Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Wujud Cihna Bhakti, Bupati Sanjaya Hadiri ‘’Karya Pemelaspasan’’ di Desa Adat Kikian

BALIILU Tayang

:

bupati tabanan di desa kikian
ULEMAN: Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE, MM, saat menghadiri uleman persembahyangan bersama serangkaian upacara Pemelaspasan dan Pemakuhan Pelinggih di Pura Puseh dan Pura Desa, Desa Adat Kikian, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, pada Selasa (31/10). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Sebagai salah satu wujud cihna bhakti dan pengabdian kepada masyarakat, Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE, MM, kembali menghadiri uleman persembahyangan bersama serangkaian upacara Pemelaspasan dan Pemakuhan Pelinggih di Pura Puseh dan Pura Desa, Desa Adat Kikian, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, pada Selasa (31/10). Keberadaannya di lokasi tidak hanya sebagai tanda kehormatan, tetapi juga sebagai simbol dari cihna bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan rakyat.

Setibanya di lokasi, Bupati Sanjaya tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan khidmat, ia segera melaksanakan upacara persembahyangan sebagai bentuk pengabdian spiritual kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus sebagai wujud penghormatan terhadap seluruh krama desa, dilanjutkan dengan peninjauan ke areal pura yang baru dibangun. Tindakan ini menunjukkan, bahwa Bupati Sanjaya tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai seorang pelayan spiritual bagi masyarakatnya.

Nampak hadir sore hari itu, Perwakilan Ketua DPRD Provinsi Bali, salah satu Anggota DPRD Tabanan, Sekda, para Kepala OPD Terkait di lingkungan Pemkab, para Kepala Bagian di lingkungan Setda, Camat dan unsur Forkopimcam Selemadeg serta Bendesa Adat setempat. Pelaksanaan Pemelaspasan dalam upacara ini menjadi bukti konkret dari semangat gotong-royong yang masih kental di masyarakat Tabanan. Sebagian besar dana yang digunakan untuk kegiatan ini berasal dari hasil urunan dan punia dari masyarakat setempat. Hal ini memperlihatkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga dan memelihara keberlangsungan upacara adat.

Bupati Tabanan senantiasa memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan ini. Baginya, pelaksanaan yadnya merupakan kewajiban bagi setiap krama Hindu sedharma. Kewajiban ini tertuang dalam Tri Rna, serangkaian kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap krama Hindu sesuai dengan ajaran agama.

Baca Juga  ‘’Ground Breaking’’ IT BRI Tabanan

Di kesempatan itu Bupati Sanjaya menyampaikan kebanggaannya. ‘’Saya lihat profil desa adat, bagaimana membuat sebuah tatanan pembangunan, tadi 79 KK, separuhnya lagi merantau, yang tinggal sekarang di sini hanya 45 KK, semangat gotong-royong membangun parahyangan sudah bagus. Jadi apa yang semeton lakukan dalam rangka membangun parahyangan sudah terpola. Kondisikan kebutuhan infrastruktur agar lebih baik dan bagus,’’ ujarnya.

Dengan keterlibatannya dalam uleman persembahyangan bersama di Desa Adat Kikian, Bupati Sanjaya tidak sekadar memenuhi tugas resmi sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai seorang pemelihara dan pelindung kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Tabanan. Keberadaannya dalam acara ini diharapkan mampu menjadi teladan bagi para jajaran tentang betapa pentingnya keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan dan kebudayaan.

Adapun pelaksanaan pemelaspasan diselenggarakan dengan dana yang salah satunya berasal dari swadaya masyarakat yang dikumpulkan selama 1 tahun sebesar 50 ribu Rupiah per KK dari total 79 KK dan selebihnya  dari penggalian dana Festival Kikian serta dana punia. Puncak acara akan berlangsung pada 1 November 2023 mendatang dan dipuput oleh Ida Pedanda Istri Grya Gede Selemadeg.

Pujian pun disampaikan oleh orang nomor satu di Tabanan. ‘’Astungkara doa kita, dan tujuan memperbaiki parahyangan ini sudah barang tentu, merupakan bhakti kepada Ida Betara dan agar semeton disini rahayu. Luar biasa, salut saya. Saya berikan apresiasi kepada panitia, artinya semeton di Kikian ini konsepnya sama dengan kita di Pemkab Tabanan. Konsepnya jengah, walaupun dana minim tapi mampu melahirkan konsep, sehingga terkumpul dana, bantuan dari gotong-royong sampai terwujud seperti ini. Inilah konsep gotong-royong Tabanan Era Baru yang Aman Unggul dan Madani,’’ sebut Sanjaya lebih lanjut.

Dengan semangat gotong-royong yang terus mengalir, bersama-sama mereka akan membangun Tabanan yang lebih sejahtera, harmonis, dan lestari. Kehadiran dan partisipasi aktif Bupati Sanjaya dalam acara adat ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Harapkan Seluruh DTW di Tabanan Selalu Berkomitmen Lakukan Pembenahan

Di sore itu, sebagai perwakilan masyarakat, I Wayan Juliadi selaku panitia, menyampaikan ucapan selamat datang serta terima kasihnya atas kehadiran Bupati Sanjaya. Baginya, kehadiran murdaning jagat dalam karya agung yang berlangsung hari ini menjadi penyemangat dan memberikan harapan yang baik bagi masyarakat dalam menjalankan yadnya. Ke depan, pihaknya berharap sinergi ini akan terus dipupuk dan juga ditingkatkan guna menyambut pembangunan yang akan datang. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Pemkot Denpasar “Ngaturang Bhakti Penganyar” di Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Published

on

By

BHAKTI PENGANYAR : Jajaran Pemkot Denpasar yang dipimpin Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya saat melaksanakan Bhakti Penganyar serangkajan Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang bertepatan dengan Rahina Redite Pon Wuku Medangsia, Minggu (5/7). (Foto: Hms Dps)

Lumajang, Jatim, baliilu.com – Jajaran Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan Bhakti Penganyar serangkaian Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang bertepatan dengan Rahina Redite Pon Wuku Medangsia, Minggu (5/7). Hadir serta berbaur bersama pemedek, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, serta pimpinan OPD di lingkungan Pemkot Denpasar.

Tampak pula Pangrajeg Karya yang juga Panglingsir Puri Ubud, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, serta Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Swandewi Eddy Mulya.

Rangkaian Bhakti Penganyar diawali dengan pangilen Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh WHDI dan DWP Kota Denpasar serta Tari Rejang Taksu Bhuwana yang dibawakan PHDI Kota Denpasar, dilanjutkan dengan Tari Baris Gede yang dibawakan Forum Perbekel Lurah Kota Denpasar serta Topeng Wali yang dibawakan oleh Paguyuban Seniman Kota Denpasar. Dalan kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut andil mesolah Topeng Keras. Diiringi suara Kidung dan Gembelan, rangkaian Bhakti Penganyar berlangsung khidmat diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipuput Ida Pedanda Gede Dwija Padang Rata, Griya Kutri, Gianyar.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan bahwa Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat untuk selalu eling dan meningkatkan srada bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga menjadi sebuah momentum untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai impelementasi dari Tri Hita Karana.

“Dengan pelaksanaan pujawali ini mari kita tingkatkan rasa sradha bhakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai impelementasi Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Dampingi Presiden RI Joko Widodo Cek Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Induk Baturiti

Manggala Karya, Cokorda Gede Indrayana mengatakan, Piodalan itu sendiri merupakan upacara tahunan yang diselenggarakan oleh pengempon pura dan masyarakat sekitar.

Dikatakannya, keberadaan Pura Mandhara Giri Semeru Agung merupakan momentum perpaduan antara Hindu Jawa dan Hindu Bali. Karenanya, setiap pelaksanaan Bhakti Penganyar selalu dipadukan dengan Pemkab/Pemkot di Provinsi Jawa Timur.

“Seperti hari ini Bhakti Penganyar dari Pemkot Denpasar juga dilaksanakan bersama-sama dengan Pemkab Sidoarjo dan Pemkot Surabaya,” jelasnya.

Di tahun 2026 ini, lanjut Indrayana, Piodalan di Pura Mandara Giri Semeru akan berlangsung selama 11 hari yang dimulai sejak Purnama Kasa pada Senin (29/6) lalu, hingga Jumat (10/7) mendatang. Dalam rentan waktu itu, umat Hindu yang sebagian besar dari Bali akan silih berganti datang selama 24 jam untuk melakukan persembahyangan. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Pemkab Jembrana Gelar “Bhakti Penganyar” di Pura Mandara Giri Semeru Agung

Published

on

By

pemkab jembrana
BHAKTI PENGANYAR: Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan saat memimpin pelaksanaan upacara Bhakti Penganyar di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Kamis (2/7). (Foto: Hms Jembrana)

Lumajang, Jatim, baliilu.com – Sebagai wujud sradha dan bhakti yang mendalam kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Pemerintah Kabupaten Jembrana melaksanakan upacara Bhakti Penganyar di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Kamis (2/7). Prosesi suci yang berlangsung khidmat ini dipimpin langsung oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.

Ida Peranda Made Dwija Putra dari Griya Mas Taman Sari Baturiti, Tabanan, hadir sebagai pemuput upacara untuk menghaturkan puja mantra demi kelancaran prosesi suci tersebut.

Bupati Kembang Hartawan hadir didampingi oleh Wakil Bupati Gede Ngurah Patriana Krisna, serta segenap jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Jembrana. Tampak hadir di lokasi di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda), para Asisten Sekda, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Camat, hingga jajaran pengurus Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Jembrana.

Suasana religius semakin kental dengan hadirnya Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Jembrana yang ngaturang ayah lewat persembahan sakral Tari Rejang Adri sebagai bentuk persembahan seni ke hadapan Ida Bhatara-Bhatari.

​Puncak Karya Pujawali di Pura Mandara Giri Semeru Agung sendiri telah sukses diselenggarakan bertepatan dengan Purnama Kasa, Soma Paing Langkir pada tanggal 29 Juni 2026 yang lalu.

Rangkaian upacara piodalan ini dijadwalkan akan ditutup dengan prosesi upacara penyineban pada Sukra Pon Medangsia, Jumat, 10 Juli 2026 mendatang.

​Usai melaksanakan persembahyangan bersama, Bupati Kembang Hartawan menyampaikan bahwa Bhakti Penganyar ini merupakan momentum spiritual yang penting untuk memohon tuntunan, keselamatan, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

​”Bhakti Penganyar ini kami laksanakan untuk memohon restu dan perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami berharap seluruh program kerja Pemerintah Kabupaten Jembrana dapat berjalan dengan lancar, selaras dengan harapan masyarakat, serta mampu membawa manfaat nyata,” ujar Bupati Kembang.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Dampingi Presiden RI Joko Widodo Cek Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Induk Baturiti

​Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati yang akrab disapa Wabup Ipat juga menambahkan bahwa melalui doa bersama ini, jajaran pemerintah daerah berharap senantiasa dianugerahi keselamatan (kerahayuan) dalam menjalankan roda pemerintahan.

​Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kelancaran karya suci ini, Pemkab Jembrana juga menyerahkan dana punia sebesar Rp 10 juta kepada panitia pura. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Karya Tawur Labuh Gentuh” di Catus Pata Desa Sibanggede

Apresiasi Semangat Krama Jaga Tradisi Leluhur

Loading

Published

on

By

giri prasta
HADIRI TAWUR: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, menghadiri Upacara Tawur Labuh Gentuh yang digelar di Catus Pata Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Jumat (3/7). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Badung, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, menghadiri Upacara Tawur Labuh Gentuh yang digelar di Catus Pata Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Jumat (3/7). Upacara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Karya Piodalan Padudusan Agung, Menawa Ratna, Ngusaba Desa, lan Ngusaba Nini di Pura Desa, Desa Adat Sibanggede.

Dalam sambrama wacananya, Wagub Giri Prasta menyampaikan apresiasi atas komitmen dan semangat krama Desa Sibanggede yang terus menjaga warisan tradisi leluhur. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara berkelanjutan mencerminkan kuatnya nilai swadharma dan kebersamaan masyarakat adat Bali dalam merawat keseimbangan sekala dan niskala.

“Desa Sibanggede ini tidak asing bagi saya. Saya mengetahui bagaimana para leluhur secara turun-temurun melaksanakan swadharma yang utama. Hari ini, tradisi itu kembali dilaksanakan dengan penuh semangat oleh krama,” ujarnya.

Wagub Giri Prasta menjelaskan bahwa Catus Pata Desa Sibanggede memiliki posisi yang istimewa karena berada pada titik pusat desa yang dikelilingi perempatan jalan di empat penjuru mata angin. Keberadaan puri, pura, pasar, dan pusat aktivitas masyarakat di kawasan tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam tatanan sosial, budaya, dan spiritual desa adat.

Ia menilai para leluhur Desa Sibanggede memiliki kearifan dalam memahami nilai strategis kawasan tersebut, sehingga karya tingkat utama digelar secara khusus setiap 30 tahun sekali. Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi, perhatian terhadap pelaksanaan karya ini telah diberikan sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Badung, termasuk dukungan pendanaan dari Pemerintah Kabupaten Badung.

Mengakhiri sambutannya, Wagub Giri Prasta mendorong agar dibuat prasasti sebagai penanda sekaligus pengingat siklus pelaksanaan karya utama yang berlangsung setiap tiga dekade. Menurutnya, dokumentasi tersebut penting untuk menjaga kesinambungan tradisi bagi generasi mendatang.

Baca Juga  Upacara ‘’Melasti’’ dan ‘’Pamendak Agung’’ Karya Panca Wali Krama di Kantor Bupati Tabanan

Selain menyaksikan prosesi Tawur Labuh Gentuh, Wagub Giri Prasta juga berkesempatan mundut pralingga Ida Bhatara serta menyerahkan punia sebesar Rp 25 juta sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya, I Ketut Darma, menjelaskan bahwa pelaksanaan Karya Padudusan Agung Menawa Ratna Medasar Caru Labuh Gentuh di Pura Desa Sibanggede merupakan hasil paruman krama Desa Adat Sibanggede. Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada 7 Juli 2026, sedangkan Upacara Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini akan dilaksanakan pada 9 Juli 2026.

Ia menambahkan, pendanaan karya didukung hibah Pemerintah Kabupaten Badung sebesar Rp 1,5 miliar, punia dari krama Desa Adat Sibanggede, serta kontribusi para pengusaha di wilayah setempat. Dukungan masyarakat juga diwujudkan melalui gotong-royong dan penyediaan berbagai sarana upakara, termasuk keterlibatan para serati, tukang ulam, dan krama adat dari 12 banjar. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca