Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

15-20 Desember 2020, Digelar Pameran Foto 65 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – Vietnam

BALIILU Tayang

:

de
Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang akan memberikan sambutan pada pembukaan pameran 65 Tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Vietnam.

Denpasar, baliilu.com – Merayakan dan memaknai 65 Tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Vietnam, dihadirkan sebuah pameran foto-foto terpilih bersejarah tertaut hubungan baik kedua negara selama kurun waktu 1955-2020. Eksibisi ini diselenggarakan secara daring melalui galeri virtual, dan luring di Ruang Pameran Monumen Perjuangan Rakyat Bali “Bajra Sandhi”, sedari tanggal 15-20 Desember 2020.

Pameran dibuka secara resmi melalui tayang perdana pada kanal youtube Disbud Provinsi Bali Selasa, 15 Desember 2020, pukul 17.00 Wita. Pada acara pembukaan tersebut memberi sambutan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang dan Gubernur Bali Wayan Koster.

Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik agenda pameran ini, serta mengungkapkan makna penting di balik hubungan persahabatan kedua negara yang tercermin melalui foto-foto kebersamaan kedua founding father masing-masing, yakni Presiden Soekarno dan Presiden Ho Chi Minh. “Melalui pameran ini kami berharap spirit persahabatan kedua bangsa dapat mengukuhkan kemitraan strategis antara Indonesia dan Vietnam dalam bidang seni budaya, pendidikan, pariwisata dan ekonomi,“ ungkap Wayan Koster.

Pameran foto ini kerja sama Pemerintah Provinsi Bali dengan Kedutaan Besar Vietnam di Jakarta, diharapkan dapat memperdalam pemahaman kepada masyarakat kedua negara, khususnya generasi muda, tentang jalinan persahabatan yang hangat antara negara dan masyarakat kedua bangsa sedini dirintis oleh founding father masing-masing, Presiden Soekarno dan Presiden Ho Chi Minh.

Kehangatan persahabatan tersebut terjalin hingga kini, tercermin dari foto-foto kunjungan kenegaraan dari masa ke masa; semisal sambutan hangat dari Presiden Tran Duc Luong dan masyarakat Vietnam atas kehadiran Presiden Megawati Soekarno Putri tahun 2001, serta pertemuan Presiden Vietnam Truong Tan Sang dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di Jakarta tahun 2015, berikut kunjungan balasan Presiden Joko Widodo ke Vietnam tahun 2018.

Baca Juga  Pembangunan Embung Sanur, Solusi Atasi Banjir dan Siap Jadi Kawasan Wisata Baru

Duta Besar Republik Sosialis Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang, mengungkapkan bahwa pada 65 tahun yang lalu Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama  yang menjalin hubungan diplomatik dengan Vietnam. Hubungan baik tersebut masih terjalin hingga kini, bahkan sedari tahun 2013 Indonesia dan Vietnam menjalin kemitraan strategis memberikan kerangka kerja untuk kerja sama yang substansif di berbagai bidang.

“Pencapaian ini tidak akan terwujud tanpa adanya upaya awal dari Presiden Ho Chi Minh dan Presiden Soekarno. Hubungan antara kedua pendiri negara ini bukan semata hubungan sesama pemimpin negara, tetapi sebagai saudara. Bukan atas dasar keturunan, melainkan atas visi yang sama, oleh keyakinan abadi dalam kebangsaan, patriotisme, kemerdekaan, dan perdamaian,“ ungkap Mr. Pham Vinh Quang dalam sambutannya.

Pada pameran disertakan 42 foto bersejarah dari tahun 1955 sampai dengan sekarang. Foto-foto yang dipamerkan menggambarkan kedekatan sosial kultural antara kedua negara, termasuk keadaan alam atau topografi, serta aneka aktivitas masyarakat yang terbukti memiliki ciri dan keunikan yang boleh dikata tidak jauh berbeda.

Persahabatan antara Indonesia dan Vietnam ditandai pula dengan muhibah seni budaya, serta terjalinnya komunikasi yang berkelanjutan dan saling menghormati antarpejabat Vietnam dan Indonesia, berikut disepakati dan diwujudkannya kerja sama lintas bidang. 

Foto-foto yang dipamerkan dapat disaksikan melalui galeri virtual pada tautan https://artspaces.kunstmatrix.com/en/exhibition/3761959/pameran-foto-65-tahun-hubungan-diplomatik-indonesia-viet-nam (gs)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Kresna Duta Durjana, Pementasan Wayang Kulit Badung Angkat Pesan Menghargai Atman

Published

on

By

Wayang Kulit badung
PARADE WAYANG KULIT: Sanggar Seni Dhanan Jaya Banjar Pengayehan Desa Cemagi Kecamatan Mengwi sebagai Duta Seni Kabupaten Badung saat tampil dalam Utsawa (Parade) Wayang Kulit dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 di Depan Gedung Kria Art Center Denpasar, Senin (6/7/2026). (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Sanggar Seni Dhanan Jaya Banjar Pengayehan Desa Cemagi Kecamatan Mengwi sebagai Duta Seni Kabupaten Badung tampil dalam Utsawa (Parade) Wayang Kulit dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 di Depan Gedung Kria Art Center Denpasar, Senin (6/7/2026).

Melibatkan total 29 seniman, dalam pementasan ini Sanggar Seni Dhanan Jaya menampilkan garapan wayang kulit klasik yang berjudul Kresna Duta Durjana.

Kresna Duta Durjana menggambarkan kisah dalam perang Mahabarata yakni dilemanya Maha Raja Yudistira karena harus berperang melawan saudara, keluarga dan gurunya sendiri.

Atas desakan Bima dan nasehat dari Prabu Kresna, Maha Raja Yudistira diyakinkan bahwa kejahatan harus ditumpas demi tegaknya dharma.

Puncak dari cerita Kresna Duta Durjana yakni ketika Kresna menegaskan kepada Yudistira bahwa yadnya dari seorang ksatria adalah dalam perjalanan menuju kematian yang paling utama untuk memuliakan atman seorang ksatria adalah mati dalam peperangan.

Dalang sekaligus Ketua Sanggar Dhanan Jaya, I Made Ariawan menyampaikan alasan dibalik cerita Kresna Duta Durjana dikarenakan sesuai dan selaras dengan tema Pesta Kesenian Bali ke-48 yakni Atma Kerthi.

“Karena sang ksatria yadnya-nya adalah di medan perang.  Mati mendapatkan swarga, hidup akan mendapatkan kejayaan. Maka dari itu, sang ksatria tidak boleh mundur dalam medan peperangan. Hidup dan mati harus dipertaruhkan di sana. Begitu juga dalam tema Atma Kerthi ini, kita harus memberikan jalannya atma bagaimana perjalanan atma itu agar menemukan tempat yang terbaik,” ujar Made Ariawan ditemui sebelum pementasan.

Lebih Lanjut Made Ariawan menuturkan pesan dari cerita Kresna Duta Durjana dalam kehidupan  yakni untuk menghargai dan menyayangi atman, baik ketika semasih berada di dalam maupun ketika lepas dari badan manusia.

Baca Juga  Tim Gabungan Pemkot Gencarkan Sosialisasi Prokes, Sasar Desa Padangsambian Kelod

“Di sini  banyak ada petuah bagaimana cara kita menyayangi badan kita, atman yang ada dalam diri, dan juga bagaimana menyiapkan perjalanan atman ketika sudah lepas dari badan kita sendiri,” imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana menegaskan dukungan penuh dari pemerintah untuk seniman-seniman Badung yang pentas di ajang Pesta Kesenian Bali.

“Pemerintah Kabupaten Badung pasti selalu mensupport penuh seniman terkait dengan pelestarian seni, tradisi, dan budaya di Bali,” ujar Gede Sukadana.

Gede Sukadana lanjut menceritakan kesenian wayang yang sarat dengan nilai filosofis dalam membangun sebuah karakter yang perlu dijadikan acuan oleh masyarakat.

“Ketika berbicara masalah wayang, disana banyak filosofis hidup yang perlu dijadikan acuan oleh krama Badung dan termasuk juga di dalamnya generasi muda Badung untuk membangun sebuah karakter, ya. Untuk membangun sebuah karakter yang bisa mencintai yang telah diwariskan oleh leluhur kita, agar kita juga sebagai generasi muda bisa melestarikan,” tutup I Gede Sukadana. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Revitalisasi Bale Sikap, Jejak Prajurit Munggu Menggema di PKB

Published

on

By

Grahasta Bawera
ELING: Komunitas Seni Grahasta Bawera, Banjar Pengayehan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, sebagai Duta Kabupaten Badung saat membawakan garapan bertajuk "ELING", dalam Rekasadana (Pergelaran) Revitalisasi Kesenian Klasik pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (6/7/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah dan jati diri budaya terus dilakukan. Hal itu tampak dalam Rekasadana (Pergelaran) Revitalisasi Kesenian Klasik yang dibawakan Komunitas Seni Grahasta Bawera, Banjar Pengayehan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, sebagai Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (6/7/2026).

Mengusung garapan bertajuk “ELING”, komunitas ini tidak sekadar menyajikan pertunjukan seni. Lebih dari itu, mereka menghidupkan kembali kisah perjuangan para prajurit Desa Adat Munggu yang selama ini menjadi bagian penting sejarah dan identitas masyarakat setempat.

Selama kurang lebih 90 menit, panggung Kalangan Angsoka dipenuhi harmonisasi tabuh klasik, gerak tari yang penuh makna, hingga lantunan gerong yang menyatu dalam sebuah pertunjukan sarat nilai filosofis. Sebanyak 22 penabuh, delapan penari Baris, empat penari Topeng, serta dua penembang (gerong) terlibat dalam pementasan yang dipersiapkan selama sekitar tiga bulan tersebut.

Penata tabuh sekaligus Ketua Komunitas Seni Grahasta Bawera, I Kadek Sugiarta, S.Sn., M.Sn., mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada komunitasnya untuk tampil sebagai bagian dari duta seni Kabupaten Badung di PKB 2026.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan dan Listibiya Kabupaten Badung yang telah memberikan kepercayaan kepada Komunitas Seni Grahasta Bawera untuk tampil di Pesta Kesenian Bali. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga dan mengembangkan kesenian klasik Bali,” ujarnya.

Sugiarta yang juga menjabat Sekretaris Listibiya Kabupaten Badung menjelaskan, garapan tahun ini mengangkat revitalisasi kesenian klasik Bale Sikap. Kata “Bale” dimaknai sebagai prajurit, sedangkan “Sikap” berarti gugur atau pengorbanan. Karya ini lahir dari penelusuran sejarah Desa Adat Munggu tentang para prajurit yang mendedikasikan hidupnya demi menjaga desa, adat, dan masyarakatnya.

Baca Juga  Presiden: Sistem Pencegahan Kunci Utama Pemberantasan Korupsi

Menurutnya, kisah tersebut merupakan warisan budaya yang patut terus diwariskan kepada generasi muda. Revitalisasi dilakukan agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita rakyat dan sejarah lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Ini merupakan kearifan lokal Desa Adat Munggu. Kami ingin mengingat kembali perjuangan para prajurit desa yang telah mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui peninggalan Tameng Kolem yang ada di Pura Dalem Kahyangan Wisesa,” jelasnya.

Melalui garapan ELING, Komunitas Seni Grahasta Bawera mengajak masyarakat kembali mengingat akar sejarahnya. “Eling” yang berarti ingat menjadi simbol ajakan untuk selalu mengenang dedikasi, pengabdian, dan pengorbanan para leluhur terhadap tanah kelahirannya.

Pertunjukan dikemas melalui pendekatan spiritual yang memadukan tabuh, tari, vokal, dan simbol-simbol ritual. Alur garapan membawa penonton memasuki ruang perenungan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lahir dan batin melalui konsep Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha. Restu leluhur menjadi fondasi moral yang mengingatkan bahwa setiap bentuk pengabdian pada masa kini semestinya berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah perkembangan zaman. Kesetiaan terhadap tanah kelahiran, budaya, dan tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan komitmen untuk menjaga identitas Bali agar tetap hidup di tengah perubahan.

Pergelaran revitalisasi kesenian klasik ini sekaligus menunjukkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Badung dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi. Melalui dukungan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bersama Listibiya Kabupaten Badung, berbagai kesenian klasik yang nyaris terlupakan terus didokumentasikan, direvitalisasi, dan ditampilkan kepada publik melalui panggung Pesta Kesenian Bali. Tak hanya menjadi ruang pertunjukan, PKB 2026 kembali membuktikan diri sebagai wadah pelestarian nilai-nilai budaya Bali. Kehadiran ELING menjadi penanda bahwa sejarah, pengabdian, dan semangat para leluhur akan terus bergema selama generasi penerus masih bersedia mengingat, mempelajari, dan merawat warisan budaya yang mereka tinggalkan. (gs/bi)

Baca Juga  Kelurahan Dangri dan Desa Dangri Kauh Bersinergi Gelar Tertib Prokes, Nihil Pelanggaran

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Tampil Luar Biasa, Sekaa Gong Tri Tunggal Desa Adat Tanjung Bungkak Duta Denpasar Sukses Sihir Ribuan Penonton PKB XVIII

Published

on

By

GONG KEBYAR DEWASA DUTA DENPASAR: Sekaa Gong Tri Tunggal, Desa Adat Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur berfoto bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan Walikota Denpasar IGN Jaya Negara usai tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII Tahun 2026, Minggu (5/7/2026) malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal, Desa Adat Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur menyihir ribuan penonton yang memadati area Panggung Terbuka Ardha Candra, pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII Tahun 2026, Minggu (5/7/2026) malam.

Sekaa Gong Tri Tunggal pada malam itu, tampil dengan totalitas dan atraktif berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana yang diwakili oleh Sekaa Gong Widya Taruna, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo.

Hadir untuk menyaksikan pertunjukkan memukau itu, Gubernur Bali, I Wayan Koster dan juga Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara dan juga Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.

Koordinator Sekaa Gong Tri Tunggal, I Kadek Bhaswara Dwitiya didampingi Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, menjelaskan, pada malam itu, Duta Kota Denpasar membawakan tiga garapan karya sekaligus.

Garapan pertama, Tabuh Lima Lelambatan Gora Kala Aci, yang merupakan karya tabuh lelambatan kreasi yang terinspirasi dari ritual persembahan suci dalam upacara karya melaspas Paryangan Kawitan I Gusti Ngurah Sentong sebagai pakar Gamelan Gambang.

Dalam garapan Tabuh Kelambatan ini, penata tabuh berupaya menuangkan ke dalam musikal konseptual dengan transformasi permainan arpeggio atau memainkan nada-nada akor gamelan gambang, yang dikomposisi apik menjadi Tabuh Lima Lelambatan yang masih menerapkan pola-pola tradisi tabuh pegongan.

Garapan kedua lanjut Kadek Bhaswara, adalah Tari Kreasi Gagak Pitru Loka yang merupakan karya tari kreasi yang meinterpretasikan keterkaitan burung Gagak sebagai transformasi atau pembawa pesan ke tempat persemayaman pitri (roh leluhur) sebelum reinkarnasi.

Baca Juga  Update Covid-19 Rabu Ini di Bali, Pasien Sembuh Bertambah 239 Orang

Karya tari ini, menerjemahkan nilai filosofi Gagak Ora yang memiliki konsep purusa-pradana, yang tersirat dalam gending Gambang Pura Kelaci. Secara umum, karya ini memiliki makna ngelelatik (saling mengisi) bhakti karma (perbuatan dalam pengabdian hidup) sebagai bekal menuju akhirat.

Inspirasi tari sendiri lanjut Kadek Bhaswara, diimplementasikan melalui struktur karya, tabulasi awal dengan motif gerak tari yang merupakan kompilasi simbol sesuai makna ekologis kehidupan manusia, dan roh, serta burung gagak sebagai ceciren (karakteristik) di kehidupan alam, dan terakhir gagak ora pangungkab lawang swargaloka.

Garapan ketiga atau garapan terakhir, kata Kadek Bhaswara adalah Fragmentasi Tari bertajuk Ngumbara Jiwa. Karya ini sendiri adalah takeh igel yang merepresentasikan laku lampah, semita, dan nandangan dinamika pengembaraan I Gusti Ngurah Sentong atas titah Raja Sweca Linggarsapura Gelgel, untuk mencari gending gambang sebagai pengantar jiwa, di saat Raja nanti mangkat menuju alam akhirat.

Karya ini secara garis besar menarasikan Ngumbara Jiwa I Gusti Ngurah Sentong, sehingga menemukan karya gending. Gambang mistik monumental juga disebutkan Kadek Bhaswara sebagai sebuah bentuk spiritual/metafisik berskala besar serta memiliki dampak historis dalam kaitan pitra yadnya ageng di Bali.

“Seluruh persiapan tiga garapan karya ini telah kami laksanakan sejak beberapa waktu lalu. Sebagai Duta Kota Denpasar, kami ingin tampil sebaik mungkin,” ungkapnya.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan apresiasi tinggi atas penampilan Duta Kota Denpasar ini. Seluruh garapan Sekaa Gong Tri Tunggal dinilainya sangat apik dan luar biasa.

Jaya Negara juga menyebut, penampilan para seniman Kota Denpasar ini tidak hanya sekedar pementasan seni budaya semata. Namun lebih dari itu, dedikasi mereka adalah refleksi dari usaha kuat untuk tetap menjaga kelestarian warisan budaya dan kesenian Bali.

Baca Juga  Kelurahan Dangri dan Desa Dangri Kauh Bersinergi Gelar Tertib Prokes, Nihil Pelanggaran

Astungkara, penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal Desa Adat Tanjung Bungkak, Sumerta Kelod sangat luar biasa dan metaksu. Terima kasih dedikasi luar biasa para seniman Kota Denpasar,” kata Jaya Negara. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca