Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Taman Ujung Karangasem Warisan Budaya yang Wajib Dijaga Negara

BALIILU Tayang

:

Taman Ujung Karangasem
KUNKER: Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati melakukan kunjungan kerja dan dialog langsung di Taman Ujung, Kab. Karangasem, Provinsi Bali, Jumat (12/12/2025). (Foto : dpr.go.id)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati, menegaskan pentingnya perhatian serius pemerintah pusat terhadap pelestarian Taman Ujung Karangasem sebagai salah satu warisan budaya nasional yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan kearifan lokal yang tinggi. Hal tersebut disampaikannya usai melakukan kunjungan kerja dan dialog langsung di kawasan Taman Ujung, Karangasem, Bali.

My Esti menyampaikan bahwa berdasarkan penjelasan Wakil Bupati Karangasem, pemerintah daerah selama ini telah memberikan kontribusi nyata dalam mendukung renovasi dan perawatan kawasan Taman Ujung. Ia mengapresiasi langkah tersebut, mengingat Taman Ujung merupakan peninggalan Kerajaan Karangasem yang memiliki posisi penting dalam sejarah Bali.

“Kemarin kami bertemu langsung dengan cucu Raja Karangasem sebagai pengelola kawasan ini. Kita patut bangga sebagai bangsa Indonesia karena memiliki warisan budaya yang luar biasa dan masih terawat dengan baik seperti Taman Ujung ini,” ujar My Esti kepada media di Taman Ujung, Kab. Karangasem, Provinsi Bali, Jumat (12/12/2025).

Dalam kunjungan tersebut, My Esti juga diperkenalkan dengan berbagai tradisi dan kekayaan budaya Karangasem, termasuk kain tenun Gringsing yang memiliki nilai historis dan filosofis sangat tinggi.

“Tenun Gringsing ini luar biasa. Proses menyulamnya bisa lebih dari dua tahun, dan untuk menghasilkan warna tertentu bahkan membutuhkan waktu delapan sampai sepuluh tahun. Ini bukan sekadar kain, tapi warisan pengetahuan dan kesabaran yang luar biasa,” jelasnya.

Selain itu, Taman Ujung juga menjadi ruang hidup budaya, dengan adanya tempat latihan tari bagi anak-anak serta berbagai kerajinan tradisional yang ditampilkan kepada pengunjung. Menurut My Esti, kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat edukasi budaya yang penting bagi generasi muda.

Baca Juga  Meburu Desa Adat Panjer dan Mapajar Griya Delod Pasar Ditetapkan Jadi WBTB Indonesia

Namun demikian, My Esti menyoroti adanya kondisi fisik bangunan yang memerlukan penanganan serius. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah pilar dan struktur bangunan yang mulai retak dan mengalami pergeseran akibat penurunan tanah. “Kami melihat langsung ada tiang-tiang yang sudah mulai renggang, fondasinya juga berubah. Area itu masih dilalui pengunjung, ini jelas berbahaya,” tegasnya.

Ia menilai bahwa pembenahan kawasan cagar budaya tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan harus melibatkan tenaga profesional yang memahami prinsip pelestarian budaya. “Kalau hanya diserahkan kepada pengelola, tentu akan berat. Pemerintah harus hadir. Ada aspek teknis yang sangat prinsipil dalam pelestarian cagar budaya,” ujarnya.

My Esti meminta Kementerian Kebudayaan untuk segera memberikan perhatian khusus, termasuk melakukan kajian teknis dan tindakan pengamanan awal. Salah satu rekomendasi yang disampaikannya adalah menghentikan sementara akses pengunjung di jalur yang rawan.

“Saran kami, jalur yang berisiko itu harus dihentikan dulu. Cari alternatif jalan lain. Bahkan untuk jalur VIP pun menurut saya tidak perlu dilalui kalau kondisinya sudah tidak aman,” katanya.

Ia menekankan bahwa pelestarian Taman Ujung tidak hanya soal menjaga bangunan, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang melekat di dalamnya, mulai dari fungsi sosial, arsitektur tradisional, hingga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam. “Di sini ada ruang menerima tamu, ruang bertemu masyarakat, dan lanskap yang menyatu langsung dengan laut. Ini warisan yang harus bisa dinikmati dan dipelajari oleh anak cucu kita,” tutur My Esti dikutip dari laman dpr.go.id.

Menutup pernyataannya, My Esti menegaskan bahwa Komisi X DPR RI akan mendorong sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Daerah Karangasem agar Taman Ujung sebagai cagar budaya dapat terjaga secara berkelanjutan. “Warisan budaya seperti ini bukan hanya milik Karangasem, tapi milik bangsa Indonesia. Negara wajib hadir untuk memastikan pelestariannya berjalan dengan baik,” pungkasnya. (gs/bi)

Baca Juga  Janger Kolok Bengkala, Wujud Kesetaraan Warga Disabiltas Dalam Ruang Kesenian

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Buka Seminar Aksara Kawi, Ibu Putri Koster Ingatkan Perbedaan Budaya adalah Kebanggaan yang Harus Dirawat

Published

on

By

Seminar Aksara Kawi
SEMINAR AKSARA KAWI: Ibu Putri Koster, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali berfoto bersama usai memberikan sambutan sekaligus membuka Seminar Aksara Kawi dalam rangka Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong di Gedung Kerta Sabha, Denpasar, Minggu (15/2). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pendamping Gubernur Bali, Ibu Putri Koster, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali yang juga dikenal sebagai seniman multitalenta, mengajak generasi Pulau Dewata untuk menjaga kebudayaan Bali dengan bangga menggunakan bahasa lokal di daerah sendiri. Selain itu, kebanggaan menggunakan busana Bali sekaligus mengenal aksara Bali tentu menjadi kebiasaan yang harus terus ditanamkan, sehingga kita mampu menjaga jati diri budaya Bali dengan keberagaman yang kita miliki.

Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan sekaligus membuka Seminar Aksara Kawi dalam rangka Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong di Gedung Kerta Sabha, Denpasar, Minggu (15/2).

“Bali tentu kita ketahui sebagai daerah pariwisata dan wajah Indonesia dengan jumlah kunjungan wisatawan yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lain. Masuknya budaya Barat, saya harapkan tidak menjadikan generasi muda Bali lupa akan kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat yang dimiliki, terutama pada busana, aksara, dan bahasa daerah Bali,” ungkap Ibu Putri Koster.

“Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan budaya kita ini? Antara Bali dengan daerah lain tentu memiliki perbedaan budaya sebagai ciri khas yang melekat. Namun, perbedaan tersebut sudah tentu menjadi kebanggaan yang harus kita jaga dan rawat sebagai kekayaan, baik di tingkat daerah maupun pusat,” tegasnya.

Kegiatan seminar yang diselenggarakan serangkaian Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong ini juga bertepatan dengan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2026. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Gede Suarbawa, Heri Purwanto, dan Fuad.

Dalam seminar yang mengangkat tajuk “Aksara Kawi” ini, salah satu narasumber, Gede Suarbawa, menjelaskan bahwa dalam sejarah sistem aksara di Indonesia dikenal tiga sistem yang pengaruhnya meluas dan mendalam dalam pembentukan tradisi keberaksaraan dan kehidupan masyarakat Indonesia. Ketiga sistem aksara tersebut adalah Pallawa, Arab, dan Latin. Di samping itu, terdapat sistem lain yang dijumpai dalam tinggalan arkeologi Indonesia yang pengaruhnya tidak mendalam dan tidak berkelanjutan, yaitu aksara Siddhamatrka/Pre-Nagari dan aksara Cina.

Baca Juga  Janger Kolok Bengkala, Wujud Kesetaraan Warga Disabiltas Dalam Ruang Kesenian

“Aksara Pallawa memiliki sejarah panjang dalam dunia pertulisan di Indonesia. Aksara ini digunakan pada prasasti tertua dari Muara Kaman, Kutai, yang memuat informasi tentang kebesaran Raja Mulawarman, serta di Jawa Barat tentang Raja Purnawarman yang prasastinya menggunakan aksara dasar Pallawa. Pada masa-masa selanjutnya, di tempat lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, sistem aksara ini mengalami transformasi menjadi aksara Kawi,” jelasnya.

Dengan dilaksanakannya Seminar Aksara Kawi ini, diharapkan tradisi dan kebudayaan kita sebagai bangsa yang beragam dan penuh warna semakin kuat, namun tetap hidup rukun berdampingan dengan rasa toleransi yang tinggi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Patroli Sat Samapta Polres Gianyar Amankan Ibadah Minggu di Gereja Santa Maria Ratu Rosari

Published

on

By

Polres Gianyar
PENGAMANAN: Personel Polres Gianyar saat melakukan pemgamanan ibadah umat Kristen Katolik di Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Jalan Mulawarman, Abianbase, Tedung, Gianyar, Minggu (15/2/2026) pagi. (Foto: Hms Polres Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Dalam upaya mencegah potensi gangguan kamtibmas serta memberikan rasa aman kepada masyarakat, Satuan Samapta Polres Gianyar melaksanakan patroli mobiling R4 pada Minggu (15/2/2026) pagi. Kegiatan difokuskan pada pengamanan ibadah umat Kristen Katolik di Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Jalan Mulawarman, Abianbase, Tedung, Gianyar.

Patroli yang dipimpin kru Kijang 905 tersebut melibatkan personel Aipda I Wayan Beni Sastrawan, S.H., Bripka I Made Susila, dan Bripka I Gusti Putu Ari Purnawan. Petugas melakukan pemantauan langsung jalannya ibadah, berkoordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta berdialog dengan petugas keamanan gereja untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas dan meningkatkan kewaspadaan.

Selain pengamanan di area gereja, personel juga melaksanakan pengaturan arus lalu lintas saat jemaat mulai berdatangan hingga selesai ibadah guna mencegah kepadatan kendaraan di depan lokasi.

Berdasarkan informasi dari pihak keamanan gereja, jumlah jemaat yang hadir diperkirakan sekitar 600 orang. Ibadah yang dipimpin oleh Romo Gusti Bagus Kusumawanta berlangsung khidmat dan berakhir sekitar pukul 09.45 Wita. Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan tidak ditemukan hal mencurigakan.

Kasat Samapta Polres Gianyar, AKP Wibowo Sidi, S.H., mengatakan bahwa kegiatan patroli merupakan bagian dari pelayanan kepolisian dalam menjamin keamanan seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang.

“Kami hadir untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman. Patroli preventif akan terus ditingkatkan, khususnya pada kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak orang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara kepolisian, aparat kewilayahan, dan petugas keamanan setempat menjadi kunci dalam menjaga situasi tetap kondusif. “Sinergitas dengan unsur terkait sangat penting agar potensi gangguan dapat dicegah sejak dini. Hingga kegiatan selesai, situasi tetap aman, tertib, dan lancar,” tambahnya.

Baca Juga  Meburu Desa Adat Panjer dan Mapajar Griya Delod Pasar Ditetapkan Jadi WBTB Indonesia

Kegiatan patroli berakhir dalam keadaan kondusif dengan arus lalu lintas terpantau ramai namun lancar. Polres Gianyar mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga toleransi serta segera melapor apabila menemukan hal yang mencurigakan di lingkungan sekitar. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Operasi Keselamatan Agung 2026, Polresta Denpasar Tindak Ratusan Pelanggaran Lalin secara Humanis

Published

on

By

Polresta Denpasar
INGATKAN: Personel Sat Lantas Polresta Denpasar saat mengingatkan pengendara motor menggunakan helm yang benar. (Foto: Hms Polresta Dps)

Denpasar, baliilu.com – Operasi keselamatan lalu lintas yang digelar Polresta Denpasar memasuki hari ke-13 dengan hasil yang cukup signifikan. Sejumlah pelanggaran berhasil ditindak sebagai upaya meningkatkan disiplin dan keselamatan berkendara di jalan raya.

Dalam pelaksanaan Operasi Keselamatan Agung 2026, petugas mencatat sebanyak 562 teguran diberikan kepada pengendara yang melakukan pelanggaran ringan sebagai langkah edukatif.

Sementara itu, penindakan melalui ETLE statis mencapai 1.255 tilang, kemudian tilang manual sebanyak 219 kasus, serta 14 pelanggaran yang dilakukan oleh warga negara asing (WNA) turut ditindak sesuai aturan yang berlaku.

Kasi Humas Iptu I Gede Adi Saputra Jaya menjelaskan bahwa operasi ini tidak semata-mata berfokus pada penindakan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu lintas.

“Penegakan hukum dilakukan secara humanis dan edukatif. Harapannya masyarakat semakin disiplin sehingga angka kecelakaan lalu lintas dapat ditekan,” ujarnya.

Polresta Denpasar mengimbau masyarakat untuk selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, melengkapi surat kendaraan, serta mengutamakan keselamatan demi terciptanya keamanan dan ketertiban bersama di jalan raya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
DPRD Badung Ucapan Imlek
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Baca Juga  Meburu Desa Adat Panjer dan Mapajar Griya Delod Pasar Ditetapkan Jadi WBTB Indonesia
Lanjutkan Membaca