KETIKA diputuskan masuk karantina, bisa saja peserta akan merasa ragu. Namun siapa yang menduga selama di dalam karantina mereka diperlakukan di luar dari bayangan menakutkan. Seizin Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, balilu.com dengan alat pelindung diri lengkap mengintip bagaimana Gugas Bali yang melibatkan tim medis bersinergi dengan TNI, Polri, Satpol PP dll memperlakukan peserta karantina di Bapelkesmas Provinsi Bali di Biaung Denpasar.
Dari beberapa kali mengikuti peninjauan Ketua Harian GTPP Covid-19 di beberapa karantina termasuk di Bapelkesmas dan dari perbincangan dengan salah satu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Bapelkesmas Ni Made Parwati, SKM, M Kes yang didampingi koordinator perawat Gde Wardana, peserta karantina ketika menginjakkan kaki di Bapelkesmas diberikan akses yang luas namun terukur. Karena, walaupun terpapar virus Corona, mereka tidak menunjukkan gejala sakit.
Menurut Parwati, peserta karantina diberikan akses luas, diberikan kamar dengan fasilitas hotel bintang 2. Mereka diberikan keluar sehalaman yang sudah ditentukan. Berbeda dengan di rumah sakit hanya di dalam kamar. Peserta karantina bisa keluar mengobrol, bersenda gurau sesama ”pasien” dengan jarak yang sesuai dengan protokol kesehatan. Mereka bisa berjemur menikmati matahari pagi dan jogging di halaman yang sudah disiapkan yang tujuannya agar mereka selalu bahagia.
Dalam suasana bathin yang bahagia, tutur Parwati yang juga PPTK Pengadaan Barang dan Jasa pada Kegiatan Percepatan Penanganan Covid-19 ini, peserta karantina diberikan suplemen multivitamin terutama vitamin C dosis tinggi. Makanan dengan tinggi kalori dan tinggi protein 3 kali sehari dengan snack dua kali. Juga ada suplemen Madu Kele yang diberikan dua kali sehari 10 CC pagi dan siang.
Kemudian juga ada konsultasi psikologis yang disebut dengan trauma healing yang diberikan oleh tim dari rumah sakit jiwa dan psikologi Unud. Konsultasi psikologis ini sesuai dengan keperluan mereka. ”Jika mulai bosan, ada masalah dengan keluarga, ada kerinduan, atau hasilnya belum negatif meski sudah lama dikarantina maka diperlukan konseling yang akan dirujuk oleh perawat. Konseling diberikan secara online karena konsepnya minimal kontak dan dijadwalkan secara tetap. Namun ada juga beberapa yang hadir langsung jika konseling dilaksanakan secara umum.
Dalam sehari tim dari Dinas Kesehatan, BPBD, TNI melakukan
disinfeksi ke seluruh ruangan dua kali sehari sesuai standar karantina.
Bapelkesmas juga memperhatikan aspek spiritual. Setiap pagi disiapkan canang untuk sembahyang. Peserta karantina juga bisa akses ke padmasana. ”Jika Bapak Gubernur atau Pak Kepala Dinas Kesehatan Bali tangkil di pura-pura, selalu menitipkan tirta untuk para peserta yang kemudian peserta disiratin sesuai protokol kesehatan,” terang ibu yang sedang menempuh pendidikan S3-nya di FK Unud ini seraya menambahkan umat yang lain juga disiapkan tempat peribadatan.
Secara rinci disebutkan Parwati, perlakuan peserta karantina pada pukul 07.00 Wita peserta sudah mendapat pemeriksaan cek suhu tubuh dan cek tanda-tanda vital termasuk menanyakan keluhan. Di sana peserta dan perawat bisa diskusi tentang masalah apa yang mau ditanyakan. Perawat juga memberikan masker setiap pagi. Sehari mendapat dua masker bedah yang harus selalu terpakai.
Di sana perawat memberikan pendidikan tentang kesehatan,
bagaimana Covid, bagaimana caranya menjaga kesehatan, menjaga imunitas,
mempertahankan biar tidak tertular.
Peserta bebas mengambil sarapan pagi. Ada yang olah raga mandiri
dulu yang dituntun lewat wa call link yutube. Pagi-pagi peserta mendapat asupan
madu kele dan vitamin. Jam 10.00 Wita pengambilan sampel swab. Siangnya mereka
berjemur dan jam 11.00 Wita mendapat snack.
Parwati mengatakan kebersihan ruangan konsepnya asrama. Untuk mengganti spray dll bukan dilakukan oleh customer service tetapi mereka sendiri yang mengganti spraynya, menjaga kebersihan ruangannya sendiri. Jadi bukan seperti hotel yang digantikan oleh CS. Kamar itu miliknya sendiri dengan alat-alat yang sudah disediakan. Tujuannya untuk meminimalkan kontak dan meminimalkan tidak banyak menggunakan CS. Dengan harapan, mereka merasa memiliki dan ada rasa kebanggaan telah melakukan sesuatu.
Siang pukul 12.30-an makan siang dan pemberian madu kele
lagi. Pemberian madu diawasi di depan perawat. Hal ini untuk memastikan vitamin
yang dikasi diminum, dan madu dikonsumsi dengan baik. Ada trisandya yang dihidupkan
tiga kali sehari. Siangnya kembali olahraga rileks di halaman belakang.
Sore hari perawat menghubungi peserta lewat wa call
menanyakan tentang keluhaan, ngobrol ngalor ngidul tentang masa lalunya dll. Yang
mau bercanda diajak bercanda. Anak-anak misalnya diajak main tebak-tebakan via
wa call. Setelah itu mereka makan dan saat itulah diumunkan hasil swab-PCR, serta
ada pesan-pesan untuk esok hari apakah besok dicek lab lagi dll.
Sedangkan mereka tidur tergantung polanya sendiri. Bagi
peserta yang positif, setiap 3 hari dicek swab-PCR, jika hasilnya negatif maka besoknya
dicek lagi. Jika hasilnya masih negatif (dua kali negatif) maka baru diizinkan
pulang. Karena di dalam tubuh mereka sudah tidak ada virus artinya sudah tidak menularkan.
Karena itu, kata Parwati, tidak ada alasan masyarakat untuk menolaknya karena sudah tidak menularkan virus. Justru yang menolak itu malah tidak ditest. Masyarakat yang menolak belum tentu sudah tes swab, dan bisa juga sudah terpapar.
Peserta karantina yang sudah dinyatakan sembuh harus dikawal
oleh teman-teman yang ada di masyarakat agar jangan sampai mereka ditolak. Peserta
yang sudah sembuh dan pulang dari karantina juga bisa tertular lagi kalau tidak
disiplin. Karena itu, mereka di karantina diberikan pengetahuan dan kebiasaan
untuk disiplin yang bisa dibawa pulang dan dia bisa memberitahukan kepada
keluarganya bagaimana caranya biar tidak tertular.
Karena mereka sudah memiliki kekebalan secara alami, dia
bisa tertular walaupuan nanti sakitnya tidak akan parah karena sudah memiliki
kekebalan. Imun tubuhnya sudah pernah latihan. Kalau kena tidak akan parah.
Menurut Parwati yang sehari-hari mengurus keperluan di karantina ini, ia ingin ikut bersumbangsih dalam menyelesaikan kesehatan masyarakat. Ini lebih dari panggilan kemanusiaan. Kita akan senang melihat mereka datang dengan positif dan pulang dengan negatif serta memiliki pengetahuan dan sikap yang bagus.
Ia berharap, peserta karantina menjadi semacam kader karena
sudah menjalani langsung. Kita sudah menanamkan bahwa memilih dikarantina justru
menyelamatkan keluarga dan warga setempat. Jadi ini bukan mengasingkan tetapi
justru melakukan kunjungan ke sini karena sangat sadar ingin melindungi
keluarga dan warga masyarakat. Jika demikian, maka apa yang dijalaninya akan terasa
menyenangkan. (gs)