Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Bali Jagadhita Culture Week III 2022, Dukungan Bank Indonesia dalam Pengembangan UMKM Bali

BALIILU Tayang

:

bi
Foto bersama Ketua Dekranasda Bali Ny. Putri Koster bersama Kepala Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho, Deputi BI Bali, anggota DPR RI saat penyelengggaraan Bali Jagadhita Culture Week III 2022. (Foto: ist)

Badung, baliilu.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menyelenggarakan Bali Jagadhita Culture Week III tahun 2022 yang merupakan event tahunan dan telah dilaksanakan sejak tahun 2020. Bali Jagadhita Culture Week III mengusung tema “Sinergi dan Bangkit Bersama UMKM Bali: Go Digital Go Global”.

Kegiatan ini diselenggarakan secara hybrid yang dipusatkan di Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali pada tanggal 4 – 6 November 2022 dengan peserta pameran terdiri dari 35 UMKM Bali binaan Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali, 4 UMKM binaan Bank Indonesia Provinsi NTB dan NTT, 7 perbankan, 3 Perumda (Perumda Swatantra, Perumda Arga Nayotama dan Perumda Dharma Santika), serta 11 UMKM tenant makanan. Rangkaian kegiatan selama 3 hari, meliputi pameran UMKM, operasi pasar, business matching, talkshow, workshop cupping coffee, fashion show hasil kolaborasi dan karya dari UMKM binaan dan mitra di Balinusra serta aneka lomba dan hiburan untuk lebih memeriahkan acara.

Pembukaan Bali Jagadhita Culture Week III yang dilaksanakan secara hybrid pada tanggal 4 November 2022, dibuka oleh Wakil Gubernur Bali dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali serta oleh Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenkomarves yang hadir secara daring. Turut hadir dalam acara pembukaan Pimpinan Perbankan Bali, serta OPD terkait.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho menyampaikan Bali Jagadhita Culture Week III merupakan mini dari Karya Kreatif Indonesia (KKI). Bali Jagadhita bertujuan untuk meningkatkan kapasitas UMKM, memperluas akses UMKM ke pasar domestik dan global, meningkatkan pemanfaatan digitalisasi, serta memfasilitasi pembiayaan UMKM oleh lembaga formal. Trisno menambahkan bahwa upaya mendorong UMKM menembus pasar global dilakukan dengan menghubungkan UMKM dengan aggregator ekspor serta mendukung pelaksanaan pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Lebih lanjut, Trisno menyampaikan momentum pemulihan ekonomi Bali dimulai dari dibukanya kembali akses pariwisata internasional sejak bulan Februari silam. Pemulihan ekonomi harus dapat dimanfaatkan untuk mendukung arah ekonomi kerthi Bali. Untuk itu, peranan UMKM sangat diperlukan karena memiliki serapan tenaga kerja mencapai hampir 97%.

Baca Juga  SERAMBI 2024 di Pasar Badung, Kas Keliling BI Bali Diserbu Warga

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenkomarves Republik Indonesia, Odo R.M. Manuhutu menuturkan bahwa event Bali Jagadhita Culture Week III merupakan salah satu upaya mempercepat proses pemulihan ekonomi Bali. Event ini diharapkan mampu mendorong lebih banyak masyarakat untuk membeli produk dalam negeri. Ke depan, sejalan dengan tema go digital, Odo berharap akan muncul unicorn dan decacorn dari Bali sebagai wujud adaptasi teknologi dari masyarakat Bali.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyambut baik penyelenggaraan Bali Jagadhita Culture Week III. Tjok Oka menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mendorong percepatan pelaku usaha mikro di Bali. UMKM memiliki kontribusi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja, dan pemulihan ekonomi. Pemerintah juga telah memberikan privilege terkait dengan pemberian alokasi belanja kementerian dan lembaga BUMN sebesar 30%. Kerja sama berbagai pihak diperlukan untuk mendorong percepatan pemulihan perekonomian Bali.

Acara puncak sekaligus penutupan Bali Jagadhita Culture Week III pada 6 November 2022 dihadiri secara luring oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Bupati Jembrana, Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, perwakilan OJK Regional 8, pimpinan perbankan, serta pimpinan OPD terkait. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Menteri pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Bali serta Anggota Komisi XI DPR RI turut hadir secara daring.

Anggota Komisi XI DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya menyampaikan bahwa Bali perlu bertransformasi menuju sektor ekonomi potensial selain pariwisata. Hal ini diharapkan mampu menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian di Bali antara sektor pariwisata, pertanian dan industri. Agung Rai menyebutkan bahwa peran UMKM dalam perekonomian Indonesia sangat krusial sebagai tulang punggung ekonomi tanah air. Kegiatan Bali Jagadhita Culture Week III membuktikan bahwa keanekaragaman potensi ekonomi dapat mendorong perekonomian Bali, yang tidak hanya diminati oleh konsumen dalam negeri tetapi menembus pasar luar negeri.

Baca Juga  “Digi Youthpreneurship Festival”, Wujudkan Mimpi Mahasiswa di Era Digital

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki mengapresiasi kegiatan Bali Jagadhita Culture Week III. Teten menyampaikan tema kegiatan ini selaras dengan upaya untuk mendorong produk unggulan  UMKM Bali agar mampu menembus pasar ekspor, yang didukung oleh peningkatan kualitas SDM, perluasan akses pasar, fasilitasi pembiayaan serta digitalisasi. Perkembangan pesat digitalisasi juga diikuti dengan pesatnya transaksi digital pada ecommerce. Hal ini tentu merupakan potensi emas yang harus dimanfaatkan oleh UMKM. Lebih lanjut, Teten menyebutkan pentingnya sinergi untuk mempersiapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk UMKM yang berbasis kreativitas dan teknologi. Menteri Teten juga berharap dari kegiatan Bali Jaditha lahir berbagai inovasi untuk mendorong UMKM tanah air terus tumbuh.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi penyelenggaraan Bali Jagadhita Culture Week III. Sandiaga menyampaikan bahwa Kemenparekraf secara aktif meningkatkan kapasitas UMKM terkait fasilitas akses pembiayaan melalui pasar modal. Sandiaga mengajak seluruh pihak untuk menyatukan visi dan misi, terus melakukan inovasi, beradaptasi dengan perubahan, dan berkolaborasi dalam mendorong kebangkitan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo menyampaikan bahwa tema Bali Jagadhita Culture Week tahun 2022 sejalan dengan visi Bank Indonesia untuk terus mendukung UMKM secara nasional, sekaligus berpartisipasi dalam Gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan Gerakan Bangga Berwisata #DiIndonesiaAja (BBWI). Bank Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam pengembangan UMKM bersama lembaga terkait. Peran serta UMKM yang didukung keterlibatan seluruh stakeholders akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Pada puncak Acara Bali Jagadhita Culture Week III, Dody juga meresmikan pelepasan ekspor UMKM Binaan dan Mitra Kantor Perwakilan BI Prov. Bali tahun 2022 dengan total nominal Rp 5,3 miliar.

Baca Juga  Bank Indonesia Mendorong Transformasi Ekonomi Balinusra Menuju Digitalisasi Pertanian

Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan Bali Jagadhita Culture Week III dan merupakan salah satu upaya untuk mempercepat pemulihan ekonomi di Bali. Koster berharap momen ini dapat dimanfaatkan dengan baik guna menyeimbangkan struktur perekonomian Bali yang menjadi tujuan dari transformasi ekonomi Bali. Lebih lanjut, Koster menjelaskan bahwa salah satu unsur penting dalam pemulihan ekonomi adalah melalui pengembangan UMKM yang merupakan tugas dari berbagai instansi. Koster juga berharap sinergi dalam pengembangan UMKM terus didukung oleh seluruh stakeholder menuju Bali hijau.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster pada sambutannya dalam pembukaan lomba merangkai Bunga Kasna menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Putri Koster berharap kegiatan yang mendorong pemberdayaan ekonomi lokal harus terus dilanjutkan, utamanya petani Bunga Kasna di Desa Temukus. Lebih lanjut, Putri Koster mengimbau agar bunga kasna tidak hanya menjadi ikon, tetapi juga dapat mensejahterakan  petani Bunga Kasna. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Bali Jagadhita Investment Forum 2026 Hadirkan 22 Proyek Strategis Bali-Nusra kepada 35 Investor

Published

on

By

kinerja investasi bali
BJIF: Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) berkomitmen mendorong resiliensi dan peningkatan kualitas investasi guna mencapai Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2026. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja investasi Bali terus menguat di tengah ketidakpastian global. Investasi Bali tumbuh 6,78% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,47% (yoy), dengan kontribusi mencapai 28% terhadap perekonomian daerah. Sepanjang 2025, realisasi investasi PMA dan PMDN tercatat sebesar Rp 42,82 triliun serta menyerap lebih dari 68 ribu tenaga kerja, menegaskan peran investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Bali.

Di balik capaian tersebut, Bali masih menghadapi tantangan pemerataan dan kualitas investasi. Sebanyak 88% realisasi investasi masih terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan, sementara 97% investasi didominasi sektor tersier. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan investasi yang lebih inklusif, merata, dan terdiversifikasi antarwilayah maupun sektor ekonomi.

Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) berkomitmen mendorong resiliensi dan peningkatan kualitas investasi guna mencapai Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani menyampaikan bahwa Bali Jagadhita Investment Forum 2026 merupakan forum promosi investasi proyek potensial yang ready to offer (IPRO) dari Bali-Nusra yang mencakup berbagai sektor yaitu infrastruktur, hilirisasi, pariwisata, perdagangan, dan sektor unggulan lainnya. Menurut Achris, pendekatan kawasan Bali-Nusra dilakukan untuk memperkuat konektivitas ekonomi regional dan menciptakan peluang investasi yang saling melengkapi antarwilayah.

Rangkaian kegiatan Bali Jagadhita Investment Forum 2026 terdiri dari showcasing proyek unggulan se-Bali, serta Nusa Tenggara sebagai kawasan yang terintegrasi, one on one business meeting antara project owner dan calon investor, serta site visit ke KEK Kesehatan pertama di Indonesia, yaitu KEK Sanur Bali.

Baca Juga  Optimisme Konsumen terhadap Kondisi Ekonomi Bali Menguat

Di hadapan para investor global saat membuka Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali, Ketut Sukra Negara menyebutkan bahwa Bali memiliki berbagai proyek unggulan yang sangat terbuka bagi investor. Investasi di Bali didukung sejumlah insentif oleh Pemerintah dan Bali memiliki keunggulan sebagi destinasi yang telah dikenal secara global. Sukra turut mengajak investor domestik dan global yang hadir untuk berinvestasi di Bali. Sukra juga berharap terselenggaranya Bali Jagadhita Investment Forum 2026 dapat menjadi katalis investasi berkualitas di Bali.

Berbagai proyek investasi unggulan yang dipromosikan pada showcasing dan presentasi Bali Jagadhita Investment Forum, merupakan hasil kurasi Bali Investment Challenge 2026. Pendalaman lebih lanjut terkait proyek dilakukan melalui sesi one on one business meeting antara project owner dan calon investor, dimana sesi one on one meeting diikuti lebih dari 35 calon investor dari berbagai negara, termasuk hadir pula Duta Besar Bulgaria, Duta Besar Kerajaan Bahrain, Duta Besar Kesultanan Oman, Duta Besar Republik Armenia, Duta Besar Republik Islam Pakistan, Duta Besar Rumania, serta perwakilan konsulat dan atase perdagangan dari berbagai negara sahabat.

Program ini merupakan wujud kolaborasi PIKBS dalam menghasilkan 22 proyek investasi potensial dari Bali, NTB, dan NTT. Beberapa proyek tersebut diantaranya KEK Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, dan proyek pengadaan electric vehicle yang kemudian disusun dalam Katalog Investasi, dan selanjutnya diserahkan oleh PIKBS kepada perwakilan duta besar dan perwakilan delegasi yang hadir. Melalui publikasi Katalog Investasi ini diharapkan mampu mempermudah perluasan informasi dan promosi proyek investasi strategis kepada investor potensial yang selanjutnya diharapkan dapat mendukung peningkatan realisasi investasi.

Baca Juga  Ibu Putri Koster Dorong UMKM dan IKM Bali Naik Kelas lewat BAMFES 2025

Bank Indonesia memprakirakan outlook perekonomian Bali 2026 tetap solid di tengah gejolak geopolitik global, yakni pada kisaran 5,4-5,9% (yoy). Dengan outlook ekonomi yang tetap kuat, terjaganya inflasi, tetap solidnya optimisme pelaku usaha, dukungan insentif oleh pemerintah, serta daya saing daerah Bali yang sangat baik tentunya semakin membuka peluang untuk peningkatan investasi di Bali.

Melalui Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen memperluas akses investor terhadap proyek-proyek strategis daerah, mendorong pemerataan investasi antarwilayah, serta memperkuat transformasi ekonomi Bali menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Provinsi Bali Mei 2026: TPID Bali Bersinergi Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Tensi Geopolitik Global

Published

on

By

inflasi bali
Infografis inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 2 Juni 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,42% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan April sebesar 0,01% (mtm), dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional bulan Mei sebesar 0,28% (mtm). Inflasi bulanan meningkat terutama didorong oleh kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi, serta tekanan harga komoditas global yang turut memengaruhi dinamika pergerakan inflasi secara bulanan.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,08% (yoy) pada April 2026 menjadi 2,99% (yoy). Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Mei 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,54% (mtm) atau 2,78% (yoy).

Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,19% (yoy), diikuti Singaraja dengan inflasi bulanan sebesar 0,37% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,17% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Badung yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,64% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Mei 2026 bersumber dari kenaikan harga beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, dan angkutan udara. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, tomat, bawang merah, jeruk, dan bawang putih. Inflasi yang terjaga mendukung daya beli masyarakat di tengah konflik geopolitik global. Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%.

Baca Juga  Tingkatkan Peran Digital, BI Bali Dorong UMKM Perluas Akses Pasar Global

Ke depan, sebut Achris Sarwani, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode HBKN Galungan-Kuningan serta periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino berupa gangguan cuaca dan risiko kekeringan pada beberapa sentra produksi pangan yang mempengaruhi produksi pertanian, serta berlanjutnya ketidakpastian global berpotensi pada kenaikan lanjutan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga. Per 1 Juni 2026, terdapat kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali senantiasa bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K. Adapun strategi tersebut diantaranya intensifikasi operasi pasar murah dan pemantauan harga secara berkala, termasuk monitoring dan sidak pasokan LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan serta optimalisasi kerjasama antar daerah oleh Perumda pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah kepada masyarakat di kab/kota. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  Tingkatkan Peran Digital, BI Bali Dorong UMKM Perluas Akses Pasar Global

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca