Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Tinjau Persiapan Duta Kota Denpasar di PKB XLIII, Jaya Negara: Semangat Berikan Hasil yang Maksimal

BALIILU Tayang

:

de
TINJAU LATIHAN: Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara saat meninjau persiapan Duta Kesenian Kota Denpasar yang akan berlaga di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII pada Senin (17/5).

 Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara meninjau  langsung persiapan duta kesenian Kota Denpasar yang akan berlaga di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII,  Senin (17/5). Bersama sang istri yang merupakan Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Walikota Jaya Negara turut menyaksikan gladi tiga duta seni dengan tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan. Tiga duta seni tersebut yakni Gong Kebyar Anak-Anak Panca Gita Sidhi, Gong Kebyar Dewasa Mimba Mredangga, dan Gong Kebyar Wanita Sida Gita Karya.

Tampak mendampingi Walikota Jaya Negara Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga, Ketua Komisi II DPRD Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, Kadisbud Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram, serta Kabag Humas dan Protokol Dewa Gede Rai serta perwakilan duta kesenian.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi atas penampilan duta kesenian Kota Denpasar saat pelaksanaan gladi di Panggung Terbuka Ardha Candra Art Centre Denpasar, karena secara keseluruhan materi yang diwajibkan telah disiapkan sebaik mungkin.

“Tadi sudah kita saksikan bersama, seluruh materi sudah dikuasai dan bisa dibawakan dengan baik, sekarang tinggal menjaga konsistensi dalam pembawaan,” kata Jaya Negara.

 Jaya Negara menekankan bahwa seni merupakan penjiwaan. Sehingga seniman Kota Denpasar mampu menjaga emosi dan penjiwaan untuk memberikan hasil yang maksimal. Pihaknya juga menyambut baik pelaksanaan PKB Tahun 2021. Meski masih di masa pandemi Covid-19, penerapan protokol kesehatan menjadi solusi untuk adaptasi berkesenian di masa pandemi.

 “Tentu kami berharap seluruh duta kesenian Kota Denpasar yang akan berlaga di PKB dapat menjaga penjiwaan dan emosi, seluruh seniman harus tetap semangat memberikan hasil maksimal, dan tetap jaga kesehatan,” ujarnya

 Kabid Kesenian Disbud Kota Denpasar, Dwi Wahyuning Kristiansati didampingi Kasi Pementasan dan Promosi I Wayan Narta mengatakan, Kota Denpasar  sangat siap menyambut gelaran seni tahunan di Bali ini. Dimana beragam persiapan telah dilaksanakan mulai dari penunjukan duta serta finalisasi materi yang akan dibawakan.

“Sebagai kota kreatif berlandaskan budaya kami terus berkomitmen untuk melestarikan dan menguatkan seni budaya Bali, gelaran PKB ini merupakan momentum untuk itu, meski digelar secara terbatas dengan protokol kesehatan,” jelas Wiwin sapaan akrabnya

Lebih lanjut dikatakan, adapun pada PKB tahun 2021 ini terdapat 14 materi yang akan diikuti Pemkot Denpasar. Materi tersebut terbagi dalam beberapa jenis yakni Pawai (Peed Aya), Parade (Utsawa), Lomba (Wimbakara), Pagelaran (Reksada) dan Penghargaan (Adhi Sewaka Nugraha). Adapun jumlah duta kesenian  yang diterjunkan Kota Denpasar sebanyak 14 duta kesenian dengan melibatkan ratusan  seniman.

“Kami mengirimkan 14 duta kesenian, semua materi tersebut sudah kami siapkan, dan saat ini sudah tahap latihan guna memberikan hasil yang maksimal, dari pelaksanaan PKB nanti sedikinya 800-1.000 seniman Denpasar terlibat didalamnya,” paparnya.

Dwi Wahyuning menambahkan, gelaran PKB ini hendaknya dimanfaatkan oleh insan seni Kota Denpasar sebagai ajang apresiasi seni dan kebudayaan Bali. Selain itu, PKB Tahun 2021 menjadi momen kebangkitan seni budaya Bali meski dimasa pandemi. Diharapkan keberadaan seni budaya juga mampu beradaptasi dan tetap eksis meski harus menerapkan protokol kesehatan, sehingga kedepanya seni budaya serta kearifan lokal Bali dapat tetap ajeg dan lestari dengan tetap berpedoman pada pakem-pakem seni itu sendiri.

“Kami berharap seluruh insan seni yang sudah dipercaya untuk menjadi duta Kota Denpasar agar senantiasa berlatih dengan maksimal untuk hasil yang maksimal pula, dan pemilihan duta kesenian ini juga dilaksanakan secara bergilir di empat kecamatan,” katanya. Untuk diketahui bahwa gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-XLIII Tahun 2021 ini  mengangkat tema pokok ‘Purna Jiwa : Prananing Wana Kerthi, Jiwa Paripurna, Nafas Pohon Kehidupan’. (eka)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

“SINGAde Barong”, Refleksi Keberadaan Barong dari Sudut Pandang Bali Utara

Published

on

By

barong ket buleleng
LOMBA BARONG KET: Duta Kabupaten Buleleng yang diwakili Sanggar Seni Wahana Santhi, Desa Umajero, Kecamatan Busungbiu saat tampil dalam lomba Barong Ket Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu (24/6). (Foto: Hms Buleleng)

Denpasar, baliilu.com – Buleleng kembali menunjukkan kekayaan kreativitas seninya dalam Lomba Barong Ket Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu (24/6). Melalui garapan bertajuk “SINGAde Barong”, Duta Kabupaten Buleleng yang diwakili Sanggar Seni Wahana Santhi, Desa Umajero, Kecamatan Busungbiu, menghadirkan sebuah perspektif khas Bali Utara dalam memaknai kesenian Barong Ket.

Di tengah kuatnya tradisi barong yang berkembang di sejumlah wilayah Bali, Buleleng memilih menghadirkan pendekatan berbeda. Garapan ini tidak hanya menampilkan kekuatan teknik dan estetika pertunjukan, tetapi juga menawarkan gagasan tentang identitas budaya Bali Utara yang diterjemahkan melalui bahasa seni pertunjukan.

Konseptor garapan, I Ketut Pany Ryandhi, menjelaskan bahwa judul “SINGAde Barong” sengaja dipilih karena memiliki dua makna yang saling melengkapi. Pertama, dapat dimaknai sebagai “Singa de Barong”, yang merujuk pada sosok singa sebagai representasi visual Barong Ket. Kedua, dapat pula dibaca sebagai “Sing Ade Barong” yang dalam bahasa Bali berarti “tidak ada barong”.

Menurutnya, makna kedua tersebut lahir dari refleksi terhadap kondisi budaya di Buleleng. Bukan berarti Bali Utara tidak memiliki tradisi barong, melainkan keberadaan dan perkembangannya tidak seintens beberapa wilayah lain di Bali yang dikenal kuat dengan tradisi barongnya.

“Berangkat dari situ, kami ingin menghadirkan perspektif orang Buleleng terhadap Barong Ket. Melalui kesempatan ini kami mencoba membawa cara pandang masyarakat Bali Utara dalam memaknai barong, baik dari sisi estetika maupun spirit yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah pertunjukan yang memadukan tradisi Barong Ket dengan karakter musikal Bali Utara. Dalam penggarapannya, tim kreatif mengadopsi spirit musik kebyar yang selama ini menjadi salah satu identitas kuat kesenian Buleleng. Energi, dinamika, dan semangat eksploratif khas musik kebyar diolah menjadi bagian penting dalam penyajian karya, tanpa meninggalkan esensi tradisi Barong Ket itu sendiri.

Selain mengangkat identitas budaya, “SINGAde Barong” juga membawa pesan tentang kesetaraan dalam dunia seni. Hal itu tercermin dari keterlibatan penabuh perempuan dalam proses kreatif maupun penyajian pertunjukan.

Kehadiran para seniman perempuan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap kemampuan yang dimiliki perempuan dalam berkesenian. Sanggar Seni Wahana Santhi meyakini bahwa kualitas berkarya tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kemampuan, dedikasi, dan komitmen dalam menjalani proses kreatif.

Secara struktur pertunjukan, garapan tetap mengikuti ketentuan lomba yang ditetapkan panitia PKB. Penyajian disusun berdasarkan hirarki musikal yang telah ditentukan, mulai dari bagian pembuka hingga pengembangan adegan yang memberikan ruang bagi penari dan penabuh menampilkan kemampuan artistiknya. Pany Ryandhi mengatakan, struktur garapan sengaja disusun sesuai pedoman lomba yang telah ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

“Di bagian awal terdapat gending papeson yang menjadi ruang bagi penari tedung untuk menampilkan kebolehannya, kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian lain sesuai hirarki yang sudah ditentukan. Secara musikal, kami mengadopsi struktur yang telah ditetapkan dalam kriteria lomba,” pungkasnya.

Melalui “SINGAde Barong”, Sanggar Seni Wahana Santhi tidak hanya menampilkan sebuah garapan lomba, tetapi juga menyampaikan refleksi budaya tentang posisi dan identitas Barong Ket di Bali Utara.

Permainan makna dalam judulnya menjadi simbol keberanian untuk menafsirkan kembali tradisi, sekaligus menegaskan bahwa Buleleng memiliki cara tersendiri dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Bali di tengah dinamika zaman. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Janger Remaja Buleleng Perdana Tampil di PKB, Usung Lakon “Atma Prasangka”

Published

on

By

janger remaja
PARADE JANGER: Sekaa Yowana Mudita Desa Adat Kalibukbuk saat membawakan garapan berjudul Atma Prasangka pada Parade Janger Remaja dalam rangkaian PKB 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis (25/6). (Foto: Hms Buleleng)

Denpasar, baliilu.com – Janger Remaja untuk pertama kalinya mewakili Kabupaten Buleleng tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Debut tersebut diwujudkan oleh Sekaa Yowana Mudita Desa Adat Kalibukbuk yang membawakan garapan berjudul Atma Prasangka pada Parade Janger Remaja di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis (25/6).

Mengusung lakon Atma Prasangka, duta Kabupaten Buleleng ini tidak hanya menyuguhkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali warisan Janger khas Kalibukbuk yang sempat berjaya pada era 1960-an.

Pembina garapan, Gede Adi Setiawan, mengatakan karya tersebut lahir dari proses riset terhadap bentuk Janger yang pernah berkembang di Desa Adat Kalibukbuk. Bersama tim pembina tabuh dan vokal, mereka menelusuri berbagai narasumber, mulai dari mantan penari, penonton, hingga para tetua desa yang masih mengingat pertunjukan Janger pada masa lalu.

“Kami sepakat mengangkat kembali Janger yang pernah eksis di Desa Adat Kalibukbuk sekitar tahun 1960-an. Gending-gending yang dibawakan merupakan hasil penelusuran dari para narasumber yang masih menyimpan ingatan tentang kesenian ini,” ujar Adi.

Ia menjelaskan, struktur pertunjukan tetap mempertahankan pakem Janger terdahulu. Pembaruan hanya dilakukan pada pengolahan gerak untuk memperkuat estetika pertunjukan, sementara lagu-lagu dan vokal tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya.

Lakon Atma Prasangka mengangkat persoalan prasangka dalam kehidupan manusia, tentang sikap ketika seseorang mengetahui kebenaran tetapi memilih diam, atau sebaliknya merasa benar padahal keliru. Gagasan itu dipadukan dengan nilai Atma Kerthi yang menekankan kesadaran manusia terhadap jati diri, keseimbangan jiwa, serta keharmonisan hubungan purusa dan pradana.

Menurut Adi, pesan yang ingin disampaikan melalui garapan ini adalah mengajak masyarakat untuk merefleksikan diri. “Pernahkah kita sadar siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan apa yang harus kita lakukan. Itulah yang ingin kami renungkan melalui karya ini,” katanya.

Ia mengakui proses penyusunan garapan memerlukan waktu panjang. Selain latihan selama tiga bulan, tim juga harus mencari dan menghimpun informasi dari para narasumber untuk menyusun kembali bentuk Janger Kalibukbuk yang telah lama tidak dipentaskan.

Bagi Sekaa Yowana Mudita, tampil sebagai duta pertama Kabupaten Buleleng pada Parade Janger Remaja PKB menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesenian Janger di daerahnya. Mereka berharap Janger tidak hanya hidup di panggung festival, tetapi juga kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat melalui kegiatan ngayah, desa adat, maupun berbagai agenda kebudayaan di Kabupaten Buleleng.

“Semoga penampilan ini menjadi awal agar Janger di Kabupaten Buleleng terus eksis, berkembang, dan kembali menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi muda,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bupati Adi Arnawa Puji Penampilan Bapang Barong Duta Badung di PKB 2026

Published

on

By

HADIRI PEMENTASAN BAPANG BARONG: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa saat menghadiri pementasan Tabuh dan Bapang Barong Duta Kabupaten Badung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Arda Candra, Art Center, Denpasar, Kamis (25/06/2026) malam. (Foto: Hms Badung)

Denpasar, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi tinggi terhadap pementasan Tabuh dan Bapang Barong Duta Kabupaten Badung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Penampilan memukau tersebut berlangsung di Panggung Terbuka Arda Candra, Art Center, Denpasar, Kamis (25/06/2026) malam.

“Penampilan Bapang Barong Badung malam ini sangat luar biasa. Kalau diberi nilai, saya kasi angka sembilan (9). Penampilannya sangat baik sekali,” ujar Bupati Adi Arnawa penuh bangga seusai menyaksikan acara.

Turut hadir mendampingi Bupati, Ketua TP PKK Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Sekretaris Daerah Badung IB Surya Suamba bersama Ketua DWP Badung Ny. Olivia Surya Suamba, serta Kepala Dinas Kebudayaan Badung I Gede Sukadana. Hadir pula Camat Kuta Utara, para seniman, tokoh masyarakat, dan pencinta seni yang memadati tribun penonton.

Duta Kabupaten Badung dalam ajang bergengsi ini diwakili oleh Sekaa Gong Satya Winangun Budaya dari Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara. Pementasan ini menampilkan pengembangan teknik garap bapang barong khas Badung dengan karakter gerak yang tegas, dinamis, dan berwibawa.

Koreografinya tertata struktur melalui penguatan aksen gerak, pengolahan ruang, serta harmonisasi visual antara penari barong dan penari tedung (payung hias). Menariknya, kehadiran penari tedung dalam sajian ini terinspirasi dari Pusaka Pejenengan di Desa Tibubeneng, yaitu Lelandepan Kilemar Agung dan Tamiang Ikulan Jaya.

Pusaka tersebut merepresentasikan kebenaran, ketajaman pikiran, pengayoman, serta kekuatan spiritual. Nilai-nilai filosofis dan tradisi Tamiang ini diterjemahkan ke dalam pola gerak pemegang tedung yang harmonis, ritmis, dan dinamis, sehingga memperkaya dimensi estetis pementasan.

Bupati Adi Arnawa menegaskan bahwa kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten Badung merupakan bentuk dukungan penuh terhadap seluruh seniman yang berjuang membawa nama daerah di PKB 2026.

Sebelum menyaksikan Bapang Barong, Bupati juga sempat meninjau dan mengapresiasi parade klasik pementasan Semar Pegulingan dari Desa Sulangai, Kecamatan Petang. “Kami memberikan dukungan penuh, mulai dari masa latihan hingga penampilan malam hari ini. Saya sangat mengapresiasi semangat anak-anak kita yang tampil luar biasa,” ungkapnya.

Mengingat Bapang Barong merupakan salah satu nomor yang dilombakan dalam PKB tahun ini, Adi Arnawa optimis Duta Badung mampu meraih hasil tertinggi. “Ini ajang yang sangat bergengsi. Walaupun tantangan dan persaingan antar-kabupaten/kota di Bali sangat berat, saya yakin dengan kualitas yang ditampilkan tadi. Astungkara, Duta Badung Jayanti (juara),” pungkas Bupati Adi Arnawa. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca