Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Workshop Penanganan Bencana Gunung Api di MFRI Yamanashi Jepang

Pentingnya Komunitas Relawan dalam Penanggulangan Erupsi Gunung Api

Loading

BALIILU Tayang

:

unud
WORKSHOP: Salah seorang Tim Komunitas Relawan Lereng Gunung Agung, Nyoman Sukma Arida (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud) menyampaikan materi saat workshop yang diselenggarakan oleh Mount Fuji Research Institute (MFRI) di lereng Gunung Fuji. (Foto: ist)

Yamanashi, Jepang, baliilu.com – Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung yang terdiri atas Nyoman Sukma Arida (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud), Ketua Pasebaya Agung Gede Pawana, Jennifer Sarah (Koordinator Tim MFRI Indonesia), Dr. Wiwit Suryanto (Wadek 1 Geofisika FMIPA UGM), dan Rizky Tri Septian dari BNPB melakukan kunjungan ke Provinsi Yamanashi di Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023. Salah satu agenda utamanya adalah mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Mount Fuji Research Institute (MFRI) di lereng Gunung Fuji.

Workshop tersebut berlangsung Rabu, 14 Juni 2023 dengan menghadirkan narasumber secara online  dan offline. Dua narasumber memberikan materi secara online yakni Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati dan Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa. Sementara dua orang lainnya hadir secara langsung di Yamanashi. Workshop Penanganan Bencana Gunung Api merupakan bagian dari project yang dibiayai oleh JICA Japan. Kegiatan ini juga merupakan implementasi MoU pihak Unud (yang dimandatkan kepada Fakultas Pariwisata) dengan MFRI yang telah ditandatangani tahun 2022. Saat itu pihak MFRI sempat melakukan audiensi dengan Rektor Unud.

unud
Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung yang terdiri atas Nyoman Sukma Arida (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud), Ketua Pasebaya Agung Gede Pawana, Jennifer Sarah (Koordinator Tim MFRI Indonesia), Dr. Wiwit Suryanto (Wadek 1 Geofisika FMIPA UGM), dan Rizky Tri Septian dari BNPB foto bersama dengan pimpinan Mount Fuji Research Institute (MFRI) saat melakukan kunjungan ke Provinsi Yamanashi di Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023. (Foto: ist)

Presiden MFRI, Prof. Fujii Toshitsugu menekankan pentingnya saling belajar antara dua negara, Indonesia dan Jepang terkait penanganan erupsi dan mitigasi bencana gunungapi. “Ke depan kerja sama ini harus diperkuat lagi pada hal-hal yang lebih strategis,” ucap Prof. Fujii saat memberikan sambutan dalam kegiatan ini.

Project Manager dari MFRI, Dr. Mitsuhiro Yoshimoto, mengharapkan agar kegiatan ini bisa menjadi ajang saling belajar antara masyarakat Yamanashi, Jepang dengan Kabupaten Karangasem dalam melakukan mitigasi bencana erupsi. “Masyarakat sekitar Gunung Fuji harus belajar banyak kepada masyarakat Karangasem karena masyarakat kami 300-an tahun belum pernah mengalami peristiwa erupsi. Dr. Yoshimoto juga menyampaikan bahwa sebelum workshop ini project tersebut juga telah melakukan beberapa pelatihan dan workshop di dua sasaran  beberapa sekolah SD di Kecamatan Rendang dan warga Desa Besakih.

Baca Juga  Berbagi Ilmu Terkait Hepatitis, FK Unud Gelar ‘‘Guest Lecture‘‘ dari Universitas Kobe Jepang

Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, dalam paparannya yang berjudul ‘‘Penanganan Erupsi Gunung Agung 2017‘‘  menyampaikan bahwa kerja sama yang terjalin antara pemerintah dan warga di sekitar Gunung Fuji dan Gunung Agung Bali memiliki arti strategis dalam upaya saling belajar mitigasi erupsi gunung api di kedua negara. Letusan Gunung Agung tahun 2017 memang tidak sedahsyat letusan tahun 1963, namun keberhasilan penanganan. Letusan Agung tanggal 11 November 2017 menunjukkan bahwa dampak letusan terhadap warga relative dapat tertangani dengan baik karena penggunaan teknologi dan kesigapan masyarakat di sekitar lereng Gunung Agung yang bahu-membahu membantu para pengungsi. Pengungsi gunung api di Bali dan Indonesia pada umumnya memiliki karakter yang unik, yakni para kepala keluarga  berada di pengungsian hanya pada malam hari, sementara siangnya mereka kembali ke desanya untuk memberikan makan ternak-ternak mereka.

“Hal yang khas dalam erupsi Gunung Agung tahun 2017 adalah banyaknya hoax yang beredar yang mengedarkan pesan bahwa Gunung Agung akan segera erupsi skala besar. Berita hoax ini menyebar bahkan hingga ke tingkat global sehingga menyebabkan turunnya kedatangan wisatawan ke Bali. Demikian juga wisatawan yang akan datang ke Bali perlu diberikan pemahaman bahwa pada saat sebelum erupsi tidak semua wilayah masuk dalam zone bahaya, sehingga sebetulnya masih aman untuk dikunjungi,” ungkap Raditya Jati.

Sementara Leader Projek AGAA (Astungkara Gunung Agung Aman) Dr. Wiwit Suryanto yang merupakan peneliti vulkanologi dari Program Studi Geofisika Fakultas MIPA UGM memberikan penekanan pada soal penguatan materi vulkanologi kepada masyarakat. Seringkali karena ketidakpahaman warga terkait tingkat kerawanan wilayahnya sehingga memunculkan kepanikan pada saat kejadian erupsi. Misalnya, saat terjadi gempa bumi dan sekaligus erupsi Merapi tahun 2006 di Jogja secara simultan, warga di bagian Selatan lari ke arah Utara karena mengkhawatirkan kejadian tsunami seperti di Aceh tahun 2004. Sementara warga di sebelah Utara di lereng Gunung Merapi berlari ke arah Selatan dan menimbulkan kesimpangsiuran informasi.  “Demikian juga saat erupsi Agung, wisatawan banyak yang kembali ke negaranya padahal berada pada daerah wisata yang sebenarnya masih aman untuk ditinggali karena ada pada radius aman,” ungkap doktor lulusan Jerman tersebut.

Baca Juga  Tingkatkan Kewirausahaan, BEM FMIPA Gelar Workshop Entrepreneur FMIPA 2022

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karangsem menjelaskan bahwa di samping memiliki berbagai potensi SDA dan pariwisata Kabupaten Karangasem juga memiliki banyak ancaman bencana, terutama ancaman erupsi Gunung Agung, tanah longsor dan kekeringan. Kondisi ini menuntut warga masyarakat Kabupaten Karangasem untuk memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam mengantisipasi bencana alam.

Sementara itu Ketua Pasebaya Agung, Dr. (cand) I Gede Pawana, S.Ag., M.Phil membabarkan perihal pengalaman Forum Pasebaya Agung pada saat menangani erupsi Gunung Agung. Menurutnya ada tiga faktor yang membuat keberhasilan penanganan pengungsi saat erupsi Gunung Agung tahun 2017 yaitu; penguatan komunitas, kejelasan informasi, dan ketaatan masyarakat terhadap arahan dari Pemerintah.

Tampil sebagai pembicara terakhir, Nyoman Sukma Arida membahas tentang peluang pariwisata sebagai medium penyampaian pesan-pesan mitigasi. Ia mengemukakan bahwa di kawasan lereng Gunung Agung penting untuk memperkuat pengembangan destinasi wisata yang memberikan wawasan kegunungapian dan mitigasi kepada warga lokal dan wisatawan. “Desa wisata bisa memperkuat  brandingnya dengan mengemas paket wisata ekowisata khususnya berbasis vulkanologi. Muatan pesan mitigasi bisa menjadi salah satu alternative untuk memperkaya story telling desa wisata.”

unud
Tim Komunitas Relawan Lereng Gunung Agung foto bersama di depan kantor Mount Fuji Research Institute (MFRI). (Foto: ist)

Kegiatan workshop ini merupakan salah satu agenda dari kunjungan tim mitra MFRI di Indonesia ke Kawaguchiko, Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023. Selain menjadi narasumber dalam workshop tim berkesempatan melakukan kunjungan ke stasiun 5 pendakian Gunung Fuji untuk mempelajari Gunung Fuji secara detail dan pengelolaan wisata pendakian Gunung Fuji. Selain itu tim mitra MFRI juga berkesempatan mengunjungi Kantor Japan Meterological Agency (JMA) di Tokyo.

Wisata Gunung Fuji dikenal merupakan wisata pendakian gunung yang sangat populer dengan jumlah pengunjung sekitar 5.000 orang pada saat bulan padat pengunjung, meskipun Gunung Fuji hanya dibuka selama tiga bulan per tahun yakni bulan Juni, Juli, dan Agustus. Mereka memberlakukan aturan yang sangat ketat terkait perilaku pengunjung selama melakukan pendakian. Wisatawan tidak diperkenankan mendirikan tenda, membuat api unggun dan membuang sampah sembarangan. Para pendaki juga diwajibkan menggunakan guide yang sudah disediakan untuk menjamin keselamatan para pendaki. Apa yang telah berkembang di Gunung Fuji bisa ditiru polanya agar wisata pendakian di Gunung Agung juga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat lokal sekitar Gunung Agung. (gs/Jubir Unud)

Baca Juga  FH Universitas Mahasaraswati Denpasar Lakukan Revolusi Kurikulum di Era Industri 4.0

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

NEWS

Ibu-ibu PKK Kumpulkan Minyak Jelantah Jadi Avtur, Legislator Apresiasi Terobosan Tersebut

Published

on

By

avtur minyak jelantah
KUNKER: Anggota Komisi XII DPR RI Rokhmat Ardiyan dalam Kunjungan Kerja Masa Reses (Kunres) Komisi XII DPR RI ke Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (23/4/2026). (Foto: dpr.go.id)

Yogyakarta, baliilu.com — Inovasi pengelolaan limbah rumah tangga menjadi energi kembali mendapat perhatian. Minyak jelantah yang dikumpulkan ibu-ibu PKK di Semarang dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini diolah di Kilang Cilacap menjadi bahan bakar pesawat (avtur). Hal ini sebagai bagian dari upaya pemanfaatan limbah sekaligus penguatan ketahanan energi nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, menyebut program tersebut sebagai terobosan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat. “Tadi Bapak GM MOR IV menyampaikan bahwa di Semarang, di MOR IV Semarang, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ada ibu-ibu dari PKK yang mengumpulkan minyak jelantah ini yang diolah di Kilang Cilacap untuk dijadikan avtur,” ujar Rokhmat Ardiyan usai mengikuti Kunjungan Kerja Masa Reses (Kunres) Komisi XII DPR RI ke Kota Yogyakarta, DIY, Kamis (23/4/2026).

Lebih lanjut, Legislator Dapil Jawa Barat ini menegaskan bahwa minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah berbahaya kini memiliki nilai tambah ekonomi setelah diolah menjadi energi baru.

“Ini adalah terobosan yang sangat positif, di mana minyak jelantah atau minyak sampah yang bisa menjadi limbah berbahaya, kini diubah menjadi avtur,” jelasnya.

Menurut Rokhmat, keterlibatan masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu PKK, menjadi bagian penting dalam rantai pasok ekonomi sirkular. Selain mengurangi limbah rumah tangga, program ini juga berpotensi membuka sumber pendapatan baru di tingkat lokal.

Dengan demikian, Politisi Fraksi Partai Gerindra ini juga mendorong Pertamina untuk terus meningkatkan kinerja dalam menjaga ketersediaan energi nasional, termasuk BBM dan LPG. Hal ini guna memperkuat ketahanan energi Indonesia.

“Harapannya Pertamina meningkatkan kinerja, meningkatkan stok BBM dan LPG, sehingga bisa terwujud ketahanan energi, swasembada energi, dan kemandirian energi,” sebutnya.

Baca Juga  CACI Unud Gelar Workshop, Hadirkan Pembicara Luar dan Dalam Negeri

Program pengolahan minyak jelantah menjadi avtur ini dinilai sebagai contoh nyata sinergi antara masyarakat, BUMN, dan pemerintah dalam mendukung transisi energi berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Rakercab Pramuka Buleleng 2026, Fokus Susun Program Adaptif dan Dukung Ketahanan Pangan

Published

on

By

Kwarcab Pramuka Buleleng
RAKERCAB: Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Buleleng menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) di Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng, pada Sabtu (25/4/2026). (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Buleleng menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) di Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng, pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan ini diikuti jajaran pengurus Kwarcab Buleleng, badan kelengkapan, kwartir ranting se-Buleleng, Dewan Kerja Cabang (DKC), serta Dewan Kerja Ranting (DKR).

Ketua Panitia Rakercab, I Dewa Made Susastra Ginata, dalam laporannya menyampaikan bahwa Rakercab menjadi forum penting untuk memperkuat perencanaan organisasi. Evaluasi program kerja sebelumnya dan penyusunan strategi ke depan menjadi fokus utama.

Ia menjelaskan, Rakercab 2026 mengusung tema penguatan Pramuka Buleleng dalam mendukung ketahanan pangan menuju Indonesia Emas. Forum ini juga menjadi ruang untuk merumuskan solusi atas berbagai kendala dalam pelaksanaan program.

Dalam pembahasan, peserta dibagi ke dalam empat komisi. Komisi A membahas kebijakan strategis, pendirian lembaga atau badan usaha, tata kelola aset, serta inovasi kwartir. Komisi B fokus pada program bina muda, binawasa, kesakaan, satuan komunitas, dan gugus darma.

Selanjutnya, Komisi C membahas aspek organisasi dan hukum, rencana penelitian dan pengembangan, serta program usaha, aset, kreativitas, dan inovasi. Sementara Komisi D mengulas bidang pengabdian masyarakat, bela negara, serta kehumasan dan informatika.

Sementara itu Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat, Bela Negara, dan Lingkungan Hidup Kwarda Bali, I Gede Agus Arjawa Tangkas, menekankan pentingnya transformasi organisasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Kita di pramuka ini hampir setiap hari bertemu lewat zoom, WA group, selalu bicara terkait organisasi yang kita cintai ini. Demi eksistensi organisasi ini, dan tetap relevan di kalangan muda, mau tidak mau kita harus merapat mengikuti digitalisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, program kepramukaan ke depan harus mengedepankan prinsip adaptif, kolaboratif, dan responsif. Menurutnya, tantangan seperti persoalan sampah di Bali perlu mendapat perhatian serius dari Gerakan Pramuka.

Baca Juga  Berbagi Ilmu Terkait Hepatitis, FK Unud Gelar ‘‘Guest Lecture‘‘ dari Universitas Kobe Jepang

Selain itu, ia mengingatkan bahwa keterlibatan Pramuka dalam penanganan bencana membutuhkan keterampilan khusus, tidak hanya mengandalkan tenaga dan semangat.

“Karena untuk terjun ke lokasi bencana perlu keterampilan khusus, tidak bisa modal tenaga dan semangat saja, perlu pengetahuan tentang teknik evakuasi,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Tata Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Putu Ariadi Pribadi, menegaskan pentingnya Rakercab sebagai forum evaluasi dan perencanaan. Ia menyebut Rakercab 2026 menjadi wadah untuk mensosialisasikan program kerja tahun 2026 sekaligus merancang program kerja tahun 2027.

“Melalui Rakercab 2026 ini adalah wadah demokrasi mensosialisasikan program kerja 2026 dan merencanakan program kerja Kwarcab Buleleng 2027, serta melaksanakan evaluasi terhadap program kerja yang telah terlaksana,” ujarnya.

Pemerintah berharap Rakercab mampu menghasilkan program yang terukur dan sistematis, serta mampu menjangkau lebih banyak anggota Pramuka di Buleleng.

“Karena kami sangat yakin Pramuka menjadi salah satu organisasi yang sangat ideal untuk membentuk generasi muda yang cakap menuju Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Melalui Rakercab ini, Kwarcab Buleleng didorong menyusun program yang inovatif, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Tanam Mangrove Bersama Jamintel Kejagung dan Kejati Bali, Gubernur Koster Ajak Sinergi Tingkatkan Cakupan Ruang Hijau Bali

Published

on

By

gubernur koster
TANAM MANGROVE: Gubernur Bali Wayan Koster turun langsung menanam mangrove bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung (Kejagung) RI Prof. Reda Manthovani dan Kejaksaan Tinggi Bali di Taman Hutan Raya (Tahura) Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, Sabtu (25/4) pagi. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster turun langsung menanam mangrove bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung (Kejagung) RI Prof. Reda Manthovani dan Kejaksaan Tinggi Bali di Taman Hutan Raya (Tahura) Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, Sabtu (25/4) pagi. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, serta unsur Forkopimda Provinsi Bali.

Gubernur Koster menyampaikan pentingnya mangrove sebagai benteng alami untuk menjaga ekosistem Bali sekaligus memperkuat daya saing pariwisata global. Ia mengungkapkan bahwa cakupan ruang hijau di Bali saat ini masih berada di angka sekitar 20 persen. Pemerintah Provinsi Bali menargetkan peningkatan hingga minimal 30 persen, bahkan mencapai 35 persen dalam empat tahun ke depan.

“Bali tidak hanya membutuhkan ekosistem yang baik, tetapi juga karena Bali adalah destinasi wisata dunia, isu lingkungan menjadi sangat sensitif terhadap keberlanjutan pariwisata,” ujarnya.

Bukan Sekadar Memelihara, Tapi Memuliakan

Koster menekankan bahwa upaya penghijauan di Bali tidak sekadar program lingkungan, tetapi berakar kuat pada kearifan lokal yang diwariskan leluhur, yakni konsep Sad Kerthi. Dalam konteks pelestarian tumbuhan dan hutan, ajaran tersebut dikenal sebagai Wana Kerthi, yang dimaknai sebagai upaya “memuliakan tumbuh-tumbuhan”.

“Bukan sekadar memelihara, tetapi memuliakan. Karena tumbuh-tumbuhan, terutama mangrove, adalah sumber kehidupan manusia penghasil oksigen, sumber pangan, sekaligus penjaga keseimbangan alam,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran strategis mangrove dalam menyerap karbon, memperkuat struktur tanah, serta mencegah abrasi pantai yang terus menggerus daratan Bali, baik di wilayah utara maupun selatan.

Saat ini, luas mangrove di Bali diperkirakan sekitar 1.200 hektare di kawasan Denpasar dan sekitarnya, dan lebih luas jika digabungkan dengan wilayah lain seperti Buleleng dan Jembrana. Namun demikian, Koster menilai luasan tersebut masih perlu terus ditingkatkan untuk menahan laju abrasi.

Baca Juga  Prodi Sarjana Manajemen FEB Unud Gelar ‘’Workshop’’ Pemenangan Kompetisi Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

“Daratan Bali terus berkurang akibat abrasi. Banyak lahan kini hanya tersisa sertifikatnya. Mangrove menjadi solusi penting untuk memperluas dan mempertahankan daratan,” jelasnya.

Koster juga mengaitkan gerakan penghijauan dengan momentum budaya lokal seperti Tumpek Wariga, hari suci dalam kalender Bali yang dikhususkan untuk menghormati tumbuh-tumbuhan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penanaman tidak harus menunggu hari tersebut, melainkan menjadikannya sebagai spirit berkelanjutan.

Selain penanaman mangrove, kegiatan ini juga diisi dengan pelepasan puluhan burung seperti cerucuk, kuntul, dan koak sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem.

Jamintel Reda Manthovani Puji Kekompakan Era Kepemimpinan Gubernur Koster

Sementara itu, Reda Manthovani menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan pemerintah dan masyarakat Bali dalam menjaga lingkungan di bawah kepemimpinan Gubernur Koster.

“Menanam mangrove bukan hanya memulihkan alam, tetapi juga membentuk karakter diri. Apa yang kita lakukan hari ini akan tertanam dalam memori kita untuk terus menjaga lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain dan memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam, sebagaimana nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur Bali.

Dalam kegiatan ini, sebanyak 2.000 bibit mangrove jenis Rhizophora diserahkan secara simbolis kepada komunitas pecinta mangrove di Bali, seperti Mangrove Care Forum, Simbar Segara, dan Mangrove Ranger. Dari jumlah tersebut, 200 bibit ditanam langsung oleh para peserta yang hadir.

Harap Rutinitas Tanam Mangrove Diikuti Instansi Pemerintah dan Swasta Lain di Bali

Koster berharap inisiatif yang digagas Kejaksaan Tinggi Bali ini dapat diikuti oleh berbagai instansi, baik pemerintah daerah maupun vertikal, guna mempercepat pencapaian target luasan hutan dan ruang hijau di Bali.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga masa depan Bali ekosistem yang sehat akan mengangkat citra pariwisata kita secara langsung,” pungkasnya. (gs/bi)

Baca Juga  Tingkatkan Kewirausahaan, BEM FMIPA Gelar Workshop Entrepreneur FMIPA 2022

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca