Denpasar, baliilu.com – Bali Seamen’s Club akhir Juni 2024 lalu kembali dibuka setelah sempat istirahat selama pandemi Covid-19. Kehadiran Bali Seamen’s Club di area Pelabuhan Benoa Bali ini untuk mendukung dan memfasilitasi kesejahteraan para pelaut yang bersandar di Pelabuhan Benoa. Di tengah soft opening Bali Seamen’s Club (BSC) hadir mengunjungi Sekretaris Jendral Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) I Dewa Nyoman Budiasa didampingi salah satu founder BSC Mr. Brant Connors.
Founder Bali Seamen’s Club Mr. Brant Connors mengatakan Bali Seamen’s Club punya sejarah cukup panjang di Bali. Pertama di-launching di Sanur tahun 2004 kemudian membuka lagi di Pelabuhan Benoa tahun 2019, sebagai tempat untuk kumpul-kumpul para pelaut dari Bali maupun dari luar negeri yang datang dengan kapal pesiar.
Karena menghadapi pandemi Covid-19, kata Brant Connors, Bali Seamen’s Club ditutup sementara untuk beberapa tahun. ‘’Sekarang kami dengan semangat baru, dengan tim baru kami launching sebagai sentral service untuk melayani pelaut-pelaut yang datang. Bali Seamen’s Club menyediakan fasilitas tempat istirahat yang nyaman dekat dengan pelabuhan, tempat hiburan dan kumpul bersama teman-teman, ada meeting room, quite room. Tersedia makanan dan minuman, juga keperluan pelaut seperti money changer. Kami juga punya rencana untuk membuka fasilitas-fasilitas lainnya seperti refleksologi dan ke depan kami pasti mengembangkan lagi dengan servis-servis tambahan,’’ ujar Mr. Brant Connors. Memiliki background di industri maritim, Connors menyambungkan Bali Seamen’s Club dengan serikat pekerja pelaut dunia, Kesatuan Pelaut Indonesia, klinik pelaut, termasuk berpartner dengan global union seperti International Transport Workers Federation (ITF) yang memberikan bantuan kepada pelaut dan organisasi yang membantu pelaut di seluruh negara.
Kehadiran Bali Seamen’s Club di Pelabuhan Benoa sangat penting dan prospektif ke depan, Connors menyebutkan Pemerintah Indonesia cukup strong untuk mengembangkan dan mengekspansi Pelabuhan Benoa ini untuk cruises. Sekarang sudah banyak rencana kapal pesiar yang masuk dibandingkan sebelum pandemi. Dengan dibuka passanger terminal 2 dan 3 ke depan pasti akan lebih banyak kapal yang bersandar. Jadi kemampuan Pelabuhan Benoa menerima kapal pesiar sekarang lebih lengkap dan lebih bagus. Tahun 2025 Royal Caribean berencana akan bersandar di Pelabuhan Benoa karena kapal-kapal nelayan akan dipindahkan dan hanya untuk marina dan kapal pesiar.
‘’Jadi Royal Caribean kerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk bisa buka gatenya sendiri. Royal Caribean yang masuk top 5 perusahaan kapal pesiar di dunia ini punya lebih dari 9.500 pelaut dari Indonesia yang bekerja di kapal mereka. Jadi kalau mereka bisa dapat home port di Bali, pasti bangga sekali,‘‘ ujar Connors.
Setelah Bali Seamen’s di Sanur ditutup, kemudian dibuka Bali Seafarers Centre (Istana Taman Jepun) di Jalan Hayam Wuruk Denpasar dan kini dibuka Bali Seamen’s Club berlokasi di Pelabuhan Benoa.


Sementara, Sekjen KPI I Dewa Nyoman Budiasa mengatakan Kesatuan Pelaut Indonesia sebagai organisasi serikat pekerja pelaut yang berafiliasi dengan organisasi global union seperti International Transport Workers Federation (ITF) yang salah satu tugasnya adalah mempromosikan kesejahteraan pelaut bukan saja di Indonesia tetapi di dunia.
Oleh karena itu, Budiasa menyebutkan organisasi pelaut internasional mempunyai beberapa program, di samping program-program di bidang edukasi, advokasi di hubungan industrial juga yang paling penting adalah memperhatikan program kesejahteraan pelaut internasional yang juga menyangkut Indonesia, khususnya di Kesatuan Pelaut Indonesia.
Selain mencover kesejahteraan pelaut atau hak-hak pelaut itu melalui kesepakatan kerja bersama juga memiliki program-program yang linear dengan produk yang dimaksud dalam perjanjian-perjanjian kerja. Peraturan konvensi internasional tahun 2013 yang disebut dengan konvensi tenaga kerja maritim, salah satu regulasi yang mengatur adalah seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan di sektor kepelautan yaitu pemerintah, perusahaan dan pihak pekerja sendiri melalui KPI untuk menyediakan fasilitas kesejahteraan pelaut di setiap pelabuhan yang disebut drop in center atau seamen’s club.

Sekjen KPI I Dewa Nyoman Budiasa didampingi managemen Bali Seamen’s Club menikmati hidangan ala BSC. (Foto:gs)
‘’Nah di Indonesia sendiri di tahun 2004 sebenarnya kita sudah memulai mendirikan Bali Seamen’s Club itu berlokasi di Sanur, selanjutnya karena satu dan lain hal kita harus pindah. Kita pindahkan ke Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Sesuai arahan konvensi menjadi Bali Seafarers Centre. Di mana kita jadikan salah satu tempat meeting point untuk para pelaut atau para senior pelaut sekaligus tempat rekreasi keluarga yang sekarang lebih dikenal dengan nama Denpasar Istana Taman Jepun,’’ ujar Budiasa.
Selanjutnya di tahun 2019, karena pengembangan dari pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia salah satunya adalah di Benoa yang menjadi salah satu port of calls atau pelabuhan destinasi dari kapal-kapal wisata atau kapal pesiar yang mana kapal-kapal ini mempekerjakan begitu banyak atau dalam jumlah besar awak kapal atau pelaut dari berbagai macam negara. Dengan keterbatasan waktu libur atau waktu off-nya mereka karena harus kerja hampir setiap hari sehingga KPI menganggap perlu dan sesuai amanat konvensi internasional bahwa di setiap pelabuhan sebaiknya stakeholder membangun sebuah tempat untuk mendukung fasilitas pelaut yang dekat dengan pelabuhan.
’’Karena itu dibangun Bali Seamen’s Club dengan fasilitas-fasilitas yang diperlukan di zaman kekinian. Yang pasti WIFI-nya harus bagus, karena di sela-sela waktu off-nya si pelaut yang sangat singkat, hanya waktu 2-3 jam. Di sini mereka bisa mendapat akses komunikasi yang mudah untuk ke keluarganya melepas rindu, khususnya yang non-Indonesia dan non-Bali. Di samping itu juga menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman dengan harga yang murah dan tempat relaksasi. ’’Makanya di Bali Seamen’s Club ini salah satu fasilitas yang kami siapkan adalah tempat relaksasi, silent room untuk berdoa,’’ ujarnya.
Di samping itu, untuk para pelaut yang dari Bali dan dari Indonesia yang dekat dengan keluarganya, tempat ini juga bisa menjadi meeting point. Kebetulan mereka singgah di Pelabuhan Benoa dan ingin menitipkan sesuatu barangkali ingin bertemu 1-2 jam. ’’Kalau mereka harus menginap di hotel di luar pelabuhan itu akan sangat jauh sekali sementara waktunya sangat terbatas.
Budiasa menegaskan tempat ini juga tujuannya sebagai pusat informasi. Kalau ada keluhan pelaut selama perjalanan atau selama di atas kapal, kami buka untuk tempat pengaduan atau menginformasikan ke KPI. Khususnya ketika ada permasalahan industrial yang ada hubungannya dengan pekerjaan.
Di samping itu, BSC juga melayani mental health dan stress yang dialami pelaut kapal, dimana dalam waktu dekat ini akan disiapkan hot line-nya sehingga mereka bisa telpon atau mereka bisa bertemu disini ketika bersandar di Pelabuhan Benoa. Mereka bisa berkonsultasi dengan expert yang sudah terdidik untuk mengatasi mental health atau home sick atau kangen dengan keluarga yang dialami para pelaut.
’’Nah tempat ini pada saat pandemi sempat tutup, jadi kami sempat tutup karena lock down, sempat kita buka saat repatriasi atau pemulangan imigran pelaut yang dipulangkan melalui jalur Pelabuhan Benoa. Dan Juni lalu secara resmi kami kembali buka sebagai tempat fasilitas kesejahteraan bagi para pelaut,’’ pungkasnya. (gs/bi)