Tuesday, 16 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Trisno Nugroho: Sinergitas Langkah Cepat Minimalisir Dampak Covid-19 terhadap Perekonomian

BALIILU Tayang

:

de
TRISNO NUGROHO: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali.

Denpasar, baliilu.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan shock eksternal terhadap industri pariwisata Bali bukan pertama kali terjadi. Pernah terjadi bom Bali, SARS, MERS, Gunung Agung meletus,  namun Bali terbukti berkali-kali mampu bangkit dari kondisi krisis dengan cepat.

Demikian juga ketika ada wabah virus corona, Trisno Nugroho  menandaskan saat ini perlu sinergitas langkah dan aksi cepat dalam meminimalisir dampak virus corona terhadap perekonomian, sekaligus melindungi masyarakat Bali. Sebagai benchmarking, pemerintah provinsi lainnya telah melakukan pembentukan tim tanggap Covid-19, pembentukan call centre, SOP penanganan Covid-19 dan himbauan untuk tidak melakukan panic buying.

‘’Kami merekomendasikan strategi jangka pendek dalam menghadapi Covid-19 outbreak yaitu mendorong percepatan implementasi kebijakan stimulus pariwisata Bali. Pembentukan tim tanggap Covid-19, pembentukan central for diseases control and prevention/crisis centre dan menyusun protokol kesehatan. Meminimalkan kontraksi pertumbuhan 2020 melalui akselerasi konsumsi pemerintah (percepatan realisasi rencana pembangunan proyek-proyek pemerintah Bali-red),’’ ujar Trisno saat memberi sambutan pembukaan pada Rapat Koordinasi Percepatan Pemulihan Pariwisata dan Perekonomian Bali Dampak Virus Corona (Covid-19), Jumat (6/3-2020) di ruang Tirta Gangga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Denpasar.

Dalam jangka panjang perlu adanya tourism crisis management framework yang meliputi strategi dan langkah aksi dari fase preventif hingga resolution.

‘’Saya yakin dengan sinergi dari semua pihak upaya kita dalam mewujudkan pertumbuhan pariwisata Bali yang berkesinambungan akan terlaksana dengan baik,’’ ujar Trisno.

Trisno Nugroho lebih lanjut menegaskan, di sektor pariwisata China memegang peranan penting secara global maupun nasional.  Menurut UNWTO, share outbound global China terus meningkat dengan rata-rata lima tahun terakhir sebesar 16%. Wisman China yang bepergian ke Indonesia di tahun 2019 tercatat sebesar 2,07 juta. Ini merupakan ranking ke-13 secara global (rangking pertama adalah Hongkong 49 juta) China juga tercatat sebagai penyumbang utama devisa pariwisata nasional.

Baca Juga  Rai Mantra-Jaya Negara Ikuti Detik-detik Proklamasi secara Virtual

Sebagai provinsi yang perekonomiannya ditopang oleh sektor pariwisata, Covid-19 outbreak diperkirakan akan memberikan dampak cukup besar terhadap perekonomian Bali. Hal ini tidak lepas dari besarnya share kunjungan wisatawan mancanegara asal Tiongkok ke Bali yang sebesar 57,25% dari total kunjungan wisman Tiongkok ke Indonesia di tahun 2019. Wisman Tiongkok mendominasi wisman ke Bali yang tercatat sebesar 19% di tahun 2019 (ranking kedua setelah Australia dengan share 20%)

Penyebaran virus Covid-19 menekan kinerja pariwisata yang mulai membaik di awal 2020. Sebanyak 58 maskapai telah melakukan penutupan rute penerbangan dari dan ke China dimana 47 maskapai merencanakan penutupan sampai dengan April 2020 dan 11 maskapai belum menentukan periode penutupan.

Hasil pengolahan big data menunjukkan adanya peningkatan indeks kekhawatiran wisman terhadap ancaman virus di destinasi Pulau Bali pada Januari 2020 sampai dengan awal Februari 2020. Sementara itu dari kinerja ekspor barang dampak terhadap perekonomian Bali diperkirakan kecil hal ini mengingat share ekspor barang tercatat hanya sebesar 10% dari total ekspor Bali atau 3,89% terhadap PDRB. Ekspor ke China juga relatif kecil yakni 5,39% dari total ekspor (rangking 5). ‘’Hasil FGD kami dengan asosiasi dan eksportir utama di Bali menggambarkan bahwa kinerja ekspor sedikit menurun akibat pembatasan penerbangan ke China. Sementara itu untuk pasar lainnya masih belum terasa dampaknya,’’ terang Trisno.

de
GUBERNUR KOSTER: Bersama Wagub Cok Ace dan Trisno Nugroho.

Hasil terkini survei persepsi Bisnis Bank Indonesia mengindikasikan penurunan optimisme pelaku usaha terutama di pasar ekspor khususnya China. Sementara pasar ekspor negara lainnya dan pasar domestik masih belum terpengaruh.

Hasil survei konsumen Bank Indonesia Februari 2020 mengindikasikan adanya penurunan optimisme. Hal ini tercermin pada indeks keyakinan konsumen yang menurun dari 132,9 pada Januari 2020 menjadi 125,3 pada Februari 2020. Indeks ekspektasi konsumen turun dari 144,5 menjadi 132,8. Sementara indeks keyakinan ekonomi turun dari 121,3 menjadi 117,7.

Baca Juga  Update Covid-19 (6/8) di Bali, Persentase Pasien Sembuh Capai 86,94%

Outlook perekonomian Indonesia direvisi sebesar 0,1% dari 5,1%- 5,5% menjadi 5,0%- 5,4%. Demikian pula dengan pertumbuhan kredit dan DPK terkoreksi ke  bawah. Sementara inflasi dan CAD tidak terkoreksi.

Outlook perekonomian Bali juga terkoreksi ke bawah, dari 5,6%- 6% menjadi 4,6%- 5%. Hal ini berdasarkan simulasi dampak Covid-19 ini berlangsung selama 6 bulan dimana terjadi 2 bulan penutupan penerbangan rute dari dan ke China, dan 4 bulan periode recovery wisman turun 6,26%

Sebagai respons kondisi terkini Bank Indonesia pada 20 Februari 2020 menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, (dari 5% menjadi 4,75%). Sejak tahun 2019 penurunan suku bunga sudah mencapai 125 bps. Hal ini menunjukkan kebijakan moneter bersifat akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut dengan tetap memperhatikan target inflasi. Kebijakan lainnya yaitu kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, ekonomi keuangan syariah diarahkan tetap akomodatif. (GS)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Panen Raya di Bulan Mei Picu Bali Alami Deflasi

Published

on

By

bali deflasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok baliilu)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, perkembangan harga Provinsi Bali pada Mei 2024 secara bulanan mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm) dan lebih dalam dibandingkan deflasi nasional sebesar -0,03% (mtm).

Namun secara tahunan, inflasi Provinsi Bali sebesar 3,54% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,84% (yoy). Secara spasial, Singaraja mengalami deflasi paling dalam yaitu sebesar -0,33% (mtm) atau 2,92% (yoy), diikuti Tabanan mengalami deflasi sebesar -0,28% (mtm) atau 3,56% (yoy), Badung mengalami deflasi sebesar -0,09% (mtm), atau 4,01% (yoy), dan Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,05% (mtm), atau 3,52% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui keterangan pers mengatakan berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama bersumber dari penurunan harga beras, tomat, daging ayam ras, sawi hijau, dan cabai rawit. Penurunan harga beras dan cabai rawit didorong oleh melimpahnya pasokan sehubungan dengan masuknya musim panen raya di Provinsi Bali.

‘’Penurunan harga tomat dan sawi hijau sejalan dengan meningkatnya pasokan dari Jawa dan membaiknya cuaca. Selanjutnya, penurunan daging ayam ras didorong oleh meningkatnya pasokan dari Jawa dan menurunnya harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak,’’ ujar Erwin.

Sementara itu, lanjut Erwin, laju deflasi yang lebih dalam tertahan oleh peningkatan harga bawang merah dan tarif parkir. Pada Juni 2024, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain kenaikan harga minyak kelapa sawit global yang berpotensi merambat ke harga minyak goreng dan bahan bakar di dalam negeri, ketidakpastian cuaca memengaruhi kesuburan tanaman, termasuk tanaman gumitir yang menjadi salah satu komponen canang sari, serta adanya konflik global yang berpotensi berpengaruh pada harga komoditas global yang dapat merambat ke harga-harga dalam negeri.

Baca Juga  Perkenalkan Pengurus Baru, DPC PBB Denpasar Audiensi ke Bawaslu

‘’Namun, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menahan kenaikan inflasi lebih tinggi, diantaranya peningkatan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat dan penurunan harga jagung global sebagai bahan baku ternak, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras,’’ ujarnya.

TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali secara konsisten melakukan pengendalian inflasi dalam kerangka kebijakan 4K antara lain: (i) Pelaksanaan kegiatan operasi pasar murah dan pemantauan harga terus diintensifkan, terutama untuk komoditas bahan pangan strategis; (ii) Imbauan Penjabat Gubernur Bali kepada jajaran di kabupaten/kota untuk memanfaatkan lahan pemerintah provinsi untuk ditanami tanaman bahan pokok sebagai salah satu langkah pengendalian inflasi; (iii) Mendorong kerja sama antardaerah dan pemberian benih unggul di beberapa kabupaten, seperti Badung dan Tabanan; serta (iv) Pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

‘’Melalui langkah-langkah tersebut, Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2024 tetap akan terjaga dan terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1%,’’ pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Hasil Survei Triwulan I 2024, Harga Properti Residensial di Bali Meningkat

Published

on

By

survei harga properti di bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer (saat pertama kali rumah diperjual-belikan) mengalami peningkatan. SHPR merupakan survei triwulanan terhadap sampel pengembang proyek perumahan (developer) di Provinsi Bali.

Peningkatan harga properti residensial tercermin dari perkembangan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2024 tumbuh sebesar 1,48% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,43% (yoy). Peningkatan IHPR pada periode laporan terutama didorong oleh kenaikan harga di 3 (tiga) tipe properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2) dan besar (luas bangunan > 70 m2) yang masing-masing meningkat sebesar 1,77% (yoy); 2,13% (yoy); dan 1,07% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang masing-masing meningkat sebesar 0,90% (yoy), 0,19% (yoy) dan 0,33% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja menyampaikan bahwa peningkatan harga properti residensial pada triwulan I 2024 diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bangunan. Selain itu, kenaikan harga properti residensial juga dipengaruhi oleh peningkatan penjualan rumah di pasar primer selama triwulan I 2024 yang masih tumbuh sebesar 14% (yoy) terutama ditopang oleh penjualan tipe rumah kecil dan besar, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 21% (yoy).

Lebih lanjut, Erwin menyampaikan bahwa meskipun penjualan properti residensial terus tumbuh, namun terdapat sejumlah faktor-faktor utama yang menghambat pengembangan maupun penjualan properti residensial primer di Bali antara lain: (i) Kenaikan harga bangunan (23,62%); (ii) Masalah perizinan (14,91%); (iii) Suku bunga KPR (13,48%); dan (iv) Proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (10,89%).

Baca Juga  Pesan Koster saat Penyerahan BST PT, tetap Semangat hingga Kelak Jadi Kebanggaan Keluarga

Delain itu, SHPR juga menunjukan bahwa pembiayaan pembangunan properti residensial di Bali bersumber dari dana perbankan sebesar 45,00%; dana internal pengembang sebesar 43,75%; dan sisanya dari dana konsumen. Sementara itu, dari sisi konsumen, skema pembiayaan dalam pembelian rumah primer mayoritas menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa sebesar 76,92% dari total penjualan. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Survei April 2024, Penjualan Eceran Bali Diprakirakan Terus Tumbuh

Published

on

By

penjualan eceran bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali pada April 2024 diprakirakan melanjutkan peningkatan dari bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada April 2024 yang diprakirakan sebesar 110,7 atau meningkat 9,6% (yoy) dibandingkan bulan April 2023.  Hal ini mencerminkan kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali masih tetap terjaga atau berada di level optimis (>100).

Peningkatan IPR ini didorong oleh kegiatan konsumsi masyarakat pada periode Bulan Ramadhan hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. IPR Bali terus dalam tren peningkatan selama 14 (empat belas) bulan terakhir. Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arahan pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan meningkatnya penjualan eceran tersebut didorong oleh pertumbuhan Sub Kelompok Sandang yang meningkat sebesar 4,7% (mtm), Kelompok Barang Lainnya sebesar 3,4% (mtm) dan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 3,1% (mtm). Hal ini sejalan dengan peningkatan kegiatan masyarakat pada saat periode HKBN Idul Fitri dan kuatnya daya beli karena adanya tambahan tunjangan hari raya (THR) bagi para pekerja dan banyaknya program potongan harga menjelang Lebaran.

Sementara itu, terdapat kelompok barang yang terkontraksi menahan penguatan penjualan eceran yakni pada Kelompok Barang Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar -3,5% (mtm) dan kelompok barang Suku Cadang dan Aksesori sebesar -1,4% (mtm). Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Juni 2024 diprakirakan menurun, tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan mendatang tercatat sebesar 198,0 lebih rendah dari IEH bulan sebelumnya sebesar 200,0.

Baca Juga  Jelang New Normal, Kelurahan Sanur Edukasi Protokol Kesehatan di Pasar dan Restoran

Dalam menjaga kinerja penjualan eceran dan tingkat konsumsi masyarakat, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali senantiasa berkoordinasi erat dalam menjaga stabilitas harga komoditas agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan ekonomi Bali tetap tumbuh kuat. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca