Karangasem, baliilu.com
– Wabah Covid-19 yang melanda dunia, Indonesia dan juga Bali telah menghancurkan
sektor perekonomian, terlebih lagi Bali yang mengandalkan dari sektor pariwisata
yang yang sangat rentan oleh isu terorisme dan kesehatan.
‘’Di tengah wabah Covid-19 yang masih panjang dan membutuhkan
perhatian serius, tentunya mulai sekarang sudah dipikirkan ke depan anggaran-anggaran
dari pemerintah daerah bukan lagi anggaran yang dibuat untuk monumental. Namun
bagaimana anggaran itu bisa menggerakkan ekonomi rakyat. Terutama menggerakkan sektor
real seperti untuk sandang pangan, UMKM dll,’’ papar I Ketut Kariyasa Adnyana,
SP, anggota DPR RI dapil Bali saat menyerahkan bantuan sembako bersama Satgas
Covid-19 Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi Provinsi Bali di Selat Duda Karangasem.
Kariyasa Adnyana menegaskan program untuk mendukung
pemulihan Covid-19 ini mesti sudah mulai direvisi dari APBD. Kalau sudah normal,
anggota dewan dari komisi IX ini yakin program yang monumental yang selama ini
dianggarkan kabupaten kota dan provinsi akan bisa berjalan kembali.
PAD Bali yang hampir 70 persen mengandalkan sektor pariwisata
akan berpengaruh besar terhadap pembangunan jika pariwisata Bali lama tidak
dibuka. Jika terlalu lama hotel-hotel tidak beroperasi, akan berat bagi Pemerintah
Bali terutama kabupaten/ kota seperti Badung dan Denpasar. Karena PAD-nya tertinggi
dari sektor pariwisata. ‘’Kalau nanti tidak ada pemasukan akan berpengaruh
terhadap pembangunan itu sendiri,’’ ujar politisi asal Busungbiu Buleleng ini.
Karena itu, lanjut Kariyasa, seperti yang sudah dikatakan Presiden
Jokowi kita sudah mulai harus membiasakan diri hidup berdampingan dengan Covid-19,
tetapi tetap dengan protap-protap kesehatan yang harus dilaksanakan dengan
ketat.
Anggota dewan dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengingatkan persiapan
new normal harus perlu perencanaan yang bagus dari masa transisi menuju new
normal. Ketika memberlakukan new normal maka mall dibuka, pariwisata dibuka dll.
Tentu akan berpengaruh besar terhadap keamanan dan kesehatan. ‘’Karena itu,
pada masa transisi ini protapnya harus lebih ketat dilakukan seperti memakai
masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, social distancing dan menjaga pola hidup
bersih dan sehat,’’ papar Kariyasa.
Pola ini, kata Kariyasa harus terus disosialisasikan. Karena
perkembangan terakhir kasus positif terus meningkat tajam. ‘’Kita tidak boleh
leha-leha. Yang paling bahaya adalah transmisi local dan orang tanpa gejala,’’ ujar
Kariyasa yang belakangan mengamati warga sudah mulai ada leha-leha dan tidak
seketat sebelumnya.
Terlebih lagi Bali sebagai daerah pariwisata yang akan
segera membuka sector pariwisata secara bertahap mulai Juli, Agustus dan
September, tentu harus mengedepankan protap dengan sangat ketat. Pintu masuk Bali
harus dijaga dengan ketat, apalagi berbatasan dengan daerah pandemi cukup
tinggi seperti Jawa Timur dan NTB. ‘’Segala persyaratan untuk bisa masuk Bali sudah
bagus, tetapi dalam pelaksanaannya, pengawasan dan sebagainya harus disiplin
yang ketat,’’ imbuhnya.
Jika Agustus dibuka kran domestik, Kariyasa meminta harus
sudah ada protap, harus ada masa transisi simulasi-simulasi seperti di hotel
apakah sudah protapnya benar. Karena penyakit ini sampai saat ini masih banyak
beredar baik oleh orang tanpa gejala dan transmisi lokal.
Kariyasa mengakui pariwisata sangat rentan terhadap terorisme
dan kesehatan. Terbukti dengan adanya Covid ini berdampak terhadap sector perekonmian
Bali. Terlebih lagi selama ini kita terlalu mengabaikan sektor yang lain.
Sekitar 15 tahun lalu, Bali masih 60 persen mengandalkan sektor
pertanian, sekarang 70 persen sektor pariwisata. Padahal kita tahu tulang
punggung Bali adalah dari sektor budaya yang didukung oleh pertanian itu
sendiri.
‘’Benar dikatakan Pak Gubernur, apa yang menjadi program -program
di provinsi dan juga di daerah agar bagaimana kita tangguh menghadapi berbagai
kemungkinan. Yang paling tangguh adalah pertanian,’’ ujar Kariyasa.
Kariyasa mengatakan untuk mengembalikan ketangguhan Bali
dari sektor pertanian tentunya dengan mendidik kembali generasi-generasi muda untuk
bertani dan mengembangkan pemasaran-pemasaran lokal. ‘’Selama ini industri rumahan
dan bahan-bahan lainnya sebagian besar dari luar, seperti telur, unggas, alat-alat
banten. Sekarang ini harus dimulai dikembangkan sehingga ketika ada wabah
seperti ini Bali sudah siap,’’ pungkasnya. (gs)