Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SASTRA

Timbang Renung Buku IB Sindhu, Sebuah Spiritualitas Modern

BALIILU Tayang

:

de
TIMBANG RENUNG: Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, Sp.OGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Renon, Minggu (19/12). Hadir dari kiri ke kanan, kritikus sastra Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., Yuda Triguna, Wayan Mustika, Wayan Jengki Sunarta, dan budayawan Wayan Westa. (Foto: Ist)

SEBUAH buku bertajuk “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, Sp.OGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Warung Mina, Renon, Minggu (19/12). Selain menghadirkan kritikus sastra Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., tampil pula pembahas budayawan Wayan Westa, sastrawan Wayan Jengki Sunarta, penekun spiritual Wayan Mustika, serta mantan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama.

Pada acara Timbang Renung yang dimoderatori oleh penyair dr. Dewa Putu Sahadewa, mengemuka pandangan bahwa sains, seni dan agama pada hakikatnya saling melengkapi pandangan perihal bagaimana kehidupan di bumi dan jagat raya ini tercipta.

Buku yang diterbitkan Pustaka Ekspresi (2021) ini berisi 24 tulisan percik-percik renungan. “Semisal pada Bab I bukunya, IB Sindhu mengupas tentang anatomi pikiran yang terdiri dari Buddi, Mannas, Ego dan Citta, berikut cara-cara kita untuk mengelola atau menyeimbangkannya. Atau, pada Bab VII, diulas perihal Dunia Imajiner, yang mengajak kita merenung bahwa dunia “nyata” ini sesungguhnya hanyalah dunia imajiner. Kebenaran hanyalah sekumpulan pembenaran yang disepakati untuk dianut bersama sebagai sebuah kebenaran kolektif,“ ujar Wayan Mustika.

Menyinggung tajuk buku dari IB Sindhu, yakni Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari, Prof. Dr. IBG Yudha Triguna memaparkan bahwa dalam keyakinan agama Hindu matahari disebut sebagai Dewa Surya, atau yang memiliki nama lain ‘Sawitri’. “Sawitri mengandung makna pemberi energi atau tenaga. Dengan judul buku tersebut, Pak Ida Bagus Sindhu menguraikan hal yang memang menjadi kenyataan alami, bahwa kehidupan kita tidak bisa dipisahkan dari keberadaan matahari sebagai sumber energi,” ungkap mantan Rektor Unhi Denpasar periode 2006-2012.

Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, Sp.OGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Warung Mina, Renon, Minggu (19/12). (Foto: Ist)

Terkait hubungan sains, agama, dan seni, Prof. Yudha menambahkan, “Veda sebagai sumber ajaran Hindu yang menampung segala gagasan ilmu pengetahuan meliputi pengetahuan paravidya (spiritual) dan pengetahuan aparavidya (sains dan teknologi). Melalui pendekatan interdisipliner yang menyinergikan antara kajian agama dan sains keduanya dapat saling mencerahkan. Buku-buku seperti ini layak ditulis dan diterbitkan, serta kajiannya diperdalam secara berkelanjutan.”

Budayawan Wayan Westa menimbang kehadiran buku ini sebagai upaya merenungi kehidupan dan menemukan nilai-nilai kewaskitaan. Sudah lama sains seakan-akan terpisahkan dari seni, budaya serta filosofi atau dinamika pemikiran. Melalui Timbang Renung ini, ia mengandaikan bahwa kewaskitaan atau kebijaksanaan hidup yang tersuratkan di dalam buku ini ibarat proses penemuan air oleh para tetua penekun spiritual tempo dulu. “Membaca tulisan-tulisan ini kita tidak akan menyangka bahwa ini lahir dari seorang dokter yang boleh dikata saintik. Fenomena penemuan kearifan pemikiran ini sesungguhnya bukan hal baru bila kita menyimak kisah-kisah para tetua tempo dulu, bagaimana mereka menemukan sumber air dengan satu ketajaman batin atau gabungan antara kedalaman spiritual serta pemahaman mendasar ilmu pengetahuan,” tukas Wayan Westa yang juga penulis ini.

Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” terdiri dari 24 bab, dieditori oleh Wayan Jengki Sunarta dan Dewa Putu Sahadewa. Sebagai editor, Wayan Jengki Sunarta menemukan banyak hal yang mengandung kedalaman renungan dan pemikiran dari IB Sindhu. “Tentu saja dalam proses editing saya mencoba merangkai pilahan-pilahan tulisan itu dengan frame tematik tertentu sehingga menjadi satu buku yang utuh. Membaca tulisan-tulisan IB Sindhu, saya banyak belajar menyelami kewaskitaan atau pengetahuan luhur tentang tubuh dalam pandangan sains dan spiritual atau ajaran agama,“ ujar Jengki yang aktif bergiat di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP).

Sementara itu, bagi Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., kurang tepatlah kiranya ungkapan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’. Sebab menurutnya, justru kita harus menilai kehadiran buku ‘Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari’ ini pertama-tama melalui sampulnya. “Bila melihat sampul buku ini, kita sesungguhnya melihat sebuah dekonstruksi atas konstruksi (gambar pohon) yang lazim selama ini. Jadi, sampulnya mencerminkan keseluruhan isi buku ini, di mana kita dihadapkan pada pikiran-pikiran yang didekonstruksi atau dibalik. Ibarat sebuah ajakan bagi kita untuk merenung atau menoleh kembali ke belakang,” ungkap Guru Besar Bidang Sastra di FIB Universitas Udayana ini. Adapun lukisan sampul buku merupakan karya perupa Nyoman Sujana Kenyem.

Dari sisi kebahasaan, Prof. Darma Putra menyebutkan, buku ini secara lincah menyampaikan berbagai gagasan pikiran dalam aneka bahasa yang hadir dalam hetereglossia atau polifoni, sebuah konsep yang dikemukakan oleh filsuf Rusia Michael Bakthin. Menurut Darma Putra, IB Sindhu menyampaikan tulisan-tulisannya dalam 2 level bahasa, yang pertama meliputi bahasa sains, agama, komputer, kesehatan, filsafat, dan lain-lain.  Pada level kedua yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, konsep-konsep Hindu, Budha dan konsep bahasa sains.

Buku IB Sindhu ini, menurut Wayan Mustika, merefleksikan penulisnya adalah seorang praktisi medis yang dibesarkan bersama-sama dengan vibrasi agama dan sains. IB Sindhu telah tiba pada titik yang disebut “spiritualitas modern”; sebuah momentum pencerahan yang lahir dari irisan antara agama dan sains tersebut. 

Acara peluncuran dan diskusi buku yang diselenggarakan oleh Dedari Institute for Art ini diikuti pula 77 peserta dari berbagai kota di tanah air secara daring melalui zoom meeting. Terdiri dari kalangan mahasiswa, sastrawan, seniman, dokter, praktisi, dan lintas bidang lainnya. (*/gs)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SASTRA

Putri Koster Kunjungi Teater Angin di SMAN 1 Denpasar, Dukung Penuh Semangat Seni Generasi Muda

Published

on

By

Putri Koster
TINJAU LATIHAN: Ibu Putri Suastini Koster, saat secara langsung meninjau latihan kelompok Teater Angin di SMA Negeri 1 Denpasar, Selasa (8/7). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Komitmen kuat terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali kembali ditunjukkan oleh Ibu Putri Suastini Koster, yang secara langsung meninjau latihan kelompok Teater Angin di SMA Negeri 1 Denpasar, Selasa (8/7). Kehadiran Ibu Putri tidak sekadar sebagai istri Gubernur Bali, tetapi juga sebagai pendiri Teater Angin, bersama salah satu pendiri lainnya, Ibu Ayu Rasmini.

Dalam suasana hangat yang berlangsung di Aula SMAN 1 Denpasar, Ibu Putri mengungkapkan rasa bangganya melihat semangat berkesenian yang terus tumbuh di kalangan pelajar. Ia mengenang masa-masa aktifnya di dunia teater sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

“Dulu saya diberi ruang untuk belajar dan berproses di dunia teater. Sekarang, saya ingin memberi ruang dan menjadi contoh. Teater telah memberikan saya pengalaman lahir dan batin,” ungkapnya dengan penuh emosi.

Lebih dari sekadar seni pertunjukan, menurut Ibu Putri, teater merupakan media ampuh untuk membentuk karakter, melatih kepekaan sosial, mengenali berbagai sisi kemanusiaan, dan mengasah ingatan serta keberanian. Ia juga mendorong para siswa untuk melangkah lebih jauh dengan menulis naskah sendiri dan mengembangkan kreativitas pertunjukan secara menyeluruh.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Ibu Putri bersama Gubernur Bali memberikan bantuan apresiasi senilai Rp 65 juta kepada kelompok Teater Angin. Dana tersebut diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas produksi, memperluas wawasan seni, dan membangun kolaborasi lebih luas, termasuk dengan stasiun TVRI yang direncanakan akan menjadi mitra tayang bagi komunitas teater lokal.

“Saya ingin bisa berkolaborasi dengan anak-anak muda. Selain mengisi diri dengan ilmu, pengalaman dalam seni juga penting untuk membentuk karakter dan jati diri,” tutupnya, sebelum menyaksikan langsung latihan anak-anak Teater Angin.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen apresiasi, tetapi juga menjadi simbol harapan bahwa dunia seni di Bali akan terus hidup melalui generasi muda yang tekun, kreatif, dan penuh semangat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SASTRA

Jaga Tradisi Keaksaraan, Ny. Putri Koster Apresiasi Buku “Semua Karena Nirankara?”

Published

on

By

Semua Karena Nirankara
PELUNCURAN BUKU: Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster, menghadiri peluncuran buku "Semua Karena Nirankara?" karya Andre Syahreza di Sutasoma Lounge, The Meru Sanur, pada Jumat (21/3/2025). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster, menghadiri peluncuran buku “Semua Karena Nirankara?” karya Andre Syahreza di Sutasoma Lounge, The Meru Sanur, pada Jumat (21/3/2025). Peluncuran karya ber-genre fiksi ini ditandai dengan penyerahan hard cover buku “Semua Karena Nirankara?” dari Andre Syahreza kepada Ny. Putri Koster.

Ny. Putri Koster, yang juga dikenal sebagai penggiat sastra, menyambut baik karya yang terinspirasi dari novel fenomenal “Sukreni Gadis Bali” karya Anak Agung Pandji Tisna. “Ini menarik, karena Ibu juga mengikuti proses syuting di Lovina saat Sukreni Gadis Bali difilmkan,” ucapnya.

Ia merasa bangga melihat anak muda yang menekuni dunia sastra. “Benang merah dari peluncuran buku ini adalah memastikan bahwa penulisan konvensional tidak terhenti, sehingga tradisi keaksaraan di Bali tetap terjaga,” terangnya. Perempuan yang juga dikenal sebagai penekun puisi ini berpesan agar para penulis tidak berhenti berkarya. “Masih banyak hal yang bisa digali dari budaya Bali untuk diangkat dalam karya sastra,” ungkapnya.

Secara khusus, Putri Koster berpendapat bahwa buku “Semua Karena Nirankara?” patut diapresiasi karena mengusung tema perempuan. Ia berharap adaptasi Sukreni ke Nirankara mampu mengharmoniskan ruang tradisi dan modernitas. Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya menggambarkan perempuan secara autentik. “Bukan bermaksud menjelekkan, tetapi perempuan masa kini harus belajar memahami apa yang seharusnya ia lakukan,” tandasnya sembari menambahkan bahwa perempuan adalah kekuatan (power) atau sakti bagi laki-laki.

Pada kesempatan itu, perempuan yang dikenal sebagai penyair ini juga mendorong kemunculan talenta baru di bidang sastra yang mengikuti jejak Andre Syahreza. Untuk mewadahi karya sastra, ia menyampaikan bahwa Pemprov Bali memiliki ajang Festival Bali Jani, yang telah berjalan selama lima tahun. “Melalui ajang ini, kita mendorong anak muda untuk menghasilkan karya yang sesuai dengan perkembangan zaman. Selanjutnya, jika Pusat Kebudayaan Bali telah rampung, akan digelar Bali International Book Fair. Karena kita sebagai tuan rumah, harus ada karya dari penulis lokal,” sebutnya.

Mengakhiri sambutannya, Putri Koster menyampaikan selamat atas terbitnya karya Andre Syahreza. Ia juga memuji sikap terbuka Andre yang secara jelas mencantumkan bahwa karyanya terinspirasi dari Sukreni Gadis Bali. “Teruslah berkarya dan berikan pencerahan bagi masyarakat,” pesannya.

Sementara itu, Andre mengungkapkan bahwa novel pertamanya ini ia rancang untuk Generasi Z. “Dari segi kebahasaan, ringan. Ini memang bukan karya untuk sastrawan, tetapi bagi mereka yang baru memasuki dunia sastra,” tambahnya. Dengan demikian, sastra tidak lagi terkesan berat dan menakutkan. “Agar bisa berkembang, karya sastra harus terasa lebih ringan,” ujarnya.

Sebagai informasi, novel “Semua Karena Nirankara?” merefleksikan interaksi sosial yang dipengaruhi oleh motif ekonomi, dorongan nafsu, dan relasi kuasa. Cerita bermula dari kehidupan Ni Made Ayu Nirankara, seorang wanita muda pemilik Kafe Bara. Bersama suaminya yang telah berumur, ia menyusun skenario tak lazim demi menarik lebih banyak pengunjung ke kafe mereka yang sepi di Bali Utara. Rencana mereka pun mengundang berbagai persoalan terkait asmara. Cerita semakin penuh teka-teki dengan kehadiran Tala, seorang gadis lugu nan cantik, yang direkrut menjadi pramusaji di Kafe Bara. Keberadaannya membuat eskalasi cerita semakin dramatis dan membara.

Peluncuran novel “Semua Karena Nirankara?” dihadiri oleh sejumlah penulis nasional, termasuk Dee Lestari dan Henry Manampiring. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SASTRA

Lestarikan Naskah Kuno, Disbud Badung Gelar Konservasi Lontar

Published

on

By

adv
PELESTARIAN: Disbud Badung bersama tim saat melaksanakan kegiatan pelestarian naskah kuno (lontar) di Griya Semara Kencana, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, Jumat (19/7/2024). (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Badung, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan menggelar Konservasi Lontar di Griya Semara Kencana, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, Jumat (19/7/2024). Kegiatan pelestarian dan perlindungan terhadap keberadaan naskah-naskah kuno atau lontar ini dilakukan agar kekayaan budaya tersebut tetap lestari dan terlindungi secara fisik dari kerusakan.

Kepala Bidang Sejarah Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung Ni Nyoman Indrawati menjelaskan, program tersebut sudah terlaksana sejak tahun 2012 hingga kini. Menurutnya, naskah kuno atau sering disebut manuskrip merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Dijelaskan lebih lanjut kegiatan pelestarian naskah kuno tersebut menyasar sepuluh lokasi yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Badung. Pihaknya mengatakan sejak tahun 2012 sampai akhir tahun 2023 jumlah lontar yang terdata sebanyak 3.200 cakepan lontar. Pihaknya menyebut lontar dalam kondisi baik berjumlah 2.462 cakepan lontar, dan dalam kondisi kurang baik berjumlah 736 cakepan lontar.

Terkait ada beberapa lontar yang kondisinya kurang baik ia turut prihatin. “Kondisi kurang baik ini cukup memprihatinkan, lontar yang ada di masyarakat perlu kita gali, perlu kita lestarikan. Karena lontar ini merupakan salah satu sumber sejarah, sumber ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu tidak bisa kita nilai dengan rupiah, dan bila itu sampai hilang akan banyak ilmu pengetahuan akan lenyap tidak turun ke generasi berikutnya. Melalui kegiatan ini, kami berharap sosialisasi kami ini bisa sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh tim Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung berkolaborasi dengan Penyuluh Bahasa Bali seperti, membersihkan lembaran lontar dengan menggunakan cairan alami yang terbuat dari tanaman sereh, kemudian konservasi serta penyusunan katalog lontar.

Disinggung mengenai penyelamatan naskah kuno atau lontar, Dinas Kebudayaan telah melakukan berbagai upaya seperti mereproduksi atau menyalin ulang terhadap beberapa lontar yang dinilai layak untuk dikoleksi oleh Dinas Kebudayaan. Dari hasil reproduksi, lontar-lontar tersebut selanjutnya didigitalisasi agar masyarakat luas menjadi lebih mudah untuk mengakses informasi yang tersimpan dalam lontar melalui perangkat teknologi.

Ke depan pihaknya menekankan agar masyarakat lebih terbuka dalam memberikan informasi dan data-data kepada Pemerintah Kabupaten Badung melaui Dinas Kebudayaan, jika di wilayahnya ada tersimpan naskah kuno atau lontar. Selain itu, jika ada masyarakat yang ingin naskah kuno atau lontarnya dirawat agar dapat menghubungi Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung.

“Kegiatan ini akan berkelanjutan dengan menyasar lokus-lokus baru. Jika kami tidak menemukan lokus baru, kami akan menyempurnakan kembali ataupun kita mengkonservasi secara berkala lontar-lontar yang ada di masyarakat. Sehingga akan terus menambah data dan informasi sejarah yang kita miliki di Kabupaten Badung,‘‘ imbuhnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca