Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Seniman Lukis Klasik Wayang Kamasan Mangku Mura: Sang Pengabdi Seni yang Bersinar di Luar

BALIILU Tayang

:

de
MANGKU MURIATI, MANGKU NYOMAN KONDRA, KETUT DARMI: Tiga Putra Mangku Mura yang Meneruskan Jejak sang Seniman sebagai Pelukis Klasik Wayang Kamasan

Om swastyastu….Om swastyastu… begitulah sapaan terdengar lembut ketika baliilu menginjakkan kaki tepat memasuki angkul-angkul rumah Jro Mangku Mura setelah menyisir gang kecil berjarak 50 meteran. Sedikit melirik ke kanan kiri, kami pun spontan membalasnya. Sapaan itu kembali terulang dan kami menyadari suara itu terdengar dari seekor beo di dalam sangkar yang digantang di bawah plafon.

Ada sederet burung yang  menghiasi rumah seniman lukis klasik tradisional wayang Kamasan yang begitu terkenal di zamannya. Ada cucak rowo, jalak suren, jalak nusa penida, tuwu tuwu, gagak, nuri yang bergantian melantunkan irama alam yang dipadukan suara ketukan alat tenun perajin kain songket sutra yang suntuk merajut di bale delod.

de
MANGKU MURIATI: Yang Tetap Suntuk Berkarya dengan Guratan-guratannya yang Mulai Dikenal di Masyarakat

Baru ketika memalingkan perhatian ke bale dauh, ada selembar lukisan lusuh terpampang di dinding karya Mangku Mura dan selembar lagi dipasang sebagai plafon yang memastikan bahwa inilah rumah Jero Mangku Mura yang wafat pada Mei akhir 1999 silam.

Belum sempat pikiran liar muncul, di depan kami sudah berdiri Jero Mangku Muriati, putri almarhum yang kini meneruskan sebagai seniman lukis klasik tradisional wayang Kamasan. Dari Mangku Muriatilah baiilu mendapat informasi selengkapnya bagaimana Mangku Mura yang lahir di Banjar Siku Dusun Kacang Dawa Desa Kamasan Klungkung Bali ini mengabdikan dirinya sebagai seniman lukis klasik yang begitu dikenal luas sampai ke manca negara, namun begitu redup di tanah kelahirannya di bumi Suweca Pura.

de
DOKUMEN FOTO: Di Kamar Pribadi Mangku Mura, Terpajang Foto-fotonya yang Lusuh Berdebu

Didampingi Mangku Nyoman Kondra dan Ketut Darmi, yang juga meneruskan jejak orangtuanya sebagai seniman lukis klasik tradisional Kamasan, Jero Mangku Muriati menuturkan kisah Mangku Mura yang lahir tahun 1920.  Jebolan PSSRD Universitas Udayana yang kini berserah diri sebagai pemangku di Pura Paibon Tangkas Kori Agung ini mengisahkan bagaimana pahit getir seorang Mangku Mura yang sudah kasudi sebagai pemangku sejak usia belia sekitar awal zaman penjajahan Jepang.

Merasa tidak memiliki apa-apa, baik rumah maupun sepetak sawah, Mangku Mura memilih belajar berbagai bidang ilmu seperti olah wirama, undagi dan melukis. Saban hari Mangku Mura ke Banjar Sangging Kamasan yang dikenal memiliki segudang seniman lukis klasik. Ia belajar dari Kaki Ngales, Pekak Luwi, Nyoman Dagal, Kaki Kayun dan lain-lain. ‘’Mangku tidak mau belajar dari satu guru,’’ terang Mangku Muriati.

Baca Juga  Wayan Koster Minta Bebaskan Bali dari Tengkulak agar Petani tak Merugi
de
PIAGAM: Hanya Dua Piagam yang Tampak Kumal Mengingatkan Ada Mahasiswa Yang Study Tour

Mangku Mura belajar dari banyak guru karena ingin menimba dari kelebihannya masing-masing. Dari Kaki Ngales banyak menempa ilmu membuat galuh, dari Kaki Kayun menyerap sket rupa raksasa. Dari perpaduan para seniman itulah kemudian Mangku Mura menciptakan sket yang lain dari yang lain. Mangku Mura berhasil melahirkan sebuah karakter yang kuat. Sampai kini goresan Mangku Mura dikenal tegas dan keras sesuai karakter Mangku Mura sendiri yang teguh pada prinsip, satya pada pikir, kata dan laku.

Sebagai seorang pemangku, almarhum banyak mengetahui epos cerita. Seperti kakawin Baratayuda gubahan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, syair Mahabarata karya Begawan Byasa yang terdiri dari 18 parwa , Ramayana karya Begawan Balmiki dan juga kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha gubahan Mpu Kanwa, Bhomantaka — kakawin Jawa Timur yang paling panjang, Gatotkacasraya, Sutasoma gubahan Mpu Tantular, Kidung Tantri dll yang seringkali dikumandangkan dalam bait wirama ketika ngayah di pura-pura.

de
MANGKU MURA: Berpulang Mei 1999, Namun Karyanya Dikenang Sepanjang Masa

Dari kemampuannya akan cerita epos-epos itulah karya-karya lukisnya begitu kuat memberikan pesan filosofi. Pesan hukum sebab akibat atau karma phala yang begitu benderang dalam guratan Bima Swarga di Kertagosa. Banyak karyanya dipajang di pura-pura sebagai parba, ider-ider, lontek, kober, langse atau ulon.

Pengalaman yang paling berkesan dari penuturan Mangku Muriati  ketika ikut mengerjakan proyek lukisan Kamasan di Kertagosa Klungkung. Mangku Mura yang maburuh dari Pan Semari yang ditunjuk sebagai pimpinan proyek akhirnya didaulat dan diangkat sebagai tukang sket. Pengangkatan sebagai tukang sket lantaran orang tua Pan Semari yang biasanya jadi tukang sket berhalangan sakit. Mangku Mura ditunjuk tidak terlepas dari kepiawaiannya akan kisah-kisah sastrawi seperti Bima Swarga.  Walau tidak tersurat sebagai bukti karya di akhir kisah cerita Bima Swarga, namun Mangku Mura sudah banyak bercerita akan keikutsertaannya kepada putra-putrinya.

de
KARYA MANGKU MURA: Satu Di Antara yang Masih Tersimpan Rapi di Kamar Pribadinya

Baru setelah kemerdekaan, karya Mangku Mura dijualbelikan. Belum bisa mencukupi kebutuhan putra-putrinya yang 12 orang, Mangku Mura tidak saja menjadi petani penggarap, tukang bade, arsitek bangunan juga berkeliling mengerjakan rumah-rumah. Hingga sempat berlabuh ke Nusa Penida beberapa bulan menyelesaikan rumah bertingkat.

Kepiawaian Mangku Mura dalam olah sket dan juga karakter lukisannya yang kuat, menarik hati sang seniman Made Kanta yang kala itu mengabdi di Listibya Klungkung. Sempat tahun 1972-an ditawari membuat sanggar seni lukis klasik wayang Kamasan sebagai guru lukis untuk mengajar anak-anak.  Sayang permintaan itu ditolak halus lantaran Mangku Mura tidak punya rumah dan merasa tidak bisa menjadi guru.

Baca Juga  Dinsos Denpasar kembali Serahkan BLT Sektor Informal

Sebagai pelukis yang karya-karyanya lain dari sket umum di Kamasan, menarik minat Prof. Antony Forge asal Australia tatkala melakukan riset setahun di Kamasan tahun 1973. Penulis buku Museum Sidney ini bolak-balik ke rumah Mangku Mura untuk melihat dari dekat perjalanan seniman yang serba bisa ini. Dari Prof. Antony inilah kemudian Mangku Mura dikenal luas di luar negeri dibandingkan di Klungkung tempat kelahirannya.

Banyak karyanya kemudian dijual ke artshop-artshop melalui perantara yang rajin menunggu di rumahnya yang sederhana. Hingga pada tahun 1980-an Mangku Mura ikut keliling Eropa bersama tim kesenian Bali dari Kokar yang terdiri dari seniman tabuh, tari dan lukis.

Pulang dari Eropa, Mangku Mura menghadap Gubernur Bali Prof Dr. Ida Bagus Mantra, sang pencetus mahakarya Pesta Kesenian Bali tahun 1979.  Sambil membawa hadiah selembar lukisan karyanya sendiri.  Apa yang tertanam dari pesan seorang Gubernur yang karya-karyanya begitu membumi, ‘’Jangan merendahkan seni lukis klasik tradisional wayang Kamasan. Tolong pertahankan di rumah jangan dijual ke artshop-artshop. Kalau datang ke rumah baru dijual.’’ Begitu pesan Gubernur yang dituturkan Mangku Muriati.

Sejak itulah karya-karya Mangku Mura hanya dipajang di dinding rumahnya yang sederhana. Tidak sedikit yang digulung. Hampir setiap hari ada saja tamu yang datang. Baik tamu mancanegara maupun mahasiswa yang melakukan riset. Di antaranya yang rajin hadir mahasiwa PSSRD Udayana, ISI Yogyakarta yang dipimpin I Nyoman Gunarsa, IKIP Malang. Mangku Mura pun rutin mengikuti Pesta Kesenian Bali sejak 1979.

de
DUPLIKAT LUKISAN PUPUTAN KLUNGKUNG: Dua Duplikat Karya Mangku Muriati Berjudul Puputan Klungkung yang Salah Satunya Tersimpan di Australia

Pernah pada 1986-1987 Bupati Klungkung dr. Cokoda Agung menyuruh membuat lukisan yang bertemakan Puputan Klungkung. Mangku Mura yang pernah mendengarkan langsung cerita pasukan kompeni Belanda menyerang Klungkung dari para kumpi-nya yang ikut terlibat saat Puputan Klungkung mencoba menuangkannya dalam kanvas.

Kanvas berukuran 1,5×1,5 meter itu akhirnya selesai dan mendapat upah Rp 600 .000 dan sebuah buku sejarah Klungkung. Dalam lukisan itu menceritakan kisah perjalanan kompeni Belanda dari Kusamba menuju Sampalan,Tukad Unda, Setra Pijig, Tangkas, Griya Jumpung, Gelgel, Tapean hingga ke Galiran sebelum menyerang Puri Klungkung yang dikenal dengan perang Puputan Klungkung pada 1908-an.

Baca Juga  Senin Ini, 7 Orang Dinyatakan Positif Covid-19 dari Transmisi Lokal di Kota Denpasar

Sayang lukisan itu sempat digeletakkan begitu saja yang akhirnya ditemukan dan kini dipajang di salah satu sudut kantor pemerintahan Klungkung. Atas permintaan seorang kawan dari Australia, karya Mangku Mura berjudul Puputan Klungkung diduplikat dua buah oleh Mangku Muriati. Salah satunya kini berada di Sidney.

de
MANGKU MURIATI: Aktif Berpameran Tunjukkan Hasil Karya-karyanya

Hari demi hari Mangku Mura terus berkarya, begitu juga berserah diri di Paibon Tangkas Kori Agung dan juga di Pura Prajapati Setra Pijig serta rajin ngayah mewirama di pura-pura dan juga sering diserahi mengerjakan bade. Hingga pada akhir Mei 1999 penyakit asmanya mengantarkan sang maestro pulang menuju alam surgawi, meninggalkan banyak pesan filosofi yang sangat menginspirasi para penikmat lukisan tradisi.

Hampir 13 tahun nama Mangku Mura tak terdengar, di balik karya-karyanya yang terus diburu para kolektor. Bahkan selembar piagam pun belum pernah diterima Mangku Mura dari pemerintah daerah. Hanya piagam penghargaan dari peserta study tour yang dipajang di kamar pribadinya. Hingga pada tahun 2012 surat pemberitahuan dan undangan datang dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan yang kala itu dijabat Jero Wacik. Saat itu juga menerima lencana emas dari wakil presiden Boediono.

Mangku Muriati pun sempat menuturkan seorang pejabat pemkab yang menyerahkan surat itu mempertanyakan kenapa bisa menerima penghargaan seni dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Muriati kala itu hanya bisa menghela nafas. Dalam hati kecilnya, Muriati tetap merasa bangga, pesan orangtuanya yang selalu diingat yakni tetap meneruskan seni lukis klasik tradisional wayang Kamasan, melanjutkan ngayah spiritual sebagai pemangku dan baik-baik menjaga keluarga agar tetap rukun sepanjang waktu. Piagam hanya selembar kertas, tetapi karya-karya Mangku Mura akan dikenang sepanjang masa. Begitu Muriati menghibur diri.

de
KELUARGA MANGKU MURA: Tak Pernah Putus LestarikanTradisi Seni Lukis Klasik Wayang Kamasan

Karena itu, tiga putra almarhum kini suntuk menekuni seni lukis baik Mangku Muriati, Mangku Nyoman Kondra dan Ketut Darmi yang tidak pernah meninggalkan warna-warna tradisi. Termasuk juga cucu-cucunya yang mulai tumbuh bakatnya melukis wayang Kamasan. Bahkan kini karya Mangku Muriati mulai dikenal luas di kalangan seniman lukis. Banyak karyanya dipamerkan. Seperti tahun 2016 di Sudamala Sanur, tahun 2017 di Titian Art Speace Ubud dll. Saat ini sedang berlangsung pameran megarupa di beberapa lokasi antara lain di Puri Lukisan, Arma, Museum Neka dan Bentara Budaya, di mana karya Muriati dipamerkan di Puri Lukisan. Sedangkan pada 20 November 2019 juga ikut berpameran bersama seniman wanita Bali.  

Tubuh boleh saja berpulang dan menyatu ke alam abadi, namun karya-karya Mangku Mura akan terus dikenang sepanjang masa oleh kita yang ingin bumi ini tetap harmonis. *Balu01

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Serangkaian “Metatah” Massal PHDI Denpasar

Published

on

By

sangging jaya negara

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar di Pura Agung Lokanatha Denpasar, Sabtu (3/10). Keterlibatan tersebut menjadi bentuk kebersamaan sekaligus kepedulian dalam membantu masyarakat melaksanakan upacara keagamaan.

Metatah massal tersebut diikuti sebanyak 157 peserta. Selain metatah, kegiatan juga dirangkaikan dengan upacara Menek Kelih yang diikuti 107 peserta dan Mewinten Saraswati sebanyak 35 peserta. Kegiatan turut dihadiri Anggota DPD RI Dapil Bali, IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang juga turut ngayah sebagai sangging.

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan keterlibatannya sebagai sangging merupakan bagian dari ngayah sekaligus wujud kebersamaan bersama masyarakat dalam pelaksanaan yadnya.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan dan gotong-royong dalam meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Semoga seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan lancar dan mendapatkan kerahayuan,” ujar Jaya Negara.

Menurutnya, pelaksanaan metatah massal tidak hanya menjadi sarana pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai agama Hindu serta memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Pemerintah Kota Denpasar, kata Jaya Negara, akan terus mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan, adat, dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.

Sementara itu, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi Walikota Denpasar yang turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan metatah massal. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

“Melalui pelaksanaan Metatah Massal, Menek Kelih, dan Mewinten Saraswati, PHDI Kota Denpasar berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keberlangsungan adat, agama, dan budaya Bali di tengah kehidupan masyarakat,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Senin Ini, 7 Orang Dinyatakan Positif Covid-19 dari Transmisi Lokal di Kota Denpasar

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

“Tangkil Ngaturang Bhakti“ di Pura Bukit Mentik, Gubernur Koster Tegaskan Komitmen Jaga Peradaban Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Pujawali di Pura Bukit Mentik
HADIRI KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin serangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh) di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan peradaban Bali melalui penguatan desa adat dan pelestarian kawasan sakral. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin serangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh) di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore.

Dalam kesempatan tersebut, Koster menyebut Pura Bukit Mentik sebagai salah satu simbol penting peradaban Bali yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang harus terus dijaga.

Menurutnya, kawasan Kintamani memiliki anugerah alam yang sangat besar dengan keberadaan Gunung dan Danau Batur. Kekayaan tersebut, kata Koster, harus dirawat secara berkelanjutan agar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali.

“Ini harus kita rawat dengan baik,” tegas Koster.

Koster juga menyampaikan bahwa dirinya memberikan perhatian serius terhadap pembangunan di Kabupaten Bangli. Pembangunan, menurutnya, harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam, budaya, adat, dan kehidupan spiritual masyarakat.

Komitmen tersebut, lanjut Koster, menjadi bagian dari haluan pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan. Arah pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga memastikan Bali tetap ajeg dengan kekuatan adat dan budaya sebagai fondasinya.

“Jaga Bali agar tetap ajeg,” ujarnya.

Ia menegaskan, penguatan seluruh desa adat di Bali menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Bali ke depan. Desa adat dinilai memiliki peran strategis dalam mempertahankan nilai-nilai budaya, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Senin Ini, 7 Orang Dinyatakan Positif Covid-19 dari Transmisi Lokal di Kota Denpasar
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak “Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel“ Desa Adat Kesiman

Apresiasi Kolaborasi Ringankan Masyarakat Jalankan Upacara Yadnya

Loading

Published

on

By

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak Karya Angasti Puja Kesiman
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman, Kamis (1/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman yang dilaksanakan pada Wraspati Umanis Ugu, bertempat di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Kamis (1/10).

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPD RI Dapil Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Bendesa Adat se-Kota Denpasar, perwakilan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta undangan terkait lainnya.

Di sela rangkaian upacara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Desa Adat Kesiman.

“Sinergitas antara krama adat dengan pemerintah dalam melaksanakan upacara yadnya ini patut diberikan apresiasi. Tentunya pelaksanaan upacara yadnya yang kolaboratif ini dapat meringankan masyarakat dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Hindu di Bali,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut, Arya Wibawa menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat di Kota Denpasar sejalan dengan visi pembangunan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju.

“Pemerintah Kota Denpasar juga berharap seluruh rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat berjalan baik dan memberikan kebaikan bagi masyarakat yang melaksanakannya,” tambah Arya Wibawa.

Bendesa Adat Kesiman, Jro Mangku Ketut Wisna di sela acara mengatakan, upacara Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman.

“Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September 2026 lalu, dilanjutkan prosesi Ngingsah pada 16 September 2026 serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September 2026. Dilanjutkan prosesi Nganget Don Bingin pada 24 September 2026, dilanjutkan upacara Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta pada 27 September 2026. Lalu dilanjutkan upacara Metatah Massal yang diikuti 345 peserta, dilanjutkan prosesi Ngajum Puspa pada tanggal 29 hingga 30 September 2026,” jelasnya.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Kembali Swab Test kepada 71 Orang PMI

Selanjutnya, Jro Mangku Ketut Wisna mengatakan setelah dilaksanakan rangkaian upacara tadi, dilanjutkan dengan rangkaian upacara lainnya.

“Barulah dilaksanakan puncak Karya yang diikuti 307 puspa pada 1 Oktober 2026 yang dipuput oleh lima sulinggih Siwa-Buddha. Selanjutnya seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober 2026 mendatang,” imbuhnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca