Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Serius Tangani Stunting, Sekda Dewa Indra Wakili Gubernur Kukuhkan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Bali

BALIILU Tayang

:

de
Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra menyerahkan SK Pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Bali, di Gedung Wiswa Sabha Utama. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Memahami stunting itu apa dan penyebab yang mengakibatkan terjadinya stunting pada anak menjadi penting sebagai edukasi yang harus disosialisasikan di tengah masyarakat, khususnya kepada generasi muda yang akan memasuki masa subur (pra-nikah), perempuan yang sudah menikah dan sedang hamil serta ibu-ibu yang baru saja melahirkan.

Stunting yang merupakan kondisi serius pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah rata-rata atau anak sangat pendek serta tubuhnya tidak bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usianya dan berlangsung dalam waktu lama. Edukasi untuk memahami pentingnya pengetahuan tentang asupan gizi yang seimbang dan bisa didapatkan dari makanan apa saja, menjadi sangat penting untuk diketahui agar bayi yang baru lahir dengan masa pertumbuhannya yang aktif bagi ibu-ibu masa kini.

Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra saat memberikan sambutan dalam acara Pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Bali, di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kamis (28/4).

Badan Kesehatan Dunia menyatakan bahwa sekitar 20% kejadian stunting sudah terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh kurang pahamnya ibu-ibu hamil tentang pentingnya asupan gizi selama hamil. Selain itu penyebab stunting juga bisa terjadi karena nutrisi yang diterima janin cenderung sedikit dan tidak berkualitas. Yang akhirnya, mengakibatkan pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

“Upaya menekan atau menurunkan prevalansi stunting ini dimulai dari hulu, yakni dari pranikah, tidak hanya edukasi tetapi juga pelayanan di puskesmas dan posyandu karena ada vitamin, belum tentu atau tidak sepenuhnya stunting disebabkan karena faktor kemiskinan atau tingkat ekonomi, karena ini soal edukasi bisa saja seorang yang secara ekonomi adalah orang yang tidak mampu namun dia benar memberikan gizi untuk janin yang ada dalam kandungannya, maka bayi yang akan dilahirkannya juga akan tumbuh menjadi sehat dan cerdas. Dan gizi itu tidak serta merta datangnya dari jenis makanan yang mahal, bisa saja dengan mengkonsumsi makanan yang sehat berupa sayur-mayur, buah yang dipetik di ladangnya,” tegas Sekda Dewa Indra.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Terima Kunker Parlemen Nasional Komisi E Timor Leste
Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra saat mengukuhkan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Bali, di Gedung Wiswa Sabha Utama. (Foto: Ist)

Hingga saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat stunting yang cukup tinggi. Indonesia di tahun 2021 mencatat angka stunting sebesar 24,4%. Kemudian Presiden Republik Indonesia menentukan bahwa tahun 2024 prevalensi stunting harus turun menjadi 14%. Kita harus mampu menurunkan prevalensi stunting sebesar 10% di dua (2) tahun ini, sementara Bali di tahun 2021 mencatat 10,9%. Target pemerintah di tahun 2024 adalah 6,15%.

“Tetapi ini bukan persoalan angka tetapi lebih kepada kita menjamin kualitas generasi pemuda Bali ke depan. Karena harapan kita untuk mewujudkan generasi yang sehat dan cerdas di Bali, angka stunting 6,15% ini masih cukup tinggi. Meskipun tingkat prevalensi stunting berada di bawah nasional, tetapi bukan berarti kita tidak kerja keras untuk menurunkan. Yang terpenting adalah memahami penyebab stunting dan apa akibatnya jika stunting baik bagi anak itu sendiri dan juga bagi keluarganya. Sehingga pemahaman asupan gizi yang benar dan sesuai kebutuhannya itu adalah pengetahuan yang harusnya diketahui oleh perempuan,” ungkap Dewa Indra.

Kegiatan Pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Bali yang serentak dilaksanakan di seluruh Kabupaten/ Kota se-Bali merupakan tonggak formal dimana kita membentuk tim percepatan penurunan stunting sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Upaya untuk penurunan stunting ini mendapat perhatian dari Presiden, sehingga semua daerah wajib melaksanakannya sebaik-baiknya yang dipimpin langsung oleh Kepala Daerah dan pimpinan wilayahnya dari tingkat kabupaten hingga tingkat desa. Sesuatu yang serius yang harus dilaksanakan, karena stunting bukan hanya fenomena pertumbuhan fisik yang mengalami gangguan, tetapi tidak lain memiliki kaitan dengan kualitas seseorang bagi  bayi-bayi dan balita yang tumbuh (dalam waktu saat ini), namun sekian tahun ke depan angka stunting yang tinggi akan mempengaruhi kualitas generasi kita. Jika stunting yang tinggi ini dibiarkan maka sekian tahun lagi kita akan menghadapi sekian banyak generasi yang menghadapi persoalan, bukan hanya pada persoalan fisik semata, namun juga lebih kepada kualitas hidup. Karena stunting ini akan mengganggu pertumbuhan mental, mengganggu pertumbuhan kecerdasannya. (gs/bi)

Baca Juga  Desa Pemogan Sosialisasikan Pemilahan Sampah Berbasis Sumber

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Terima Kunker Parlemen Nasional Komisi E Timor Leste

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Desa Pemogan Sosialisasikan Pemilahan Sampah Berbasis Sumber

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Bali Jadi Satu-satunya Provinsi Pilot Penuh Digitalisasi Bansos, Sekda Dewa Indra Buka Bimtek

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca