Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Mengintip Peserta Karantina di Bapelkesmas Biaung, Dibikin Bahagia dengan Akses Kebebasan yang Terukur

BALIILU Tayang

:

de
UPTD BAPELKESMAS PROVINSI BALI, Peserta karantina dibikin bahagia.

KETIKA diputuskan masuk karantina, bisa saja peserta akan merasa ragu. Namun siapa yang menduga selama di dalam karantina mereka diperlakukan di luar dari bayangan menakutkan. Seizin Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, balilu.com dengan alat pelindung diri lengkap mengintip bagaimana Gugas Bali yang melibatkan tim medis bersinergi dengan TNI, Polri, Satpol PP dll memperlakukan peserta karantina di Bapelkesmas Provinsi Bali di Biaung Denpasar.

Dari beberapa kali mengikuti peninjauan Ketua Harian GTPP Covid-19 di beberapa karantina termasuk di Bapelkesmas dan dari perbincangan dengan salah satu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Bapelkesmas Ni Made Parwati, SKM, M Kes yang didampingi koordinator perawat Gde Wardana,  peserta karantina ketika menginjakkan kaki di Bapelkesmas diberikan akses yang luas namun terukur. Karena, walaupun terpapar virus Corona, mereka tidak menunjukkan gejala sakit.

Menurut Parwati, peserta karantina diberikan akses luas, diberikan kamar dengan fasilitas hotel bintang 2. Mereka diberikan keluar sehalaman yang sudah ditentukan. Berbeda dengan di rumah sakit hanya di dalam kamar. Peserta karantina bisa keluar mengobrol, bersenda gurau sesama ”pasien” dengan jarak yang sesuai dengan protokol kesehatan. Mereka bisa berjemur menikmati matahari pagi dan jogging di halaman yang sudah disiapkan yang tujuannya agar mereka selalu bahagia.

Dalam suasana bathin yang bahagia, tutur Parwati yang juga PPTK Pengadaan Barang dan Jasa pada Kegiatan Percepatan Penanganan Covid-19 ini, peserta karantina diberikan suplemen multivitamin terutama vitamin C dosis tinggi. Makanan dengan tinggi kalori dan tinggi protein 3 kali sehari dengan snack dua kali. Juga ada suplemen Madu Kele yang diberikan dua kali sehari 10 CC pagi dan siang.

Baca Juga  Ny. IA Selly Mantra Hadiri Gebyar Pasar Minggu, Bantu Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19

Kemudian juga ada konsultasi psikologis yang disebut dengan trauma healing yang diberikan oleh tim dari rumah sakit jiwa dan psikologi Unud. Konsultasi psikologis ini sesuai dengan keperluan mereka. ”Jika mulai bosan, ada masalah dengan keluarga, ada kerinduan, atau hasilnya belum negatif meski sudah lama dikarantina maka diperlukan konseling yang akan dirujuk oleh perawat. Konseling diberikan secara online karena konsepnya minimal kontak dan dijadwalkan secara tetap. Namun ada juga beberapa yang hadir langsung jika konseling dilaksanakan secara umum.

Dalam sehari tim dari Dinas Kesehatan, BPBD, TNI melakukan disinfeksi ke seluruh ruangan dua kali sehari sesuai standar karantina.

Bapelkesmas juga memperhatikan aspek spiritual. Setiap pagi disiapkan canang untuk sembahyang. Peserta karantina juga bisa akses ke padmasana. ”Jika Bapak Gubernur atau Pak Kepala Dinas Kesehatan Bali tangkil di pura-pura, selalu menitipkan tirta untuk para peserta yang kemudian peserta disiratin sesuai protokol kesehatan,” terang ibu yang sedang menempuh pendidikan S3-nya di FK Unud ini seraya menambahkan umat yang lain juga disiapkan tempat peribadatan.

Secara rinci disebutkan Parwati, perlakuan peserta karantina pada pukul 07.00 Wita peserta sudah mendapat pemeriksaan cek suhu tubuh dan cek tanda-tanda vital termasuk menanyakan keluhan. Di sana peserta dan perawat bisa diskusi tentang masalah apa yang mau ditanyakan. Perawat juga memberikan masker setiap pagi. Sehari mendapat dua masker bedah yang harus selalu terpakai.

Di sana perawat memberikan pendidikan tentang kesehatan, bagaimana Covid, bagaimana caranya menjaga kesehatan, menjaga imunitas, mempertahankan biar tidak tertular.

Peserta bebas mengambil sarapan pagi. Ada yang olah raga mandiri dulu yang dituntun lewat wa call link yutube. Pagi-pagi peserta mendapat asupan madu kele dan vitamin. Jam 10.00 Wita pengambilan sampel swab. Siangnya mereka berjemur dan jam 11.00 Wita mendapat snack.

Baca Juga  Satgas Banjar Gaduh Sesetan: Melanggar PKM Kena Sanki Administratif dan Adat

Parwati mengatakan kebersihan ruangan konsepnya asrama. Untuk mengganti spray dll bukan dilakukan oleh customer service tetapi mereka sendiri yang mengganti spraynya, menjaga kebersihan ruangannya sendiri. Jadi bukan seperti hotel yang digantikan oleh CS. Kamar itu miliknya sendiri dengan alat-alat yang sudah disediakan. Tujuannya untuk meminimalkan kontak dan meminimalkan tidak banyak menggunakan CS. Dengan harapan, mereka merasa memiliki dan ada rasa kebanggaan telah melakukan sesuatu.

Siang pukul 12.30-an makan siang dan pemberian madu kele lagi. Pemberian madu diawasi di depan perawat. Hal ini untuk memastikan vitamin yang dikasi diminum, dan madu dikonsumsi dengan baik. Ada trisandya yang dihidupkan tiga kali sehari. Siangnya kembali olahraga rileks di halaman belakang.

Sore hari perawat menghubungi peserta lewat wa call menanyakan tentang keluhaan, ngobrol ngalor ngidul tentang masa lalunya dll. Yang mau bercanda diajak bercanda. Anak-anak misalnya diajak main tebak-tebakan via wa call. Setelah itu mereka makan dan saat itulah diumunkan hasil swab-PCR, serta ada pesan-pesan untuk esok hari apakah besok dicek lab lagi dll.

Sedangkan mereka tidur tergantung polanya sendiri. Bagi peserta yang positif, setiap 3 hari dicek swab-PCR, jika hasilnya negatif maka besoknya dicek lagi. Jika hasilnya masih negatif (dua kali negatif) maka baru diizinkan pulang. Karena di dalam tubuh mereka sudah tidak ada virus artinya sudah tidak menularkan.

Karena itu, kata Parwati, tidak ada alasan masyarakat untuk menolaknya karena sudah tidak menularkan virus. Justru yang menolak itu malah tidak ditest. Masyarakat yang menolak belum tentu sudah tes swab, dan bisa juga sudah terpapar.

Peserta karantina yang sudah dinyatakan sembuh harus dikawal oleh teman-teman yang ada di masyarakat agar jangan sampai mereka ditolak. Peserta yang sudah sembuh dan pulang dari karantina juga bisa tertular lagi kalau tidak disiplin. Karena itu, mereka di karantina diberikan pengetahuan dan kebiasaan untuk disiplin yang bisa dibawa pulang dan dia bisa memberitahukan kepada keluarganya bagaimana caranya biar tidak tertular.

Baca Juga  Jelang Pembukaan Pariwisata Internasional, Dispar Bali Lakukan Verifikasi Online

Karena mereka sudah memiliki kekebalan secara alami, dia bisa tertular walaupuan nanti sakitnya tidak akan parah karena sudah memiliki kekebalan. Imun tubuhnya sudah pernah latihan. Kalau kena tidak akan parah.

Menurut Parwati yang sehari-hari mengurus keperluan di karantina ini, ia ingin ikut bersumbangsih dalam menyelesaikan kesehatan masyarakat. Ini lebih dari panggilan kemanusiaan. Kita akan senang melihat mereka datang dengan positif dan pulang dengan negatif serta memiliki pengetahuan dan sikap yang bagus.

Ia berharap, peserta karantina menjadi semacam kader karena sudah menjalani langsung. Kita sudah menanamkan bahwa memilih dikarantina justru menyelamatkan keluarga dan warga setempat. Jadi ini bukan mengasingkan tetapi justru melakukan kunjungan ke sini karena sangat sadar ingin melindungi keluarga dan warga masyarakat. Jika demikian, maka apa yang dijalaninya akan terasa menyenangkan. (gs)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Serahkan Bantuan Sembako pada Kelompok Nelayan, Ny. Putri Koster Ajak tetap Disiplin Ikuti Protokol Kesehatan

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Pangdam IX/Udayana Mayjen Benny Susianto Berpamitan, Gubernur Koster Harap Sumbangan Pemikiran Kemajuan Bali

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Apresiasi BIN dan Kalangan Media, Wagub Cok Ace Tegaskan Kesehatan adalah Prioritas Utama dalam Pemulihan Ekonomi Bali

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca