Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Upacara Aci Pakelem Hulu-Teben di Panca Sagara Menghaturkan Berbagai Wewalungan

BALIILU Tayang

:

de
PAKELEM: Pakelem berupa wewalungan (hewan) dihaturkan dalam upacara Aci Pakelem Hulu-Teben di Panca Sagara yang dilaksanakan secara serentak pada Sabtu (Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang/Tumpek Wayang) yang juga bertepatan dengan Purwani Tilem Bhadrawada/Sasih Karo, tanggal 7 Agustus 2021 mulai pukul 08.00 Wita.

Bangli, baliilu.com – Pakelem berupa wewalungan (hewan) dihaturkan dalam upacara Aci Pakelem Hulu-Teben di Panca Sagara yang dilaksanakan secara serentak pada Sabtu (Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang/Tumpek Wayang) yang juga bertepatan dengan Purwani Tilem Bhadrawada/Sasih Karo, tanggal 7 Agustus 2021 mulai pukul 08.00 Wita.

Hal tersebut terlihat saat pelaksanaan upacara Aci Pakelem Hulu-Teben di Panca Sagara yang berlangsung di : 1). Purwa/Sisi Timur dilaksanakan di Sagara Batu Belah, Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem, dengan pakelem utama wewalungan (hewan) wedus petak (kambing berbulu putih), itik putih jambul, sate putih; 2). Di Daksina/Sisi Selatan dilaksanakan di Sagara Dalem Pakendungan, Desa Kuta, Kecamatan Kuta, Badung, dengan pakelem utama wewalungan (hewan) wedus ulu sami (kambing berbulu merah), itik jambul ulu sami, sate biing; 3). Di Pascima/Sisi Barat dilaksanakan di Sagara Rupek, Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, dengan pakelem utama wewalungan (hewan) wedus gading (kambing berbulu kekuningan), itik jambul welang ireng putih, sate putih siungan; 4). Di Utara/Sisi Utara dilaksanakan di Sagara Negara Gambur Anglayang, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, dengan pakelem utama wewalungan (hewan) wedus ireng (kambing berbulu hitam), itik jambul ireng, sate ireng; dan 5). Di Madya/Tengah dilaksanakan di Hulun Sagara Danu Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli, dengan pakelem utama wewalungan (hewan) wedus kendil utawi welang (kambing berbulu belang), itik jambul welang, sate brumbun.

Upacara bhakti Aci Pakelem yang dilaksanakan sebagai wujud implementasi dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan upacara Segara Kertih dan Dhanu Kertih yang didukung penuh oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat ini, tercatat sebelumnya ada rangkaian upacara yang telah diawali dengan kegiatan Matur Piuning sekaligus Nuur Tirta, pada Rabu (Buda Paing, Wayang), 4 Agustus 2021 di Tiga Pura : 1). Pura Lampuhyang Luhur dengan nuur Tirta Pingit ring Pering Gesing, maraga Hyang Siwa Agni, Hyang Genijaya; 2). Pura Agung Besakih dengan nuur Tirta Luhur Giri Kusuma Tolangkir, sekaligus nuur Tirta Druwa Akasha ring Puser Tasik Giri Tolangkir/Gunung Agung, maraga Hyang Siwa Pasupati, Hyang Putranjaya; dan 3). Pura Bukit Indrakila dengan nuur Tirta Luhuring Akasa, maraga Hyang Siwa Amerta (Pangider Bhuwana, Panyejeg Jagat, dan Paneduh Gumi). Pura Bukit Indrakila juga merupakan payogan Ida Bhatara Sri Paduka Dalem/Raja-Raja Bali Kuno.

Semua Tirta yang sudah di-tuur tersebut, selanjutnya kaingkup (disatukan) di ayun palinggih Padma Tiga Pura Panataran Agung Besakih, menjadi Tirta Pangrapuh Jagat. Setelah kajejerang selama sehari, Tirta Pangrapuh Jagat selanjutnya dibagikan kepada Desa Adat se-Bali melalui masing-masing Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota dan Majelis Desa Adat Kecamatan, pada hari Jumat (Sukra Wage, Wayang), 6 Agustus 2021.

Pada hari yang sama, Desa Adat selanjutnya membagikan Tirta Pangrapuh Jagat tersebut kepada Krama Desa Adat untuk kajejerang di Sanggah/Pamrajan/Pura Paibon/Pura Panti/Pura Dadya masing-masing. Selain nyejerang Ida Bhatara maraga Tirta Pangrapuh Jagat, Krama Desa Adat juga memasang seselat berupa muncuk pandan madui yang diberikan tanda tapak dara (tanda +) dari pamor (kapur sirih); bawang merah; bawang putih; dan tabia barak (cabe merah).

Seselat ini dipasang di angkul-angkul atau tembok pintu masuk pekarangan rumah dan/atau kantor masing[1]masing Krama Desa Adat, sebagai cihna atau pinget manut Dresta Bali. Seselat ini dibiarkan terpasang sampai 42 hari (abulan pitung dina), dan di-lukar pada hari Minggu (Redite Pon, Kulantir), tanggal 19 September 2021. (gs/hms)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Hadiri Puncak “Karya Panca Wali Krama” Ulun Danu Batur, Rawat Kesucian Alam Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama
HADIRI PUNCAK KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, terasa begitu khidmat dan penuh harmoni di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung dalam puncak karya yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat tersebut.

Turut hadir Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Gubernur Wayan Koster, karya di Pura Ulun Danu Batur memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual keagamaan. Di tempat yang menjadi salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan yang erat dengan sumber air dan kehidupan ini, nilai-nilai Sad Kerthi menemukan bentuknya secara nyata.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi menjadi bagian penting dari rangkaian karya. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dikembangkan Wayan Koster, menempatkan keharmonisan alam, manusia dan kehidupan sebagai fondasi pembangunan Bali.

“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri”. Semangat inilah yang tercermin dalam pelaksanaan karya, ketika ritual keagamaan sekaligus menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam Bali.

Dua Bulan Menuju Puncak Karya

Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Berbagai prosesi dilaksanakan secara bertahap sesuai wariga dan dresta Bali.

Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.

Tahapan inti berlangsung melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan. Puncaknya, Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Subakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober.

Puncak karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wabup Alit Sucipta “Upasaksi Nebes Tapakan” di Pura Dwijendra Batanbuah

Pemkab Badung Kucurkan Hibah Rp 1 Miliar

Loading

Published

on

By

Wabup Alit Sucipta Hadiri Upacara Nebes Tapakan Batanbuah
HADIRI UPACARA: Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menghadiri (upasaksi) Upacara Nebes Tapakan Ida Betara di Pura Dwijendra Banjar Batanbuah yang dirangkaikan dengan persiapan Ngodak Tapakan di Pura Dalem Gede Desa Adat Abiansemal, Sabtu (26/09/2026). (Foto: Hms Badung)

Badung, balillu.com – Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menghadiri (upasaksi) Upacara Nebes Tapakan Ida Betara di Pura Dwijendra Banjar Batanbuah yang dirangkaikan dengan persiapan Ngodak Tapakan di Pura Dalem Gede Desa Adat Abiansemal, Sabtu (26/09/2026).

Karya yang bertepatan dengan Purnama Kapat ini dipuput oleh Ida Pedanda dari Griya Tegeh Abiansemal dan dihadiri oleh Plt. Camat Abiansemal beserta jajaran, Penglingsir Puri, unsur Tripika, serta para perbekel setempat.

Dalam sambutannya, Wabup mengapresiasi tinggi semangat gotong-royong krama Banjar Adat Batanbuah yang secara swadaya mengumpulkan iuran demi menyukseskan upacara luhur ini.

“Semangat kebersamaan ini merupakan bentuk sradha dan cihna bhakti yang luar biasa. Pemerintah Kabupaten Badung selalu hadir untuk memastikan setiap niat suci krama dalam melestarikan tradisi tetap berjalan lancar. Kami juga mengajak seluruh warga menjaga persatuan demi mendukung program pelestarian seni, adat, agama, dan budaya berbasis kearifan lokal,” ujar Bagus Alit Sucipta.

Sebagai bukti nyata komitmen daerah, Pemkab Badung resmi mengalokasikan bantuan dana hibah pada Anggaran Perubahan 2026 sebesar Rp 1 miliar.

Sementara itu, perwakilan panitia karya, I Made Budayasa, menjelaskan bahwa persiapan rangkaian upacara ini sejatinya telah dirancang matang selama 9 bulan. Sebanyak 545 Kepala Keluarga (KK) secara mandiri mengumpulkan urunan sebesar Rp 600.000 per KK hingga berhasil menghimpun dana awal Rp 300 juta, dari total keseluruhan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp 1,3 miliar.

Pihak panitia pun menyampaikan terima kasih mendalam atas kehadiran jajaran pemerintah dan gelontoran dana hibah tersebut. Rangkaian prosesi Ngodak Tapakan (Ratu Gede, Ratu Sakti/Ratu Lingsir, Ratu Ayu, Ratu Alit) ini dijadwalkan akan terus bergulir hingga mencapai puncak prosesi upacara Melaspas pada 9 Desember 2026 mendatang. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca