Gianyar, baliilu.com – Sudah 30 tahun Perusahaan Tenun Putri Ayu berdiri, namun usaha tenun yang dirintis sejak 1991 silam itu tetap berdiri kokoh. Pandemi ternyata tak membuat Tenun Putri Ayu tumbang. Ia tetap bertahan dengan kreasi dan inovasi yang terus berkembang.
Mampu mempertahankan diri di tengah pandemi Covid-19 yang menurunkan daya beli masyarakat ke titik nadir bukan perkara mudah bagi Perusahaan Tenun Putri Ayu yang mempekerjakan 40-an penenun. Selain terus berkreasi dan berinovasi dengan motif-motif nuansa Bali-nya yang kuat, Pergub Bali tentang penggunaan pakaian adat Bali bagi ASN setiap hari Kamis dan digunakannya kain Tenun Endek Bali oleh rumah mode dunia Christian Dior memantik daya beli masyarakat untuk menggunakan kain Tenun Endek Bali.
Alat tenun tradisional di Putri Ayu
Ida Bagus Adnyana, perintis Perusahaan Tenun Putri Ayu yang beralamat di Jalan Lapangan Astina Jaya Blahbatuh, Gianyar ini memaparkan, sejak dibuka yang hanya mempekerjakan 5 tenaga penenun, Putri Ayu begitu suntuk mengembangkan kain Tenun Endek Bali dengan berbagai inovasi. Tidak saja merambah pasar lokal, juga hingga ke mancanegara. Jepang adalah salah satu pasarnya yang paling menjanjikan. Sejak tahun 1995 hingga 2015 Putri Ayu banyak belajar dari kerjasama ini. Walau diputus tahun 2015 karena tsunami Jepang, toh Putri Ayu banyak mendapatkan pelajaran.
Pelajaran yang paling berharga soal kecepatan dan ketepatan. Toleransi desain Jepang mesti tepat membaca sebuah motif, kerapian, jelas, tegas, dan rata. Termasuk ketahanan pewarnaan serta penyempurnaan finishing.
Tenun Endek Bali yang dikombinasikan dengan teknik air brush
Kehilangan pasar Jepang tak membuat Tenun Putri Ayu patah semangat. Ia mulai mengintensifkan pasar lokal Bali. Walau hasilnya stagnan tetapi masih bisa mempertahankan 40 penenunnya yang tetap bekerja saban hari, bahkan 1 di antaranya diajak sejak tahun 1991. ‘’Pergub Bali tentang penggunaan pakaian adat Bali setiap hari Kamis buat ASN ke kantor telah berdampak meningkatnya permintaan akan kain Tenun Endek Bali,’’ aku Ida Bagus Adnyana.
Tidak saja permintaan dari lembaga swasta juga dari kantor pemerintahan. Seperti Pemkab Badung yang sempat pesan kain endek dengan motif Ancak Saji warna merah untuk seragam SD, motif Sekar Jepun Barak untuk pegawai Pemkab Badung, motif Sekar Pucuk Rejuna untuk Pemkab Gianyar dan lain-lain. Termasuk 23 ribu meter pesanan dari Dinas Kebudayaan Bali yang harus selesai dalam waktu 3 bulan.
Putri Ayu mengajak 40-an penenun yang setiap hari bekerja meski di saat pandemi
Tenun Putri Ayu hanya memiliki kapasitas 40 alat tenun yang rata-rata memproduksi 2 meter per 1 buah alat tenun. Untuk memenuhi permintaan, Putri Ayu berbagi kue dengan perusahaan tenun yang ada di Gianyar, Klungkung dan Bangli. Di Gianyar bekerja sama dengan hampir 200-an penenun. Ada juga bekerja sama dengan Bali Bintang Timur di Tegak dan Gelgel Klungkung, ada juga dari perusahaan tenun Giri Putri Bangli yang pemiliknya sempat sebagai pengawas di Putri Ayu.
‘’Di sini kami tidak saja mengajak penenun, tetapi juga menjadi media pembelajaran sehingga tidak sedikit setelah merasa mampu mandiri mereka meninggalkan Putri Ayu. Saya tak pernah mempersoalkan itu, bahkan kita rangkul, kita ajak kerjasama jika ada kerjaan (pesanan besar-red),’’ ucap Ida Bagus Adnyana seraya membuka lebar kepada para siswa dan mahasiswa yang memperdalam ilmu pertekstilan di Putri Ayu.
Alat tenun dengan sistem kartu
Kerjasama Pemerintah Provinsi Bali dengan pihak Christian Dior soal mempromosikan Ekspresi Budaya Tradisional Indonesia untuk Tenun Endek Bali dalam rancangan busana Christian Dior musim semi dan musim panas 2021 ini, IB Adnyana merasakan dampak yang luar biasa. Apalagi Tenun Putri Ayu terpilih sebagai penyedia kain Tenun Endek Bali yang dipesan pihak Dior. ‘’Kami berterima kasih sekali kepada Bapak Gubernur Bali yang sudah menerbitkan pergub menggunakan pakaian adat Bali tiap hari Kamis dan kerjasama dengan Christian Dior. Begitu juga dengan Ibu Dekranasda Bali, Ibu Putri Koster yang selalu memperjuangkan dan mempromosikan kain Tenun Endek Bali di dunia internasional,’’ ujar IB Adnyana.
Gubernur Bali Wayan Koster memperlihatkan piagam kerjasama antara Pemprov Bali dengan Christian Dior diapit Ida Bagus Surya Bhuana (No. 2 dari kanan) dari Tenun Putri Ayu dan AA Ngurah Manik dari pihak vendor.
Karena, selama proses kerjasama hingga pada titik temu secara resmi penandatanganan dokumen kerjasama oleh Gubernur Bali Wayan Koster dengan pihak Christian Dior Kamis (11/2) lalu di Gedung Jayasabha, Denpasar Bali dan Paris, pesanan kain Tenun Endek Bali terus merangkak naik. Bahkan kini, motif endek seperti motif pesanan Dior sudah mulai banyak yang memesan. Permintaan semakin tinggi setelah keluarnya SE Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2021 dengan menyasar Instansi Pemerintah dan Vertikal, Perguruan Tinggi, Bupati/Walikota, Pegawai Perangkat Daerah, BUMN hingga BUMD agar menggunakan pakaian/busana berbahan kain Tenun Endek Bali/Kain Tradisional Bali dalam berbagai aktivitas pada setiap Hari Selasa. Kain Tenun Endek Bali pun semakin menunjukkan rohnya.
Ida Bagus Adnyana meyakini ada taksu yang didapatkan dari hasil karya seni buah tangan tenun tradisional. Sudah seringkali terjadi ketika penenun menemukan kesulitan tinggi saat akan menyelesaikan motif tenunannya hingga bernangis-nangis justru hasilnya malah dicari dan diburu pembeli.
Berbagai motif kain Tenun Endek Bali karya Putri Ayu
Karena itu, IB Adnyana tak pernah nyacad hasil kerja penenunnya. Ia mengingatkan justru dengan cara halus sebagai cambuk meningkatkan karya bermutu. Kreativitas dan inovasi yang selalu dikedepankan Putri Ayu akhirnya membuahkan hasil. Di antaranya menerima Paramakarya Penghargaan Kualitas & Produktivitas tahun 2009, Penghargaan Kreasi Prima Mutu oleh Presiden Republik Indonesia tahun 2011, dan Anugerah Kreativitas Inovasi Masyarakat Hakteknas XIV tahun 2019.
Kini Putri Ayu terus berkreasi dan berinovasi untuk menampilkan nuansa-nuansa Bali. Seperti saat ini Putri Ayu meluncurkan kain Tenun Endek Bali motif huruf Bali, Anacaraka yang serasi digunakan saat-saat upacara seperti potong gigi, juga ada motif Dewata Nawa Sanga dll.
Teknik pembuatan kartu untuk motif kain Tenun Endek Bali
Putri Ayu tak hanya memproduksi spesial edisi dengan alat tenun bukan mesin tetapi juga berinovasi menggunakan alat mesin yang dikombinasikan dengan alat tenun tradisional. Beberapa jenis produk tekstilnya seperti kain Tenun Ikat (Endek), kain Songket, kain Tenun Dobby serta kain tenun inovasi penggabungan beberapa teknik tenun.
IB Adnyana bercerita tahun 1997 Putri Ayu mengembangkan ide pembuatan kain tenun dengan teknik air brush dan penggunaan warna alam (natural Color). Tahun 2007 Tenun Putri Ayu meluncurkan produk baru yaitu Tenun Ikat Songket dengan sistem kartu. Hasil Kreativitas Inovasi Alat Tenun Tradisional (ATBM) dengan Sistem Kartu/Jacquard ini mempunyai kelebihan di mana proses untuk satu lembar songket dapat diselesaikan satu hari dengan lebar standar tanpa sambungan guna mempercepat produksi.
Tenun Putri Ayu memang tak pernah berhenti berdenyut meski pandemi sedang melanda Bali. Tak cukup hanya terus berkreasi dan berinovasi mengikuti arus terkini, perhatian besar pemangku daerah akan kearifan lokal kain Tenun Endek Bali terbukti ikut mengantarkan Tenun Endek Bali menemukan jati diri. (gs)
SERAHKAN PUNIA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia saat menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Buleleng, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). Ngaben massal yang diikuti 16 sawa ini menjadi yang pertama digelar di desa tersebut, sekaligus menandai kuatnya komitmen krama dalam menjaga tradisi leluhur.
Dalam sambutannya, Giri Prasta mengaku bahagia dapat hadir langsung di tengah masyarakat yang melaksanakan yadnya secara gotong-royong. Ia menyampaikan apresiasi atas kekompakan krama Desa Adat Mengandang yang bersama-sama menjalankan upacara sesuai dresta Bali.
“Apresiasi kepada krama yang telah bersatu, guyub, saling gotong-royong melaksanakan yadnya ini. Sagilik saguluk salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya,” ujarnya.
Wakil Gubernur Bali juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus mendukung pelaksanaan upacara yadnya sebagai bagian dari pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali.
Sementara itu, Bendesa Adat Mengandang Wayan Sudiana dalam laporannya menjelaskan bahwa ngaben massal ini bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Ini merupakan ngaben massal pertama yang kami laksanakan. Sebelumnya, kami melaksanakan ngaben metuun sesuai dresta Bali Aga di desa ini,” ungkapnya.
Rangkaian upacara telah berlangsung sejak 24 Juli dan akan berakhir pada 8 Agustus 2026. Puncak prosesi dijadwalkan pada 7 Agustus 2026, diawali dengan mecaru, dilanjutkan prosesi pengabenan, hingga upacara penyucian yang melibatkan pemangku, Ida Pandita, serta krama desa setempat.
Sebagai bentuk dukungan, Wagub Giri Prasta turut menyerahkan punia kepada panitia karya sebesar Rp 25 juta. Selain itu, bantuan juga diberikan kepada Sekaa Angklung sebesar Rp 5 juta, Sekaa Santhi sebesar Rp 2 juta, serta kepada pemangku sebesar Rp 4 juta. (gs/bi)
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Ngusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina pada rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Utama di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri, Jumat (7/8). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Ngusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina pada rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Utama di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri, Jumat (7/8).
Dalam acara ini juga hadir Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo David Simatupang, S.I.K., M.H, Penglingsir Puri Ageng Mengwi Ida Cokorda Mengwi XIII dan para Tokoh Puri di Kota Denpasar.
Rangkaian puncak karya diawali dengan prosesi Atetangi, dilanjutkan dengan puncak Karya Ngadegang Puspa Lingga serta Melaspas Puspa. Usai prosesi tersebut, dilaksanakan Upacara Mapurwa Daksina, yang kemudian dilanjutkan dengan Rsi Bujana dan Utpeti Stiti Puja. Seluruh rangkaian upacara dipuput oleh Ida Pedanda Gede Made Karang, Ida Pedanda Gede Raka Timbul, Ida Pedanda Gede Putra Keniten, serta Ida Pedanda Buddha Jelantik Adnyana.
Dalam kesempatan tersebut, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Karya Pitra Yadnya di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri.
Menurutnya, pelaksanaan karya ini mencerminkan sinergi dan kekompakan antara Puri Agung Dangin Puri dengan krama adat Denpasar dalam menjaga serta melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur agama Hindu di Kota Denpasar.
“Kekompakan antara puri dan krama adat dalam mendukung pelaksanaan karya ini patut diapresiasi. Tentunya karya ini memberikan manfaat sekaligus kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai umat Hindu Bali,” ujar Jaya Negara.
Lebih lanjut, Jaya Negara menegaskan bahwa Pemerintah Kota Denpasar senantiasa memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Bali.
“Sebagai pemerintah kami memberikan apresiasi serta dukungan atas pelaksanaan karya ini. Semoga seluruh rangkaian karya dapat berjalan lancar, memberikan makna spiritual, serta kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara yadnya,” tambahnya.
Sementara itu, Manggala Karya, Anak Agung Ngurah Made Mahendra menjelaskan bahwa keberadaan Puri Agung Dangin Puri dengan Desa Adat Denpasar merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan erat dan saling mendukung dalam pelaksanaan kegiatan adat maupun keagamaan.
Ia mengatakan, dalam pelaksanaan Karya Penileman Maligia Punggel Utama kali ini diikuti sebanyak 60 puspa, sebagai wujud kebersamaan dan semangat ngayah dari seluruh krama yang terlibat demi kelancaran pelaksanaan yadnya. (eka/bi)
HADIRI KARYA: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8).
Wawali Arya Wibawa usai melaksanakan persembahyangan bersama mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Pihaknya juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan ini seluruh umat terutama warga Banjar Adat Jurang Asri dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.
“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal-hal negatif di lingkungan banjar setempat,” katanya.
Sementara Ketua Panitia Karya, I Made Sueca mengatakan Karya Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan dilaksanakan karena rampungnya semua palinggih pura yang diperbaharui.
Pada hari ini kata Made Sueca, dilaksanakan upacara Puncak Karya Ngeteg Linggih, Mahingkup, Bangun Ayu, Padyus-dyusan. Adapun Pujawali ini yang dipuput oleh Ida Peranda Mpu Nabe Yoga Daksa Paramitha dari Griya Peraupan.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Wakil Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan Puncak Karya upacara Ngenteg Linggih. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)