Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Angkat Ekstrak Rimpang Kunyit dalam Pengobatan Eksema Atopik, Nyoman Suryawati Raih Gelar Doktor Ke-331 Unud

BALIILU Tayang

:

de
Dr. dr. Nyoman Suryawati, M.Kes., Sp.KK., FINSDV setelah dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Dr. dr. Nyoman Suryawati, M.Kes., Sp.KK., FINSDV dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan setelah berhasil mempertahankan disertasinya di depan penguji doktor pada Jumat, 7 Januari 2022 bertempat di ruang Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Denpasar yang dilaksanakan secara hybrid.

Suryawati sebagai lulusan ke-331 Doktor Universitas Udayana ini mengangkat kajian disertasi dengan judul “Nanoemugel Pelembap Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma Longa) Mengurangi Lesi Atopic Dermatitis-Like pada Model Mencit Melalui Thymic Stromal Lymphopoietin, Interleukin-13, dan Interleukin-17.”

Suryawati dalam disertasinya mengungkapkan, Dermatitis Atopik (DA) atau eksema atopik merupakan penyakit kulit yang sering dijumpai di masyarakat. Penyakit ini bersifat kambuh-kambuhan yang dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan masalah psikologis lain, yang memengaruhi kualitas hidup, serta masalah sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya. Ia menyebutkan kerusakan sawar atau pelindung kulit berperan penting pada terjadinya DA, karena mempermudah masuknya bahan yang bersifat alergi maupun bahan iritan pada kulit. Kerusakan sawar kulit dapat menyebabkan kehilangan air dari kulit atau trans-epidermal water loss (TEWL) dan dilepaskannya mediator radang seperti thymic stromal lymphopoietin (TSLP), interleukin (IL)-13, dan IL-17. ‘’Mediator radang ini akan menyebabkan perubahan histopatologi dan kelainan pada kulit,’’ paparnya.

Lebih dalam dikatakannya, kerusakan sawar kulit dapat dikurangi dengan pemakaian pelembab, karena pelembab dapat meminimalkan TEWL. Saat ini banyak dikembangkan pelembab yang mengandung bahan antiradang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bahan herba mempunyai khasiat antiradang/antiinflamasi, salah satunya adalah kunyit (Curcuma longa). Kunyit merupakan bahan alam yang umum digunakan di masyarakat, tidak hanya untuk bumbu dan pengawet makanan, tetapi juga digunakan dalam pengobatan tradisional di masyarakat seperti untuk luka, nyeri sendi, penyakit kardiovaskuler, hingga penyakit peradangan pada saraf. Kunyit merupakan bahan alam yang kaya kandungan polifenol yaitu curcumin. ‘’Salah satu kekurangan pemanfaatan kunyit adalah kelarutan curcumin yang buruk pada air, sehingga menyebabkan penyerapan yang buruk pada kulit. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, perlu dibuat suatu formulasi nanoemulgel. Sediaan nanoemulgel membuat ukuran partikel menjadi lebih kecil sehingga memudahkan penetrasi zat aktif,’’ katanya.

Baca Juga  Teliti Manfaat Daun Mimba, Dwi Ariani Yulihastuti Raih Gelar Doktor Ilmu Peternakan Fapet Unud 

Suryawati menyampaikan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi nanoemulgel pelembap ekstrak rimpang kunyit 1% terhadap terjadinya DA pada model mencit yang dipapar bahan kimia dinitrochlorobenzene (DNCB). Penelitian ini adalah penelitian eksperimental Post Test Only Control Group menggunakan hewan coba yaitu mencit BALB/c. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol yang diberikan gel dasar, dan kelompok perlakuan diberikan nanoemulgel ekstrak rimpang kunyit 1%. Parameter yang dinilai adalah parameter laboratorium dan kerusakan sawar kulit. Parameter labaratorium yaitu kadar TSLP, IL-13, dan IL-17 dari jaringan kulit diukur dengan metode Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Kerusakan sawar kulit dinilai dengan pemeriksaan histopatologi, pengukuran nilai TEWL, dan klinis dermatitis dengan menggunakan skor dermatitis. Hasil dianalisis statistik dengan uji komparasi.

Suyawati menyimpulkan dari hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok perlakuan. Temuan ini memperkuat peranan bahan antiradang pada pelembab terhadap kerusakan sawar kulit dan mengurangi lesi dermatitis melalui TSLP, IL-13, dan IL-17. Ia berharap ke depan ditemukan pelembab dengan kandungan antiradang dari bahan rimpang kunyit, yang setelah dari model hewan coba ini, dapat dikembangkan sebagai terapi suportif dalam penatalaksanaan DA.

Ujian terbuka ini dipimpin langsung oleh Dekan FK Unud Dr. dr. Komang Januartha Putra Pinatih, M.Kes, dengan tim penguji Prof. Dr. dr. Made Wardhana, Sp.KK (K) (Promotor), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM (Kopromotor I), Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes. (Kopromotor II), Prof. Dr .Ir. Ida Bagus Putra Manuaba, M.Phil, Prof. drh. I Nyoman Mantik Astawa, Ph.D., Prof. Dr. dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Sp.KK (K)., FINSDV., FAADV, Prof. Dr. dr. I Wayan Putu Sutirta Yasa, M.Si., Dr. dr. Desak Made Wihandani, M.Kes., Dr. dr. Ni Putu Sriwidyani, Sp.PA, Dr. dr. Ni Made Linawati, M.Si.

Baca Juga  I Kadek Sara Mandiyasa Raih Gelar Doktor Manajemen di FEB Unud

Turut hadir undangan akademik Dr. rer. nat. dr. Ni Nyoman Ayu Dewi, M.Si., Dr. dr. Agung Wiwiek Indrayani, M.Kes., dr. I Made Winarsa Ruma, S.Ked., Ph.D., Dr. dr. Putu Yuliawati, Sp.M(K), Dr. dr. Made Lely Rahayu, Sp.THT.KL(K).,FICS. Pada ujian ini Dr. dr. Nyoman Suryawati, M.Kes., Sp.KK., FINSDV dinyatakan lulus sebagai lulusan ke- 331 Doktor Universitas Udayana dengan predikat sangat memuaskan. Sumber: www.unud.ac.id (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Gerakan Teba Tradisional: Cara Jembrana Percepat Penanganan Sampah Berbasis Kearifan Lokal

Published

on

By

bupati kembang
Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan saat meninjau saluran got yang tertimbun sampah daun. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengeluarkan imbauan strategis terkait pengelolaan sampah berbasis sumber. Langkah ini merupakan tindak lanjut nyata terhadap Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 serta Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 09 Tahun 2025 mengenai Gerakan Bali Bersih Sampah.

Melalui imbauan ini, Bupati menitikberatkan pada partisipasi aktif masyarakat, terutama di lingkungan perdesaan yang memiliki halaman belakang, untuk mulai mengelola limbah rumah tangga secara mandiri di lahan masing-masing melalui metode “Teba Tradisional”.

Sejatinya metode teba ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali sejak dulu. Namun seiring waktu, mulai ditinggalkan. Kini, Pemerintah Kabupaten Jembrana ingin menghidupkan kembali untuk menangani sampah organik.

Langkah ini sekaligus solusi mempercepat penanganan masalah persampahan dan menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Kabupaten Jembrana. Mengingat sekitar 60-70% sampah rumah tangga adalah organik, jika setiap rumah memiliki Teba, maka beban angkut sampah ke TPA akan berkurang secara signifikan.

“Pengelolaan sampah yang paling efektif dimulai dari rumah tangga. Kami mengimbau warga yang memiliki halaman belakang atau lahan tersisa untuk menerapkan sistem Teba Tradisional guna mengolah sampah organik,” tegas Bupati Jembrana dalam keterangannya Rabu (22/4).

Memastikan pelaksanaan imbauan berjalan efektif , Bupati mengharapkan peran aktif seluruh Kelihan Dinas dan Kepala Lingkungan di Kabupaten Jembrana ikut mengawal.

Bupati meminta mereka menjadi garda terdepan dalam menggerakkan, memantau, serta memastikan pelaksanaan sistem ini di lingkungan masing-masing. Para aparat kewilayahan diwajibkan melaporkan progres penerapan Teba Tradisional kepada Bupati melalui Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan, dan Kawasan Permukiman paling lambat empat minggu sejak imbauan ditetapkan.

“Kita ingin memastikan gerakan Teba Tradisional ini berjalan. Lakukan pemantauan, gerakkan dan pastikan sehingga imbauan ini benar-benar berjalan dan laporkan hasilnya dalam waktu maksimal empat minggu,” ujar Bupati.

Baca Juga  IK Sukadana Raih Gelar Doktor Prodi Doktor Ilmu Hukum FH Unud

Pemerintah Kabupaten Jembrana juga berharap metode ini segera menjadi budaya di tengah masyarakat demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari secara berkelanjutan.

Masyarakat dapat memulai langkah mandiri dengan membuat lubang Teba di halaman belakang rumah sedalam maksimal 2 meter. Selain menjadi tempat pengolahan sampah dengan nilai ekonomi seperti pupuk kompos, Teba Tradisional diharapkan efektif sebagai lubang resapan air saat musim hujan guna menjaga cadangan air tanah.

“Kunci keberhasilan sistem ini terletak pada kedisiplinan pemilahan, di mana hanya sampah organik yang boleh dimasukkan ke dalam lubang tersebut agar dapat terurai secara alami. Jika semuanya disiplin, kami meyakini volume sampah yang masuk Ke TPA Peh jauh berkurang,” tutup Bupati Jembrana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Jaga Bumi, Pemkab Gianyar Tanam 300 Pohon

Published

on

By

pemkab gianyar
TANAM POHON: Memperingati Hari Bumi, Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar kegiatan penanaman pohon di setra Desa Adat Bukit Jangkrik, Kelurahan Samplangan, Rabu (22/4). (Foto: Hms Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Memperingati Hari Bumi, Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar kegiatan penanaman pohon di setra Desa Adat Bukit Jangkrik, Kelurahan Samplangan, Rabu (22/4). Kegiatan penanaman pohon sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Mengusung tema “Our Power, Our Planet (Kekuatan Kita, Planet Kita)”, peringatan berfokus pada pemanfaatan kekuatan individu dan kolektif dalam mendorong perubahan positif bagi bumi. Tema ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan.

Peringatan Hari Bumi juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan lingkungan, serta menghadapi berbagai tantangan perubahan iklim seperti kebakaran hutan dan kekeringan yang kian nyata.

Setidaknya ada 300 pohon dari berbagai varietas ditanam dalam kegiatan sebagai upaya meningkatkan kualitas tutupan lahan di Kabupaten Gianyar sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gianyar, I Gusti Bagus Adi Widya Utama, S.IP., M.Si. mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon guna mendukung pelestarian lingkungan. Sejalan dengan misi Bupati Gianyar ke tiga, khususnya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berwawasan lingkungan.

“Terima kasih kepada semua pihak, termasuk rekan-rekan dan pihak hotel yang telah membantu serta mendukung kegiatan ini,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, Pemerintah Kabupaten Gianyar berkomitmen untuk terus melaksanakan penanaman pohon secara berkelanjutan. Upaya pembibitan juga telah mulai dilakukan sebagai langkah awal dalam mendukung program penghijauan di wilayah desa adat se-Kabupaten Gianyar.

Selain itu, Sekda juga menginstruksikan agar setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyiapkan satu pohon berukuran besar untuk mendukung pengembangan hutan kota di Kabupaten Gianyar.

“Ke depan, setiap OPD diharapkan menyiapkan satu pohon besar sebagai bagian dari pembangunan hutan kota,” tambahnya.

Baca Juga  HUT Ke-21 Prodi Doktor Kajian Budaya: Menata Keilmuan dan Lembaga Masa Depan Kajian Budaya di Indonesia

Melalui kegiatan, diharapkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan terus meningkat, sehingga tercipta lingkungan yang lestari dan berkelanjutan di Kabupaten Gianyar. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

BPBD Buleleng Dorong Optimalisasi SIK, Perkuat Perencanaan Penanggulangan Bencana yang Inklusif

Published

on

By

BPBD Buleleng
RAPAT OPTIMALISASI: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng saat menggelar rapat Optimalisasi Sistem Informasi Kebencanaan (SIK), bertempat di Ruang Rapat Kantor BPBD Kabupaten Buleleng, Selasa (22/4). (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dalam upaya memperkuat sistem penanggulangan bencana yang adaptif dan berbasis data, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng menggelar rapat Optimalisasi Sistem Informasi Kebencanaan (SIK), bertempat di Ruang Rapat Kantor BPBD Kabupaten Buleleng, Selasa (22/4).

Rapat ini merupakan tindak lanjut dari inisiasi Pemerintah Provinsi Bali dalam mengembangkan Sistem Informasi Kebencanaan (SIK), sebuah aplikasi berbasis web yang dirancang untuk menjawab tantangan penanggulangan bencana yang semakin kompleks. SIK tidak hanya fokus pada data kejadian bencana, namun mencakup seluruh siklus penanggulangan bencana, mulai dari tahap pra bencana, saat tanggap darurat, hingga pasca-bencana.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran BPBD dan Pusdalps Kabupaten Buleleng, UPTD PBD Pusdalops BPBD Provinsi Bali serta perwakilan dari Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Kabupaten Buleleng.

Dalam arahannya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, I Gede Suyasa, menegaskan bahwa optimalisasi SIK menjadi langkah strategis dalam mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat berbasis data. Ia menjelaskan bahwa SIK mampu mempermudah pemetaan daerah rawan bencana, analisis risiko, hingga visualisasi data geospasial secara terintegrasi.

“Melalui SIK, seluruh data kebencanaan dapat diakses secara instan dan real-time, sehingga mendukung proses perencanaan yang lebih akurat dan responsif. Ini menjadi kunci dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang inklusif dan efektif,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, SIK juga telah terintegrasi antara BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten/Kota, serta mendorong transparansi dan efisiensi melalui digitalisasi birokrasi. Namun demikian, masih terdapat sejumlah kendala yang perlu diatasi, seperti ketergantungan pada koneksi internet, potensi sistem kelebihan beban saat pelaporan tinggi, serta pentingnya peningkatan kualitas informasi input data agar validitas tetap terjaga.

Baca Juga  Kupas Kesejahteraan Petani di Masa Covid-19, Gek Rani Jadi Doktor Ke-210 FEB Unud

Untuk itu, BPBD Kabupaten Buleleng mendorong adanya sistem pengembangan ke depan, salah satunya melalui pembukaan akses Open API dari SIK Provinsi Bali. Hal ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem internal BPBD Buleleng serta meningkatkan interoperabilitas dengan sistem pendukung lainnya di daerah.

Melalui rapat ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antar perangkat daerah dan pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan pemanfaatan SIK, sekaligus mendorong adaptasi terhadap proses bisnis yang ada, guna mewujudkan sistem penanggulangan bencana yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.

“Melalui kolaborasi dan komitmen bersama, kami optimistis SIK dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan daerah dalam menghadapi bencana,” tutupnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca