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sekda Adi Arnawa. Lomba kali ini bertujuan untuk melestarikan seni dan budaya serta meningkatkan aktivitas dan kreativitas di bidang seni dan budaya Bali.

”Terima kasih kami sampaikan kepada Sekda Badung yang telah meluangkan waktunya untuk hadir dan membuka kegiatan lomba kesenian Bali ini. Kegiatan lomba Gender Wayang yang diikuti oleh sebanyak 10 pasang kategori SD dan SMP,” lapornya. (gs/bi)

Advertisements
ucapan Natal dan Tahun Baru
Advertisements
imlek
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Baca Juga  Penuhi Komitmen, Bupati Giri Prasta Serahkan HGB kepada Banjar Lebah Pangkung Mengwi
Lanjutkan Membaca