Denpasar, baliilu.com – Dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 bertemakan Wana Kerthi Sabdaning Taru Mahottama digelar prasara (pameran) Prasikala Taru Mahottama yang sudah berlangsung dari tanggal 1 Februari dan akan berakhir tanggal 28 Februari 2021 di Gedung Kriya Art Center Denpasar. Widyatula (seminar) terkait pameran telah dilangsungkan pada Sukra (Jumat) 12 Februari 2021 menampilkan Narawakya I Gusti Bagus Sudiasta (seniman) dan Dr. I Wayan Suardana, M.Sn. (dosen).
Sedangkan pada Redite (Minggu) 21 Februari 2021 ini dilangsungkan kriyaloka (workshop) di Gedung Kriya Art Center Denpasar menghadirkan I Gusti Agung Ngurah, S.Pd. sebagai narasumber dengan materi Pameton Pengrupak Ring Ental. Peserta kriyaloka adalah anak-anak remaja yang tertarik merasakan sensasi menggoreskan pengrupak di atas daun ental. Workshop digelar dengan jumlah peserta terbatas dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan yang ketat.
Sujana Suklu (kiri) saat memantau materi pameran Prasikala
Demikian dikatakan kurator prasara Prasikala Taru Mahottama I Wayan Sujana Suklu, S.Sn., M.Sn. Minggu, 21 Februari 2021 kepada awak media. Dikatakan, workshop arahan I Gusti Agung Ngurah, S.Pd hasilnya dipamerkan menjadi bagian karya instalasi magibung bagian dari materi prasara PrasikalaTaru Mahottama.
Sujana Suklu memaparkan, karya instalasi yang berjudul “Magibung’’ sebuah karya dengan konsep partisipatori, hasil karya penonton yang berkesempatan menorehkan pengrupak di atas daun ental kemudian menjadi bagian dari karya magibung.
Karya seni prasi karya Yowana Kertha
Budaya magibung, ungkap dosen ISI Denpasar ini,lahir dari kebersamaan masyarakat pada aktivitas upacara-upacara adat di pelosok Bali. Upaya menjaga etika kebersamaan semacam monumen peristiwa diwariskan sampai sekarang.
Guratkan pengrupak di atas lontar, menjadi karya seni yang diburu wisatawan
Filosofi kebersamaan menjadi bantang dari tradisi magibung. Kasta atau pun status sosial tidak berlaku dalam tradisi ini. Semua tunduk pada tata nilai dan aturan yang sudah ditetapkan bersama. Tradisi ini sampai sekarang masih hidup di Karangasem Bali Timur, sudah mulai memudar di beberapa komunitas tergantikan model makan prasmanan. Mantan Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, pernah menggelar acara magibung massal di Taman Sukasada Ujung, dihadiri 20.520 orang peserta, merupakan upaya melestarikan tradisi magibung.
Bahan mental lontar
Suklu yang suntuk menggairahkan anak-anak di Yayasan Batu Belah, Lepang, Klungkung ini kemudian mengatakan karya instalasi magibung mengembangkan konsep kebersamaan yang sekarang lebih populer dengan sebutan seni partisipatori, menggunakan media daun ental pengrupak sebagai alat menggores, serta kemiri gosong sebagai pewarna. Perupanya adalah pengunjung yang berkesempatan melakukan proses pembuatan prasi, hasil karya workshop akan menjadi bagian entitas karya magibung.
Bahan lontar dijemur
Dalam workshop tersebut, I Gusti Agung Ngurah, S.Pd tidak saja mengajak peserta merasakan sensasi mengguratkan pengrupak di atas daun ental sehingga menjadi sebuah karya seni yang penuh filosofi, tetapi juga menguraikan bagaimana proses pengolahan lontar dari bahan mentah hingga menjadi lontar yang siap saji untuk dilukis oleh seniman prasi.
Proses perapian bahan lontar
Proses pengolahan lontar dimulai dari bahan mentah yang diambil dari pohon ental. Daun-daun yang sudah dipotong bagian yang tak berguna atau sesuai ukuran yang diinginkan kemudian dijemur sampai kering. Bahan ini kemudian dipilah-pilah lanjut dilakukan perendaman. Setelah melalui proses perendaman yang cukup, bahan lontar kembali dijemur. Lontar yang sudah kering dipilah lagi untuk dirangkai dalam satu ikatan yang rapat dijepit oleh kayu seukuran lontar agar hasilnya sempurna. (gs)
SERAHKAN PUNIA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia saat menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Buleleng, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). Ngaben massal yang diikuti 16 sawa ini menjadi yang pertama digelar di desa tersebut, sekaligus menandai kuatnya komitmen krama dalam menjaga tradisi leluhur.
Dalam sambutannya, Giri Prasta mengaku bahagia dapat hadir langsung di tengah masyarakat yang melaksanakan yadnya secara gotong-royong. Ia menyampaikan apresiasi atas kekompakan krama Desa Adat Mengandang yang bersama-sama menjalankan upacara sesuai dresta Bali.
“Apresiasi kepada krama yang telah bersatu, guyub, saling gotong-royong melaksanakan yadnya ini. Sagilik saguluk salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya,” ujarnya.
Wakil Gubernur Bali juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus mendukung pelaksanaan upacara yadnya sebagai bagian dari pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali.
Sementara itu, Bendesa Adat Mengandang Wayan Sudiana dalam laporannya menjelaskan bahwa ngaben massal ini bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Ini merupakan ngaben massal pertama yang kami laksanakan. Sebelumnya, kami melaksanakan ngaben metuun sesuai dresta Bali Aga di desa ini,” ungkapnya.
Rangkaian upacara telah berlangsung sejak 24 Juli dan akan berakhir pada 8 Agustus 2026. Puncak prosesi dijadwalkan pada 7 Agustus 2026, diawali dengan mecaru, dilanjutkan prosesi pengabenan, hingga upacara penyucian yang melibatkan pemangku, Ida Pandita, serta krama desa setempat.
Sebagai bentuk dukungan, Wagub Giri Prasta turut menyerahkan punia kepada panitia karya sebesar Rp 25 juta. Selain itu, bantuan juga diberikan kepada Sekaa Angklung sebesar Rp 5 juta, Sekaa Santhi sebesar Rp 2 juta, serta kepada pemangku sebesar Rp 4 juta. (gs/bi)
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Ngusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina pada rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Utama di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri, Jumat (7/8). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Ngusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina pada rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Utama di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri, Jumat (7/8).
Dalam acara ini juga hadir Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo David Simatupang, S.I.K., M.H, Penglingsir Puri Ageng Mengwi Ida Cokorda Mengwi XIII dan para Tokoh Puri di Kota Denpasar.
Rangkaian puncak karya diawali dengan prosesi Atetangi, dilanjutkan dengan puncak Karya Ngadegang Puspa Lingga serta Melaspas Puspa. Usai prosesi tersebut, dilaksanakan Upacara Mapurwa Daksina, yang kemudian dilanjutkan dengan Rsi Bujana dan Utpeti Stiti Puja. Seluruh rangkaian upacara dipuput oleh Ida Pedanda Gede Made Karang, Ida Pedanda Gede Raka Timbul, Ida Pedanda Gede Putra Keniten, serta Ida Pedanda Buddha Jelantik Adnyana.
Dalam kesempatan tersebut, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Karya Pitra Yadnya di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri.
Menurutnya, pelaksanaan karya ini mencerminkan sinergi dan kekompakan antara Puri Agung Dangin Puri dengan krama adat Denpasar dalam menjaga serta melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur agama Hindu di Kota Denpasar.
“Kekompakan antara puri dan krama adat dalam mendukung pelaksanaan karya ini patut diapresiasi. Tentunya karya ini memberikan manfaat sekaligus kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai umat Hindu Bali,” ujar Jaya Negara.
Lebih lanjut, Jaya Negara menegaskan bahwa Pemerintah Kota Denpasar senantiasa memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Bali.
“Sebagai pemerintah kami memberikan apresiasi serta dukungan atas pelaksanaan karya ini. Semoga seluruh rangkaian karya dapat berjalan lancar, memberikan makna spiritual, serta kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara yadnya,” tambahnya.
Sementara itu, Manggala Karya, Anak Agung Ngurah Made Mahendra menjelaskan bahwa keberadaan Puri Agung Dangin Puri dengan Desa Adat Denpasar merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan erat dan saling mendukung dalam pelaksanaan kegiatan adat maupun keagamaan.
Ia mengatakan, dalam pelaksanaan Karya Penileman Maligia Punggel Utama kali ini diikuti sebanyak 60 puspa, sebagai wujud kebersamaan dan semangat ngayah dari seluruh krama yang terlibat demi kelancaran pelaksanaan yadnya. (eka/bi)
HADIRI KARYA: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8).
Wawali Arya Wibawa usai melaksanakan persembahyangan bersama mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Pihaknya juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan ini seluruh umat terutama warga Banjar Adat Jurang Asri dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.
“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal-hal negatif di lingkungan banjar setempat,” katanya.
Sementara Ketua Panitia Karya, I Made Sueca mengatakan Karya Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan dilaksanakan karena rampungnya semua palinggih pura yang diperbaharui.
Pada hari ini kata Made Sueca, dilaksanakan upacara Puncak Karya Ngeteg Linggih, Mahingkup, Bangun Ayu, Padyus-dyusan. Adapun Pujawali ini yang dipuput oleh Ida Peranda Mpu Nabe Yoga Daksa Paramitha dari Griya Peraupan.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Wakil Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan Puncak Karya upacara Ngenteg Linggih. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)