Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Sosialisasi Pemuda Badung Tangguh Cegah HIV AIDS Tahun 2024

Wabup Suiasa Ajak Melangkah Bersama Membangun Badung, Tepati Janji Stop AIDS

Loading

BALIILU Tayang

:

Wabup Suiasa
BUKA SOSIALISASI: Wabup Badung Ketut Suiasa yang juga selaku Ketua Pelaksana KPA Kabupaten Badung menghadiri sekaligus membuka acara Sosialisasi Pemuda Badung Tangguh Cegah HIV AIDS di Kabupaten Badung Tahun 2024 di SMA Negeri 1 Petang, Kamis (6/6). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa yang juga selaku Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Badung menghadiri sekaligus membuka acara Sosialisasi Pemuda Badung Tangguh Cegah HIV AIDS di Kabupaten Badung Tahun 2024, Kamis (6/6) di SMA Negeri 1 Petang. Turut hadir dalam kesempatan ini Perwakilan Dinas Kesehatan Badung, Perwakilan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Badung, Perwakilan Camat Petang, Perwakilan Perbekel Desa Petang serta para undangan lainnya.

Wabup Suiasa mengatakan, Pemuda Badung Tangguh Cegah HIV AIDS merupakan program inovasi aksi aktual yang digerakkan di kalangan generasi muda/anak- anak SMA untuk dapat mencapai Badung from Hero to Zero untuk mengakhiri epidemi penyebaran HIV AIDS. Maka dari itu diperlukan perhatian, komitmen dan dukungan nyata dari semua pihak utamanya dari kalangan generasi muda/anak-anak SMA dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV AIDS.

Selain itu, penyebarluasan informasi yang benar kepada masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan peranan dari masyarakat menuju 3 Zero AIDS diantaranya yang pertama Zero New HIV Infection/Zero Infeksi Baru HIV AIDS, yang kedua Zero Aids Related Death/Zero Kematian Akibat HIV AIDS dan yang terakhir Zero Discriminat Ion/Zero Stigma atau Diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS. Adapun cairan tubuh yang dapat menularkan HIV seperti darah, cairan kelamin dan ASI (Air Susu Ibu), serta perilaku sehari-hari di masyarakat juga bisa menularkan HIV antara lain berhubungan seks bebas (vaginal, anal, oral) tanpa pengaman (kondom), bertukar jarum suntik yang tidak disterilkan pada pengguna narkoba, penerima transfusi darah dari donor darah HIV + dan dari ibu yang HIV + pada saat melahirkan dan menyusui (ASI).

Baca Juga  Wabup Suiasa Hadiri Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Ke-28

“Mudah-mudahan melalui acara sosialisasi ini dapat berkontribusi dalam upaya mengatasi berbagai persoalan serius sehingga dapat menyelamatkan Kabupaten Badung dari ancaman HIV AIDS dan dapat dijadikan sebagai momentum untuk mempercepat pencegahan HIV AIDS di Kabupaten Badung serta melalui komitmen pada tingkat lokal dan sebagai upaya penguatan kesadaran kolaborasi pengembangan inovasi kemandirian masyarakat dalam mencegah infeksi dan penularan HIV AIDS,” ucap Suiasa.

Lebih lanjut dapat dikatakan HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang termasuk famili retroviridae yang dapat menginfeksi sel limfosit dan menyebabkan penurunan kekebalan tubuh dan untuk pencegahan HIV/AIDS diharapkan saling setia terhadap pasangan, hindari berganti-ganti pasangan, hindari penggunaan narkoba terutama melalui jarum suntik dan edukasi HIV yang benar mengenai cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, dapat membantu mencegah penularan HIV di masyarakat.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Petang I Wayan Sutika, menyampaikan banyak terima kasih dan selamat datang kepada Bapak Wakil Bupati serta undangan lainnya di SMA Negeri 1 Petang yang merupakan SMA paling utara di ujung gumi keris Kabupaten Badung. SMA ini berdiri pada tahun 1989 dan tanggal 11 yang akan datang 2024 ini akan merayakan hari jadi yang ke-35 tahun. Adapun siswa yang bersekolah di SMA ini 729 siswa yang terbagi menjadi 23 kelas diantaranya kelas 10 ada 6 kelas belajar, kelas 11 ada 8 kelas belajar dan 12 ada 9 kelas belajar. Untuk tenaga pengajar diasuh oleh 60 guru dan 30 tenaga pendidikan dan fasilitas ruang belajar di SMA ini sudah relatif memadai ada ruang IPA, Fisika, Biologi dan juga dilengkapi ruang perpustakaan, kegiatannya juga ada ekstrakurikuler dan lainnya sebagainya,” jelasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Pimpin ‘’Penganyaran’’ Serangkaian Karya IBTK di Pura Agung Besakih

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Tutup Lomba EpiC dan Luncurkan Modul Bimbel Bahasa Inggris 2026

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  KPK Bersama Pemkab Badung Gelar Rakor Program Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 2025

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca