Sunday, 2 October 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Tujuh Belas Agustusan Bersama Bintang Tanatimur

Visual Art Solo Exhibition Bintang Tanatimur: “17” di Pendhapa Art Space Yogyakarta pada 17-28 Agustus 2022, 09.00-20.00 WIB

BALIILU Tayang

:

bintang
Visual Art Solo Exhibition Bintang Tanatimur: "17" di Pendhapa Art Space Yogyakarta pada 17-28 Agustus 2022, 09.00-20.00 WIB. (Foto: Ist)

KALI ini, Bintang Tanatimur ingin mengekspresikan kepedulian terhadap masalah masyarakat. Melalui karakter figur karikaturistik, karya-karyanya mengangkat isu-isu kontekstual. Tidak sekadar gairah individunya sebagai pemuda yang tumbuh dari masa anak-anak semata, tetapi juga ingin turut terlibat pada masalah sosial, politik, nasionalisme & alam.

Pelukis Wayan Sujana Suklu yang telah mengenal Bintang sejak kecil, mengatakan bahwa Bintang sudah memiliki penanda khusus, berupa karya seni emotif. Keunggulan seni emotif adalah mampu mengomunikasikan gagasan dan perasaan secara efektif, kuat, dan gamblang secara langsung tanpa direncanakan. Bolehlah, Bintang mengatakan melukis tanpa persiapan sebelumnya, tapi jangan lupa pada tataran ide dan konsep sudah ada jauh sebelum proses penciptaan. Menurut Suklu, Bintang telah melalui tahapan 3 langkah berpikir artistik: eksplorasi medium, menyusun bahasa visual, dan perumusan konteks yang relevan.

Bintang Tanatimur, The Great Trashes, digital works NFT, 2021 (Foto: Ist)

Karena itu, Anda bisa merasakan pula berbagai gelombang rasa, impresi, dan pikiran Bintang dalam pameran tunggalnya yang ke-4 ini. Karya seni yang bersifat pasif, dinamis dan partisipatif berupa lukisan, seni objek, video dokumenter sampai seni kripto (NFT) dan seni realitas virtual (AR) turut disajikan. Uniknya pameran ini selain mengingat usianya yang ke-17, juga bertujuan dalam rangka merayakan kemerdekaan RI ke-77.

Saat ini Bintang Tanatimur juga tengah berpameran menjadi salah satu partisipan Artjog 2022 yang berlangsung di Jogja National Museum, 4 Juli – 4 September 2022. So, jangan lewatkan genZ merayakan kemerdekaan dengan caranya yang indah.

Bintang Tanatimur, Stupid Drawing, mixed media on paperboard, 24×26 cm, 100 pieces, 2020-2022. (Foto: Ist)

Acara ini didukung oleh Dicti Art, Pendhapa Art Space, SMAN 7 Yogyakarta, Museum Pasifika Bali, Red Box Jakarta, KJPP Rengganis Hamid & Rekan Jakarta, Generasi Lintas Budaya Foundation, Dayana Picture, Grace Art Event, Serambut Widi, Sellie Cooffe, Buku Seni Rupa, MATRA 3D EQUIPMENT, impessa.id, dan Jogja Art Week.

Merdeka!!! (*/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Jadi Aset Daerah Kota Denpasar, Tradisi “Meburu” Dibuatkan Film Dokumenter

Published

on

By

Meburu
Sekda Alit Wiradana bersama Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan sejumlah tokoh masyarakat Desa Adat Panjer. saat saat film dokumenter berjudul "Meburu", Rabu (28/9). (Foto : Ist)

Denpasar, baliilu.com – Film Dokumenter berjudul “Meburu”, yang merupakan hasil karya Karang Taruna Pramartha Jaya Sabha Yowana Desa Adat Panjer, berkolaborasi dengan Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali, diserahkan secara simbolis kepada Sekda Kota Denpasar, IB Alit Wiradana, sebagai aset Daerah Kota Denpasar pada Rabu, (28/09).

Sebelum penyerahan secara simbolis berupa piringan hitam, film ini disaksikan langsung di ruang audio visual Gedung Dhrama Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar, oleh Sekda Alit Wiradana, bersama Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan sejumlah tokoh masyarakat Desa Adat Panjer.

Adapun anggota Karang Taruna Pramartha Jaya Sabha Yowana, yang juga selaku tim pembuatan film, A.A Ngurah Eka Pratama mengatakan, film dokumenter yang bercerita tentang tradisi Desa Adat Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, yakni “Meburu” (berburu), adalah sebuah tradisi turun temurun yang dilaksanakan sebelum pengarakan Ogoh-ogoh, di mana pemangku yang kerasukan Bhuta Kala (Roh-roh) akan berlari dengan cepat berburu sesajen yang telah disiapkan, dan kemudian diminta kembali ke alam mereka agar tidak menggangu kehidupan warga pada saat perayaan Hari Suci Nyepi

Di sela acara, Sekda Alit Wiradana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya pembuatan film dokumenter ini sebagai wujud pelestarian dan memperkenalkan kepada publik, akan adat, budaya, dan tradisi asli Desa Adat Panjer.

“Selaku Pemerintah Kota Denpasar, kami mendukung dan selalu berusaha memberikan wadah atas segala bentuk kreativitas generasi muda di Kota Denpasar, dan jadikan ini selaras dengan visi Kota Kreatif Berbasis Budaya,” tandasnya. (gita/eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Ny. Putri Koster Saksikan Penayangan Perdana Film “Tatu”

Ny. Putri Koster Apresiasi atas Kreativitas dan Kesadaran para Generasi Muda Bangkitkan Dunia Perfilman Bali

Published

on

By

ny. putri koster
Ny. Putri Koster foto bersama usai menyaksikan penayangan perdana Film "Tatu" bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Koster berkesempatan menyaksikan penayangan perdana Film “Tatu” yang merupakan film karya putra-putri terbaik Bali, bertempat di Ruang Audiovisual, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar, Sabtu (3/9).

Mengawali arahan singkatnya, Ny. Putri Koster menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kreativitas serta kesadaran dari para generasi muda untuk membangkitkan dunia perfilman khususnya di Bali dengan mengangkat tema-tema kehidupan di tengah masyarakat. Untuk itu, pendamping orang nomor satu di Bali ini mengajak semua pihak baik itu pemerintah, para seniman bersinergi untuk bersatu padu membangkitkan kembali dunia perfilman. Kita mulai dari anak muda Bali, pemainnya orang Bali, ditonton masyarakat Bali sehingga dunia sinema semakin bergeliat.

Wanita yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga berharap agar para seniman tidak berhenti berkarya untuk  menghasilkan Garapan-garapan film berkualitas dengan mengangkat hal-hal kecil yang terjadi di masyarakat sekitar. Dari Bali kita mulai angkat tema film yang mengandung kearifan lokal, dari Bali kita akan mengimbas ke nusantara sehingga perfilman bangkit. Kita jadikan Bali sebagai pusat industri perfilman Nusantara.

Film Tatu merupakan film yang sangat spesial mengingat film ini selain bernuansa Bali dan mengambil lokasi syuting di Desa Tenganan, Karangasem yang asri dan indah, film ini juga  disutradarai oleh putra Bali Puja Astawa dan diperankan sekitar 40 orang pemain yang juga asli dari Bali. Film yang mengangkat tema perjuangan seorang perempuan mempertahankan hidup dengan caranya namun terhalang oleh kerasnya orang tua ini menghadirkan seniman diantaranya De Gajah, Jun Bintang, Made Adnyana, Dewi Pradewi dan IB Purwa Sidemen yang bermain peran dengan sangat apik dan natural. (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Wawali Arya Wibawa Apresiasi Film “Tatu” Garapan Puja Astawa

Published

on

By

cok ace
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Wakil Gubernur Bali Cok Ace berkesempatan menyaksikan penayangan film "Tatu" yang disutradarai Puja Astawa di Ruang Audio Visual (Mini Theatre) Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa berkesempatan menyaksikan penayangan film “Tatu” yang disutradarai Puja Astawa di Ruang Audio Visual (Mini Theatre) Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar, Sabtu (3/9).

Film yang diperankan oleh insan-insan kreatif Bali ini juga tampak disaksikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. Tampak juga hadir Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

“Kami mengapresiasi karya film “Tatu” yang disutradarai Puja Astawa, dengan karya film yang apik menampilkan keaslian kehidupan masyarakat Bali,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut Arya Wibawa menyampaikan karya film yang melibatkan insan kreatif Bali mampu menunjukkan keindahan alam Bali, dengan ramah tamah masyarakatnya serta sisi sosial dari masyarakat Bali. Film ini menurutnya juga memberikan pembelajaran bagi kita semua bagaimana dalam mengambil keputusan jangan cepat menyimpulkan, namun harus mampu melihat dari berbagai sudut pandang. “Selamat dan sukses atas penayangan Film Tatu di ruang Audio Visual DNA Denpasar, sebagai gedung yang memiliki ruang kreativitas yang dapat dimanfaatkan oleh anak muda maupun komunitas untuk menuangkan ide tanpa batas,” ujar Agus Arya Wibawa.

Sementara Puja Astawa menyampaikan film “Tatu” dengan gendre film drama keluarga dengan menghadirkan nuansa Bali. “Kami mencoba menuangkan ide dalam sebuah garapan film yang dibuat oleh orang Bali dan dibuat di Bali,” ujarnya. Puja Astawa mengaku mencoba berusaha maksimal dengan menghadirkan budaya Bali, serta pembuatan film ini benar-benar alami salah satunya tempat syuting sedikit pun tidak ada yang diseting. Hal ini kami ingin menunjukkan kepada masyarakat luas inilah situasi kondisi kehidupan masyarakat Bali.

“Mari mendukung produk lokal, karya lokal, anak lokal untuk perkembangan film lokal di Bali,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan penggalan cerita film “Tatu” yakni sosok perempuan yang bernama I Luh  merupakan anak tunggal dari seorang ayah tanpa istri. I Luh menjalin kasih dengan Kadek seorang pria yang juga seorang dukun sakti dan merupakan salah satu keluarga dari musuh bebuyutan ayahnya. I Luh tidak pernah bermaksud mengecewakan ayahnya namun ia tengah berjuang melawan penyakitnya sendiri tanpa diketahui ayahnya.

“Pesan dari film ini bahwa hitam tak selalu pahit, putih pun belum tentu manis. Jangan terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu yang belum tentu benar. Karena yang baik belum tentu benar, dan begitu juga sebaliknya,” tutupnya. (eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca