Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho didampingi Ketua Dekranasda Gianyar dan Sekda Gianyar membeli kain tenun endek Bali dengan pembayaran menggunakan QRIS. (Foto: gs)
Gianyar, baliilu.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyampaikan Bank Indonesia mengapresiasi dan berterima kasih kepada Bupati Gianyar, Ketua Dekranasda Gianyar dan Komunitas Ekonomi Kreatif Gianyar yang terus mendukung transformasi digitalisasi di Kabupaten Gianyar.
‘’Pengalaman kami di Bank Indonesia sejak pandemi Covid-19, tidak ada cara lain buat UMKM wajib mengenal digital. Apalagi wanita, jadi jika tak mengenal digital di jaman Covid-19 ini akan kesulitan. Bill Gates pernah mengatakan kalau anda punya usaha tidak mengenal internet hanyalah masalah waktu perusahaan anda akan tutup. Oleh karena itu harus mengenal digital,’’ terang Trisno Nugroho saat memberikan sambutan pada acara Digital Womenpreneurship, yang dirangkaikan dengan talkshow, fashion show dan pameran UMKM di Puri Maharani Villas Gianyar Bali, Kamis, 28 April 2022.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho. (Foto: gs)
Hadir pada kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini 2022 ini, Bupati yang diwakili Sekda Gianyar, Ketua Dekranasda Gianyar, para pimpinan OPD terkait, Bank BPD Bali dan Cabang Gianyar dan Komunitas Ekonomi Kreatif Gianyar.
Trisno Nugroho lanjut mengatakan, jumlah penduduk Bali hanya 4,3 juta. Ketika pandemi Covid-19, ada 16 juta wisatawan yang datang ke Bali hilang. Salah satu cara untuk mengenalkan produk UMKM dengan menggunakan internet. ‘’Maka semua UMKM di Gianyar wajib mengenal internet, mengenal market place, wajib punya QRIS,’’ kata Trisno Nugroho.
Trisno menyontohkan pengalaman Bli Komang asal Songan Bangli yang dikenal luas di dunia karena menggunakan internet seperti Instagram, Twitter, FB dll sehingga diundang oleh Kedutaan Besar Indonesia di London berbicara tentang kopi Bali.
‘’Saya kira Gianyar luar biasa, banyak sekali handikrafnya, hasil kriyanya, saya kira wajib mengenal internet, karena kita tak hanya bisa menjual di Bali harus ke Jawa, ke luar negeri. Dan seiring dengan perkembangan digitalisasi di sektor UMKM, peluang wanita sebagai bagian usaha digital semakin terbuka lebar,’’ ucap Trisno.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho foto bersama Ketua Dekranasda Gianyar, Sekda Gianyar, pimpinan OPD terkait, Komunitas Ekonomi Kreatif dan model. (Foto: gs)
Quick Response Code Indonesian Standard atau akrab disebut QRIS menjadi salah satu tren yang paling diminati dengan jumlahnya yang terus naik. Saat ini tercatat 444.551 merchent UMKM di Bali menggunakan QRIS. Denpasar hampir 50 persen UMKM menggunakan QRIS, di Badung 27 persen, sedangkan Gianyar baru 10 persen. ‘’Gianyar sangat banyak UMKM-nya, saya yakin di Gianyar banyak potensi menggunakan QRIS. Kalau kenal QRIS maka akan kenal mobil banking, akan kenal internet banking, market place,’’ ujarnya seraya mengatakan dulu pernah mengatakan cepat atau lambat wajib digital. Sekarang saya ubah, cepat-cepatah mengenal digital tidak boleh terlambat. Jadi ini ada bank BPD silakan buka rekening.
Dikatakan, PDRB Bali atau pertumbuhan ekonomi Bali hampir 83 persen kontribusi dari UMKM. Dan Bank Indonesia selalu mendorong UMKM untuk melakukan transformasi digitalisasi melalui latihan, on boarding, baik melalui zoom meeting atau lewat YouTube. Saat ini BI Bali memiliki 34 UMKM binaan yang pembinaannya mulai dari hulu, bantuan teknis, cara corporasinya, marketingnya hingga mandiri dan lepas dengan BI.
Trisno mengatakan QRIS yang dilaunching oleh Gubernur Bank Indonesia 17 Agustus 2019 ini memiliki keunggulan yang cemumuah yakni sangat cepat, mudah, umum, aman dan handal. Semakin banyak menggunakan QRIS maka transformasi digital akan semakin massif dan tentunya akan mendorong geliat ekonomi Provinsi Bali. ‘’Saya berpesan, jangan takut untuk mulai transformasi digital yang dimulai dari hal yang kecil,’’ ucapnya.
Trisno Nugroho pun optimis Gianyar akan bisa di-QRIS-kan seperti yang dikatakan Sekda Gianyar dalam sambutannya akan segera rapat TP2DD untuk mengevaluasi dan mengeluarkan surat imbauan, permintaan menggunakan pembayaran QRIS. ‘’Saya kira Gianyar akan saya tunggu, setiap bulan akan kami pantau,’’ ujarnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho foto bersama para wanita Komunitas Ekonomi Kreatif Gianyar. (Foto: gs)
Sementara itu, Ketua Dekranasda Gianyar Ny. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra usai acara mengatakan terkait dengan market digital yang baru 10 persen QRIS di Gianyar, memang selama ini sudah melakukan sosialisasi pendekatan kepada pelaku usaha dan ini membutuhkan proses.
‘’Tentunya saya selaku Ketua Dekranasda memfasilitasi UMKM untuk menggenjot kembali dengan OPD terkait. Di sini ada dinas koperasi, perindustrian dan perdagangan termasuk publik lainnya yang memungkinkan menggunakan QRIS,’’ ujarnya.
Ia mengakui, bahwa dengan menggunakan QRIS pembayaraan nontunai jauh lebih aman mudah dan cepat serta tak perlu membawa uang kemana-mana. Dan bagi UMKM pun merasa aman karena uangnya langsung tersimpan. ‘’Mudah-mudahan saya bisa memenuhi target yang disampaikan Bapak Kepala BI,’’ ucapnya.
Di akhir acara, Trisno Nugroho didampingi Ketua Dekranasda Gianyar dan Sekda Gianyar meninjau pameran UMKM dan membeli beberapa hasil tenun ikat endek Bali dengan pembayaran menggunakan QRIS. (gs/bi)
Infografis indeks penjualan riil Provinsi Bali bulan Agustus 2026. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran Bali tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang berada pada level 128,6 dan meningkat 1,7% (mtm), sekaligus mempertahankan level optimis (indeks >100). Peningkatan kinerja tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pada kategori sandang sebesar 7,9% (mtm), kategori makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9% (mtm), serta kategori barang budaya dan rekreasi sebesar 3,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya permintaan ritel pada periode libur sekolah serta meningkatnya aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode peak season. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat. Di sisi lain, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kondisi ini mendorong terjaganya daya beli masyarakat. Selain itu, aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan pada Juli-September 2026 turut mendorong permintaan barang dan jasa serta menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengungkapkan bahwa kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Agustus 2026 yang diprakirakan berada pada level 129,2, atau meningkat 0,5% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori. Perkembangan tersebut terutama didukung oleh berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode peak season, meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Hari Kemerdekaan RI, serta tingginya kegiatan sosial dan adat yang mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.
Sementara itu, Achris Sarwani menegaskan bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 dan Januari 2027 masing-masing sebesar 198 dan 200. Meskipun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45% (yoy) masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Kondisi tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh.
Optimisme pelaku usaha tetap terjaga meskipun mengalami moderasi dibandingkan survei sebelumnya. Hal tersebut tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang masih berada pada level optimis (indeks >100), baik untuk tiga bulan maupun enam bulan mendatang. IEP enam bulan mendatang (Januari 2027) lebih rendah menjadi 188 dari 198 pada survei sebelumnya.
Sementara itu, Achris Sarwani menyampaikan bahwa IEP tiga bulan mendatang (Oktober 2026) tercatat sebesar 180, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 184. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86% (yoy).
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi daerah. (gs/bi)
Infografis indeks keyakinan konsumen di Provinsi Bali. (Foto; Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada Agustus 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada pada level optimis sebesar 123,1 (indeks >100), serta lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 118,5. Sejalan dengan proses normalisasi aktivitas ekonomi pasca periode libur sekolah dan tingginya basis keyakinan pada bulan sebelumnya, IKK Bali mengalami penyesuaian terbatas dari 126,3 pada Juli 2026 menjadi 123,8 pada Agustus 2026. Optimisme konsumen tetap terjaga terutama pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran lebih dari Rp 8 juta, Rp 6-7 juta, dan Rp 3-4 juta per bulan.
Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (128,3) dan sektor informal (116,8). Optimisme yang terjaga didukung oleh membaiknya kinerja pariwisata dan tetap kuatnya aktivitas sektor jasa.
Lebih detail, penurunan IKK pada periode Agustus 2026 turut dipengaruhi oleh penurunan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan dari 122,3 pada Juli 2026 menjadi 118,0 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 3,5% (mtm). Penurunan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (124,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (101,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan dari 130,3 pada Juli 2026 menjadi 128,2 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 1,7% (mtm). Penurunan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,0), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (129,5) dan perkiraan kegiatan usaha (128,0).
Kepala kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa meskipun mengalami penyesuaian, tingkat keyakinan konsumen Bali masih berada pada zona optimis. Perkembangan tersebut mencerminkan proses normalisasi pasca periode libur sekolah dan tingginya aktivitas konsumsi pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, masyarakat tetap menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan seiring dengan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa yang menjadi penggerak utama perekonomian Bali.
Tetap terjaganya optimisme konsumen juga sejalan dengan berbagai indikator ekonomi Bali yang masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas pariwisata yang memasuki periode peak season pada Juli-September 2026 turut mendorong peningkatan mobilitas wisatawan dan permintaan barang serta jasa di Bali. Di sisi lain, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,45% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadi faktor penopang keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian Bali ke depan.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, TP2ED, TPID, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perekonomian global, sinergi tersebut diharapkan dapat menjaga optimisme masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi Bali ke depan. (gs/bi)
Infografis inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026. (Foto: ist)
Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 September 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm), berbeda arah dibandingkan bulan Juli yang mengalami deflasi sebesar 0,51% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali terutama didorong oleh masuknya peak season pariwisata yang meningkatkan permintaan tiket pesawat dan bahan pangan seperti daging ayam ras di tengah permintaan yang tinggi dari penyelenggaraan pernikahan, upacara adat dan ngaben, serta normalisasi permintaan MBG pasca libur sekolah.
Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,42% (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,45% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19% namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.
Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026 yakni Kabupaten Buleleng dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12% (mtm) atau 3,61% (yoy). Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,65% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,64% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,35% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,86% (yoy), dan selanjutnya kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,33% (mtm) atau inflasi tahunan 3,59% (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis Rabu (2/9/2026) mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Agustus 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, dan baju kaos tanpa kerah/t-shirt pria.
Achris Sarwani lanjut menyampaikan Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain berlanjutnya permintaan barang dan jasa yang tinggi pada periode peak wisatawan mancanegara (Juli – September), berlanjutnya musim kemarau panjang disertai El Nino kuat yang memengaruhi produksi pertanian, serta tetap tingginya biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.
Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, sebut Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)