Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Walikota Jaya Negara Tutup Kasanga Festival II 2024

Ogoh-ogoh Karya ST. Canti Graha Banjar Tengah Sesetan Raih Juara I

Loading

BALIILU Tayang

:

Kasanga Festival
SERAHKAN PENGHARGAAN: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Denpasar, I Gusti Ngurah Gede dan Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana dalam penyerahan penghargaan kepada pemenang lomba rangkaian kegiatan Kasanga Festival II, Caka 1946, Tahun 2024, Minggu petang (3/3) di Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung. (Foto: eka/bi)

Denpasar, baliilu.com – Ajang Kasanga Festival II, Caka 1946, Tahun 2024 telah berlangsung sukses yang menghadirkan Lomba Ogoh-ogoh Dewasa, Ogoh-ogoh Mini, Sketsa Ogoh-ogoh dan Lomba Baleganjur Ngarap selama tiga hari dari tanggal 1-3 Maret di Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung. Pada malam terakhir pagelaran Kasanga Festival secara resmi ditutup Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Minggu (3/3) ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan kepada para pemenang lomba.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana, Ketua TP. PKK Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Denpasar Ny. Ida Ayu Widnyani Wiradana, pimpinan OPD Pemkot Denpasar, dan pengamat seni Kota Denpasar.

Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, Anak Agung Made Angga Harta Yana menyampaikan, hasil dari penilaian juri telah menetapkan dari 12 ogoh-ogoh yang telah tampil dalam parade Kasanga Festival tahun ini, berhasil meraih Juara I, Sekaa Teruna (ST) Canti Graha, Banjar Tengah Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan. Sementara untuk Juara II, ST. Yowana Sawitra, Banjar Abiantimbul, Kecamatan Denpasar Barat, Juara III, diraih ST. Shanti Yowana, Banjar Yangbatu Kangin, Kecamatan Denpasar Timur.

Untuk Juara Harapan I diraih, ST. Yowana Werdhi, Banjar Batanbuah, Kecamatan Denpasar Timur, Juara Harapan II, ST. Dharma Subhiksa, Banjar Sasih Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, dan Juara Harapan III, diraih ST. Wira Dharma, Banjar Sumuh, Kecamatan Denpasar Barat.

Disampaikan pula, untuk para pemenang berhak mendapatkan piala, piagam dan uang tunai. Untuk Juara I mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 50 juta, Juara II, Rp. 35 juta, dan Juara III, uang tunai sebesar Rp. 25 juta. Sementara Juara Harapan I, uang tunai Rp. 15 juta, Juara Harapan II, Rp. 10 juta, dan Juara Harapan III, Rp. 5 Juta.

Baca Juga  AA Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari dari Generasi ke Generasi

“Kami ucapkan selamat kepada para pemenang Lomba Ogoh-ogoh Dewasa dari para yowana Denpasar, serta tetap semangat dan terus berkreativitas,” ujarnya.

Sementara Walikota Jaya Negara di sela-sela kegiatan mengungkapkan, apresiasi kepada hasil karya ogoh-ogoh baik itu dari ogoh-ogoh dewasa, ogoh-ogoh mini, sketsa ogoh-ogoh dan juga Baleganjur Ngarap dari para sekaa teruna. Kasanga Festival tahun ini juga menyuguhkan dan memberikan ruang kepada sekaa teruna dalam seni musik tradisional Bali, khususnya Baleganjur Ngarap. “Ini menjadi ajang menunjukan karya seni tabuh Baleganjur Ngarap yang saat ini sangat digandrungi para yowana di Kota Denpasar,” ujar Jaya Negara.

Lebih lanjut Jaya Negara menyampaikan, anak muda memiliki banyak kreativitas dalam menciptakan seni ogoh-ogoh, yang merupakan bagian dari tradisi Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Hasil karya ogoh-ogoh dengan tema yang beragam mengangkat isu-isu sosial atau lingkungan, hingga kisah pewayangan yang tidak lepas pada aspek estetika dan keindahan desainnya. Jaya Negara berharap, gelaran Kasanga Festival dapat menjadi wadah dalam menuangkan kreativitas ogoh-ogoh para yowana Kota Denpasar.

“Terima kasih atas partisipasi dan apresiasi  hasil karya ogoh-ogoh sekaa teruna, dan juga karya Baleganjur Ngarap yang terus menghasilkan karya beragam dengan kreativitas yang sangat luar biasa dan membanggakan,” ujar Walikota Jaya Negara.

Hasil penjurian dari Lomba Ogoh-ogoh Mini non-mesin yakni, Juara I diraih ST. Belaluan Sadmerta, Banjar Belaluan Sadmerta, Kecamatan Denpasar Utara, Juara II diraih, ST. Eka Kula Warga, Banjar Panti Sari, Kecamatan Denpasar Utara, dan Juara III diraih, ST. Dwi Putra, Banjar Tegal Agung, Kecamatan Denpasar Barat.

Juara Lomba Ogoh-ogoh Mini Mesin diraih, Juara I, ST. Seterima Banjar Semaga, Kecamatan Denpasar Timur,  Juara II diraih, ST. Dharma Castra, Banjar Tengah Sidekarya, Kecamatan Denpasar Selatan, dan Juara III, ST. Dirgayusa, Banjar Tag-Tag Kaja, Kecamatan Denpasar Utara.

Baca Juga  Dharmopadesa Pusat Nusantara Kota Denpasar Gelar Dharma Santhi Nyepi Isaka Warsa 1946

Untuk pemenang Lomba Sketsa Ogoh-ogoh Juara I diraih, ST. Mekar Jaya, Banjar Munang Maning, Kecamatan Denpasar Barat, Juara II, ST. Eka Sentana, Banjar Sebelanga, Kecamatan Denpasar Barat, dan Juara III diraih ST. Dharma Sawitra, Banjar Pulugambang, Kecamatan Denpasar Utara.

Malam penutupan Kasanga Festival juga diserahkan penghargaan oleh Walikota Jaya Negara kepada 3 peserta terbaik Lomba Baleganjur Ngarap. Diraih oleh ST. Widya Bhakti, Banjar Pegok Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, ST. Yowana Werdhi, Banjar Batan Buah Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, dan ST. Dharma Kerti, Banjar Balun Padang Sambian, Kecamatan Denpasar Barat. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Kapolres Gianyar Pimpin Apel Kesiapan Pengamanan Pengerupukan Nyepi Tahun Caka 1946 
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Buka Festival Ogoh-ogoh Singasana 2024

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Pastikan Kesiapan Peserta Kasanga Fest 2026

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Sebanyak 160 Ogoh-ogoh Karya STT Se-Denpasar Dinilai

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca