Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

HUT Ke-21 Prodi Doktor Kajian Budaya: Menata Keilmuan dan Lembaga Masa Depan Kajian Budaya di Indonesia

BALIILU Tayang

:

Prodi Doktor
Progran Studi Kajian Budaya Universitas Udayana rayakan HUT ke-21, (Foto : Ist)

Denpasar, baliilu.com – Progran Studi Kajian Budaya Universitas Udayana telah berusia 21 tahun. Usia dua dekade ini menjadi sebuah momentum Kajian Budaya untuk melakukan refleksi, reorientasi dalam menata keilmuan dan lembaga Kajian Budaya. 

“Dua puluh tahun sebuah waktu yang panjang melakukan refleksi dan reorientasi arah lembaga Program Doktor Kajian Budaya memiliki kontekstualisasi sangat kuat,” kata Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya Universits Udayana I Nyoman Aryawibawa, Ph.D., dalam sambutannya membuka Seminar Reuni Program Studi (Prodi) Kajian Budaya dalam rangka HUT ke-21 yang jatuh pada 11 Juli 2021. Seminar berlangsung secara daring dan ditayangkan di kanal Youtube pada link ini: https://www.youtube.com/watch?v=SwAfhRL_VSo

Aryawibawa menambahkan bahwa kebudayaan sesuatu yang dinamis. Kebudayaan yang kontekstual dan situasional. Ada peluang untuk menata arah kajian budaya dari sisi keilmuan. Ada proses kontruksi, dekonstruksi, dan reproduksi. Ini menjadi tantangan dan kesempatan mengembangkan lembaga dan keilmuan.  “Momentum ini sangat bagus pada saat Prodi Kajian Budaya berumur 21 Tahun,” ujar Wakil Dekan 1 FIB Unud.

Koprodi Program Doktor Kajian Budaya Kajian Budaya Prof. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Ph.D., mengatakan webnimar masa depan Kajian Budaya dalam rangka memperingati 21 tahun hari lahir program studi doktor Kajian Budaya sebagai pertama di Indonesia yang dirintis oleh Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus membangun S2 dan S3 Kajian Budaya.

“Dua dekade melakukan refleksi ke mana arah Kajian Budaya ke depan. Banyak kegalauan dihadapi adalah linieritas. Kajian Budaya menjadi guru besar tidak linier menghadapi masalah. Kritis kajian budaya jika disampaikan tidak tepat mendapatkan serangan balik karena tidak menghadirkan solusi. Tema HUT Kajian Budaya Kritis Berlapis, Jaya Berkarya memberikan sudut pandang baru ke depan,” kata Koprodi Program Doktor Kajian Budaya Prof. I Nyoman Darma Putra.

Baca Juga  Berikan Kuliah Umum di Unud, Kasad: Jika Ada Hal Menyesatkan di Medsos Mahasiswa Harus Berani Ambil Tindakan
(Foto :Ist)

Seminar reuni Kajian Budaya menghadirkan pembicara Prof. Manneke Budiman, Ph.D., dari Universitas Indonesia yang membawakan materi masa depan Kajian Budaya. Dengan moderator seminar yang digelar secara online adalah seorang alumni Program Doktor Kajian Budaya Dr. Tjok Istri Ratna C.S., S.Sn., M.Si., dari Institut Senin Indonesia (ISI) Denpasar. 

Dalam paparannya, Prof. Manneke Budiman menyampaikan bahwa Kajian Budaya identik dengan pendekatan kritis atas relasi antara kebudayaan dan kekuasaan yang dilandasi oleh dua tradisi pemikiran: marxis dan posmodernis. Pengaruh marxisme: kajian budaya sebagai teori sekaligus praksis resistensi terhadap hegemoni kapital, khususnya yang mewujud dalam kebudayaan yang belakangan menyempit pada kajian budaya popular.

“Pengaruh posmodernisme: kajian budaya mengarah pada destabilisasi kebenaran yang dibentuk oleh wacana dominan sebagai dasar bagi kerja kekuasaan,” ujar Prof. Manneke.

Gerakan kritis Kajian Budaya bukanlah untuk revolusi turun ke jalan, tetapi revolusi pemikiran sehingga relasi kuasa antara yang berkausa dan dikuasai bisa lebih berimbang. “Bukan hendak mengganti penguasa dengan yang baru, karena posmodernisme tidak percaya dan bermaksud mengganti kekuasaan,” cetus Manneke.

Lebih lanjut dikatakan, diperlukan kekritisan dan kepekaan dalam membaca gejala-gejala masa kini yang akan berkembang menjadi ancaman masa depan. Kajian Budaya bisa mengembangkan visi dan terobosan teoritis untuk bisa mengubah manusia baik pada tataran kesadaran maupun praktik dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. 

“Kajian budaya tidak bisa terus-menerus berada pada tataran lokal yang spesifik sebab tantangan masa depan butuh kolaborasi dan aliansi global untuk menghadapinya. Kajian tataran lokal tidak memadai dilakukan hanya ada batas dirinya sendiri,” kata Manneke.

Ia menambahkan nexus global-lokal masih bisa dipakai sebagai kerangka kerja, untuk mencari tahu apa bentuk tantangan global yang muncul dan bagaimana ketangguhan komunitas pada tingkat lokal mampu mengantisipasi dan bertahan darinya. 

Baca Juga  FK Unud Gelar National Symposium and Workshop On Anti-Aging Medicine 2023

Fokus pada kajian pelestarian budaya lokal perlu bergeser ke upaya menemukan potensi resiliensi /ketangguhan baru yang berasal dari transformasi berbasis konvervasi atas apa yang telah dimiliki. 

Untuk agenda ke depan, Kajian Budaya bisa mengarahkan kajiannya pada dua tantangan baru yaitu pada vulnerability studies (kajian kerentanan) yang telah dirintis oleh Judith Butler dkk, serta resilience studies (kajian ketangguhan) yang sudah dieksplorasi oleh Anna Tsing.

“Bila Kajian Budaya adalah metode bertanya dan mencari jawaban secara kritis atas realitas tempat permasalahan berpijak, ke depan Kajian Budaya perlu dipahami sebagai cara menggali dan menyintensiskan secara kritis potensi dan kemungkinan bagi suatu komunitas untuk membangun ketangguhan atau resiliensi demi keberlangsungan hidup komunitas itu di masa depan,” kata Manneke.

Webinar diikuti lebih dari 90 peserta terdiri atas dosen, mahasiswa, alumni, dan peserta umum, baik secara langsung lewat aplikasi webex maupun lewat Youtube. Sumber: www.unud.ac.id (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

DPRD Bali Setujui Raperda Perubahan APBD 2026 Ditetapkan Jadi Perda

Published

on

By

Paripurna dprd bali
RAPAT PARIPURNA: Rapat Paripurna ke-53 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 pada Sukra Kliwon Bala, 25 September 2026 dengan agenda Pendapat Akhir Pembahasan dan Rekomendasi DPRD Provinsi Bali terhadap Raperda tentang Perubahan APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Provinsi Bali. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali menyetujui Raperda tentang Perubahan APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun Anggaran 2026 untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) dengan beberapa catatan/rekomendasi.

Pendapat Akhir dan Rekomendasi DPRD Provinsi Bali itu disampaikan saat Rapat Paripurna ke-53 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 pada Sukra Kliwon Bala, 25 September 2026 dengan agenda Pendapat Akhir Pembahasan dan Rekomendasi DPRD Provinsi Bali terhadap Raperda tentang Perubahan APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Provinsi Bali.

Rapat Paripurna dipimpin Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya didampingi Wakil Ketua I Wayan Disel Astawa dan Wakil Ketua III Komang Nova Sewi Putra bersama segenap anggota DPRD Bali.

Hadir Gubernur Bali Wayan Koster, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra beserta Kepala OPD dan jajaran, Anggota Tim Ahli Alat Kelengkapan DPRD, Kelompok Pakar DPRD Provinsi Bali dan Tenaga Ahli Fraksi, dan undangan lainnya.

Pendapat akhir Dewan ini disampaikan oleh Ketua Pembahasan Raperda Perubahan APBD 2026 Drs. Gede Kusuma Putra, Ak, MBA, MM. Ia menyampaikan bahwa Dewan memahami ada alasan-alasan dan argumentasi yang melandasi dirancangnya Perubahan APBD Semesta Berencana Provinsi Bali TA 2026, dimana salah satunya adalah perubahan proyeksi pendapatan dan belanja yang sebelumnya ditetapkan pada APBD Induk TA 2026. Sesungguhnya kalau dicermati, Penyusunan APBD baik Induk  dan Perubahan semua bermuara pada besaran Pembiayaan Daerah Bersih (Pembiayaan Netto) yang ada, dimana Pembiayaan Bersih ini didapatkan dari Penerimaan Pembiayaan setelah dikurangi Pengeluaran Pembiayaan. Karena penyusunan Perubahan APBD SB Provinsi Bali TA 2026 didesain defisit 739 M lebih tentu diperlukan pembiayaan daerah netto 739 M lebih.

Baca Juga  Berikan Kuliah Umum di Unud, Kasad: Jika Ada Hal Menyesatkan di Medsos Mahasiswa Harus Berani Ambil Tindakan

Secara lebih rinci, papar Kusuma Putra, Rancangan Perubahan APBD SB TA 2026 sebagai berikut: Pendapatan Daerah direncanakan Rp. 6,800 T lebih, naik Rp. 141,042 M lebih dari APBD induk 2026 yang ditetapkan sebesar Rp. 6,659 T lebih. Belanja Daerah direncanakan Rp. 7,539 T lebih naik Rp. 37,854 M lebih dari APBD induk yang ditetapkan Rp. 7,501 T lebih. Defisit direncanakan 739,409 M lebih turun Rp. 103,188 M lebih dari APBD induk 2026 yang ditetapkan Rp. 842,597 M lebih.

Dengan rencana Defisit 739,409 M lebih ditambah adanya pengeluaran pembiayaan sebesar Rp. 763,464 M lebih (untuk penyertaan modal 520 M dan cicilan hutang 243,464 M lebih) maka diperlukan penerimaan pembiayaan sebesar Rp. 1,502 T lebih yang bersumber dari SilPA TA 2025 sebesar Rp. 712,874 M lebih (Audited) dan penerimaan pinjaman daerah sebesar Rp. 790 M.

Pada kesempatan ini, Dewan memberikan beberapa catatan / rekomendasi di antaranya, mengingatkan dan mendorong Pemerintah Provinsi Bali guna terus menggali dan menciptakan sumber-sumber pendapatan yang baru termasuk pengelolaan semua aset yang ada, agar kapasitas fiskal keuangan daerah lebih baik.

Dewan juga mengingatkan serta mendorong Pemerintah Provinsi untuk melakukan Kajian/Evaluasi secara menyeluruh terhadap bantuan Desa Adat dan Subak. Desa Adat dan Subak punya kemampuan dan beban yang berbeda, rasanya tidak ada keadilan jika diberikan BKK yang jumlahnya sama. Dana kisaran 500 M tiap tahun untuk Desa Adat dan Subak se-Bali sudah saatnya dipikirkan untuk terdistribusi secara efektif.

Dengan tingkat kemiskinan 3,42% dari jumlah penduduk Bali di kisaran 4,4 juta jiwa berarti ada penduduk miskin di kisaran 150 rb jiwa. “Kami Dewan meyakini masyarakat yang mampu atau berkecukupan bahkan sangat mampu jauh melebihi angka diatas, karenanya kami Dewan mendorong Pemerintahan Provinsi Bali dalam hal ini Gubernur dan jajaran serta Dewan membuat Gerakan Bersama untuk menjadi Bapak/Ibu Asuh Keluarga Miskin di Bali yang tentu juga melibatkan Pemerintahan Kabupaten/Kota,” ujar Kusuma Putra.

Baca Juga  Unud Berkolaborasi dengan Berbagai Universitas Gelar ISTA-AM 2024

Dewan juga mengingatkan kembali serta mendorong Pemprov Bali untuk membuat target Zero rumah tidak layak huni di tahun 2029.

Dewan mendorong Pemprov Bali untuk lebih greget melaksanakan Pergub No 18 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, mengingat masih banyak ada pelanggaran di lapangan.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi tingginya kepada pimpinan dan anggota dewan yang telah dengan penuh ketekunan dan kerja sama yang baik antara eksekutif dengan legislatif dalam pembahasan APBD Perubahan 2026 sesuai dengan target waktu, Jumat, 25 September 2026.

Terkait rekomendasi yang disampaikan, ada 4 poin yang penting dan akan dibahas bersama jajaran untuk mendapatkan respons dan bisa dilaksanakan ke depan.

Maka dengan telah disetujuinya raperda ini, sesuai peraturan perundang-undangan akan segera disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri supaya segera bisa dievaluasi dan disetujui sehingga APBD ini bisa segera efektif dilaksanakan sisa waktu lagi tiga bulan.

“Saya akan menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya, melaksanakan apa yang diputuskan dalam APBD Perubahan ini dan mohon selalu pengawasan, arahan dari pimpinan dan anggota dewan agar betul-betul bisa dilaksanakan dengan baik, efektif, efisien dan produktif serta memberi manfaat dan dampak kepada masyarakat. (gde)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Jaga Tradisi dan Ringan Beban Krama, Bupati Sanjaya Apresiasi Ngaben Bersama Adat Mojan

Published

on

By

Bupati Sanjaya Hadiri Persiapan Ngaben Bersama Desa Mojan
HADIRI UPACARA: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri pelaksanaan persiapan Upacara Atiwa-tiwa/Ngaben Bersama di Desa Adat Mojan, Desa Mekarsari, Kecamatan Baturiti, Jumat (25/9/2026). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Semangat gotong-royong dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur kembali terlihat dalam pelaksanaan persiapan Upacara Atiwa-tiwa/Ngaben Bersama di Desa Adat Mojan, Desa Mekarsari, Kecamatan Baturiti. Kehadiran Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya dalam Uleman Ngupasaksi, Jumat (25/9/2026), menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan terhadap pelaksanaan yadnya sekaligus pelestarian kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda dan Pimpinan Perangkat Daerah terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan, Perbekel, Bendesa Adat, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta jajaran pemerintahan dan krama Desa Adat Mojan. Kehadiran pemerintah daerah di tengah masyarakat, juga sekaligus menjadi momentum untuk menyaksikan secara langsung pelaksanaan tradisi keagamaan yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh krama setempat.

Pelaksanaan Ngaben Bersama ini merupakan bentuk nyata gotong-royong masyarakat Desa Adat Mojan, dengan melibatkan 224 kepala keluarga (KK) yang melaksanakan urusan bersama sebesar Rp. 25.000 per orang. Sebanyak 21 sawa turut dirangkaikan dalam upacara tersebut, serta 9 Ngelangkir dan 40 orang Metatah. Dimana puncak karya dijadwalkan berlangsung pada Senin, 28 September 2026 mendatang.

Dalam sambrama wacananya, Bupati Sanjaya menyampaikan apresiasi kepada Bendesa Adat, tokoh adat, serta seluruh krama yang secara konsisten menjalankan dresta dan tradisi berdasarkan awig-awig dan pararem. Di Desa Adat Mojan, pelaksanaan Ngaben Massal tersebut dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Menurutnya, pelaksanaan Ngaben bersama secara berkala tidak hanya meringankan beban masyarakat, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan dan gotong-royong yang perlu terus dilestarikan.

“Tiang apresiasi terhadap semeton sareng sami. Titiang ring Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan hadir ngupasaksi yadnya sekadi niki, karena yadnya niki sangat penting pisan,” ujar Bupati Sanjaya.

Baca Juga  UPT Bahasa Unud Ikuti Rapat Daring Bersama Tim British Council

Oleh karena itu, Sanjaya mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan kearifan lokal serta nilai-nilai luhur warisan pendahulu kita, sehingga tradisi dan semangat gotong-royong tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

PT Denpasar dan Pemprov Bali Teken Nota Kesepakatan, Perkuat Layanan Hukum bagi Penyandang Disabilitas

Published

on

By

Gubernur Koster Teken Nota Kesepakatan dengan PT Denpasar
TANDATANGAN NOTA KESEPAKATAN: Gubernur Bali Wayan Koster menandatangani Nota Kesepakatan saat menerima Kepala Pengadilan Tinggi Denpasar, Dr. Ifa Sudewi, S.H., M.Hum., di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (25/9/2026) pagi. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Provinsi Bali bersama Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar memperkuat komitmen dalam menjamin pemenuhan hak penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum melalui penyediaan layanan peradilan yang layak, mudah diakses, dan tidak diskriminatif.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepakatan tentang Penyediaan Layanan bagi Penyandang Disabilitas yang Berhadapan dengan Hukum di Provinsi Bali. Penandatanganan berlangsung saat Gubernur Bali Wayan Koster menerima Kepala Pengadilan Tinggi Denpasar, Dr. Ifa Sudewi, S.H., M.Hum., di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (25/9/2026) pagi.

Kepala Pengadilan Tinggi Denpasar Ifa Sudewi menyampaikan bahwa penyediaan layanan tersebut merupakan amanat peraturan perundang-undangan. Secara khusus, penyediaan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas dalam proses peradilan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2020.

Menurut Ifa Sudewi, implementasi layanan ramah disabilitas telah dilakukan di Pengadilan Negeri Denpasar, antara lain melalui penyediaan akses dan jalur yang ramah disabilitas serta sarana dan prasarana pendukung. Langkah tersebut bertujuan memastikan penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum memperoleh pelayanan peradilan secara layak dan tanpa diskriminasi.

Nota Kesepakatan antara Pengadilan Tinggi Denpasar dan Pemerintah Provinsi Bali tersebut berlaku selama lima tahun. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi kedua lembaga dalam menyediakan layanan bagi penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum di Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik penandatanganan Nota Kesepakatan tersebut. Ia menegaskan pentingnya memastikan penyandang disabilitas memperoleh hak yang sama dalam mengakses pelayanan hukum.

“Ini program yang sangat bagus, menjamin penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum mendapatkan pelayanan yang baik,” ungkap Koster.

Pemprov Bali juga telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyediaan Layanan bagi Penyandang Disabilitas yang Berhadapan dengan Hukum. Keberadaan regulasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mendukung penyediaan layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

Baca Juga  Unud Ikuti Uji Publik Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik 2023

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali didampingi Kepala Dinas Sosial dan P3A Provinsi Bali serta Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca