Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota Denpasar menggelar upacara Wisuda Bumi di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, bertepatan dengan Rahina Kajeng Kliwon Wuku Watugunung nemoning Purnama Katiga, Minggu (22/8). Pelaksanaan upacara dihadiri langsung Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Ketua TP. PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua Gatriwara Kota Denpasar Ny. Purnawati Ngurah Gede, serta Pj. Sekda Kota Denpasar I Made Toya dengan protokol kesehatan yang ketat.
Dalam upacara ini juga dipentaskan Wayang Emas Samirana, sesolahan Sang Hyang Tri Semaya dengan topeng emas, gambelan serta kekidungan. Seluruh rangkaian upakara dipuput Sulinggih Siwa Budha yakni Ida Pedanda Gede Putra Simpangan Manuaba, Griya Simpangan Pejeng, dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri, Griya Gunung Sari Peliatan Ubud dengan seluruh peserta yang terlibat telah didahului dengan test swab.
Koordinator Upacara, Cokorda Putra Wisnu Wardhana mengatakan, upacara Wisuda Bumi mengacu pada Lontar Siwagama yang menceritakan Kutukan Dewa Siwa terhadap Dewi Uma menjadi Dewi Durga. Atas kutukan Dewa Siwa, Dewi Durga berstana di Setra Gandhamayu menjadi Panca Durga. Meskipun demikian, Dewa Siwa turut menjelma menjadi Kala Ludra untuk memburu Panca Durga.
“Pertemuan antara Kala Ludra dan Panca Durga inilah yang melahirkan berbagai bencana, diantaranya yakni sasab, merana, gering tetumpur, dan gering agung,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, Sang Hyang Tri Semaya yang merupakan Brahma, Wisnu dan Siwa sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta ini menjadi khawatir. Sehingga, dipersembahkanlah upacara Wisuda Bumi yang didasari Caru Manca Sia dan Caru Panca Sanak Madurga kepada ciptaan berbagai bencana, diantaranya yakni sasab, merana, gering tetumpur dan gering agung ini.
“Proses penyadaran Kala Ludra dan Dewi Durga inilah yang identik dengan sesolahan atau pementasan sakral, yakni Wayang Emas Samirana, Tabuh Pemanjang, Gula Ganti dan Redep Kecapi yang tertuang dalam Lontar Siwagama, serta pementasan Sang Hyang Tri Semaya yang berbuah wujud menjadi Telek, Topeng Bang dan Barong Swari,” jelasnya.
Cok Wisnu memaparkan, makna dari pelaksanaan upacara ini yakni somia rupa atau pengeruatan, dimana sifat-sifat negatif yang muncul dari ruang dan waktu alam semesta.
“Inilah yang di-prayascita, di-wisuda agar nantinya dunia kembali seperti sedia kala, dengan demikian tujuan Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan upacara ini adalah sebagai upaya niskala untuk mengimbangi usaha sekala (prokes, vaksinasi, dan sebagainya) dalam penanganan pandemi Covid-19,” ujarnya.
“Semoga setelah upacara ini lambat laun virus dan penyakit yang ada dapat kembali mereda dan kita bisa kembali hidup dalam era new normal,” harapnya.
Untuk diketahui, upacara ini dilaksanakan bertepatan dan Kajeng Kliwon Pemelastali yang merupakan Kajang Kliwon terakhir dalam hitungan pawukon. Dimana, Kajeng Kliwon ini merupakan salah satu yang pingit. Selanjutnya, tirta pangeruwatan diserahkan kepada Desa Adat se-Kota Denpasar yang selanjutnya dibagikan kepada masyarakat Kota Denpasar. (eka/hd)