Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Workshop Penanganan Bencana Gunung Api di MFRI Yamanashi Jepang

Pentingnya Komunitas Relawan dalam Penanggulangan Erupsi Gunung Api

Loading

BALIILU Tayang

:

unud
WORKSHOP: Salah seorang Tim Komunitas Relawan Lereng Gunung Agung, Nyoman Sukma Arida (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud) menyampaikan materi saat workshop yang diselenggarakan oleh Mount Fuji Research Institute (MFRI) di lereng Gunung Fuji. (Foto: ist)

Yamanashi, Jepang, baliilu.com – Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung yang terdiri atas Nyoman Sukma Arida (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud), Ketua Pasebaya Agung Gede Pawana, Jennifer Sarah (Koordinator Tim MFRI Indonesia), Dr. Wiwit Suryanto (Wadek 1 Geofisika FMIPA UGM), dan Rizky Tri Septian dari BNPB melakukan kunjungan ke Provinsi Yamanashi di Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023. Salah satu agenda utamanya adalah mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Mount Fuji Research Institute (MFRI) di lereng Gunung Fuji.

Workshop tersebut berlangsung Rabu, 14 Juni 2023 dengan menghadirkan narasumber secara online  dan offline. Dua narasumber memberikan materi secara online yakni Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati dan Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa. Sementara dua orang lainnya hadir secara langsung di Yamanashi. Workshop Penanganan Bencana Gunung Api merupakan bagian dari project yang dibiayai oleh JICA Japan. Kegiatan ini juga merupakan implementasi MoU pihak Unud (yang dimandatkan kepada Fakultas Pariwisata) dengan MFRI yang telah ditandatangani tahun 2022. Saat itu pihak MFRI sempat melakukan audiensi dengan Rektor Unud.

unud
Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung yang terdiri atas Nyoman Sukma Arida (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud), Ketua Pasebaya Agung Gede Pawana, Jennifer Sarah (Koordinator Tim MFRI Indonesia), Dr. Wiwit Suryanto (Wadek 1 Geofisika FMIPA UGM), dan Rizky Tri Septian dari BNPB foto bersama dengan pimpinan Mount Fuji Research Institute (MFRI) saat melakukan kunjungan ke Provinsi Yamanashi di Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023. (Foto: ist)

Presiden MFRI, Prof. Fujii Toshitsugu menekankan pentingnya saling belajar antara dua negara, Indonesia dan Jepang terkait penanganan erupsi dan mitigasi bencana gunungapi. “Ke depan kerja sama ini harus diperkuat lagi pada hal-hal yang lebih strategis,” ucap Prof. Fujii saat memberikan sambutan dalam kegiatan ini.

Project Manager dari MFRI, Dr. Mitsuhiro Yoshimoto, mengharapkan agar kegiatan ini bisa menjadi ajang saling belajar antara masyarakat Yamanashi, Jepang dengan Kabupaten Karangasem dalam melakukan mitigasi bencana erupsi. “Masyarakat sekitar Gunung Fuji harus belajar banyak kepada masyarakat Karangasem karena masyarakat kami 300-an tahun belum pernah mengalami peristiwa erupsi. Dr. Yoshimoto juga menyampaikan bahwa sebelum workshop ini project tersebut juga telah melakukan beberapa pelatihan dan workshop di dua sasaran  beberapa sekolah SD di Kecamatan Rendang dan warga Desa Besakih.

Baca Juga  Menuju Akreditasi Internasional FIBAA, FH Unud Selenggarakan Workshop Penyusunan Self Evaluation Report

Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, dalam paparannya yang berjudul ‘‘Penanganan Erupsi Gunung Agung 2017‘‘  menyampaikan bahwa kerja sama yang terjalin antara pemerintah dan warga di sekitar Gunung Fuji dan Gunung Agung Bali memiliki arti strategis dalam upaya saling belajar mitigasi erupsi gunung api di kedua negara. Letusan Gunung Agung tahun 2017 memang tidak sedahsyat letusan tahun 1963, namun keberhasilan penanganan. Letusan Agung tanggal 11 November 2017 menunjukkan bahwa dampak letusan terhadap warga relative dapat tertangani dengan baik karena penggunaan teknologi dan kesigapan masyarakat di sekitar lereng Gunung Agung yang bahu-membahu membantu para pengungsi. Pengungsi gunung api di Bali dan Indonesia pada umumnya memiliki karakter yang unik, yakni para kepala keluarga  berada di pengungsian hanya pada malam hari, sementara siangnya mereka kembali ke desanya untuk memberikan makan ternak-ternak mereka.

“Hal yang khas dalam erupsi Gunung Agung tahun 2017 adalah banyaknya hoax yang beredar yang mengedarkan pesan bahwa Gunung Agung akan segera erupsi skala besar. Berita hoax ini menyebar bahkan hingga ke tingkat global sehingga menyebabkan turunnya kedatangan wisatawan ke Bali. Demikian juga wisatawan yang akan datang ke Bali perlu diberikan pemahaman bahwa pada saat sebelum erupsi tidak semua wilayah masuk dalam zone bahaya, sehingga sebetulnya masih aman untuk dikunjungi,” ungkap Raditya Jati.

Sementara Leader Projek AGAA (Astungkara Gunung Agung Aman) Dr. Wiwit Suryanto yang merupakan peneliti vulkanologi dari Program Studi Geofisika Fakultas MIPA UGM memberikan penekanan pada soal penguatan materi vulkanologi kepada masyarakat. Seringkali karena ketidakpahaman warga terkait tingkat kerawanan wilayahnya sehingga memunculkan kepanikan pada saat kejadian erupsi. Misalnya, saat terjadi gempa bumi dan sekaligus erupsi Merapi tahun 2006 di Jogja secara simultan, warga di bagian Selatan lari ke arah Utara karena mengkhawatirkan kejadian tsunami seperti di Aceh tahun 2004. Sementara warga di sebelah Utara di lereng Gunung Merapi berlari ke arah Selatan dan menimbulkan kesimpangsiuran informasi.  “Demikian juga saat erupsi Agung, wisatawan banyak yang kembali ke negaranya padahal berada pada daerah wisata yang sebenarnya masih aman untuk ditinggali karena ada pada radius aman,” ungkap doktor lulusan Jerman tersebut.

Baca Juga  Prodi Sastra Jepang FIB Unud Jadi Tuan Rumah Workshop Pengajaran Kaiwa

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karangsem menjelaskan bahwa di samping memiliki berbagai potensi SDA dan pariwisata Kabupaten Karangasem juga memiliki banyak ancaman bencana, terutama ancaman erupsi Gunung Agung, tanah longsor dan kekeringan. Kondisi ini menuntut warga masyarakat Kabupaten Karangasem untuk memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam mengantisipasi bencana alam.

Sementara itu Ketua Pasebaya Agung, Dr. (cand) I Gede Pawana, S.Ag., M.Phil membabarkan perihal pengalaman Forum Pasebaya Agung pada saat menangani erupsi Gunung Agung. Menurutnya ada tiga faktor yang membuat keberhasilan penanganan pengungsi saat erupsi Gunung Agung tahun 2017 yaitu; penguatan komunitas, kejelasan informasi, dan ketaatan masyarakat terhadap arahan dari Pemerintah.

Tampil sebagai pembicara terakhir, Nyoman Sukma Arida membahas tentang peluang pariwisata sebagai medium penyampaian pesan-pesan mitigasi. Ia mengemukakan bahwa di kawasan lereng Gunung Agung penting untuk memperkuat pengembangan destinasi wisata yang memberikan wawasan kegunungapian dan mitigasi kepada warga lokal dan wisatawan. “Desa wisata bisa memperkuat  brandingnya dengan mengemas paket wisata ekowisata khususnya berbasis vulkanologi. Muatan pesan mitigasi bisa menjadi salah satu alternative untuk memperkaya story telling desa wisata.”

unud
Tim Komunitas Relawan Lereng Gunung Agung foto bersama di depan kantor Mount Fuji Research Institute (MFRI). (Foto: ist)

Kegiatan workshop ini merupakan salah satu agenda dari kunjungan tim mitra MFRI di Indonesia ke Kawaguchiko, Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023. Selain menjadi narasumber dalam workshop tim berkesempatan melakukan kunjungan ke stasiun 5 pendakian Gunung Fuji untuk mempelajari Gunung Fuji secara detail dan pengelolaan wisata pendakian Gunung Fuji. Selain itu tim mitra MFRI juga berkesempatan mengunjungi Kantor Japan Meterological Agency (JMA) di Tokyo.

Wisata Gunung Fuji dikenal merupakan wisata pendakian gunung yang sangat populer dengan jumlah pengunjung sekitar 5.000 orang pada saat bulan padat pengunjung, meskipun Gunung Fuji hanya dibuka selama tiga bulan per tahun yakni bulan Juni, Juli, dan Agustus. Mereka memberlakukan aturan yang sangat ketat terkait perilaku pengunjung selama melakukan pendakian. Wisatawan tidak diperkenankan mendirikan tenda, membuat api unggun dan membuang sampah sembarangan. Para pendaki juga diwajibkan menggunakan guide yang sudah disediakan untuk menjamin keselamatan para pendaki. Apa yang telah berkembang di Gunung Fuji bisa ditiru polanya agar wisata pendakian di Gunung Agung juga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat lokal sekitar Gunung Agung. (gs/Jubir Unud)

Baca Juga  LP3M Unud Gelar Workshop Penulisan SER Akreditasi FIBAA bagi 14 Prodi Sosio-Humaniora

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

DPRD Badung Gelar Rapat Paripurna Penyampaian PU Fraksi-Fraksi

Soroti Krisis Air Bersih, Dorong Teknologi SWRO hingga Pelebaran Jalan

Loading

Published

on

By

Ketua DPRD Badung Serahkan Dokumen PU Fraksi kepada Bupati
SERAHKAN DOKUMEN: Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menyerahkan dokumen PU Fraksi-Fraksi DPRD Badung kepada Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa pada Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung, Kamis (5/11/2026). (Foto: bi)

Badung, baliilu.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Badung pada Kamis, 5 November 2026, menggelar Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 dengan agenda penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi terhadap empat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) strategis.

Rapat yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung ini dipimpin oleh Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, didampingi para wakil ketua dan segenap anggota dewan.

Hadir pula dalam rapat tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda) Badung I.B. Surya Suamba, pimpinan instansi vertikal, serta sejumlah pejabat daerah.

Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menjelaskan bahwa agenda utama rapat paripurna ini adalah mendengarkan pandangan umum dari tiga fraksi yang ada di DPRD Badung—yakni Fraksi Golkar, Fraksi Gerindra, dan Fraksi PDI Perjuangan—terhadap empat Raperda, yang meliputi: Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mangutama; Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada PT Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Bali Mandara; Raperda tentang Pencabutan Perda Nomor 10 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; dan Raperda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.

Dalam keterangannya usai rapat, Anom Gumanti menyoroti sejumlah catatan penting dari dewan, salah satunya terkait penuntasan krisis air bersih di wilayah Badung Selatan. Dewan mendorong Perumda Air Minum Tirta Mangutama tidak hanya bergantung pada sumber air konvensional, tetapi juga mulai mengkaji penerapan teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih (Sea Water Reverse Osmosis / SWRO).

“Ketika melaksanakan penyelesaian kebutuhan air di Badung ini, dewan mendorong agar direksi melaksanakan atau mungkin melakukan teknologi SWRO, artinya bagaimana mengolah air laut untuk bisa menjadi air bersih,” ujar Anom Gumanti.

Baca Juga  Workshop Penulisan dan Publikasi Jurnal Fakultas Hukum Universitas Udayana

Ia menambahkan, sebelumnya pasokan air di Kuta Selatan hanya mengandalkan Dam Estuari. Dengan adanya tambahan penyertaan modal yang baru, pihak perumda kini berencana mengambil air di wilayah Tukad Mati guna menambah suplai ke wilayah selatan, di samping harapan agar teknologi SWRO dapat segera direalisasikan.

Selain masalah air bersih, rapat paripurna juga menyoroti persoalan infrastruktur dan kemacetan lalu lintas, khususnya di kawasan Kuta Selatan seperti Desa Pecatu. Dewan menerima usulan dari sejumlah fraksi agar jalan-jalan utama yang ada diperlebar atau dijadikan jalur operatif alternatif agar mobilitas pariwisata tidak terganggu.

Di sektor ketenagakerjaan dan keuangan, dewan mencatat adanya usulan untuk mengevaluasi dan meningkatkan nilai Upah Minimum Kabupaten (UMK). Terkait tren peningkatan pendapatan daerah, Anom Gumanti menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik serta perencanaan anggaran yang realistis.

“Intinya bahwa anggaran ini agar bisa tepat guna, tepat sasaran, dan kemudian lagi bisa dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.

Menutup keterangannya, Anom Gumanti memastikan pihak legislatif akan melakukan pengawasan ketat terhadap penggunaan dana penyertaan modal yang telah disetujui. Evaluasi akan terus dilakukan untuk memastikan kinerja pengelolaan sumber daya manusia dan program kerja benar-benar berada di jalur yang tepat (on the track) serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah selatan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung Terima Empat Raperda Strategis, Krisis Air di Bukit Jadi Sorotan Utama

Published

on

By

Fraksi PDI Perjuangan Serahkan Pandangan Umum di DPRD Badung
SERAHKAN DOKUMEN PU FRAKSI: Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung, I Made Rai Wirata, S.H., M.I.Kom menyerahkan Pandangan Umum Fraksi PDI Perjuangan kepada Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti saat Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 yang digelar di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung. (Foto: bi)

Badung, baliilu.com – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Badung menyatakan dapat menerima empat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) untuk selanjutnya ditetapkan menjadi peraturan daerah. Kendati demikian, persetujuan tersebut disertai berbagai catatan, koreksi, serta rekomendasi rinci yang akan dibahas lebih mendalam melalui rapat alat kelengkapan dewan bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Sikap politik tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 dengan agenda Penyampaian Pandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD Badung terhadap empat Raperda strategis. Rapat yang digelar di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung ini dipimpin oleh Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, didampingi para wakil ketua serta segenap anggota dewan.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda) Badung I.B. Surya Suamba, pimpinan instansi vertikal, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.

Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung, I Made Rai Wirata, S.H., M.I.Kom., memaparkan tanggapan fraksinya terhadap keempat Raperda yang meliputi: Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mangutama; Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada PT Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Bali Mandara; Raperda tentang Pencabutan Perda Nomor 10 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; dan Raperda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.

Terkait penyertaan modal kepada Perumda Air Minum Tirta Mangutama sebesar Rp 150 miliar hingga tahun anggaran 2029—dengan alokasi Rp 37 miliar pada APBD 2027—Fraksi PDI Perjuangan menegaskan pentingnya landasan hukum yang kuat guna meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan publik. Fraksi PDI Perjuangan berharap penambahan modal ini dapat menyelesaikan masalah menahun di wilayah Bali Selatan.

Baca Juga  LP3M Unud Gelar Workshop Penulisan SER Akreditasi FIBAA bagi 14 Prodi Sosio-Humaniora

“Dengan adanya penambahan penyertaan modal ini, kami berharap Direksi Perumda Air Minum Tirta Mangutama mampu mengatasi krisis air di daerah Bukit, seperti Desa Ungasan, Desa Pecatu, dan sekitarnya di Kecamatan Kuta Selatan. Sehingga, tidak ada alasan lagi bagi direksi untuk mengeluhkan kekurangan modal guna menuntaskan krisis air tersebut,” tegas Rai Wirata.

Sementara itu, untuk Raperda penyertaan modal kepada PT Jamkrida Bali Mandara, fraksi menyetujui pemenuhan kewajiban Pemkab Badung pada Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp 10 miliar dari total rencana penyertaan modal Rp 150 miliar hingga 2030.

Terkait Raperda Pencabutan Perda No. 10 Tahun 2010 tentang Administrasi Kependudukan, fraksi menilai substansi aturan tersebut sudah tidak relevan dan berpotensi tumpang tindih. Pengaturan teknis kependudukan skala kabupaten dinilai cukup diatur melalui peraturan kepala daerah.

Rincian APBD Kabupaten Badung Tahun 2027

Dalam pandangannya terhadap Raperda APBD 2027, Fraksi PDI Perjuangan menyoroti pentingnya menjaga stabilitas perekonomian dan keuangan daerah dalam menunjang pelayanan publik. Komposisi keuangan daerah dirancang dengan rincian sebagai berikut: Pendapatan Daerah: dirancang sebesar Rp 11.634.722.053.183,00, yang terdiri atas: Pendapatan Asli Daerah (PAD): Rp 10.904.723.845.178,00, Pendapatan Transfer: Rp 729.998.208.005,00.

Belanja Daerah: Dirancang Rp 13.379.086.523.923,00, yang terdiri atas: Belanja Operasi: Rp 7.009.193.884.288,00, Belanja Modal: Rp 4.310.626.626.071,00, Belanja Tidak Terduga: Rp 145.421.455.883,00, dan Belanja Transfer: Rp 1.913.844.557.681,00.

Penerimaan Pembiayaan Daerah: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya sebesar Rp 534.528.799.452,00 dan penerimaan pembiayaan utang daerah Rp 2.614.248.087.124,00 (termasuk pinjaman daerah Rp 2.079.719.287.672,00).

Pengeluaran Pembiayaan: Mencakup penyertaan modal pada Perumda Tirta Mangutama (Rp 37 miliar) dan PT Jamkrida Bali Mandara (Rp 10 miliar), serta pembayaran pembiayaan utang daerah sebesar Rp 822.883.616.384,00.

Baca Juga  Implementasi KSI, ICRC dan FH Unud Gelar ‘’Emerging IHL Academics Workshop 2023’’

Usulan Infrastruktur, Penataan Kawasan, dan Evaluasi Kebencanaan

Selain memberikan persetujuan, Fraksi PDI Perjuangan juga menyampaikan sejumlah usulan pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik, di antaranya:

Penuntasan pavingisasi gang, pelebaran serta pengaspalan Jalan Cemongkak menuju Buana Sari, pembuatan akses menurun ke Pantai Labuan Sait, dan pengaspalan Jalan Merpati di Desa Pecatu, Kuta Selatan.

Penataan Pantai Cemagi secara tuntas untuk kepentingan keagamaan, serta kelanjutan program trotoarisasi dari Mengening ke Munggu dan pembangunan jalan alternatif dari Banjar Seseh ke SD 2 Cemagi guna mengurai kemacetan.

Pembebasan lahan di sebelah utara Pusat Pemerintahan Mangupraja Mandala untuk dijadikan ruang terbuka hijau, sarana olahraga, rekreasi keluarga, serta wadah promosi bagi pelaku UMKM lokal.

Di sektor penanggulangan bencana, Fraksi menyampaikan duka mendalam atas tragedi tanah longsor di kawasan glamping eco park Desa Pelaga, Kecamatan Petang. Pemerintah Kabupaten Badung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) didorong untuk segera melakukan penanganan darurat serta mengevaluasi potensi kerawanan bencana alam guna mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang.

Menutup pandangannya, Fraksi PDI Perjuangan menyampaikan apresiasi kepada Bupati Badung beserta jajaran eksekutif atas kerja keras dalam mengatasi kemacetan melalui pembukaan akses jalan baru di Kuta Selatan serta koordinasi intensif yang membuat pembahasan penyertaan modal dapat berjalan lebih cepat dari target. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Tinjau Bedah Rumah di Jembrana, Tekankan Kualitas Bangunan demi Kenyamanan Warga

Bersumber dari Perubahan APBD 2026, Bantuan Rp 75 Juta Diharapkan Hadirkan Hunian Layak bagi Keluarga Kurang Mampu

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Tinjau Program Bedah Rumah di Jembrana
TINJAU BEDAH RUMAH: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, didampingi Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, meninjau program bedah rumah Pemerintah Provinsi Bali di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, didampingi Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, meninjau program bedah rumah Pemerintah Provinsi Bali di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11).

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah rumah keluarga I Gede Yogi Agus Cahaya di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi hunian penerima manfaat sekaligus memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Wagub Giri Prasta Tinjau Program Bedah Rumah di Jembrana

Program bedah rumah tersebut bersumber dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Bali Tahun Anggaran 2026 dengan nilai bantuan sebesar Rp 75 juta.

Bantuan diperuntukkan bagi pembangunan rumah satu lantai seluas 30 meter persegi yang dilengkapi dua kamar tidur, teras, dan kamar mandi. Pembangunan rumah diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarga penerima manfaat.

Saat meninjau kediaman I Gede Yogi Agus Cahaya, Wagub Giri Prasta mendapati kondisi rumah yang tergolong tidak layak huni. Salah satu kamar tidur juga difungsikan sebagai dapur, sementara atap genteng mengalami kebocoran dan lantai teras masih berupa tanah.

Kondisi sanitasi rumah tersebut juga belum memadai. Kamar mandi mengalami kerusakan berat dan tidak memiliki atap. Selain itu, rumah keluarga tersebut belum terhubung dengan jaringan air bersih PDAM sehingga masih mengandalkan sumur tradisional untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Melihat kondisi tersebut, Wagub Giri Prasta meminta agar pelaksanaan program bedah rumah benar-benar memperhatikan kualitas bangunan, mulai dari konstruksi hingga kelengkapan fasilitas dasar.

Ia menekankan bahwa pembangunan rumah tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik, tetapi juga harus memastikan hunian yang dihasilkan layak ditempati serta mampu memberikan rasa aman, sehat, dan nyaman bagi penghuninya.

Baca Juga  Jalin Kerja Sama Internasional, Tim FP Unud Kunjungi Jepang

I Dewa Ayu Putu Mega Ariantini, istri I Gede Yogi Agus Cahaya, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan bedah rumah yang diterima keluarganya. Ia mewakili suaminya yang saat kunjungan berlangsung masih bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Matur suksma, Bapak Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta, atas bantuan bedah rumahnya. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi keluarga kami,” ungkapnya saat berdialog dengan Wagub Giri Prasta dan Bupati Jembrana.

Dalam kesehariannya, I Dewa Ayu Putu Mega Ariantini bekerja membuat perlengkapan upakara berupa tamas, sedangkan suaminya bekerja serabutan. Keduanya berupaya memenuhi kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi tempat tinggal yang belum layak.

Selain meninjau kondisi rumah, Wagub Giri Prasta juga memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp 500.000 kepada Putu Bagus Andi Yoga Sulung, anak pasangan I Gede Yogi Agus Cahaya dan I Dewa Ayu Putu Mega Ariantini.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk perhatian sekaligus motivasi agar Putu Bagus, yang saat ini duduk di kelas II SD Negeri Banyubiru, terus rajin belajar dan bersemangat menempuh pendidikan.

Melalui program bedah rumah ini, Pemerintah Provinsi Bali berupaya membantu masyarakat yang masih tinggal di hunian tidak layak, sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga penerima manfaat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca