Denpasar, baliilu.com – Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar bekerja sama dengan Fakultas MIPA Universitas Udayana melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Informasi dan Teknologi (IT) bagi 35 orang pengurus koperasi, pengawas koperasi, dan penggiat UMKM di wilayah Kota Denpasar yang dilaksanakan di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana.
Kegiatan selama 3 hari dari Senin, 9 Mei 2022 – Rabu, 11 Mei 2022 ini dihadiri oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Madya Denpasar Dr. I Dewa Made Agung, S.E., M.Si. dan kepala-kepala bidang di dinas tersebut, Dekan FMIPA Dra. Ni Luh Watiniasih, M.Sc., Ph.D., Koordinator Program Studi informatika, Dr. I Ketut Gede Suhartana, S.Kom., M.Kom., mahasiswa dan peserta Bimtek.
Peserta Bimtek IT FMIPA Unud. (Foto: Ist)
Turut hadir narasumber Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali I Wayan Ekadina, S.E., M.Si., mantan Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si., Kadek Puja Astawa, S.E. (Content Creator), Andi Yuda Prayoga (Senior Agency Manager – Chubb), Ni Nyoman Pudak Sari (Certified Digital Marketer), Ida Bagus Gede Dwidasmara, S.Kom., M.Cs (Dosen Informatika Unud), serta perwakilan dari Bank BPD Bali.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya mendukung program transformasi teknologi bagi koperasi dan UMKM di wilayah Denpasar, sehingga mampu memenangkan persaingan di era industri 4.0 dan society 5.0. Seperti diketahui perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan masif harus diimbangi dengan penguasaan dan penggunaan teknologi itu sendiri. Penguasaan teknologi seperti internet, website, dan sosial media sebagai salah satu media digital marketing diharapkan mampu meningkatkan kinerja soko guru yang berimbas pada meningkatnya kemampuan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam sambutannya, Dekan FMIPA menyampaikan bahwa kerja sama yang dibangun antara Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar dan FMIPA Universitas Udayana merupakan salah satu upaya bagaimana universitas mampu berkontribusi kepada masyarakat. Informatika sebagai salah satu program studi di FMIPA tentunya akan menjadi garda terdepat dalam percepatan program transformasi teknologi utamanya teknologi informasi yang juga merupakan program kerja dari pimpinan daerah. Informatika bukanlah ilmu yang baru, namun informatika merupakan salah satu ilmu yang memiliki kecepatan perkembangan yang sangat tinggi. ‘’Untuk itu sangatlah tepat jika potensi-potensi muda di bidang informatika dilibatkan dalam memperkuat segala aspek di masyarakat khususnya aspek teknologi informasi,’’ ujar Dekan.
Narasumber dan peserta Bimtek IT foto bersama. (Foto: Ist)
Dikatakan, sejak berdiri tahun 2006 dalam upaya menyikapi kebutuhan masyarakat akan program studi bidang komputer/informatika, FMIPA sangat fokus pada perkembangan terkini. FMIPA juga mendorong civitas informatika untuk selalu berada di urutan terdepan dalam urusan teknologi informasi. Watiniasih berharap apa yang dilaksanakan selama 3 hari ini dapat memberi banyak hal kepada pengelola koperasi dan UMKM di Kota Denpasar. Ia berharap pula apa yang diterima dalam Bimtek ini agar bisa disebarluaskan kepada masyarakat lain yang membutuhkan.
Sebagai akhir kata Watiniasih mengucapakan banyak terima kasih atas kerja sama yang telah dilaksanakan antara Dinas Koperasi dan UMKM dengan FMIPA Unud, semoga kerja sama ini dapat terus dilaksanakan dalam berbagai kegiatan yang tidak kalah menarik dan pentingnya. Tidak lupa Watiniasih juga mengucapkan terima kasih kepada panitia yang digawangi I Gede Santi Astawa, S.T., M.Cs atas kerja kerasnya dalam menyelenggarakan kegiatan ini.
Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari ini berisi berbagai materi menarik diantaranya adalah ‘’Kebijakan Transformasi Digital Koperasi’’ oleh Kepala Dinas Koperasi Kota Denpasar I Wayan Ekadina, SE., M.Si., ‘’Memahami Fenomena Disrupsi’’ oleh Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E. M.Si., ‘’Bangun Brand dengan Video, Praktik Membuat Video Promosi’’ oleh Kadek Puja Astawa, S.E., ‘’Memfungsikan Website sebagai Media Pemasaran Digital oleh Andi Yuda Prayoga, ‘’Memfungsikan Media Sosial sebagai Digital Marketing’’ oleh Ni Nyoman Pudak Sari, ‘’Digital Marketing Koperasi’’ oleh Ida Bagus Gede Dwidasmara, S.Kom, M.Cs. , ‘’Edukasi Transaksi Nontunai’’ oleh Bank BPD Bali, dan ‘’Menyusun Rencana, Tindak Lanjut, dan Implementasi’’ oleh Andi Yuda Prayoga dan Ni Nyoman Pudak Sari. Setelah pelaksananan Bimtek ini diharapkan koperasi dapat bertransformasi ke era digital. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas1000-FMIPA-Universitas-Udayana-beserta-Dinas-Koperasi-dan-UMKM-Kota-Denpasar-gelar-Bimtek-IT.html(gs/bi)
Infografis indeks penjualan riil Provinsi Bali bulan Agustus 2026. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran Bali tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang berada pada level 128,6 dan meningkat 1,7% (mtm), sekaligus mempertahankan level optimis (indeks >100). Peningkatan kinerja tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pada kategori sandang sebesar 7,9% (mtm), kategori makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9% (mtm), serta kategori barang budaya dan rekreasi sebesar 3,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya permintaan ritel pada periode libur sekolah serta meningkatnya aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode peak season. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat. Di sisi lain, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kondisi ini mendorong terjaganya daya beli masyarakat. Selain itu, aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan pada Juli-September 2026 turut mendorong permintaan barang dan jasa serta menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengungkapkan bahwa kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Agustus 2026 yang diprakirakan berada pada level 129,2, atau meningkat 0,5% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori. Perkembangan tersebut terutama didukung oleh berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode peak season, meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Hari Kemerdekaan RI, serta tingginya kegiatan sosial dan adat yang mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.
Sementara itu, Achris Sarwani menegaskan bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 dan Januari 2027 masing-masing sebesar 198 dan 200. Meskipun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45% (yoy) masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Kondisi tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh.
Optimisme pelaku usaha tetap terjaga meskipun mengalami moderasi dibandingkan survei sebelumnya. Hal tersebut tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang masih berada pada level optimis (indeks >100), baik untuk tiga bulan maupun enam bulan mendatang. IEP enam bulan mendatang (Januari 2027) lebih rendah menjadi 188 dari 198 pada survei sebelumnya.
Sementara itu, Achris Sarwani menyampaikan bahwa IEP tiga bulan mendatang (Oktober 2026) tercatat sebesar 180, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 184. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86% (yoy).
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi daerah. (gs/bi)
Infografis indeks keyakinan konsumen di Provinsi Bali. (Foto; Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada Agustus 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada pada level optimis sebesar 123,1 (indeks >100), serta lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 118,5. Sejalan dengan proses normalisasi aktivitas ekonomi pasca periode libur sekolah dan tingginya basis keyakinan pada bulan sebelumnya, IKK Bali mengalami penyesuaian terbatas dari 126,3 pada Juli 2026 menjadi 123,8 pada Agustus 2026. Optimisme konsumen tetap terjaga terutama pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran lebih dari Rp 8 juta, Rp 6-7 juta, dan Rp 3-4 juta per bulan.
Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (128,3) dan sektor informal (116,8). Optimisme yang terjaga didukung oleh membaiknya kinerja pariwisata dan tetap kuatnya aktivitas sektor jasa.
Lebih detail, penurunan IKK pada periode Agustus 2026 turut dipengaruhi oleh penurunan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan dari 122,3 pada Juli 2026 menjadi 118,0 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 3,5% (mtm). Penurunan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (124,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (101,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan dari 130,3 pada Juli 2026 menjadi 128,2 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 1,7% (mtm). Penurunan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,0), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (129,5) dan perkiraan kegiatan usaha (128,0).
Kepala kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa meskipun mengalami penyesuaian, tingkat keyakinan konsumen Bali masih berada pada zona optimis. Perkembangan tersebut mencerminkan proses normalisasi pasca periode libur sekolah dan tingginya aktivitas konsumsi pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, masyarakat tetap menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan seiring dengan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa yang menjadi penggerak utama perekonomian Bali.
Tetap terjaganya optimisme konsumen juga sejalan dengan berbagai indikator ekonomi Bali yang masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas pariwisata yang memasuki periode peak season pada Juli-September 2026 turut mendorong peningkatan mobilitas wisatawan dan permintaan barang serta jasa di Bali. Di sisi lain, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,45% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadi faktor penopang keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian Bali ke depan.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, TP2ED, TPID, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perekonomian global, sinergi tersebut diharapkan dapat menjaga optimisme masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi Bali ke depan. (gs/bi)
Infografis inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026. (Foto: ist)
Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 September 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm), berbeda arah dibandingkan bulan Juli yang mengalami deflasi sebesar 0,51% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali terutama didorong oleh masuknya peak season pariwisata yang meningkatkan permintaan tiket pesawat dan bahan pangan seperti daging ayam ras di tengah permintaan yang tinggi dari penyelenggaraan pernikahan, upacara adat dan ngaben, serta normalisasi permintaan MBG pasca libur sekolah.
Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,42% (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,45% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19% namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.
Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026 yakni Kabupaten Buleleng dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12% (mtm) atau 3,61% (yoy). Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,65% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,64% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,35% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,86% (yoy), dan selanjutnya kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,33% (mtm) atau inflasi tahunan 3,59% (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis Rabu (2/9/2026) mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Agustus 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, dan baju kaos tanpa kerah/t-shirt pria.
Achris Sarwani lanjut menyampaikan Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain berlanjutnya permintaan barang dan jasa yang tinggi pada periode peak wisatawan mancanegara (Juli – September), berlanjutnya musim kemarau panjang disertai El Nino kuat yang memengaruhi produksi pertanian, serta tetap tingginya biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.
Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, sebut Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)