Yogyakarta, baliilu.com – Meski Kota Yogyakarta hanya mengandalkan destinasi wisata Keraton Yogyakarta dan Malioboro, namun ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini mampu menyerap kunjungan wisatawan hingga menembus 9 juta wisatawan. Melonjak hampir 80 persen pasca-Covid-19 yang sebelumnya hanya 4,8 juta wisatawan.
Kabid Industri Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta Cesaria Eka Yulianti, S.ST, MT mengungkapkan hal tersebut saat menerima kunjungan kerja rombongan Sekretariat DPRD Bali bersama 26 anggota Forward yang terdiri atas wartawan media cetak, elektronik maupun media online, Jumat (1/11/2024). Rombongan Setwan DPRD Bali bersama Forward dipimpin Kasubbag TU, Kepeg, Humas dan Protokol DPRD Bali Kadek Putra Suantara.
Walau kehadiran wisatawan cukup besar, kata Yulianti, benefit yang diperoleh dari kunjungan ini relatif masih kecil. Rata-rata masa tinggal atau lenght of stay wisatawan yang dominan wisatawan Nusantara ini hanya 1,4 hari. “Karena masa tinggalnya sangat terbatas, tentu saja benefit yang diperoleh sangat kecil,” ujar Yulianti.
Untuk itu, Yulianti menyatakan, Pemkot Yogyakarta mulai memikirkan untuk quality tourism atau wisatawan berkualitas. Jumlah wisatawan tidak perlu banyak, tetapi masa tinggal dan kemampuan beli wisatawan tinggi. “Kebijakan Pemkot Yogyakarta menuju quality tourism untuk menghindari kemacetan lalu lintas, sampah, serta polusi,” ujarnya.
Saat ini, sebut Yulianti, Yogyakarta hanya mengandalkan wisata ikonik seperti Keraton Yogyakarta dan Malioboro, serta didukung oleh Yogyakarta sebagai kota pelajar. Untuk menuju quality tourism, destinasi ini mulai dibenahi. Dia menunjuk Keraton Yogyakarta saat ini dikunjungi oleh siswa dengan tiket masuk hanya Rp 20.000.
“Saat ini hanya ada 4 bagian keraton yang dijual untuk pariwisata. Selain tidak semua areal keraton bisa dikunjungi, waktu kunjungan juga dibatasi. Ini tentu saja untuk menjaring wisatawan berkualitas,” ungkapnya.
Demikian juga dengan Malioboro yang sudah sangat ikonik dengan Kota Yogyakarta. Sebelum ke Malioboro, terkesan belum dapat ke Yogyakarta. “Ini pun sudah menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan,” katanya.
Dari dua destinasi di atas, katanya, Kota Yogyakarta tidak memperoleh retribusi dan pendapatan. Kota Yogyakarta justru memperoleh pendapatan dari fasilitas pariwisata yang ada seperti dari 700 hotel serta 600 buah restoran. “Dari sini kami hanya memperoleh Rp 231,7 miliar atau setara dengan 37 persen dari keseluruhan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Yogyakarta,” ungkapnya.
Untuk mencegah kejenuhan wisatawan ke kota gudeg, Cesaria Eka Yulianti mengungkapkan, pihaknya juga merancang destinasi wisata baru di beberapa wilayah Kota Yogyakarta. Dia menunjuk pengembangan wisata di Kota Gede, Kota Baru serta Paku Alaman. “Sebagai kota pelajar, keluarga mahasiswa dipastikan tetap berkunjung ke Yogyakarta walaupun untuk menjenguk sang anak atau pas saat kelulusan sang putra,” katanya.
Pada kesempatan itu, Yulianti juga mengungkapkan trik-trik untuk meminimalkan tunggakan pajak. Salah satunya dengan pemasangan stiker di tempat usaha para wajib pajak yang menunggak. “Dengan stiker ini tentu saja WP akan malu dan berusaha untuk melunasi kewajibannya,” katanya.
Sebelumnya Ketua Rombongan Setwan DPRD Bali bersama Forward Kadek Putra Suantara menyampaikan tujuan dari studi perbandingan yang digelar. “Selain untuk silaturahmi, kedatangan kami ke Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk sharing terkait pariwisata seperti apa upaya yang dilakukan menuju quality tourism serta apa langkah-langkah yang dilakukan untuk menghindari kejenuhan wisatawan datang ke suatu destinasi,” katanya.
Kadek Putra Suantara juga menyampaikan, khusus Bali mengembangkan pariwisata budaya dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana yakni hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, hubungan baik manusia dengan manusia, serta hubungan baik manusia dengan alam sekitarnya. “Ketiga ini harus selaras untuk pariwisata tetap eksis,” katanya.
Selain itu, Kadek Putra juga menegaskan kembali peran media dalam mempromosikan serta mengungkap destinasi-destinasi yang ada sehingga daya tariknya bisa diketahui masyarakat. “Karena itulah, kami melibatkan media dalam setiap kegiatan pembangunan termasuk dalam hal studi perbandingan untuk memperoleh sharing informasi di sektor pariwisata,” ujarnya.
Usai tanya jawab dan diskusi, acara ditutup dengan saling tukar cinderamata antara rombongan Setwan DPRD Provinsi Bali dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Usai saling bertukar cinderamata, kunjungan kerja ditutup dengan sesi foto bersama. (wsa)