Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Wawali Arya Wibawa Buka Sosialisasi Pengadaan Barang Jasa di Desa dan Badan Layanan Umum Daerah di Kota Denpasar

BALIILU Tayang

:

Wawali Arya Wibawa
BUKA SOSIALISASI: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa membuka secara resmi Sosialisasi Pengadaan Barang/Jasa di Desa dan Badan Layanan Umum Daerah yang digelar Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Denpasar di ruang Mahottama Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang, Selasa (3/12). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa membuka secara resmi Sosialisasi Pengadaan Barang/Jasa di Desa dan Badan Layanan Umum Daerah yang digelar Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Denpasar di ruang Mahottama Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang, Selasa (3/12).

Kegiatan tersebut dilaksanakan guna meningkatkan pengetahun para pelaku Pengadaan Barang/Jasa di Desa dan Badan Layanan Umum Daerah, serta persiapan bagi sejumlah Puskesmas di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar yang akan bertransfomari menjadi Badan Layanan.

Tampak hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Denpasar, AA Gde Risnawan, Asisten Administrasi Umum Setda Kota Denpasar, Dewa Nyoman Semadi, Plt. Direktur Pengembangan Strategi dan Kebijakan Pengadaan Khusus LKPP RI, Drs. Dwi Satrianyo dan Dari Biro Pengadaan Barang/Jasa dan Perekonomian Setda Provinsi Bali, I Putu Agus Sudiwartana selaku narasumber.

Dalam sambutan tertulis Walikota Denpasar yang dibacakan Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menjelaskan bahwa dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, pengadaan barang / jasa harus dilaksanakan dengan prinsip transparan, akuntabel, efektif, dan efisien. Hal tersebut merupakan pilar penting yang akan menjamin bahwa semua kegiatan pembangunan dapat berjalan dengan baik, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Dikatakannya, pengadaan barang/jasa di desa kerap berhubungan langsung dengan berbagai program pembangunan seperti perbaikan infrastruktur, pengembangan ekonomi lokal, serta penyediaan layanan publik. Demikian pula di lingkungan Badan Layanan Umum Daerah terutama di sektor kesehatan, pengadaan barang / jasa memiliki dampak langsung pada pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat, baik dalam hal penyediaan obat-obatan, alat kesehatan, penunjang lainnya.

“Kami menyambut baik atas dilaksanakannya sosialisasi ini untuk meningkatkan pemahaman dan menyamakan persepsi atas regulasi yang ada, guna menjaga intergritas dalam setiap proses pengadaan barang / jasa sesuai ketentuan yang berlaku dengan mewujudkan layanan yang kredibel, profesional dan akuntabel,” ucap Arya Wibawa.

Baca Juga  Gencarkan Gerakan Pencegahan Stunting, Pemkot Denpasar Serahkan Bantuan BKB Kit Stunting

Sementara Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Denpasar, Ni Ketut Dewi Ratih Purnamasari dalam laporannya mengatakan, kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan dalam upaya untuk menuntaskan berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh pelaku pengadaan barang/jasa di desa dan Badan Layanan Umum Daerah.

Lebih lanjut dijelaskan, kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pengadaan barang/jasa di desa dan Badan Layanan Umum Daerah, serta persiapan bagi sejumlah Puskesmas di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar yang akan bertransfomari menjadi Badan Layanan Umum Daerah.

Adapun Sosialisasi ini dilaksanakan selama satu hari pada hari ini 3 Desember 2024 dengan jumlah peserta Sosialisasi sebanyak 123 orang terdiri dari, peserta dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kota Denpasar, Dinas Kesehatan Kota Denpasar, PPK beserta Tim Teknis/Tim Pendukung Pengadaan pada RSUD Wangaya dan Puskesmas se-Kota Denpasar serta Perangkat Desa se-Kota Denpasar. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

NEWS

Duta Gianyar di Parade Busana Adat Bali PKB 2026, Suguhkan Harmoni Tradisi dan Keanggunan Warisan Leluhur

Published

on

By

parade busana pkb
PARADE BUSANA ADAT: Busana Adat Duta Kabupaten Gianyar pada ajang Parade Busana Adat Bali pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, di Taman Budaya Art Centre Denpasar, Minggu (21/6). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Langkah para model mulai menapaki panggung Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Minggu (21/6). Tepuk tangan penonton pun mengiringi kemunculan Duta Kabupaten Gianyar yang mendapat kehormatan sebagai penampil pertama dalam Parade Busana Adat Bali pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Duta Kabupaten Gianyar tampil mempersembahkan identitas budaya Kabupaten Gianyar.

Di bawah komando Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gianyar, Dr. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra, penampilan Gianyar tidak sekadar menampilkan busana adat, tetapi juga menghadirkan narasi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Setiap busana yang diperagakan menjadi representasi nilai, tradisi, dan perjalanan sejarah yang masih terjaga hingga kini.

Parade dibuka dengan kemunculan Busana Pecalang, sosok penjaga keamanan adat Bali yang identik dengan kewibawaan dan pengabdian. Balutan warna gelap berpadu dengan saput poleng hitam putih menghadirkan filosofi Rwa Bhineda, keseimbangan antara dua kekuatan yang saling melengkapi. Keris yang terselip di pinggang menjadi simbol kehormatan, sementara udeng dan busana adat yang dikenakan menggambarkan kesiapsiagaan dalam menjaga ketertiban dan kesucian wilayah adat.

Suasana kemudian berubah menjadi lebih sakral ketika Duta Gianyar menampilkan Tradisi Nuuh dari Banjar Sebatu, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Tradisi yang juga dikenal sebagai Mejarag Jaje Lempeng ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Subak atas hasil panen sekaligus permohonan perlindungan dari berbagai gangguan yang dapat mengancam keberlangsungan pertanian.

Sosok Tukang Adur yang menjadi tokoh utama dalam tradisi tersebut tampil sederhana dengan kamen hitam, kampuh poleng, umpal, sumpang pucuk, serta ikat kepala dari janur. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan yang memperlihatkan kedekatan masyarakat Gianyar dengan alam dan tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga  10 Pasang Finalis Duta Endek Kota Denpasar Unjuk Bakat di "Malam Bakat Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar"

Keindahan warisan budaya Gianyar kembali tersaji melalui penampilan Rakean Baris Bebaturan dan Rejang Mesatya. Keduanya merupakan bagian dari tradisi yang kerap hadir dalam upacara pelebon di wilayah Gianyar dan Tampaksiring.

Rakean Baris Bebaturan menghadirkan citra prajurit yang tangguh dan berwibawa. Busana serba putih yang dipadukan dengan tombak sebagai properti utama menggambarkan semangat menjaga kesucian alam dan leluhur. Sementara itu, Rejang Mesatya tampil anggun dan penuh makna melalui balutan kebaya putih serta hiasan janur sederhana. Tarian dan busana ini merepresentasikan kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Bali.

Sebagai penutup, panggung Ksirarnawa dipenuhi kemegahan Payas Agung Gianyar, busana pengantin khas yang menjadi salah satu identitas budaya Kabupaten Gianyar. Kemewahan ragam hias, keindahan tata rias, serta detail busana yang khas menampilkan kekayaan estetika yang tumbuh dan berkembang di Bumi Seni.

Pengantin perempuan tampil memukau dengan pusung kletek mandel yang dihiasi bunga merak kuningsandat megubah, petitis, dan semi mopong. Sementara pengantin pria mengenakan udeng emas, kampuh songket, keris, umpal, serta beskap beludru hitam berhias benang gim yang menambah kesan gagah dan berwibawa.

Sekretaris I TP PKK Kabupaten Gianyar, Ida Ayu Diana Dewi Agung Mayun yang hadir dalam parada busana adat tersebut menyampaikan bahwa keikutsertaan Gianyar dalam Parade Busana Adat Bali merupakan bagian dari upaya pelestarian dan promosi budaya daerah kepada masyarakat luas.

“Setiap busana yang ditampilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi, sejarah, dan identitas masyarakat Gianyar yang patut dijaga bersama,” ujarnya usai pementasan parade busana adat Bali.

Menjadi penampil pertama pada Parada Busana Adat Bali PKB 2026, Duta Kabupaten Gianyar berhasil menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak penonton menyelami kekayaan tradisi yang hidup di setiap sudut Gianyar. Dari sosok Pecalang yang tegas, kesakralan Tradisi Nuuh, kewibawaan Rakean Baris Bebaturan, ketulusan Rejang Mesatya, hingga kemegahan Payas Agung Gianyar, seluruhnya berpadu menjadi sebuah perayaan budaya yang mempertegas Gianyar sebagai salah satu pusat pelestarian seni dan tradisi Bali. (gs/bi)

Baca Juga  Pemkot Denpasar Komitmen Kelola Pengaduan, Wujudkan Pelayanan Publik yang Lebih Baik

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Bunda Rai Apresiasi Pesona Busana Adat Tabanan, Angkat Jati Diri Daerah di Utsawa PKB XLVIII 2026

Published

on

By

parade busana pkb
PARADE BUSANA ADAT: Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan yang juga Ketua Dekranasda Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, pimpin duta Tabanan dalam ajang Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Minggu (21/6). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan yang juga Ketua Dekranasda Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian seni dan budaya daerah melalui partisipasi Kabupaten Tabanan pada Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Event tersebut digelar di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Minggu (21/6).

Kehadiran Ny. Rai Wahyuni Sanjaya yang akrab disapa Bunda Rai yang menyaksikan langsung penampilan rangkaian Utsawa menjadi wujud nyata dukungan terhadap upaya menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya Tabanan kepada masyarakat luas. Dalam kesempatan tersebut, Bunda Rai didampingi Sekretaris TP PKK Kabupaten Tabanan yang juga Ketua GOW Kabupaten Tabanan, Ny. Budiasih Dirga, Perangkat Daerah terkait dan jajaran pengurus TP PKK Kabupaten Tabanan.

Parade busana malam itu, juga turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan juga para Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota se-Bali atau yang mewakili. Kabupaten Tabanan tampil memukau dengan menghadirkan empat ragam busana adat yang sarat filosofi, nilai sejarah, serta identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Peragaan pertama menampilkan Busana Khas Pecalang Lanang Pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel. Busana ini merepresentasikan sosok pecalang sebagai penjaga keamanan dan ketertiban desa adat yang berwibawa. Ditampilkan oleh sepasang pecalang lanang, busana tersebut memadukan tiga warna sakral, yakni merah, hitam, dan putih, yang melambangkan konfigurasi Trisakti sebagai simbol penciptaan, pemeliharaan, dan pamrelina yang menyatu menjadi kekuatan menuju kesejahteraan.

Peragaan kedua menghadirkan Busana Adat Deha Teruna dan Deha Sari dari Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan. Busana ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat yang dikenakan dalam Upacara Ngusaba Gede di Pura Puseh Bale Agung setiap Purnama Kalima. Selain menjadi simbol rasa syukur dan permohonan berkah bagi kesejahteraan, kemakmuran, serta keselamatan masyarakat, busana ini juga melibatkan para remaja yang baru memasuki usia dewasa sebagai bentuk regenerasi nilai-nilai adat dan budaya.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Komitmen Kelola Pengaduan, Wujudkan Pelayanan Publik yang Lebih Baik

Selanjutnya, Tabanan menampilkan Busana Adat Mamukur, yang digunakan dalam rangkaian upacara suci penyucian roh leluhur. Didominasi warna putih dan kuning, busana ini mencerminkan makna kesucian, ketulusan, dan keikhlasan. Meski tampil sederhana, busana Mamukur memiliki nilai spiritual yang mendalam sebagai bagian dari tradisi yadnya yang masih lestari di tengah masyarakat Bali.

Sebagai penutup, ditampilkan Parade Busana Adat Payas Agung Tabanan yang menghadirkan sepasang peraga dewasa dalam balutan busana pengantin khas Tabanan. Busana yang digunakan dalam upacara pawiwahan tersebut didominasi tenunan khas Bali yang diwariskan secara turun-temurun, menciptakan kesan mewah, elegan, sekaligus agung yang mencerminkan kemuliaan tradisi pernikahan adat Tabanan.

Keempat busana adat tersebut mendapat apresiasi dari para penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Dalam parade tersebut, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan, dengan penataan busana oleh Andri Purwanto dan I Gede Komang Kartono Yasa, yang berhasil menghadirkan pertunjukan sarat estetika, filosofi, dan kekayaan budaya Tabanan.

Bunda Rai menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya kepada seluruh peraga, penata busana, serta pihak yang telah terlibat dalam menampilkan kekayaan budaya Tabanan di panggung PKB tahun ini. Menurutnya, setiap peragaan yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan keindahan busana adat, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai luhur yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Tabanan. Ia juga menilai, melalui parade busana tersebut, masyarakat diajak untuk kembali mengenali sekaligus mencintai warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Keindahan ragam busana, tata rias, hingga ornamen yang ditampilkan menjadi cerminan identitas budaya yang patut dijaga bersama. “Saya sangat bangga dan mengapresiasi seluruh pihak yang telah menampilkan peragaan busana malam ini dengan begitu indah dan penuh makna. Kita telah menyaksikan bagaimana kekayaan budaya, filosofi, dan nilai-nilai luhur leluhur terpancar dalam setiap balutan busana serta ragam hias yang ditampilkan,” ujar Bunda Rai.

Baca Juga  10 Pasang Finalis Duta Endek Kota Denpasar Unjuk Bakat di "Malam Bakat Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar"

Lebih lanjut, Bunda Rai berharap warisan budaya yang menjadi jati diri masyarakat Tabanan tersebut dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus. “Kemegahan budaya yang diwariskan leluhur ini merupakan identitas dan kebanggaan masyarakat Tabanan. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga, melestarikan, dan memperkenalkannya agar tetap hidup serta berkembang di tengah perubahan zaman,” imbuhnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Utsawa Busana Adat Khas Kota Denpasar Tampil Apik di Panggung PKB XLVIII 2026

Published

on

By

parade busana pkb
PARADE BUSANA ADAT: Busana Adat Khas Kota Denpasar saat tampil dalam parade busana adat dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (21/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.comUtsawa (Parade) Busana Adat Khas Kota Denpasar dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 tampil apik dan sukses memukau para pengunjung yang memadati Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (21/6).

Parade ini menjadi salah satu ajang pelestarian budaya yang menampilkan kekayaan dan keragaman busana adat khas Kota Denpasar yang sarat makna filosofis serta nilai-nilai tradisi Bali.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Sekretaris I Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Denpasar, Ny. Suwandewi Eddy Mulya.

Dalam kesempatan tersebut, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa mengatakan bahwa pelaksanaan parade busana adat ini merupakan upaya nyata dalam melestarikan busana adat Bali sekaligus melindungi keberadaan tekstil tradisional yang menjadi warisan budaya masyarakat Bali.

“Parade ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat tentang keragaman busana adat khas Kota Denpasar yang memiliki keunikan, ciri khas, serta berlandaskan pada pakem-pakem tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, parade ini juga menjadi wahana transformasi nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan pelaksanaan Upacara Yadnya, Upacara Daha, maupun berbagai upacara adat yang dilaksanakan di Kota Denpasar,” ujarnya.

Untuk memastikan keaslian dan nilai estetika setiap busana yang ditampilkan, pagelaran ini menggandeng perancang busana dan budayawan Bali, Dr. A.A. Ngr. Anom Mayun KT, M.Si, yang turut berperan dalam pengembangan serta pelestarian busana adat khas Kota Denpasar.

Dalam parade tersebut, ditampilkan delapan ragam busana adat khas Kota Denpasar yang menggambarkan berbagai tahapan kehidupan dan pelaksanaan upacara adat masyarakat Hindu Bali. Di antaranya Busana Adat Daha Menek Kelih/Ngeraja, Busana Medharma Swaka, Busana Mekala-kalaan, Payas Madya Kota Denpasar, Payas Agung Kota Denpasar, Payas Melelunakan, Busana Mamukur/Maligya, serta Busana Mapeed ke Pura.

Baca Juga  Gencarkan Gerakan Pencegahan Stunting, Pemkot Denpasar Serahkan Bantuan BKB Kit Stunting

Busana Adat Daha Menek Kelih atau Ngeraja menggambarkan prosesi akil balig sebagai ungkapan rasa syukur orang tua kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas tumbuh kembang anak menuju masa remaja.

Sementara Busana Medharma Swaka dan Mekala-kalaan merepresentasikan tahapan penting dalam rangkaian upacara pernikahan Hindu Bali.

Tak kalah menarik, Payas Madya dan Payas Agung Kota Denpasar menampilkan kemegahan tata rias dan busana yang digunakan dalam upacara Manusa Yadnya, seperti Mepandes dan pernikahan, sesuai tingkatan upacaranya. Keindahan detail ornamen, songket, serta aksesoris khas Denpasar menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton.

Selain itu, turut ditampilkan Payas Melelunakan yang digunakan dalam upacara Ngaben atau Pelebon, serta Busana Mamukur/Maligya yang digunakan pada rangkaian penyucian Sang Atma setelah upacara ngaben. Kedua busana tersebut menunjukkan kekayaan filosofi dan nilai spiritual yang terkandung dalam tradisi masyarakat Bali.

Parade ditutup dengan penampilan Busana Mapeed ke Pura yang menggambarkan tradisi berjalan beriringan menuju pura dalam rangkaian Upacara Dewa Yadnya. Busana ini mencerminkan semangat kebersamaan, gotong-royong, serta rasa syukur masyarakat Hindu Bali.

Melalui Utsawa Busana Adat Khas Kota Denpasar ini, Pemerintah Kota Denpasar berharap generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya leluhur, sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Denpasar di tengah perkembangan zaman. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca