Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Seniman Lukis Klasik Wayang Kamasan Mangku Mura: Sang Pengabdi Seni yang Bersinar di Luar

BALIILU Tayang

:

de
MANGKU MURIATI, MANGKU NYOMAN KONDRA, KETUT DARMI: Tiga Putra Mangku Mura yang Meneruskan Jejak sang Seniman sebagai Pelukis Klasik Wayang Kamasan

Om swastyastu….Om swastyastu… begitulah sapaan terdengar lembut ketika baliilu menginjakkan kaki tepat memasuki angkul-angkul rumah Jro Mangku Mura setelah menyisir gang kecil berjarak 50 meteran. Sedikit melirik ke kanan kiri, kami pun spontan membalasnya. Sapaan itu kembali terulang dan kami menyadari suara itu terdengar dari seekor beo di dalam sangkar yang digantang di bawah plafon.

Ada sederet burung yang  menghiasi rumah seniman lukis klasik tradisional wayang Kamasan yang begitu terkenal di zamannya. Ada cucak rowo, jalak suren, jalak nusa penida, tuwu tuwu, gagak, nuri yang bergantian melantunkan irama alam yang dipadukan suara ketukan alat tenun perajin kain songket sutra yang suntuk merajut di bale delod.

de
MANGKU MURIATI: Yang Tetap Suntuk Berkarya dengan Guratan-guratannya yang Mulai Dikenal di Masyarakat

Baru ketika memalingkan perhatian ke bale dauh, ada selembar lukisan lusuh terpampang di dinding karya Mangku Mura dan selembar lagi dipasang sebagai plafon yang memastikan bahwa inilah rumah Jero Mangku Mura yang wafat pada Mei akhir 1999 silam.

Belum sempat pikiran liar muncul, di depan kami sudah berdiri Jero Mangku Muriati, putri almarhum yang kini meneruskan sebagai seniman lukis klasik tradisional wayang Kamasan. Dari Mangku Muriatilah baiilu mendapat informasi selengkapnya bagaimana Mangku Mura yang lahir di Banjar Siku Dusun Kacang Dawa Desa Kamasan Klungkung Bali ini mengabdikan dirinya sebagai seniman lukis klasik yang begitu dikenal luas sampai ke manca negara, namun begitu redup di tanah kelahirannya di bumi Suweca Pura.

de
DOKUMEN FOTO: Di Kamar Pribadi Mangku Mura, Terpajang Foto-fotonya yang Lusuh Berdebu

Didampingi Mangku Nyoman Kondra dan Ketut Darmi, yang juga meneruskan jejak orangtuanya sebagai seniman lukis klasik tradisional Kamasan, Jero Mangku Muriati menuturkan kisah Mangku Mura yang lahir tahun 1920.  Jebolan PSSRD Universitas Udayana yang kini berserah diri sebagai pemangku di Pura Paibon Tangkas Kori Agung ini mengisahkan bagaimana pahit getir seorang Mangku Mura yang sudah kasudi sebagai pemangku sejak usia belia sekitar awal zaman penjajahan Jepang.

Merasa tidak memiliki apa-apa, baik rumah maupun sepetak sawah, Mangku Mura memilih belajar berbagai bidang ilmu seperti olah wirama, undagi dan melukis. Saban hari Mangku Mura ke Banjar Sangging Kamasan yang dikenal memiliki segudang seniman lukis klasik. Ia belajar dari Kaki Ngales, Pekak Luwi, Nyoman Dagal, Kaki Kayun dan lain-lain. ‘’Mangku tidak mau belajar dari satu guru,’’ terang Mangku Muriati.

Baca Juga  Update Covid-19 Jumat (27/3) di Bali, Total PDP 121 Orang, Bali Mulai Gunakan Tes PCR
de
PIAGAM: Hanya Dua Piagam yang Tampak Kumal Mengingatkan Ada Mahasiswa Yang Study Tour

Mangku Mura belajar dari banyak guru karena ingin menimba dari kelebihannya masing-masing. Dari Kaki Ngales banyak menempa ilmu membuat galuh, dari Kaki Kayun menyerap sket rupa raksasa. Dari perpaduan para seniman itulah kemudian Mangku Mura menciptakan sket yang lain dari yang lain. Mangku Mura berhasil melahirkan sebuah karakter yang kuat. Sampai kini goresan Mangku Mura dikenal tegas dan keras sesuai karakter Mangku Mura sendiri yang teguh pada prinsip, satya pada pikir, kata dan laku.

Sebagai seorang pemangku, almarhum banyak mengetahui epos cerita. Seperti kakawin Baratayuda gubahan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, syair Mahabarata karya Begawan Byasa yang terdiri dari 18 parwa , Ramayana karya Begawan Balmiki dan juga kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha gubahan Mpu Kanwa, Bhomantaka — kakawin Jawa Timur yang paling panjang, Gatotkacasraya, Sutasoma gubahan Mpu Tantular, Kidung Tantri dll yang seringkali dikumandangkan dalam bait wirama ketika ngayah di pura-pura.

de
MANGKU MURA: Berpulang Mei 1999, Namun Karyanya Dikenang Sepanjang Masa

Dari kemampuannya akan cerita epos-epos itulah karya-karya lukisnya begitu kuat memberikan pesan filosofi. Pesan hukum sebab akibat atau karma phala yang begitu benderang dalam guratan Bima Swarga di Kertagosa. Banyak karyanya dipajang di pura-pura sebagai parba, ider-ider, lontek, kober, langse atau ulon.

Pengalaman yang paling berkesan dari penuturan Mangku Muriati  ketika ikut mengerjakan proyek lukisan Kamasan di Kertagosa Klungkung. Mangku Mura yang maburuh dari Pan Semari yang ditunjuk sebagai pimpinan proyek akhirnya didaulat dan diangkat sebagai tukang sket. Pengangkatan sebagai tukang sket lantaran orang tua Pan Semari yang biasanya jadi tukang sket berhalangan sakit. Mangku Mura ditunjuk tidak terlepas dari kepiawaiannya akan kisah-kisah sastrawi seperti Bima Swarga.  Walau tidak tersurat sebagai bukti karya di akhir kisah cerita Bima Swarga, namun Mangku Mura sudah banyak bercerita akan keikutsertaannya kepada putra-putrinya.

de
KARYA MANGKU MURA: Satu Di Antara yang Masih Tersimpan Rapi di Kamar Pribadinya

Baru setelah kemerdekaan, karya Mangku Mura dijualbelikan. Belum bisa mencukupi kebutuhan putra-putrinya yang 12 orang, Mangku Mura tidak saja menjadi petani penggarap, tukang bade, arsitek bangunan juga berkeliling mengerjakan rumah-rumah. Hingga sempat berlabuh ke Nusa Penida beberapa bulan menyelesaikan rumah bertingkat.

Kepiawaian Mangku Mura dalam olah sket dan juga karakter lukisannya yang kuat, menarik hati sang seniman Made Kanta yang kala itu mengabdi di Listibya Klungkung. Sempat tahun 1972-an ditawari membuat sanggar seni lukis klasik wayang Kamasan sebagai guru lukis untuk mengajar anak-anak.  Sayang permintaan itu ditolak halus lantaran Mangku Mura tidak punya rumah dan merasa tidak bisa menjadi guru.

Baca Juga  Pramuka Kwarda Bali Siap Jadi Duta QRIS

Sebagai pelukis yang karya-karyanya lain dari sket umum di Kamasan, menarik minat Prof. Antony Forge asal Australia tatkala melakukan riset setahun di Kamasan tahun 1973. Penulis buku Museum Sidney ini bolak-balik ke rumah Mangku Mura untuk melihat dari dekat perjalanan seniman yang serba bisa ini. Dari Prof. Antony inilah kemudian Mangku Mura dikenal luas di luar negeri dibandingkan di Klungkung tempat kelahirannya.

Banyak karyanya kemudian dijual ke artshop-artshop melalui perantara yang rajin menunggu di rumahnya yang sederhana. Hingga pada tahun 1980-an Mangku Mura ikut keliling Eropa bersama tim kesenian Bali dari Kokar yang terdiri dari seniman tabuh, tari dan lukis.

Pulang dari Eropa, Mangku Mura menghadap Gubernur Bali Prof Dr. Ida Bagus Mantra, sang pencetus mahakarya Pesta Kesenian Bali tahun 1979.  Sambil membawa hadiah selembar lukisan karyanya sendiri.  Apa yang tertanam dari pesan seorang Gubernur yang karya-karyanya begitu membumi, ‘’Jangan merendahkan seni lukis klasik tradisional wayang Kamasan. Tolong pertahankan di rumah jangan dijual ke artshop-artshop. Kalau datang ke rumah baru dijual.’’ Begitu pesan Gubernur yang dituturkan Mangku Muriati.

Sejak itulah karya-karya Mangku Mura hanya dipajang di dinding rumahnya yang sederhana. Tidak sedikit yang digulung. Hampir setiap hari ada saja tamu yang datang. Baik tamu mancanegara maupun mahasiswa yang melakukan riset. Di antaranya yang rajin hadir mahasiwa PSSRD Udayana, ISI Yogyakarta yang dipimpin I Nyoman Gunarsa, IKIP Malang. Mangku Mura pun rutin mengikuti Pesta Kesenian Bali sejak 1979.

de
DUPLIKAT LUKISAN PUPUTAN KLUNGKUNG: Dua Duplikat Karya Mangku Muriati Berjudul Puputan Klungkung yang Salah Satunya Tersimpan di Australia

Pernah pada 1986-1987 Bupati Klungkung dr. Cokoda Agung menyuruh membuat lukisan yang bertemakan Puputan Klungkung. Mangku Mura yang pernah mendengarkan langsung cerita pasukan kompeni Belanda menyerang Klungkung dari para kumpi-nya yang ikut terlibat saat Puputan Klungkung mencoba menuangkannya dalam kanvas.

Kanvas berukuran 1,5×1,5 meter itu akhirnya selesai dan mendapat upah Rp 600 .000 dan sebuah buku sejarah Klungkung. Dalam lukisan itu menceritakan kisah perjalanan kompeni Belanda dari Kusamba menuju Sampalan,Tukad Unda, Setra Pijig, Tangkas, Griya Jumpung, Gelgel, Tapean hingga ke Galiran sebelum menyerang Puri Klungkung yang dikenal dengan perang Puputan Klungkung pada 1908-an.

Baca Juga  Tingkatkan Keamanan Aplikasi, Dewa Indra Buka Kick Off Meeting IT Security Assessment

Sayang lukisan itu sempat digeletakkan begitu saja yang akhirnya ditemukan dan kini dipajang di salah satu sudut kantor pemerintahan Klungkung. Atas permintaan seorang kawan dari Australia, karya Mangku Mura berjudul Puputan Klungkung diduplikat dua buah oleh Mangku Muriati. Salah satunya kini berada di Sidney.

de
MANGKU MURIATI: Aktif Berpameran Tunjukkan Hasil Karya-karyanya

Hari demi hari Mangku Mura terus berkarya, begitu juga berserah diri di Paibon Tangkas Kori Agung dan juga di Pura Prajapati Setra Pijig serta rajin ngayah mewirama di pura-pura dan juga sering diserahi mengerjakan bade. Hingga pada akhir Mei 1999 penyakit asmanya mengantarkan sang maestro pulang menuju alam surgawi, meninggalkan banyak pesan filosofi yang sangat menginspirasi para penikmat lukisan tradisi.

Hampir 13 tahun nama Mangku Mura tak terdengar, di balik karya-karyanya yang terus diburu para kolektor. Bahkan selembar piagam pun belum pernah diterima Mangku Mura dari pemerintah daerah. Hanya piagam penghargaan dari peserta study tour yang dipajang di kamar pribadinya. Hingga pada tahun 2012 surat pemberitahuan dan undangan datang dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan yang kala itu dijabat Jero Wacik. Saat itu juga menerima lencana emas dari wakil presiden Boediono.

Mangku Muriati pun sempat menuturkan seorang pejabat pemkab yang menyerahkan surat itu mempertanyakan kenapa bisa menerima penghargaan seni dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Muriati kala itu hanya bisa menghela nafas. Dalam hati kecilnya, Muriati tetap merasa bangga, pesan orangtuanya yang selalu diingat yakni tetap meneruskan seni lukis klasik tradisional wayang Kamasan, melanjutkan ngayah spiritual sebagai pemangku dan baik-baik menjaga keluarga agar tetap rukun sepanjang waktu. Piagam hanya selembar kertas, tetapi karya-karya Mangku Mura akan dikenang sepanjang masa. Begitu Muriati menghibur diri.

de
KELUARGA MANGKU MURA: Tak Pernah Putus LestarikanTradisi Seni Lukis Klasik Wayang Kamasan

Karena itu, tiga putra almarhum kini suntuk menekuni seni lukis baik Mangku Muriati, Mangku Nyoman Kondra dan Ketut Darmi yang tidak pernah meninggalkan warna-warna tradisi. Termasuk juga cucu-cucunya yang mulai tumbuh bakatnya melukis wayang Kamasan. Bahkan kini karya Mangku Muriati mulai dikenal luas di kalangan seniman lukis. Banyak karyanya dipamerkan. Seperti tahun 2016 di Sudamala Sanur, tahun 2017 di Titian Art Speace Ubud dll. Saat ini sedang berlangsung pameran megarupa di beberapa lokasi antara lain di Puri Lukisan, Arma, Museum Neka dan Bentara Budaya, di mana karya Muriati dipamerkan di Puri Lukisan. Sedangkan pada 20 November 2019 juga ikut berpameran bersama seniman wanita Bali.  

Tubuh boleh saja berpulang dan menyatu ke alam abadi, namun karya-karya Mangku Mura akan terus dikenang sepanjang masa oleh kita yang ingin bumi ini tetap harmonis. *Balu01

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Bupati Badung Hadiri Puncak “Karya Ngenteg Linggih“ di Pura Dalem Padonan Desa Adat Kapal

Published

on

By

bupati adi arnawa
SEMBAHYANG: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa melakukan persembahyangan bersama saat menghadiri puncak Karya Ngenteg Linggih Caru Wraspati Kalpa di Pura Dalem Padonan, Banjar Belulang, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Rabu (8/7/2026). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri puncak Karya Ngenteg Linggih Caru Wraspati Kalpa di Pura Dalem Padonan, Banjar Belulang, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Rabu (8/7/2026). Karya yang dipuput oleh pemangku pura setempat ini digelar bersamaan di tiga pura, yakni Pura Dalem Padonan, Pura Dalem Penataran, dan Pura Ratu Ngurah Bagawan Penyarikan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Adi Arnawa melakukan penandatanganan prasasti dan mengikuti persembahyangan bersama krama. Bupati turut mengapresiasi semangat gotong royong warga Banjar Belulang yang sukses menggelar karya suci besar meski jumlah pengemponnya terbatas.

“Kebersamaan adalah kekuatan utama masyarakat Bali. Ketika krama bersatu dengan semangat ngayah dan tulus ikhlas, setiap kegiatan, termasuk pelaksanaan karya suci seperti hari ini, dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.

Ia berharap upacara ini membawa kesehatan, kerahayuan, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Bupati juga mengajak krama untuk terus menjaga persatuan dan kelestarian budaya Bali sebagai pondasi utama pariwisata daerah.

Sementara itu, Manggala Karya sekaligus Camat Mengwi Nyoman Suhartana menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bupati Badung. Ia menjelaskan bahwa upacara ini merupakan hasil musyawarah dan kesepakatan seluruh warga.

“Kegiatan karya ini merupakan wujud semangat gotong-royong Krama Banjar Belulang yang didukung oleh Jero Bendesa Adat Kapal. Melalui rapat dan musyawarah bersama, seluruh krama bersepakat untuk melaksanakan karya ini sehingga dapat terlaksana dengan baik,” jelasnya.

Suhartana memaparkan, karya suci yang diempon oleh 66 Kepala Keluarga (KK) ini didukung penuh oleh bantuan dana hibah Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp 400 juta. Selain itu, pembiayaan juga bersumber dari punia krama serta para pengusaha di lingkungan Banjar Belulang.

Baca Juga  Salam Perpisahan Konjen China, Gubernur Koster Puji Pemerintah Tiongkok Atasi Wabah Corona

Acara ini turut dihadiri oleh Kabag Prokompim Setda Badung I Kadek Edi Putrana, Kabag Umum I Gede Wisnu Bhayangkara, Lurah Kapal Nyoman Adi Setiawan, Bendesa Adat Kapal I Ketut Sudarsana, Kelian Adat dan Kelian Dinas Desa Adat Kapal, unsur Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa, para pengempon pura serta prajuru adat setempat. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa Apresiasi Karya Suci “Piodalan Padudusan Agung” di Desa Adat Sibanggede

Published

on

By

bupati adi arnawa
SERAHKAN PUNIA: Bupati Badung Wayan Adi Arnawa menyerahkan punia saat menghadiri Karya Suci Piodalan Padudusan Agung di Pura Puseh Desa Adat Sibanggede, Selasa (7/7). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengapresiasi semangat gotong-royong krama Desa Adat Sibanggede dalam menyelenggarakan Karya Suci Piodalan Padudusan Agung. Apresiasi tersebut disampaikan saat menghadiri puncak upacara yang berlangsung di Pura Puseh Desa Adat Sibanggede, Selasa (7/7/2026).

Upacara besar ini merupakan rangkaian dari Upacara Piodalan Mapadudusan Agung Menawa Ratna Medasar Caru Labuh Gentuh Ngusaba Desa Muang Ngusaba Nini Tahun 2026 yang bertepatan dengan Rahina Anggara Kasih Medangsia.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menandatangani prasasti serta melaksanakan persembahyangan bersama. Persembahyangan ini dilakukan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di Pura Puseh dan Pura Desa.

Dalam sambrama wacana-nya, Bupati Adi Arnawa mengajak seluruh krama untuk senantiasa meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar selalu dianugerahi kesehatan, kerahayuan, dan kesejahteraan.

“Saya merasa bersyukur dapat hadir di tengah-tengah masyarakat yang sedang melaksanakan karya suci ini. Semoga melalui karya suci ini kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kerahayuan, serta keseimbangan alam semesta,” ujarnya.

Bupati Adi Arnawa mendoakan agar seluruh rangkaian karya suci dapat berjalan dengan lancar dan rahayu. Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Badung, khususnya terkait kemacetan yang masih terjadi di sejumlah titik.

Menurutnya, Pemkab Badung terus berupaya mengatasi persoalan tersebut melalui pembangunan ruas jalan baru dan pelebaran jalan di beberapa lokasi strategis. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan sehingga wisatawan merasa lebih nyaman dan aman saat berkunjung ke Badung. Selain itu, Bupati juga mengajak seluruh krama untuk terus menjaga adat, tradisi, dan warisan leluhur serta mendukung program-program pemerintah.

Baca Juga  Update Covid-19 Jumat (27/3) di Bali, Total PDP 121 Orang, Bali Mulai Gunakan Tes PCR

“Tantangan kita ke depan adalah kemacetan, pengelolaan sampah, dan keamanan. Untuk itu saya mengharapkan kerja sama seluruh krama. Terkait kemacetan, pemerintah telah membangun ruas jalan baru dan melakukan pelebaran jalan di beberapa titik. Sedangkan dalam penanganan sampah, kami mengajak masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga agar lebih mudah diolah di TPS-3R,” harapnya.

Manggala Karya, Wayan Darma, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung atas segala dukungan yang diberikan, sehingga pelaksanaan karya suci tersebut dapat terlaksana dengan baik.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Badung yang di tengah kesibukannya masih berkenan hadir pada puncak karya ini. Selain itu, kami juga berterima kasih atas bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp 1,5 miliar sehingga seluruh rangkaian karya suci dapat terlaksana sesuai harapan kami,” ungkapnya.

Usai puncak upacara, kegiatan dilanjutkan dengan Upacara Mepasaran dan Mapeselang. Rangkaian upacara suci ini dipuput oleh sejumlah sulinggih. Upacara Padudusan Agung dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Geniten (Griya Dalem Sibanggede), Ida Pedanda Putu Peling (Griya Peling Blahbatuh), Ida Pedanda Nyoman Tulikup (Griya Tulikup), Ida Pedanda Gede Putra Singarsa (Griya Langon Sibang Kaja), dan Ida Pedanda Jelantik Giri (Griya Gunung Sari, Peliatan).

Sedangkan Upacara Mepasaran dipuput oleh Ida Pedanda Istri Ketut Kanya Mas Kajeng dari Griya Kajeng Abiansemal. Upacara Mapeselang sekaligus Majejiwan dipuput oleh Ida Pedanda Ari Dwija Simpangan dari Griya Simpangan, Sandakan, bersama Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari, Peliatan. Selanjutnya, Upacara Ngindang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Mayun, sedangkan Upacara Ngenyitin Linting dipuput oleh Ida Pedanda Istri Rai.

Baca Juga  Antisipasi Covid-19, Desa Peguyangan Kaja Giatkan Patroli Dialogis dan Sosialisasi Prokes

Turut hadir dalam kesempatan tersebut anggota DPRD Badung Nyoman Gede Wiradana, Plt. Camat Abiansemal Wayan Bagiarta, para Angga Puri, Angga Griya, Perbekel Sibanggede Wayan Darmika, Bendesa Adat Sibanggede I Nyoman Surianta, Kelihan Adat dan Dinas Sibanggede, serta seluruh krama Desa Adat Sibanggede. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Ngenteg Linggih” di Pura Dalem Kedatuan Kesiman

Published

on

By

Pura Dalem Kedatuan Kesiman
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman, bertepatan dengan rahina Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman, bertepatan dengan rahina Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7). Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara turut Ngelingga Tangan atau menandatangani Prasasti Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman yang beberapa bagian pura baru selesai dipugar, serta ngelinggihang Ida Bhetara Ssuhunan di bale tajuk dan ngaturang punia.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara, Camat Denpasar Timur, Ketut Sri Karyawati beserta tokoh agama dan masyarakat setempat.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara di sela upacara mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Dalem Kedatuan Kesiman ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

“Apalagi di komunitas masyarakat seperti pesemetonan dan desa adat perlu diapresiasi bagaimana membangun sradha bhakti masyarakat melalui upakara yang dilaksanakan,” ujarnya.

Dikatakannya, mengenai pelaksanaannya, Pemkot Denpasar terus mengedepankan pemberdayaaannya yang tidak terlepas dari sektor keagamaan. Namun demikian, yang juga patut diapresiasi adalah muncul kemandirian masyarakat untuk memunculkan kesadaran. Sehingga manfaat yang diperoleh dalam penyelenggaraan upacara keagamaan yang dikenal dengan istilah Tri Guna Karya serta Satwika Karya.

Jaya Negara juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman ini, seluruh umat terutama warga dan pengempon dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.

Baca Juga  Update Covid-19 Jumat (27/3) di Bali, Total PDP 121 Orang, Bali Mulai Gunakan Tes PCR

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal- hal negatif di lingkungan desa setempat,” katanya.

Sementara Manggala Karya, Wayan Wiranatha mengatakan Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman dilaksanakan karena rampungnya beberapa palinggih pura yang di perbaharui.

Dimana karya ini sudah di mulai dari tanggal 5 Juni 2026 lalu dan hari ini tanggal 7 Juli 2026 dilaksanakan upacara puncak karya yang dipuput oleh Ida Peranda Gde Putra Bajing dari Griya Tegal Jingga.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan upacara ngenteg linggih dan meresmikan karya ini dengan Ngelingga Tangan atau menandatangani Prasasti Karya dan mepunia kepada kami. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca