Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Tradisi Temu Teknologi: Pameran Inovasi Teknologi Tradisional di Serangan

BALIILU Tayang

:

Temu Teknologi di serangan
TRADISI TEMU TEKNOLOGI : 10 inovator terpilih bersama Co-Founder Pratisara Bumi Foundation (PBF), Fab Lab Bali dan Culture Art Science Technology (CAST Foundation), berfoto bersama saat melaksanakan program ‘’Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon’’ yang bermitra dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Women’s Earth Alliance yang dilaksanakan di Bale Desa Serangan, pada Minggu, 18 Mei 2025. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Pratisara Bumi Foundation (PBF), Fab Lab Bali dan Culture Art Science Technology (CAST Foundation), melaksanakan program Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon yang bermitra dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Women’s Earth Alliance. Sebuah program yang telah bergulir sejak bulan Desember 2024. Tradisi Temu Teknologi dilaksanakan di Bale Desa Serangan yang lokasinya berhadapan dengan Wantilan Pura Desa Puseh Lan Bale Agung, Serangan, Denpasar, Bali, pada Minggu, 18 Mei 2025.

Program Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon dimulai dari semangat mengajak generasi muda Indonesia usia 17-35 tahun untuk kembali mengembangkan pengetahuan lokal yang aplikatif di tempat asalnya melalui inovasi teknologi tradisional. Di mana pada praktiknya, teknologi tradisional secara turun temurun bisa memenuhi empat dasar filosofi kebutuhan hidup dasar yaitu sandang (fashion), pangan (food), papan (shelter), sadar (wellness).

Setelah mengikuti seleksi cerita, tahapan berikutnya yaitu pemilihan 10 inovator dari 10 kabupaten berbeda yang lolos ke tahap Hackathon. Tahapan ini lebih intensif karena mempertemukan proses inovasi secara langsung. Seluruh inovator mengembangkan idenya menjadi prototipe low-fi, terhitung sejak 09 hingga 17 Mei 2025 bersama tim Fab Lab Bali dan mahasiswa Fakultas Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali.

Para inovator saat mengikuti pelatihan. (Foto: ist)

Puncak dari program ini adalah acara Tradisi Temu Teknologi: Pameran Inovasi Teknologi Tradisional, dengan mengajak khalayak luas untuk ikut menyaksikan cerita dan inovasi teknologi tradisional secara langsung di Desa Serangan, Bali.

Lokasi ini dipilih bukan hanya karena berada di dalam desa adat yang kental dengan berbagai tradisi dan kebudayaan Bali, namun juga karena ada benih-benih lahirnya teknologi modern yang akan dikembangkan oleh Fab Lab Bali, dengan mendirikan Kios Utak-Atik, yang lokasinya dekat dengan Bale Desa ini. Kios Utak Atik merupakan wadah terbuka bagi masyarakat Desa Serangan untuk mengakses berbagai bentuk teknologi modern, yang diharapkan dapat memberikan dampak bagi peningkatan kemandirian dan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar sekaligus tetap menjaga warisan adat, kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah tertanam sebelumnya.

Para inovator saat mengikuti pelatihan. (Foto: ist)

Hadirnya Fab Lab Bali di Desa Serangan dinaungi oleh CAST Foundation sebagai bagian dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih (Koalisi Bali ENB) 2045 yang di dalamnya juga ada anggota lain yaitu World Resources Institute (WRI) Indonesia, Institute for Essential Services Reform (IESR), dan New Energy Nexus (NEX) Indonesia.

Baca Juga  Kelangkaan BBM Berulang di Berbagai Daerah, IESR Desak Pemerintah Ambil Langkah Darurat dalam Tujuh Hari 

Saniy Amalia Priscilla, Co-Founder Pratisara Bumi Foundation menuturkan, program ini dilaksanakan berawal dari keprihatinan atas ketidakseimbangannya ekosistem bumi. Padahal, masyarakat Indonesia secara turun-temurun memiliki warisan pengetahuan lokal dan teknologi tradisional yang selaras dengan alam.

‘’Kami ingin membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap pengetahuan, alat, metode ini agar tetap lestari. Dengan mengumpulkan dan mengembangkan cerita teknologi tradisional dari berbagai daerah, dan menginovasikan teknologi tradisional, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat menghubungkan komunitas, bekerja dalam batasan alam dan minim jejak emisi. Kami percaya ini adalah kunci untuk menjawab tantangan krisis iklim dan pelestarian kearifan lokal,” tuturnya.

Pratisara Bumi Foundation telah memberikan kesempatan penutur pemuda untuk mengikuti kelas-kelas peningkatan kapasitas dalam memahami konsep teknologi tradisional dari para praktisi, membuat konten lokal melalui platform digital, riset dan pemetaan ide inovasi untuk masa depan yang berkelanjutan.

‘’Berangkat dari pemahaman adanya kebutuhan solusi lokal, kami bersama mengajak generasi muda agar terlibat perannya dalam mengurangi dampak krisis iklim. Kita bisa melestarikan cara hidup tertuang ke dalam teknik-teknik yang diperantarai sebuah teknologi tradisional yang relevan di masa kini,’’ katanya seraya berharap program ini menjadi katalis untuk merevitalisasi pengetahuan lokal pada teknologi sebagai bagian penting dari inovasi baru yang berdampak bagi masyarakat daerah dalam mengembangkan solusi lokal, menyeimbangkan pelestarian dan teknologi masa depan.

Sementara pada saat media briefing tersebut, Wan Zaleha Radzi, Co-Founder CAST Foundation menambahkan, “Teknologi tradisional sangat erat dengan wawasan keilmuan yang menjadi perhatian utama kami, yaitu Culture, Arts, Science, and Technology. Selain itu teknologi tradisional warisan masyarakat adat kita pada umumnya adalah teknologi yang selaras dengan alam sekitarnya. Ini adalah salah satu sebab mengapa program ini menjadi penting karena kami di CAST Foundation selalu aktif mendorong lahirnya inovasi teknologi ramah lingkungan yang memberikan dampak bagi peningkatan keselarasan alam dengan kesejahteraan hidup manusia di dalamnya.”

Baca Juga  Percepat Transisi Hijau, Indonesia Solar Summit 2026 Perkuat Fondasi Kedaulatan Energi

“Bagi CAST Foundation, teknologi tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan benih masa depan—lahir dari kearifan lokal yang hidup dalam harmoni dengan alam. Program ini penting bagi kami karena mempertemukan pengetahuan leluhur dengan teknologi masa kini untuk melahirkan inovasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga selaras dengan bumi, bukan malah merusak dan menguasainya. Sebab dalam banyak budaya kita, manusia bukanlah pemilik alam, tapi bagian darinya,” kata Wan Zaleha Radzi.

Taffia Sabila, Lab Expert, Design Research-Biomaterials, Fab Lab Bali, sebagai salah satu mentor utama di program ini juga memberikan penjelasan terkait teknis pembelajaran untuk para inovator. “Program residensi dan hackathon ini dirancang dengan pendekatan bertahap untuk mendampingi para inovator dalam mengembangkan ide inovasi berbasis pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK). Program diawali dengan pelatihan untuk para local enabler (penggerak lokal) sebagai pendamping bagi para inovator selama proses residensi berlangsung di desa masing-masing. Selama program residensi, para inovator dibekali dengan materi pembelajaran yang terstruktur, mulai dari metode riset lapangan berbasis etnografi, pemetaan tantangan lokal, hingga analisis dan sintesis data untuk merumuskan peluang inovasi. Pendekatan meaningful design digunakan untuk memastikan bahwa solusi yang dikembangkan tetap berakar pada konteks budaya dan ekologis setempat,” ucap Taffia Sabila.

“Di tahap hackathon, para inovator dibimbing dalam proses pembuatan purwarupa (prototyping), mulai dari pengembangan low-fidelity prototype hingga high-fidelity prototype menggunakan teknologi fabrikasi digital. Materi yang diberikan juga mencakup dasar-dasar desain produk, teknik kolaboratif, serta strategi presentasi untuk menyampaikan ide inovasi secara efektif,” tambah Tafia menjelaskan.

Ni Komang Ayu Trisna Dewi dengan inovasi Bagi Chakra, yang memberikan dampak positif berupa diversifikasi produk serat gebang yang berkualitas. (Foto: gs)

Adapun 10 inovator yang terpilih dalam program Indigenous Technology Innovators Residence & Hackathon yakni 1). Abdul Muiz: Salamun Tujuh Living Heritage, Mempawah, Kalimantan Barat; 2). Akhmad Rizaldi: Pemecah Cangkang Buah Tengkawang, Sanggau, Kalimantan Tengah; 3). Deviani Gustia Reski: Pengeringan Eungkot Kayee, Banda Aceh, Aceh; 4). Neno Andreas Salukh: Ume kbub Leko Timor Tengah Selatan NTT; 5). Ni Komang Ayu Trisna Dewi: Bagi Chakra, Karangasem, Bali; 6). Putri Handayani: Eduwisata SITTPLBG, Banyuwangi, Jawa Timur; 7). Rani Dwi Andriani: Pengeringan Ragi Tempe Tradisional, Ponorogo, Jawa Timur; 8). Sintia: Palet Warna Kain Jumputan Gambo, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan; 9). Saiyidal Muhammad Nor: Perangkap Ikan Tradisional ‘Pengilar’, Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah; dan 10). Viedela Aricahyani Kodirin: Sepeda Pemarut Singkong, Banjarnegara, Jawa Tengah. (gs/bi)

Baca Juga  75 Tahun Hubungan Indonesia-China: Dorong Kemitraan Baru untuk Akselerasi Transisi Energi dan Pertumbuhan Ekonomi Hijau

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Puluhan Petani Gagal Panen di Jembrana Diganjar Bantuan Penguatan Ekonomi

Published

on

By

Penyerahan Bantuan untuk Petani Gagal Panen Jembrana
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati I Made Kembang Hartawan, didampingi Kalaksa (BPBD) Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menyerahkan bantuan penguatan ekonomi setelah mengalami gagal panen akibat kekeringan di Balai Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Sebanyak 27 petani di Kabupaten Jembrana diganjar bantuan penguatan ekonomi setelah mengalami gagal panen akibat kekeringan. Bantuan yang berasal dari Pemprov Bali tersebut, disalurkan secara langsung oleh Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati I Made Kembang Hartawan, didampingi Kalaksa (BPBD) Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya di Balai Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kamis (5/11/2026).

Kalaksa BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menyebut, 27 penerima bantuan merupakan petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Mereka berasal dari Desa Kaliakah, Manistutu, dan Banyubiru.

Teka Bhusana juga menambahkan bantuan yang diberikan juga bervariasi nilainya, tergantung luasan lahan. “Bantuan untuk petani tersebut merupakan tahap pertama. Sementara itu, usulan bantuan tahap kedua dari Kabupaten Jembrana masih dalam proses verifikasi,” ucapnya.

Wagub Nyoman Giri Prasta mengapresiasi ketangguhan para petani yang terus berjuang di tengah terjangan musim kemarau demi menjaga produktivitas dan ketersediaan pangan masyarakat. Kendati berbagai upaya telah dikerahkan untuk menyelamatkan tanaman, sebagian petani tetap harus menelan pil pahit gagal panen akibat kekeringan ekstrem. Situasi ini lantas memantik respons cepat dari pemerintah untuk meringankan beban para korban.

“Sebagian kecil ternyata tetap mengalami gagal panen, maka pemerintah tetap turun tangan,” ujar mantan Bupati Badung dua periode tersebut.

Giri Prasta membeberkan, pada tahap pertama ini uluran tangan pemerintah telah disalurkan kepada 27 orang petani. Sementara itu, usulan calon penerima untuk tahap kedua dari wilayah Jembrana saat ini masih berproses pada tahap verifikasi data.

Ia menegaskan, jajaran pimpinan daerah berkomitmen penuh untuk tidak membiarkan para petani berjuang sendirian menanggung kerugian.

Baca Juga  Percepat Transisi Hijau, Indonesia Solar Summit 2026 Perkuat Fondasi Kedaulatan Energi

“Bapak Gubernur tidak ingin para petani ini gagal begitu saja, harus dibantu mengatasi kerugiannya. Oleh karena itu BPBD telah memproses bantuannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kembang menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam atas perhatian sigap yang diberikan oleh jajaran Pemprov Bali kepada petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan ekstrim di Jembrana. Menurutnya, sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi sangat krusial dalam mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pedesaan.

“Kami atas nama masyarakat dan para petani di Jembrana mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur Bali. Kehadiran dan kepedulian pemerintah provinsi ini tentu menjadi penopang semangat bagi petani untuk bangkit kembo,” ujarnya.

Bupati Kembang menambahkan, pihaknya terus menggerakkan jajaran di tingkat dinas pertanian, kecamatan, hingga pemerintah desa untuk mengawal proses pendataan dan verifikasi agar penyaluran bantuan tahap berikutnya dapat berjalan tepat sasaran tanpa kendala berarti.

“Kami di daerah siap mengawal penuh proses ini. Untuk usulan tahap kedua yang saat ini sedang berproses, kami pastikan data yang dikirimkan valid sehingga para petani yang belum tersentuh di tahap awal bisa segera mendapatkan haknya,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Inovasi Genteng Biomassa Ramah Lingkungan dan Aman Gempa

BRIN Bersama BRIDA Buleleng Jajaki Pengembangan dengan Pelaku Usaha Lokal

Loading

Published

on

By

Kunjungan BRIN dan BRIDA ke Pelaku Usaha Buleleng
TINJAU PELAKU USAHA: BRIN Bersama BRIDA Buleleng saat meninjau pelaku usaha yang memanfaatkan limbah untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Pemanfaatan sumber daya alam lokal menjadi salah satu peluang strategis dalam mendorong lahirnya inovasi material ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah sabut kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi.

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng menerima kunjungan kerja dan diskusi teknis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa, 3 November 2026, bertempat di Ruang Rapat Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng. Kegiatan mengangkat tema “Potensi Pemanfaatan Serat Alam sebagai Bahan Baku Genteng Biomassa Ramah Lingkungan”.

Kunjungan tersebut dihadiri tim BRIN, yakni Dr. Jajang Sutiawan, S.Hut., M.Si., Yeyen Nurhamiyah, S.Si., Ph.D., dan Mulya Supianto, S.Pd., M.Sc., Ph.D. Rombongan diterima langsung oleh Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, S.STP., M.M., didampingi Putu Angga Kristyawan, M.Ing., I Made Ardaka, M.Si., dan Ferdi Kurniawan.

Dalam pemaparannya, tim BRIN memperkenalkan teknologi HERBAL-ROOF (Genteng Biomassa Indonesia), yaitu inovasi material atap berbasis biomassa yang dikembangkan melalui pemanfaatan serat alam sebagai bahan komposit. Teknologi ini membuka peluang pemanfaatan berbagai sumber biomassa, seperti sabut kelapa, bambu, tandan kosong kelapa sawit, dan bahan alam lainnya sebagai alternatif material konstruksi yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan materi yang dipaparkan, teknologi genteng biomassa BRIN telah mencapai tahap prototipe skala penuh, memenuhi standar SNI, dan siap memasuki tahap pilot manufacturing. Inovasi ini juga memiliki sejumlah keunggulan, antara lain bobot material yang lebih ringan, kemampuan meredam panas, efisiensi penggunaan material, serta potensi mengurangi beban struktur atap sehingga dapat mendukung aspek keselamatan bangunan, khususnya di wilayah rawan gempa.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Gelar Kompetisi Inovasi Perangkat Daerah 2022

Diskusi kemudian diarahkan pada potensi ketersediaan sabut kelapa di Kabupaten Buleleng, karakteristik bahan baku, proses pengolahan, formulasi material, hingga kebutuhan pengujian teknis. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi kekuatan mekanis, penyerapan air, ketahanan terhadap cuaca dan api, stabilitas dimensi, serta kelayakan ekonomi dan dampak lingkungan dari produk yang dikembangkan.

Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, menekankan pentingnya hilirisasi inovasi material hijau dengan memanfaatkan potensi unggulan daerah. Menurutnya, Buleleng memiliki peluang besar untuk mengembangkan komoditas perkebunan dan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku usaha.

Ia juga mendorong agar potensi sabut kelapa dan bambu dapat dikembangkan menjadi material komposit serat alam yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan limbah perkebunan tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru, memperkuat ekonomi sirkular, serta mendukung ketahanan bangunan dan perumahan daerah.

BRIDA Buleleng turut mendorong penjajakan pemanfaatan hasil riset Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN agar teknologi genteng biomassa dapat dikembangkan dan direplikasi secara bertahap melalui keterlibatan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, hasil riset tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi dapat berlanjut menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari kegiatan, rombongan juga melaksanakan kunjungan lapangan ke Rumah Plastik Mandiri (RPM), sebuah perusahaan sosial, bank sampah induk, sekaligus pusat daur ulang sampah plastik inovatif di Kabupaten Buleleng. Berdiri sejak 2016, RPM yang didirikan oleh Putu Eka Darmawan berfokus pada pengelolaan sampah secara mandiri, edukasi daur ulang, serta pengembangan teknologi pengolahan limbah plastik lokal.

Kunjungan dilanjutkan ke PT Balisynwood, merek UMKM inovatif asal Buleleng yang mengembangkan produk kayu sintetik ramah lingkungan berbahan dasar limbah pertanian, khususnya jerami dan sekam padi. Dalam kesempatan tersebut, rombongan melihat langsung potensi pengembangan material alternatif berbasis limbah pertanian yang dikelola oleh Gede Wikrama Putra Setya Adiyana selaku Direktur Operasional.

Baca Juga  Lantik 247 Pejabat Fungsional, Bupati Tabanan: Inovasi Harga Mati

Kunjungan ke kedua pelaku usaha tersebut menjadi bagian penting dalam melihat secara langsung praktik pengolahan limbah dan pengembangan material alternatif di Buleleng. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa potensi inovasi daerah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kreativitas, teknologi, dan kemampuan pelaku usaha dalam mengolah bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui pertemuan dan kunjungan lapangan ini, terbangun komunikasi awal antara BRIN dan BRIDA Kabupaten Buleleng untuk menjajaki peluang kolaborasi riset, karakterisasi bahan baku, pengembangan prototipe, pemanfaatan fasilitas pengujian, hingga peluang hilirisasi produk. Ke depan, penjajakan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui identifikasi sumber bahan baku, penyusunan formulasi material, serta pengujian kelayakan produk bersama calon mitra.

Sinergi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah. Dengan mengoptimalkan potensi sabut kelapa, bambu, serta limbah pertanian dan perkebunan lainnya, Buleleng berpeluang mengembangkan industri material ramah lingkungan yang berdaya saing, meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, dan memberikan manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Semarak Hari Lahir Ke-73, KPU Bali Gelar Donor Darah untuk Kemanusiaan

Published

on

By

Donor Darah Hari Lahir KPU ke-73 di KPU Bali
DONOR DARAH: KPU Provinsi Bali saat menggelar aksi donor darah sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi dalam rangka memperingati Hari Lahir KPU ke-73 yang berlangsung di Ruang Rapat KPU Bali, Jumat (6/11/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – KPU Provinsi Bali menggelar aksi donor darah sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi dalam rangka memperingati Hari Lahir KPU ke-73. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat KPU Bali ini bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali, Jumat (6/11/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan tim medis UDD PMI Provinsi Bali yang diwakili oleh dokter Nyoman Sastrini. Aksi donor darah ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh jajaran KPU Provinsi Bali, KPU kabupaten/kota se-Bali, serta insan media. Tercatat sebanyak 53 orang berpartisipasi sebagai pendonor dalam kegiatan tersebut.

Kepala Bagian yang membidangi Perencanaan, Data dan Informasi, Partisipasi Masyarakat, serta Sumber Daya Manusia KPU Provinsi Bali, I Wayan Gede Budiartha, menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan bentuk nyata kepedulian KPU terhadap sesama. Selain memeriahkan peringatan Hari Lahir KPU ke-73, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan darah.

Menurutnya, aksi kemanusiaan seperti ini perlu terus didorong agar menjadi bagian dari budaya kepedulian dan kebersamaan, tidak hanya di lingkungan penyelenggara pemilu, tetapi juga masyarakat luas.

Sementara itu, dokter Nyoman Sastrini mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap aksi donor darah dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, idealnya setiap tiga bulan sekali. Ketersediaan darah yang cukup sangat penting untuk membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah.

Melalui kegiatan ini, KPU Bali berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh serta diwujudkan melalui aksi nyata. Peringatan Hari Lahir KPU ke-73 pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen KPU tidak hanya dalam melayani demokrasi, tetapi juga memberikan manfaat bagi kemanusiaan. (gs/bi)

Baca Juga  Lantik 247 Pejabat Fungsional, Bupati Tabanan: Inovasi Harga Mati

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca