Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Agung“ di Pura Dalem Laplap

BALIILU Tayang

:

karya pura dalem laplap
SERAHKAN HIBAH: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyerahkan dana hibah secara simbolis saat menghadiri pelaksanaan “Karya Agung Ngenteg Linggih, Mamunggah, Mupuk Pedagingan Padudusan Agung Menawa Ratna, Tawur Walik Sumpah Agung“ di Pura Dalem Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Jumat (27/2). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Karya Agung Ngenteg Linggih, Mamunggah, Mupuk Pedagingan Padudusan Agung Menawa Ratna, Tawur Walik Sumpah Agung di Pura Dalem Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Jumat (27/2). Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut menandatangani prasasti sekaligus menyerahkan Dana Punia dan bantuan hibah sebesar Rp. 1 miliar.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, S.H., Anggota DPRD Kota Denpasar Ir. I Ketut Budha, M.T., Camat Denpasar Timur Ketut Sri Karyawati dan tokoh masyarakat setempat.

Rangkaian acara berlangsung khidmat dan semarak dengan iringan Gong Kebyar, Gong Baleganjur, serta pementasan tari Baris Gede, tari Rejang Dewa, Topeng Wali, dan Wayang Lemah yang menambah suasana sakral upacara.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi atas antusiasme dan kekompakan krama Desa Adat Laplap dalam melaksanakan karya agung ini. Menurutnya, karya tersebut merupakan wujud sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran Hindu.

Karya ini tidak hanya sebagai bentuk persembahan suci, tetapi juga sebagai upaya memohon anugerah dan tuntunan agar diberikan keselamatan, kesejahteraan, serta kerahayuan jagat, khususnya bagi Desa Adat Laplap,” ujar Jaya Negara.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pelaksanaan karya ini juga sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Sementara itu, Bendesa Adat Laplap I Wayan Agus Purnawirawan menyampaikan terima kasih atas bantuan hibah dari Pemerintah Kota Denpasar, khususnya kepada Walikota Denpasar.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat untuk mendukung jalannya upacara, terlebih karya ini dilaksanakan setiap 25 tahun sekali,” ujarnya.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Rayakan Malam Pergantian Tahun di Pantai Mertasari Sanur

Ia menjelaskan, berdasarkan petunjuk para nak lingsir dan rajamana karya agung ini dapat dilaksanakan setiap 25 hingga 30 tahun sekali, dan di Desa Adat Laplap secara rutin digelar setiap 25 tahun.

Adapun pengempon Pura Dalem Laplap terdiri dari empat banjar, yakni Banjar Laplap Arya, Laplap Tengah, Laplap Kauh, dan Sengguan. Selain bantuan dana dari Pemerintah Kota Denpasar, pembiayaan karya juga bersumber dari swadaya masyarakat serta dukungan berbagai elemen dan tokoh sebagai wujud bhakti umat.

Karya telah dimulai sejak 24 Desember 2025 dengan rangkaian matur piuning, maguru piduka, dan mejaya-jaya panitia karya. Puncak karya akan dilaksanakan pada Buda Kliwon Ugu, 4 Maret 2026, dilanjutkan nyineb pada Saniscara Pon Ugu, 7 Maret 2026, serta prosesi nyegara gunung pada Redite Wage Wayang, 8 Maret 2026.

Untuk pelaksanaan Tawur Walik Sumpah Agung hari ini dipuput oleh Ida Pedanda Made Taman Swija Putra, (Sira Mpu Dharma Siddhi, Ida Bhagawan Wajrasattwa Dwijananda) di jeroan Pura Dalem. Sementara di jaba tengah Kahyangan dipuput oleh Ida Ari Bhujangga Wisnawan Gandha Kusuma dan Ida Pandita Mpu Jaya Ananda Yoga.

Dengan dilaksanakannya karya agung ini, masyarakat berharap jagat Laplap khususnya, serta Denpasar dan Bali pada umumnya, senantiasa diberikan kerahayuan, kesuburan, dan kemakmuran, serta semakin mempererat persatuan dalam semangat segilik, saguluk, sagulung sabayantaka. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Bupati Badung Apresiasi Semangat Krama Desa Adat Kuta Gelar “Atma Wedana“

Published

on

By

Pimpinan Daerah Jadi Upasaksi Upacara Atma Wedana Desa Adat Kuta
UPASAKSI: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti saat sebagai upasaksi serta mengikuti prosesi Ngastawang Upacara Atma Wedana, Nyekah Kurung Nyatur Rebah, dan Upacara Manusa Yadnya (Mepandes/Metatah), Kamis (10/9), di Pura Segara, Kelurahan Kuta. (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Krama Desa Adat Kuta menggelar rangkaian Upacara Atma Wedana, Nyekah Kurung Nyatur Rebah, dan Upacara Manusa Yadnya (Mepandes/Metatah), Kamis (10/9). Kegiatan ini dipusatkan di Bale Peyadnyan, Pura Segara, Kelurahan Kuta, dengan menghadirkan Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijaya Nanda dari Griya Kutuh sebagai Yajamana Karya.

Semangat gotong-royong krama Desa Adat Kuta dalam melaksanakan upacara massal ini mendapat apresiasi langsung dari jajaran pimpinan daerah. Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti hadir langsung sebagai upasaksi serta mengikuti prosesi Ngastawang.

Wagub dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Pemprov Bali dan Pemkab Badung terus bersinergi menata wilayah Kuta, termasuk melalui rencana pembangunan moda transportasi Trem. Ia berpesan agar persatuan krama adat tetap kokoh terjaga demi masa depan generasi penerus.

“Masyarakat Kuta harus menjadi tuan di rumahnya sendiri. Kami mendoakan agar pelaksanaan upacara berjalan lancar dan krama Desa Adat Kuta tetap bersatu-padu menanggung suka dan duka,” kata Giri Prasta.

Seusai acara, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas rasa persatuan dan semangat gotong-royong warga Desa Adat Kuta dalam menyelenggarakan upacara adat dan manusa yadnya secara massal ini. “Selain dapat meringankan beban ekonomi krama, pelaksanaan upacara massal yang dikerjakan secara bersama-sama oleh 13 banjar ini menjadi bukti nyata kokohnya kebersamaan dan tradisi gotong-royong warga Desa Adat Kuta. Kami berkomitmen untuk terus hadir mendampingi dan memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian adat, agama, dan budaya di Kabupaten Badung,” ujarnya.

Sementara itu, Bendesa Adat Kuta I Komang Alit Ardana melaporkan upacara massal ini meliputi Ngaben (12 sawa), Nyekah (91 sawa), Warak Keruron (60 sawa), Ngelangkir (20 sawa), dan Mepandes (68 orang). Puncak karya adat tersebut dijadwalkan jatuh pada tanggal 11 September.

Baca Juga  Walikota Denpasar Jaya Negara Ngupasaksi Pemelaspasan Gedung Serbaguna Banjar Batanpoh Sanur Kaja 

“Seluruh banten dikerjakan oleh serati banten dari 13 Banjar di Desa Adat Kuta. Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Badung dan Provinsi Bali yang telah banyak membantu, serta krama yang bahu-membahu menyukseskan kegiatan ini,” jelas Alit Ardana.

Upacara ini dihadiri Anggota DPRD Badung I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, Sekcam Kuta I Putu Dedik Adi Ardiana beserta unsur Tripika, Bendesa Madya MDA Badung Ida Bagus Gede Widnyana, serta perwakilan PHDI, MDA Kecamatan Kuta, Bendesa Adat se-Kecamatan Kuta, perwakilan Lurah Kuta, dan krama desa. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Desa Adat Sesetan Gelar “Karya Atma Wedana“ dan “Mapandes Kinambulan“

Walikota Denpasar IGN Jaya Negara Ikut “Ngayah Nyangging“

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Karya Sesetan
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging saat menghadiri “Karya Atma Wedana” dan “Mapandes Kinambulan” di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Desa Adat Sesetan kembali menggelar Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan secara massal. Pelaksanaan karya tersebut berlangsung di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9), dan diikuti ratusan krama, baik dari Desa Adat Sesetan maupun dari luar wilayah.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut hadir sekaligus ngayah nyangging dalam pelaksanaan upacara mapandes atau matatah massal tersebut.

Sejak pagi, ratusan warga tampak memadati areal bale peyadnyan untuk mengikuti rangkaian prosesi upacara matatah kinambulan. Mapandes massal kali ini diikuti sebanyak 138 peserta dengan melibatkan 21 orang sangging yang bertugas melaksanakan prosesi pengasahan gigi.

Selain Walikota Denpasar, pelaksanaan karya tersebut juga dihadiri Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa dan Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, Kabag Kesra Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, Camat Denpasar Selatan Kadek Hermanto dan tokoh masyarakat serta krama Desa Adat Sesetan.

Di sela-sela kegiatan, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan bahwa ritual potong gigi atau mapandes merupakan salah satu rangkaian upacara Manusa Yadnya yang penting dilaksanakan bagi umat Hindu.

Mapandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujar Jaya Negara.

Ia menjelaskan, Sad Ripu terdiri atas kama, yakni sifat penuh nafsu indria; lobha, sifat loba dan serakah; krodha, sifat kejam dan pemarah; mada, sifat mabuk atau kemabukan; matsarya, sifat dengki dan iri hati; serta moha, sifat kebingungan atau kesulitan dalam menentukan sesuatu.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” di Pura Dalem Pengaotan, Rangkaian Karya Pedudusan Agung Desa Adat Bekul

Menurutnya, pelaksanaan upacara mapandes tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam membentuk kehidupan manusia agar mampu mengendalikan diri dan menjalani kehidupan secara lebih baik.

Lebih jauh, Walikota Jaya Negara juga menyampaikan, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut, Pemerintah Kota Denpasar memberikan bantuan dana hibah sebesar Rp 300 juta.

Sementara itu, Bendesa Adat Sesetan, I Made Sudarma, menyampaikan bahwa Desa Adat Sesetan telah memiliki program matatah atau mapandes massal yang dilaksanakan secara berkala.

“Program ini sudah ada sejak lama dan dirancang setiap dua tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan untuk membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan,” ungkapnya.

Menurutnya, pelaksanaan matatah massal tersebut bertujuan membantu dan meringankan beban masyarakat, khususnya dalam pembiayaan pelaksanaan yadnya. Dengan dilaksanakan secara bersama-sama, masyarakat dapat menekan pengeluaran dalam melaksanakan kewajiban keagamaan.

Menariknya, pelaksanaan Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan ini tidak hanya diperuntukkan bagi warga Desa Adat Sesetan. Masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan juga diberikan kesempatan untuk mengikuti rangkaian karya tersebut.

Untuk pelaksanaan mapandes, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu per peserta, sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan biaya Rp 750 ribu.

Sedangkan untuk pelaksanaan Atma Wedana atau memukur, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 1 juta. Sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 3,5 juta.

“Ini merupakan bentuk upaya kami untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Kami memberikan kesempatan tidak hanya kepada warga Sesetan, tetapi juga masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan yang ingin mengikuti karya ini,” jelas I Made Sudarma.

Baca Juga  Optimalkan Peran “Sipandu Beradat”, Walikota Jaya Negara Tingkatkan Peran Komunikasi Aparat dan Desa Adat

Selain matatah massal, kata Made Sudarma, rangkaian Karya Atma Wedana kali ini juga diikuti sebanyak 142 sawa. Lebih lanjut, pihaknya mengemukakan, pelaksanaan mapandes massal ke depan akan terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari program Desa Adat Sesetan.

Mapandes massal kali ini diikuti 138 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 21 orang sangging. Upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin ke depannya,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Walikota Denpasar Jaya Negara, atas kehadiran dan dukungan berupa stimulan dalam pelaksanaan karya tersebut.

“Semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat ke depannya,” tandasnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

“Karya Agung“ 10 Tahunan di Kintamani, Bupati Adi Arnawa Ajak Jaga Danau Batur Sebagai Jantung Air Bali

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Hadiri Karya Tawur Agung di Danau Batur
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri “Karya Tawur Agung Manca Wali Krama“ di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Upacara keagamaan Danu Kertih serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama digelar megah di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). Karya di salah satu Pura Tri Kahyangan Jagat yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali ini dilaksanakan sebagai momentum penting untuk mendoakan kerahayuan, keselamatan, serta menjaga keharmonisan alam dan spiritual Bali.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir mendampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta. Turut serta Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, dan Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, yang bersama-sama mengikuti prosesi sakral mendak tirta amertha dan mulang pekelem di tengah Danau Batur.

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan apresiasi mendalam kepada krama Desa Adat Songan atas pelaksanaan karya agung ini. Ia menegaskan bahwa ritual tersebut bukan hanya milik warga setempat, melainkan demi keharmonisan seluruh jagat Bali.

“Puncak Karya Agung akan jatuh pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Astungkara melalui pelaksanaan karya ini, Pulau Bali senantiasa gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Senada dengan Wagub Bali, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa turut memuji semangat gotong-royong warga dalam menjaga kelestarian tradisi spiritual dan alam Danau Batur. Baginya, karya agung ini menjadi pengingat penting akan keseimbangan ekosistem (Bhuana Agung) dan spiritualitas (Bhuana Alit).

“Upacara Danu Kertih ini bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan wujud nyata penghormatan kita terhadap alam, khususnya Danau Batur sebagai jantung sumber air di Pulau Bali. Harapan kita bersama, melalui kesucian yadnya Manca Wali Krama ini, Bali senantiasa dianugerahi kedamaian, kerahayuan, serta kelimpahan sumber daya alam yang membawa berkah bagi seluruh masyarakat,” ungkap Adi Arnawa.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri “Karya Pedudusan Alit” Pura Desa lan Bale Agung Desa Adat Penyaringan Sanur

Jalannya karya keagamaan ini di-puput oleh Yajamana Karya, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun bersama Ida Istri Nata Nawa Wangsa dari Griya Kedhatuan Kawista, Banjar Munduk Ngandang, Desa Belatungan, Pupuan, Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca